
Pagi harinya seisi rumah panik melihat dapur berantakan lalu lemari es terbuka dan semua minuman berwarna merah hilang entah kemana.
"Ada pencuri? Kan kakak tidur disini," kata adik lelakinya keheranan.
"Yang paling aneh. Semua daging tidak ada lalu tidak ada darah setitik pun, bersih. Lihat ini," kata Mamanya memperlihatkan Tupperware yang sangat bersih.
"Tidak mungkin kan kakak yang meminumnya?" Tanya Adiknya merinding.
Papanya memukul koran ke kepala adiknya. "Sembarangan kamu, memangnya Adelia itu vampir apa. Lalu ada yang lainnya?" Tanya Papanya yang juga ikut memeriksa.
"Kompor juga tidak terlihat seperti habis digunakan," kata Mamanya berlanjut.
Mereka semua kelihatan bingung, bahan makana lain aman hanya daging saja yang ludes habis. Di sisi lain dalam kamar, Adelia bangun nampak segar sekali. Wajahnya berseri dan cantik, dia kemudian mandi dan melihat jam. Masih ada beberapa jam lagi sebelum dirinya bersiap ke festival sekolahnya.
Dia membuka kantung kecilnya dan mengeluarkan bubuk putih yang sudah seperti garam biasanya.
"Kalau aku memakai keduanya, seluruh tubuhku pasti akan sangat wangi dan semua murid lelaki akan tertarik padaku. Aegis juga," kata Adelia mengingat kejadian waktu di sekolah.
Ternyata dia memang menyatakan namun ditolak karena Aegis menyukai Ambrosia sejak awal sekolah. Karena sakit hati, dia menyebarkan berita bohong berkata bahwa Aegis menerima cintanya. Dan benar saja Sia terlihat sedih karena perbuatannya.
"Aku akan memakai semuanya ke seluruh tubuhku tapi.. ini garam biasa kan. Teksturnya ternyata lembut sekali seperti berlian. Melihat efeknya pada Sia sangat berbeda sekali. Aha! Garam ini kalau dimakan kira-kira bagaimana ya?" Tanyanya penasaran.
Diambilnya secubit dia bersiap merasakan asin lalu dia **** dan ... manis!
"Woh! Ternyata rasanya bukan asin tapi manis. Enak sekali! Dalam bentuk keras bisa menjadi sabun ah, bagaimana kalau aku cairkan ke dalam air ya? Aku coba saja sedikit," kata Adelia yang kebetulan ada air dalam botolnya.
Eris berada di luar kedua matanya berubah menjadi merah darah dan tersenyum mengerikan. Aura merah dan hitam mengelilingi Eris.
"Hmmm.. seperti sirup. Tahu begini aku lakukan dari awal bertemu anak itu. Ugh! Kenapa? Perutkuuu," kata Adelia. Merasakan mules yang teramat sangat. Lalu berhenti dan hilang sakitnya.
"Wah, kamu memakannya ya? Hihihihi," kata Eris muncul di sampingnya.
Adelia terkejut dan mundur. "Kamu... bagaimana bisa masuk?" Melihat jendela pun tertutup bahkan pintu tidak terbuka.
"Kamu tahu kenapa manusia dilarang mengonsumsi garam berlebihan? Tentu saja tidak baik untuk kesehatan apalagi garam yang kamu punya bukanlah garam biasa. Rasa sakit yang kamu rasakan adalah garam itu memasuki dan bercampur dengan darah dan daging mu," kata Eris tertawa.
Adelia terkejut lalu memperhatikan kedua tangannya yang mulai mengerut perlahan. "O...oh... tanganku! Wajah," kata Adelia panik.
"Hahahaha manusia sungguh lucu saat dirinya dilarang malah semakin memberontak. Kamu akan berakhir diserap oleh garam itu nah, aku hanya tinggal menunggu dirimu keluar. Atau mau aku paksa?" Tanya Eris mendekati Adelia yang jatuh lemas.
Sabun merah yang sudah menjadi bubuk, Eris ubah menjadi bentuk semula. "Sabun merah ini sebenarnya adalah jantung dari Ratu tersebut teman-temanmu melihat bentuk yang asli tapi kau tidak," kata Eris memperlihatkan.
"Tidaaaakkk!! Kenapa.. kenapa kau setega itu," Adelia merasa jijik melihat jantung yang berdegup.
"Karena matamu telah buta ingin lebih cantik lebih dari teman-temanmu. Efek memakai sabun jantung ini memang bisa mempercantik aku kira, kamu hanya akan menggunakannya sekali," kata Eris memperlihatkan Bola penampakan pada Adelia.
Adelia berteriak ketakutan. "Darah.. aku mencuci wajahku dengan darah?!" Tanyanya ketakutan sambil memegang wajahnya.
Wajahnya semakin mengerut tidak bisa dihentikan. Eris mendekat dan berjongkok, "Padahal mereka berencana membuatmu sebagai Dewi Aphrodite," kata Eris.
"Bohong!" Kata Adelia tidak percaya. Mana ada Sia dan Sehan mau membantunya.
Eris melihat waktu Adelia sudah tidak memungkinkan ditolong, waktunya sudah habis.
"Mau kutunjukkan?" Tanyanya mengulurkan tangan ke arahnya.
__ADS_1
Adelia yang sudah kurus itu lalu mengulurkan kedua tangannya meski ketakutan. Lalu mereka memasuki sebuah dimensi dimana waktu seakan kembali ke hari sebelumnya beberapa hari lalu.
Eris menatap kebelakang, mayat Adelia yang kini sudah tidak ada bentuk menyisakan tukang dan sisa serbuk garam hitam kemudian menghilang.
"Ini sekolah?" Tanya Adelia dalam sosok rohnya. Lalu dia melihat Sehan dan Sia di ruang rapat bersama banyak panitia dan beberapa murid kelasnya.
"Kami membuat voting kalian berdua menjadi Dewi Aphrodite," kata beberapa siswa.
"Dewi kan harus ada satu orang," kata Sia agak keberatan.
"Aku tahu siapa yang lebih pantas," kata Sehan mengidekan.
"Siapa?" Tanya mereka semua termasuk Sia.
"Adelia," kata Sehan.
"Haaaaa?" Tanya semuanya termasuk Dia juga.
"Benar juga dia cantik alami seperti kita berdua ya. Aku tahu kok kalian pasti terlintas bosan kami selalu memenangkan kontes setiap tahun. Kenapa tidak kita beri kesempatan pada Adelia?" Tanya Sia mengedipkan sebelah matanya.
Mereka semua berpikir, Sia juga sependapat dengan Sehan.
"Iya, aku juga setuju! Aku juga ingin menjadi siswi biasa yang hanya menonton dan bisa beli jajanan. Aku memilih Adelia," kata Sehan mengangkat tangannya.
Akhirnya semua setuju foto Sia dan Sehan diganti menjadi foto Adelia perwakilan kelas 2-2. Adelia yang berdiri di depan pintu menatap foto dirinya yang dimasukkan ke dalam daftar kontes.
Dia menangis menatap Sia dan Sehan.
"Kalau saja kamu mau menerima dirimu yang adanya, kebahagiaan akan datang menghampiri. Kamu terlalu banyak berpikiran negatif tentang diri sendiri dan mereka," kemudian Eris menyapukan tangannya dan mereka berpindah ke festival hari ini.
Isi gedung itu penuh dengan banyak orang, bunga mawar bertaburan kelopaknya. Sia dan Sehan menunggu di sisi yang berbeda.
"Akhirnya yang ditunggu tiba juga. Kita sudah tahu siapa yang akan menang. Tidak terduga idola kelas kita juga mendukungnya," kata murid sebelah.
Adelia duduk di tengah kursi, banyak sekali penonton disana termasuk orang tua murid.
"Baiklah, kami akan mengumumkan pemenang kontes kecantikan ini, saya Venus sangat gembira diberikan kesempatan untuk mengumumkannya. Sayang sekali peserta tersebut berhalangan hadir," kata Venus dengan sedih.
"Ada Sia dan Sehan wakilnya," teriak murid lain.
"Hahahaha baiklah dengan ini saya umumkan pemenang kontes Dewi Aphrodite jatuh pada... ADELIA DARI KELAS 2-2! Selamat," katanya dengan antusias.
Seluruh penonton bersorak senang, Adelia menangis menatap semuanya. Sebagai wakilnya guru kelas mereka yang menerima bunga dan lainnya. Dia berjalan ke atas dan berusaha menahan penghargaan lalu memeluk dirinya sendiri dan menangis.
"Adelia kemana sih? Bukannya dia yang paling menanti?" Tanya yang lainnya.
Eris mengubah lagi mereka ada di depan rumahnya. Sia dan Sehan berdiri depan pintu, mengetuk tapi tidak ada yang keluar.
"Kemana ya?" Tanya Sehan.
"Coba lihat dari arah samping," kata Sia memegang banyak buket bunga mawar.
Sehan pergi ke samping tirainya terbuka. Tidak ada siapapun. "Tidak ada orang lalu ini bingkisannya bagaimana?" Tanya Sehan kebingungan.
"Sebentar aku coba telepon ke ibunya," kata Sia.
__ADS_1
"Halo," jawabnya.
"Ah, saya Ambrosia. Kami di depan rumah Adelia mengantarkan bingkisan dan bunga. Anda pergi kemana ya?" Tanya Sia dengan sopan.
Tidak ada balasan lalu. "Simpan saja semuanya depan pintu atau kalian bawa pulang saja. Kami pindah rumah karena Ayahnya Adelia dipindah tugaskan," jelas ibunya.
Langsung ditutup. "Katanya bawa pulang saja," kata Sia agak aneh.
"Ada apa?" Tanya Sehan.
"Suara Ibunya seperti sedang menangis. Bagaimana?" Tanya Sia.
Sehan lalu keluar gerbang rumah dan melihat. Tidak ada orang dia keluarkan jepit rambutnya dan.. CKLEK!
"Ayo masuk," katanya cengengesan.
"Kamu gila! Nanti..." kata Sia marah tapi sudah diseret masuk.
Adelia juga mengikuti mereka begitu juga dengan Eris. Semuanya masih ada kursi dan segalanya.
"Ini bau apa ya?" Tanya Sehan. Mereka berdua menutup hidungnya lalu menyemprotkan parfum di hidung mereka.
"Kamarnya pasti di atas baunya dari atas," kata Sehan bergegas naik disusul Sia.
"Disini," kata Sia membuka pintu kamar Adelia.
Bau tidak enak menyebar membuat mereka mual terlebih lagi mereka berteriak keras menatap tubuh Adelia yang kurus mengering kedua matanya mengeluarkan air mata yang telah mengering.
Bau darah yang amis memenuhi rumah itu, darah hitam keluar dari tubuhnya beserta bubuk putih yang bertaburan. Tapi itu garam biasa.
Setelahnya mereka menghubungi polisi dan orang tuanya menjelaskan keadaan yang aneh. Sehan berpegangan tangan dengan Sia.
"Untunglah kamu setelah memakai sabun itu berhenti menuruti perintah anak itu," kata Sehan.
Dia mengangguk, dirinya tidak mau lagi menghadapi hal sama nanti saat dia dewasa. Jangan sampai toko itu kembali di hadapannya. Eris berada disana dan menyapu ingatan mereka tentangnya dan semua.
Eris menggunakan jam besar untuk membalikkan waktu dimana mereka berada depan pintu rumah Adelia tadi.
"Kita disini sedang apa sih?" Tanya Sehan.
"Kita kan mau memberi bunga untuk Adelia. Lalu bagaimana?" Tanya Sia.
"Kita simpan saja di depan pintu sesuai kata ibunya. Sayang sekali dia pasti senang kalau nanti pulang usahanya berbuah," kata Sehan.
"Iyalah dia sudah berusaha menjadi cantik," kata Sia.
Adelia bingung lalu menatap Eris yang melayang sambil mengembalikan jam besar itu. "Kenapa semuanya kembali ke waktu ini?" Tanyanya bingung.
"Kamu sudah tidak ada di dunia ini. Seharusnya kamu tidak melakukan memakan garam tersebut," kata Eris.
"Jadi aku ini..." Eris menatap tangannya yang transparan begitu juga tubuh nya.
"Itu tubuhmu," tunjuk Eris.
Adelia melayang ke lantai atas dan terkejut sekali dengan tubuhnya. Kurus kering, matanya memutih sambil memegang bubuk garam. Setelah itu dirinya berubah menjadi bola kehidupan yang berwarna hitam terang.
__ADS_1
"Seharusnya kamu senang bisa menjadi pemenang kontes dan menyambut hari kematianmu." Kata Eris tersenyum dingin lalu menghilang.