Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
2


__ADS_3

"Sate, moshiwake arimasen ( Baiklah, baiklah maafkan aku ). Watashi wa anata ni shitagau yo ( Aku akan ikut kalian saja )," kata Erika menenangkan kelompok Kaoru.


Yang lainnya juga turut tenang, sebisa mungkin mereka harus lebih sabar menghadapi nada tinggi Erika.


"Watashi wa tada no ikendesu ( Aku kan hanya mengemukakan pendapat )," lanjut Erika dengan nada yang lebih rendah supaya tidak salah paham lagi.


Naoko dan Rei salah mengira mereka pikir Erika ingin mengajak berantem karena judul laporan mereka terlalu mudah.


"Anata no tema wa kodomo ga imasen. Akka suru yoso wa arimasen ( Tema kalian itu kekanak-kanakan tidak ada unsur yang memberatkan )," kata Erika membuat yang lainnya berpikir.


"Tabun sore wa kantan sugiru ( Mungkin memang terlalu mudah )," kata Kaoru berpikir kembali.


"Soredewa, sudeni sanko shiryo ga arimasu ka? Sore wa kantande wanai ( Lalu, kalian sudah dapat bahan referensinya? Itu kan tidak mudah )," kata Erika. Karena waktunya juga tidak begitu lama, mereka hanya diberi waktu selama perjalanan karyawisata ini.


"Wareware wa zairyo o motte iru ( Kami sudah mendapatkan bahannya )," kata Sayoko dengan tenang. Nada bicaranya pun sudah kembali normal dan membuat Erika sadar kalau masalahnya adalah nadanya sendiri.


"Watashitachi wa chodo doko ka kara modotte kimashita ( Tadi kami baru saja pulang dari suatu tempat ),' kata Sui melanjutkan makan malamnya.


"Watashitachiha ona ni tazunete, soko ni itte ningyo no kigen ni kansuru shitsumon o suru kyoka o motomemashita ( Di rumah itu memiliki begitu banyak boneka. Kami sudah bertanya pada pemiliknya, meminta ijin untuk kesana lagi sambil sekalian bertanya mengenai asal boneka-boneka itu )," kata Rei menjelaskan.


Kedua mata Erika berbinar ternyata tidak seperti dugaan teman sekelasnya, bahwa kelas Kaoru berada isinya anak-anak rendah. Ternyata mereka pintar juga telah menemukan langsung narasumbernya.


"Anata wa kitai to omou? ( Kamu mau ikut )?" Tanya Sayokk menawarkan toh dia sudah masuk ke kelompok mereka.


"Mochiron! Watashi wa sudeni anata no menbadesu! ( Tentu saja! Aku kan sudah menjadi anggota kalian )! Watashi mo tasukemasu ( Aku juga akan membantu )," kata Erika dengan riang dan semangat.


Besok paginya mereka mandi dan mengisi absen kelompok lalu meminta izin untuk pergi ke tempat narasumber laporan mereka.


Sepanjang perjalanan, mereka mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan sesampainya disana. Tidak ada yang bekerja perseorangan dikarenakan waktu terbatas dan juga mereka enggan berlama di dalam toko tersebut. Berbeda dengan Erika yang sebenarnya sangat penasaran.


Sampailah mereka di toko Zalaam, saat Naoko mau membukakan pintu, pintu itu terbuka begitu saja seperti ada yang membukakan untuk mereka semua.


Eris sudah berdiri di depan pintu dan Ela seperti biasanya menyambut mereka semua.


"Hai! Kami datang lagi dan bermaksud untuk melakukan penelitian di dalam tokomu," kata Kaoru.


Mereka semua menundukkan badan mereka setengah dan Eris membalasnya. "Tentu saja. Silakan," kata Eris sambil menunjukan ke tempat dimana mereka akan memulai mewawancarainya.


Erika juga ikut masuk dan takjub lalu tersadar mereka semua berbicara bukan Jepang.


"Apa boleh kami menempatkan toko ini sebagai bahan cerita dari laporan kami?" Tanya Sayoko dengan sopan.


"Tentu saja," kata Eris menuangkan teh.


"Tunggu sebentar, bahasa kita berubah?" Tanya Erika kebingungan.


Mereka semua tertawa.


"Pertama masuk toko ini juga kami semua terkejut. Tanpa pelatihan apapun, ucapan kita otomatis menjadi Bahasa," jelas Naoko cekikikan melihat Erika.


Sebenarnya itu bukan efek dari toko ini melainkan karena mereka berhadapan dengan Eris. Namun mereka masih belum menyadarinya sama sekali.


"Kalian tahukan syaratnya jangan sentuh boneka yang ada dalam kotak kaca itu," kata Eris. Mereka semua mengangguk berbeda dengan Erika yang baru datang.


"Eh, ada apa sih? Apa maksud dari perkataan anak ini?" Tanya Erika berbisik pada Mina.


"Kita diizinkan meneliti boneka disini asalkan kita tidak membuka atau menyentuh pajangan boneka yang berada dalam kotak kaca itu," kata Mina membalas bisik sambil menunjukkan tangan ke kiri.


Erika melihat pajangan yang dimaksudkan, boneka satu-satunya yang diberi penutup mata dan diberdirikan di pojok lemari. "Kalau memang tidak boleh disentuh kenapa harus dipajang sih? Kan jadinya buat penasaran mata," pikir Erika.


"Kalian bisa bertanya soal apapun," kata Eris.


Akhirnya tugas dibagi menjadi dua. Naoko, Sayoko, Sui dan Mina bertugas menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan boneka dari pembuatan, asal, serta nama-nama boneka antik yang ada di toko Eris.


Rei, Erika dan Kaoru bertugas mengambil foto daei semua boneka yang ada. Boneka antik itu sangat cantik dan indah bila dipandang. Erika juga sesekali takjub dengan beberapa benda aneh di sana.


Saat Erika melihat kelima temannya sibuk mengerjakan tugas, dia berjalan pelan ke arah pajangan boneka yang ada di pojok. Kegiatan berlangsung dengan khidmat tanpa mereka sadari Erika tertarik dengan boneka itu.


Erika sudah tiba didepan boneka yang ada di kotak kaca lalu dia buka penutupnya dan hampir saja mau mengangkatnya.


"Jangan! Apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Naoko yang sadar bahwa Erika tidak tampak antara Kaoru dan Rei.


Naoko memperhatikan Eris dan teman yang lain masih sibuk dengan tugas mereka. Erika lalu menaruh kembali boneka itu ke dalamnya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin lihat kenapa boneka ini tidak boleh dipegang. Jangan bilang kamu juga sudah pernah melakukannya," kata Erika.


"Iya, aku juga sama seperti kamu dan ketahuan oleh anak itu. Jangan berbuat hal yang sama denganku," kata Naoko memperhatikan Erika memasukkannya lagi dan menutup.


"Kamu tidak penasaran kenapa dia menutup kedua matanya?" Tanya Erika.


"Penasaran sih tapi kalau kamu disini lebih lama, seperti dipandangi sejuta mata oleh banyak boneka. Termasuk boneka ini meski manis," jelas Naoko.


"Huf! Hampir saja kita harus tetap fokus pada Erika karena dia baru pertama kalinya pasti dia keheranan soal boneka itu," kata Kaoru berkata pada semuanya.


Untuk lebih menguji mereka semua, Eris pamit sebentar ke dalam mengerjakan sesuatu. Mereka semua berembuk mengerjakan mana saja yang harus mereka ketik nanti untuk laporan.


Erika duduk bersama mereka sambil mengeluarkan hasil foto dan ternyata ada beberapa yang kurang. Mereka lalu melihat-lihat sekitarnya termasuk Erika.


"Ng... toko ini terpisah jauh dari wilayah kunjungan turis. Pantas yang datang pun sedikit sekali dan mungkin baru kita saja. Apa dia tidak merasa rugi ya?" Tanya Sui memandangi ke luar jendela.


"Wah, lihat! Ada boneka tua juga lho. Ini kan Raja dan Ratu dari zaman Meiji, wah yang ini dari zaman Edo! Hebat! Dia memiliki banyak boneka dari zaman dulu?" Tanya Rei antusias.


Naoko yang berdiri memandangi teman-temannya sontak merasa bulu kuduknya berdiri entah dari mana. Dia melihat seakan-akan semua boneka memandanginya marah.


"Eh, Kaoru kalau sudah selesai kita cepat keluar yuk. Boneka tua ini rasanya seram," kata Naoko memijat leher belakangnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Kaoru.


"Rasa-rasanya boneka ini semuanya tidak menyukaiku. Pandangan mata mereka seperti menghujaniku dengan mata yang marah," kata Naoko tidak enak.


"Mungkin mereka marah karena kamu berusaha membuka penutup mata boneka yang dipojok hahaha," kata Sui tertawa.


Melihat mereka tidak ada satupun yang tertawa, Sui lalu diam dan meminta maaf.


"Itu tidak lucu, Sui kita dalam toko penuh boneka," kata Kaoru.


"Ya itu mengerikan kalau memang seperti itu. Dan Erika kamu juga jangan macam-macam," kata Mina memperingatkan.


Erika angkat tangan meskipun setelahnya dia kemungkinan tidak menepati janjinya.


"Sudah selesai belum? Jangan lama-lama," kata Naoko masih tidak merasa enak.


"Bukan aku. Kapan aku bilang begitu? Awal aku ajak kesini kan karena ingin tahu dalamnya. Kan kamu yang bilang akan mengangkat kisah soal Boneka," kata Naoko.


"Iya tapi setelahnya kamu setuju berkata cari tempat yang sepi dikunjungi orang supaya dapat nilai bagus. Ingat tidak?" Tanya Kaoru lagi.


"Iya sih tapi kalau seram begini.. mana ditambah boneka pajangan ini juga seram. Kalian tidak merasa aneh melihatnya?" Tanya Naoko memandangi mereka satu per satu.


"ERIKA!" Teriak semuanya menangkap Erika yang bermaksud mengembalikan boneka.


Erika kaget lalu melepaskannya. "Ini.. aku hanya bermaksud..." katanya panik.


Mereka memperhatikan penutup kotak kaca itu sudah berada di samping kotaknya dan boneka itu pun sudah ada di luar kotak. Mereka semua menutup mulut mereka masing-masing.


"Kamu! Sudah dibilang tidak boleh masih saja kamu lakukan," kata Naoko dan Kaoru memarahinya.


Erika diam melihat kotak itu tanpa mereka sadari bahwa bukan dia yang melakukannya. Rei melihatnya sangat aneh.


"Hei, hei ada ruangan lain lho. Kira-kira ini ruangan apa ya?" Tanya Sui penasaran.


Kaoru menghela nafas. "Hei, ini toko orang masa kita masuk begitu saja?" Tanyanya.


Mina lalu mendorong Kaoru, Erika pun mengikuti mereka tanpa tahu penutup mata sudah terlepas dari boneka itu.


Erika tidak tahu kalau boneka itu sudah berpindah tempat yaitu masuk ke dalam salah satu tas besar sambil tertawa jahat. Sedangkan boneka lain bergeser tidak ingin melihatnya.


Mereka berjalan memasuki ruangan lain yang tidak terkunci, saat dibuka mereka semua kaget dan hampir berteriak.


"Wah... tumpukan boneka bekas. Ada yang rusak, belah, kotor ini sudah parah kenapa ditumpuk disini sih?" Tanya Mina yang kaget.


"Boneka-boneka ini harus didoakan. Aku pernah baca di buku, ada kuil yang setahun sekali pada musim gugurengadakan pembacaan doa bagi boneka yang sudah tidak terpakai," kata Sui memegang salah satu boneka yang kepalanya pecah.


Naoko yang memandangi boneka bekas itu menjadi semakin tidak tentu. "Hei, sudah yuk. Nanti aku akan tanyakan pada anak itu kenapa boneka ini tidak dibawa ke kuil tapi sekarang kita sudah dulu," kata Naoko menarik tangan Kaoru.


"Kok takut sih? Ini kan hanya boneka," kata Erika yang bersandar pada pintu.


"Wajarlah karena boneka yang seperti ini saja masih punya jiwa," kata Naoko.

__ADS_1


"Boneka ya boneka. Benda onggokan tak bergerak yang menyerupai manusia. Sudah jangan cengeng begitu, bisa-bisanya kamu galak ke aku soal beginian cengeng," kata Erika.


Karena tidak tahan Naoko akhirnya keluar ruangan itu dan bernafas lega. Kemudian berjalan menuju tasnya berada. Naoko duduk dan membuka tasnya, saat selesai minum, dia melihat pada tas Rei seperti ada semacam serat benang berwarna hitam.


"Apa itu?" Tanya Naoko lalu menariknya. "KYAAAA!!" Teriaknya sambil berlari.


Mereka berlima mendengar teriakan Naoko lalu berlari ke luar ruangan, tidak lupa Kaoru mengunci kembali ruangan itu.


"Ada apa, Naoko?" Tanya Mina dan Rei bersamaan.


"Itu.. di dalam tas Rei," kata Naoko menangis.


"Tas aku?" Tanya Rei penasaran. Lalu dia berjalan menuju tasnya disusul yang lain.


Mina, dan Sui menenangkan Naoko.


"Apa ini!?" Tanya Rei kaget. Begitu juga yang lainnya.


"Sejak kapan boneka ini ada di dalam tas kamu?" Tanya Kaoru merasa aneh.


"Itu kan boneka antik yang tadinya ada dalam kotak kaca. Kok bisa ada di dalam tas? Siapa uang menaruhnya?" Tanya Rei.


"Kita semua kan menuju kamar tadi, mana mungkin anak itu yang memasukkan," kata Kaoru.


"Anak itu memang nakal," kata Eris membawa beberapa dokumen mengenai boneka.


"Nakal?" Tanya Erika.


"Kenapa aku melarang kalian membuka kotaknya karena dia selalu bisa kabur dan berusaha membuka penutup matanya," kata Eris lalu mengangkat boneka itu yang tidak suka padanya.


Mereka melihat sendiri boneka itu ditutup lagi kedua matanya dan didudukkan begitu saja di atas etalase.


"Tidak akan apa-apa dia tidak dimasukkan ke dalam kotaknya?" Tanya Naoko agak ngeri.


"Asalkan kedua matanya ditutup, dia akan diam," kata Eris lalu pergi mengambil kain yang baru.


Mereka semua saling berpandangan. Toko Eris memang misterius lalu Naoko dan Erika menghampiri dan melihat boneka itu.


"Manis sih memang tapi ..." kata Erika.


Saat mereka tertuju pada matanya, kedua mata boneka itu mengedip dan bergerak membuat Erika dan Naoko berteriak kembali.


"Ada apa lagi sih kalian?" Tanya Mina.


"Bergerak. Tadi mata itu bergerak ke arah kita," kata Naoko panik.


"Hahhh sepertinya kita cukupkan saja sampai disini selanjutnya kita kerjakan. Kita juga baru saja diberikan data untuk setiap boneka kan," kata Rei.


"Serius. Aku juga melihatnya tadi boneka itu kelihatannya bukan boneka sembarangan. Hei, sudah selesai kan? Aku tidak mau kembali lagi kesini," kata Erika memohon.


Melihat Erika si Ratu Nyinyir saja ketakutan, berarti memang bukan sembarangan boneka itu. Akhirnya mereka semua pamit pulang saat mata boneka itu ditutup kain lain oleh Eris. Eris melirik boneka itu dan memasukkannya lagi ke dalam kotak.


Kemudian Eris menuju kamarnya membuat segel agar boneka itu bisa diam. Boneka kimono itu mengeluarkan aura yang kelam lalu tertawa jahat dan membuka penutup matanya. Dia naik ke atas kotak kaca dan turun lalu berlari riang membuka pintu toko dan hilang.


Eris keluar kamar sambil membawa segel dan terkejut boneka itu keluar lagi.


"Nona! boneka itu lepas lagi. Anak itu melepaskan penutupnya dan dia kabur ke luar," kata beberapa boneka tua.


"Bakar saja anak itu. Kami takut," kata Boneka yang memakai payung.


Eris langsung memeriksa keluar pintu namun boneka itu sudah jauh berlari sambil tertawa senang.


"Kita biarkan saja," kata Arae yang muncul memeriksa kotaknya.


"Boneka itu sangat berbahaya, berbeda dengan kenakalan boneka lain. Aku tidak bisa menjamin mereka semua akan selamat," kata Eris membuat Arae panik.


"Tas siapa ini?" Tanya Arae menatap empat tas.


Rupanya saking ketakutan empat antara berenam lupa membawa tasnya.


"Mereka akan kembali lagi," kata Eris menaruh segel di atas meja.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2