Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
Cerita Nyx ( Jeon Jungkook )


__ADS_3

"HUWAAAA!!!" Teriak mereka semua termasuk Arae. Eris hanya menguap karena kurang seru, memandangi mereka semua yang urutan duduk sudah tidak beraturan.


Hanya Apollo yang masih bertahan di posisinya meskipun membuatnya yang paling jauh dan paling terasingkan.


"Itu menyeramkan," kata Artemis menggigiti jari-jarinya yang ketakutan.


"Apa kita salah memilih judul ya?" Tanya Ares ke dirinya sendiri. Eris menatap Ares dengan mimik wajah yang datar ternyata dirinya juga sama penakutnya.


"Eris, seharusnya kita bawa kue dan teh," bisik Arae yang mengalihkan perhatian.


"Ini kan kisah seram untuk apa membawa cemilan?" Tanya Eris menatap Arae dengan datar.


"Aku bawa!!" Seru Arae yang mengeluarkan sesuatu dari balik besarnya.


Mereka bertujuh menyambut dan menikmati beberapa makanan dengan perasaan lega. Begitu juga dengan Teran namun anehnya tidak terlihat lemas. Karena itulah Arae tidak memberikan minuman itu kepadanya.


"Bagaimana? Mau dilanjut saja?" Tanya Teran yang tengah duduk dengan tenang.


"Kalian sudah seperti mengikat janji di tempat ini. Bila ingin secepatnya lepas ada resiko yang harus kalian tanggung," kata Eris dengan tenang.


Mereka semua menatap Eris, wajah-wajah penasaran sekaligus penakut. "APA!?"


"Kalian berdua membeli cerita seram dari para peserta lalu kalian ingin segera mengakhiri, tanpa ada peresmian kegiatan ini berakhir kalian akan diikuti oleh para hantu yang sudah kalian ceritakan," kata Eris.


"EEEEEHHH!?" Seru mereka semua. Sebagian menyesal tidak tahu kalau hasilnya sebegini menakutkan.


"Sudah, lanjutkan saja deh setiap 2 kisah bagaimana kalau kita rehat sebentar dan jeda?" Tanya Artemis.


Mereka semua setuju. Nyx ambil kue paling banyak, dia harus makan apa saja agar tidak ketakutan.


"Giliran aku saja ya kalau begitu," kata Nyx mengacungkan tangannya. Yang lain mempersilahkan, dia menggosok-gosokkan tangannya dan berdehem.


"Ngomong-ngomong, apa kalian tidak terlalu berdempetan?" Tanya Arae.


Mereka semua lalu saling melepaskan pegangan dan duduk kembali secara berjarak meskipun Aiolos tetap agak mepet pada Ares.


Ares yang masih duduk di bangku sekolah SMA, seharusnya dia lah yang merasakan ketakutan. Tapi berhubung sudah melihat Aiolos yang sudah terlanjut ketakutan, dia pasrah.

__ADS_1


Apollo masih bertahan cengengesan menatap keenam yang berjarak sekarang. Kebetulan wadah berisi air dekat dengannya, dia menatap sedikit ke arah itu. Dan terbelalak saat melihat riak an air yang bergelombang.


Apollo menatap Eris yang juga menatap dirinya, Apollo menelan ludah dan berfokus pada cerita yang lain. Dia enggan memikirkan sesuatu yang misteri.


"Cerita ini aku dengar sendiri dari Ibuku yang berasal dari Betawi. Ibu memiliki pengalaman mengerikan semasa bersekolah di luar negeri," jelas Nyx.


"Waah," kata mereka kagum.


"Di sebuah negara W tepatnya wilayah B, terdapat sebuah rumah yang sederhana didiami oleh sepasang kakek dan nenek. Saat itu Ibu ku masih berusia 16 tahun dia tidak pernah berani mendekati rumah sederhana itu," kata Nyx menatap ke semuanya.


Mereka tidak ada yang berkomentar semuanya masih serius mendengarkan dan membayangkan keadaan di sana.


"Kara Ibu setiap pulang sekolah melewati rumah itu, dia selalu mendengar suara kucing yang berkelahi dengan kakek dan nenek lalu ada pukulan yang keras," kata Nyx yang agak sedih.


"Apa kucing itu..." kata Ares tidak melanjutkan.


"Ya, Ibu ku bilang pasangan itu membunuh kucing yang memasuki rumah mereka, mereka datang untuk meminta sedikit makanan.


Aku yang mendengarnya sudah tentu menangis. Karena Ibu ku penyuka kucing, dia sempat mendengar lolongan kucing yang akhirnya berhenti.


Ibu tidak mau berpikir macam-macam dan langsung lari," jelas Nyx menahan rasa sedihnya.


Tidak ada yang mendengarnya karena hampir suaranya memang terkesan pelan sekali.


"Para tetangga tidak ada yang berani mendekati rumah itu hanya untuk sekedar bicara, atau menanyakan kabar.


Ibu pernah secara tidak sengaja melihat sang nenek keluar mengambil koran. Lalu Ibu melihat telapak tangannya penuh darah.


Yang lain juga melihatnya, pernah ada orang yang protes tentang apa yang mereka lakukan seperti terhadap para kucing," kara Nyx dengan suara yang tercekat.


Kalau saja saat itu dirinya sudah ada, mungkin berbeda kisahnya. Tapi... dirinya bahkan belum terbuat dari Ibu dan Ayahnya.


"Lalu bagaimana hasilnya?" Tanya Anemoi.


"Mereka diancam akan dibunuh seperti mereka lakukan pada kucing-kucing. Suatu ketika Ibu ku memungut anak kucing dan merawatnya.


Ibu sayang sekali pada kucing itu. Teringat akan pasangan seberang, Ibu menjaga kucing itu agar tidak berlari kesana. Semua tetangga juga begitu," jelas Nyx lalu minum teh.

__ADS_1


"Mengerikan sekali usia mereka sudah uzur bukannya tobat malah membuat dosa," kata Artemis menggelengkan kepala.


Nyx setuju untungnya itu di masa saat Ibunya masih remaja. "Suatu hari Ibu kecolongan membuka pintu rumah lebar-lebar.


Kucing peliharaannya tidak kembali dan keluarganya bilang untuk mengikhlaskan, tapi sulit. Tak lama sekitar 3 hari, kucing Ibu kembali dalam keadaan yang mengerikan," kata Nyx.


"Wow! Apa dia disiksa?" Tanya Poi.


"Ya. Meskipun kucing itu masih kecil tapi dia sanggup bertahan. Dia berjalan sambil menyeret kedua kakinya dengan mulut yang sobek.


Ibu ku berlari menyambutnya sambil menangis. Dalam mulutnya keluar darah, giginya patah, mata sebelah menutup mungkin ditusuk. Aku mendengarnya sangat tidak menyangka," kata Nyx menyeka air matanya.


Mereka semua menggenggam tangan dengan marah.


"Semua orang tidak ada yang berani melaporkan keadaan kedua pasangan itu. Mereka hanya bisa membantu Ibu untuk memulihkan kucingnya semula," kata Nyx.


"Anak kucing itu benar-benar berjuang," kata Ares.


"Karena dia tahu pemiliknya sedang menunggu kedatangannya," kata Apollo agak sedih juga.


"Selamat kah?" Tanya Arae.


"Ya, meskipun harus lumpuh kehilangan kedua kakinya tapi Ibu ku bersyukur dia masih bisa selamat.


Sejak itu, kucing Ibu selalu ketakutan bila ada orang yang membawa barang di kedua tangan," kata Nyx memberikan bukti foto kucing itu.


Mereka semua bergantian melihatnya. Kucing putih yang gemuk memiliki anak 4, hidupnya kini bahagia.


"Lalu terjadi lagi kucing dari seorang gadis tetangga sebelah yang kehilangan kucingnya. Dia tidak tahu mengenai kabar pasangan tersebut.


Seperti Ibu, gadis itu hanya merelakan kucingnya dan berharap kembali seperti milik Ibu. Tapi tidak terjadi mau berapa minggu menunggu, kucingnya tidak pernah kembali," kata Nyx.


"Menurutmu bagaimana Eris?" Tanya Arae penasaran.


"Kucingnya... melakukan hal yang dilakukan oleh kakek nenek itu," kata Eris membuat Arae heran.


"Maksudnya?" Tanya Arae.

__ADS_1


Api dalam lilin Nyx bergerak bergoyang dari tempatnya. Hanya Eris yang bisa menangkap suara gesekan dari ruang belakang mereka. Arae juga mendengarkan itu dan membuatkan mantra penghalang agar mereka semua aman di dalam ruangan tersebut.


Bersambung ...


__ADS_2