Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
1


__ADS_3

Anak yang tidak diketahui dari mana asalnya tidak membuat kedua pasangan ini takut, mereka memberikan kenyamanan padanya lalu mainan dan baju yang lainnya.


"Ini kamarmu. Ayo masuklah," kata kakek dengan riang.


Anak itu masuk dan kaget, dia menyukai kamar tersebut yang terbilang tidak normal.


"Ini kamarku?" Tanyanya dengan takjub.


"Iya. Kamu suka?" Tanya kakek itu memandangi anak setan dnegan ragu.


"Suka!" Jawabnya masuk dan tertawa.


"Baiklah, aku akan tinggalkan kamu di sini," kata kakek itu lalu turun ke bawah dengan suara tawa terkekeh-kekeh.


Anak itu kegirangan melihat-lihat keadaan kamarnya yang tidak biasa. Eris muncul dan wajahnya sangat kaget bukan main.


"Rumah ini terkutuk. Kamu harus keluar," kata Eris memperingatkan.


"Terkutuk? Tapi mereka baik kepadaku," kata anak itu agak bimbang.


"Kamu ini tidak waras ya? Bagaimana kamu bisa menjadi manusia, yang bahkan tampak senang melihat semua barang tidak abnormal. Contoh topeng ini kulitnya terbuat dari kulit manusia. Lalu hiasan akuarium, coba kamu lihat dari dekat," kata Eris menunjuk.


Anak itu lalu berjalan menghampiri akuarium yang dibuat seolah ada air. Dia memperhatikan hiasan semacam kerang tapi...


"Itu kuku manusia. Kamu mana mungkin tidak bisa membedakannya kan?" Tanya Eris lalu menghilang kembali menjadi asap.


Anak tersebut termenung, dia menatap semua benda dalam kamar itu. Tentu dirinya adalah anak setan yang menyenangi hal abnormal kebalikan dari para manusia.


Dia sadar mana ada manusia yang akan menyenangi semua ini lalu... apakah kakek itu sebenarnya iblis?


Lalu anak itu bergegas ke pintu kamar dan memutarnya ternyata dikunci! Dia mencari kawat entah dari mana dan berhasil membuka pintu. Anak itu melihat ke lantai bawah, bayangan kakek dan nenek tampak entah sedang apa mereka.


Dia menatap pintu kamar yang berwarna berbeda dengan dirinya. Terdapat tiga kamar yang warnanya berbeda. Dia mendekati dan memasang telinganya di pintu.


Terdengar suara raungan menangis yang pilu sekali. Dia mengetuk pelan, "Siapa yang ada di dalam?" Tanya anak setan itu.


Terdengar gesekan kaki yang menuju pintu. "Keluar! Jangan berada di rumah ini. Mereka akan memukulmu setiap hari sama dengan kami," bisik anak itu dengan suara habis nangis.


Anak setan tidak percaya apa yang baru saja dia dengar, hampir sama dengan yang dikatakan Eris.

__ADS_1


"Kalian sudah lama di sini?" Tanya anak setan.


"Sudah hampir tiga bulan. Mereka akan datang memberikan makanan tapi saat kami sadari itu terbuat dari daging manusia. Air minum adalah air darah yang dicampur jus buah. Kakek itu psikopat gila," bisik anak dalam kamar.


"Aku akan mengeluarkan kalian," kata anak setan yang meraih gagang pintu.


"Tidak akan mungkin," suara Eris terdengar di telinganya.


"Pergilah! Kamu masih bisa bernafas dan sehat," kata suara itu lalu terhenti.


Anak itu merasa harus kembali ke dalam kamarnya dan menguncinya lagi, lalu melempar kawat ke dalam kasur.


Benar saja si kakek naik ke lantai atas lalu memeriksa anak setan yang berada di dalam kamar. Nenek ada di sebelahnya sangat cemas.


Terdengarlah suara gebrakan di pintu depan dan suara erangan yang memilukan yang hanya bisa didengar oleh anak setan. Anak setan itu merinding, dia menangis berpikir anak-anak itu sedang di siksa.


"Kembalilah ke duniamu dalam rumah ini mereka berdua sudah melebihi sifat iblis sekalipun," suara Eris kembali berbisik dalam telinganya.


Anak setan itu menggelengkan kepalanya, air mata yang jatuh dia usap berpura-pura tidur. Nenek datang dan meninggalkan sepiring makanan lalu diusapnya kepala anak setan itu dengan lembut.


"Nak, tinggallah disini bersama kami. Kami akan menyayangimu, tidak ada yang akan menyakitimu bila kau patuh," bisik nenek lalu mengecup kening anak itu.


Dia makan dengan lahap! Jadi ini makanan manusia yang lezat itu. Lalu terdengar suara langkah kakek menuju lantai bawah. Terdengar pukulan.


"Kamu beri apa anak itu!? JAWAB!" Teriak sang kakek mencambuk nenek.


"Kue cokelat. Kue kesukaan kita, tolong berhentilah menyakiti anak yang tersesat. Apa salah mereka pada kita? Sadarlah, anak-anak kita sudah kamu bunuh semua!" Teriak nenek menahan serangan.


"MEREKA MAU MEMBUNUH KITA! Lagipula satu anak kita kabur, kamu tidak tahu kan apa yang akan dilakukannya nanti," Teriak kakek lalu pergi keluar rumah.


Nenek menangis terisak-isak. Anak setan itu iba melihat keadaan nenek yang penuh lebam lalu mengambil obat dan perban.


"Salah Nak, sini aku ajarkan. Pertama bersihkan dulu lukanya dengan air lalu beri obat dan mulai diperban," kata nenek itu menahan tangisannya.


"Nek, apa kakek sering memukul nenek?" Tanya anak tersebut.


Nenek terdiam sambil membalut lukanya. "Maaf ya Nak, hari pertama kamu sudah mendengar semuanya. Apa kamu dengar sesuatu dari rumah ini?" Tanya Nenek.


Anak tersebut menggeleng, bisik suara dalam kamar itu memperingatkan kakek dan nenek.

__ADS_1


"Baiklah, kembalilah ke kamar biar nenek yang urus sisanya. Aku sudah terbiasa, nanti malam turunlah kita makan malam bersama," kata nenek menaruh kotak obat.


"Apa menunya?" Tanya anak itu membuat si nenek terhenti.


"Jangan cemas. Menunya aman," kata nenek berbalik tersenyum.


Anak itu menuju tangga lalu berbalik menatap luka lebam sang nenek. Ada yang janggal, nenek dipukul dengan keras tapi lukanya cepat sembuh sedangkan si kakek semakin banyak luka dan lama sembuh.


Anak kembali ke dalam kamar dan mulai merapihkan segalanya. Dia dan Eris menata kamarnya menjadi lebih manusiawi.


Berhari-hari anak itu tinggal dia memiliki niat membahagiakan pasangan lansia itu agar sang nenek tidak dipukul lagi. Niat itu berhasil, mereka mengajaknya bermain di taman dan berlarian. Mereka berdua tertawa tampak senang.


Lagi-lagi anak setan melihat beberapa kepala anak yang memandanginya ke arah dirinya. Anak itu enggan bercerita takut kakek akan memukul mereka juga.


Lalu dia tiduran di rerumputan bersama dengan nenek, kakek datang membawakan minuman merah dicampur soda.


"Ini enak sekali. Ayo diminum," kata kakek menatap anak itu.


Nenek tidak bisa menghalangi, dia meneguk habis minuman merah itu dan anak pun ikut melakukannya. Sang kakek puas sekali.


Eris telah menukarkan dengan kekuatannya, darah ditukar sirup yang tak berbau. Gelas berisi darah sudah tentu Arae minum dengan mencampurkannya Wine kesukaannya.


"Apa ini, Kek?" Tanya Anak itu menghabiskan minumannya.


"Minuman kesehatan. Supaya kamu kuat," kata kakek mengambil gelas yang kosong dan meletakkannya entah di mana.


Nenek yang duduk sebelahnya menatap anak itu dan menyeka air matanya.


"Nenek tidak apa?" Tanya anak itu cemas. Ingin rasanya dia membuka siapa dirinya pada sang nenek.


"Pergilah. Cepat pergi dari rumah ini," kata nenek itu dengan kedua mata yang tampak lelah.


"Kenapa? Bagaimana dengan nenek?" Tanya anak itu memandangi kakek yang berjalan menjauhi mereka.


"Sekarang masih sempat. Kalau kamu lebih lama di sini, kamu akan berubah menjadi iblis," bisik nenek dengan ketakutan.


Anak itu tersenyum. "Aku tidak akan apa-apa, Nek.Tenang saja," kata anak itu.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2