Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
Cerita Apollo ( Suga )


__ADS_3

DUK! DUK! KREEEK KREEEK...


"Kalian dengar itu?" Tanya Anemoi memandang sekitarnya dengan ketakutan.


"Ya, terdengar seperti ada yang melangkah. Tapi bukannya tidak ada pengunjung atau siapapun ya? Apa ada orang selain kita?" Tanya Poi kebingungan.


"Bukannya hanya kita dan biksu tadi?" Tanya Nyx yang juga melirik sekitarnya.


"Teran, apa biksu disini sering melihat hantu?" Tanya Eris.


Teran agak terkejut tidak menyangka kalau Eris akan bertanya begitu. "Ah.. aku tidak tahu tapi pasti sering kan kuil ini menjadi tempat penyimpan mayat tidak dikenal," jawab Teran gugup.


"Kenapa kamu menyarankan mereka memakai tempat ini? Kalau menurutmu kuil ini sebagai penyimpan mayat," kata Arae.


"Itu.. karena... tempat lain..." kata Teran tidak mampu menjawab.


"Tempat lain bisa contohnya toko aku. Kamu juga bisa masuk, apalagi kalau kamu memiliki tujuan lain," kata Eris menatapnya dengan tajam.


Teran terdiam, dia hanya bisa menunduk.


"Apa.. kamu sengaja memancing mereka kemari untuk..." kata Arae.


"Membawa ke duniamu? Wahai roh jahat," kata Eris.


Teran membelalakkan kedua matanya, keringat bercucuran. Dan... "Kalian ini bicara apa? Aku tidak mengerti aku pikir akan sangat menarik bukan kalau kuil ini dijadikan tempat berkisah," kata Teran tersenyum terpaksa.


"Ada apa?" Tanya Ares menghampiri.


"Tidak ada," jawab Eris kembali ke tempatnya dan duduk.


"Kami hanya mengobrol," jawab Teran tertawa.


"Baiklah," kata Ares yang juga kembali duduk.


"Oh iya apa benar kuil ini sebagai sarana penyimpan mayat yang tidak dikenal?" Tanya Nyx tiba-tiba.


Eris menangkap dari gelagat mereka semua yang juga tampak aneh.


"Iya," jawab Ares.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu menyarankan tempat ini sebagai sarana untuk berkisah? Bukankah akan lebih baik kalau yang... aman?" Tanya Apollo memandang aneh.


"Kamu tahu kan soal kuil ini? Hampir kebanyakan orang tidak pernah memilih kuil ini dijadikan Uji nyali," kata Aiolos.


Ares dan Poi sebenarnya sama sekali tidak tahu apapun soal tempat ini. Mereka hanya berpikir tempat ini cocok unyuk tempat penelitian mereka.


"Tentu saja kami tahu," kata Poi menyembunyikan rasa anehnya juga.


"Teman kami yang menyarankan tempat ini. Kalau bisa sampai ada penampakan bukannya tambah seru?" Tanya Ares tertawa garing.


"Yaaa wajar sih tapi..." kata Artemis agak bagaimana ya.


Sebelum dia datang, kakak Eris yang perempuan yaitu Eirene mengatakan sesuatu mengenai tempat yang akan dia datangi. Dia harus berhati-hati karena seorang manusia biasa. Seharusnya orang biasa tidak menawarkan tempat yang biasa didatangi mayat.


"Hmmm setahu aku sih siapapun yang membuat kegiatan berkisah 100 cerita seram, pasti akan menghindari tempat yang agak... angker," kata Aiolos.


Teran hanya diam mendengarnya. Ares dan Poi juga diam karena salahnya, mereka sama sekalu tidak mencurigai Teran. Selintas mereka berdua bertanya-tanya sambil memandang ke belakang arah Teran berada.


"Selanjutnya giliran aku," kata Apollo yang melemaskan bahu dan tangannya.


"Silakan," kata mereka bersamaan.


Meski Ares dan Poi agak tidak nyaman dengan kenyataan yang mereka katakan tadi.


"Aaahh ya ya ya aku mengerti perempuan pasti begitu kalau di hari pertama," kara Nyx dan Aiolos agak heboh.


"Lalu kami membawa dia ke ruang UKS dengan dibantu oleh beberapa teman lainnya. Aku ikut untuk memastikan dia tidak apa-apa. Cerita ini sebenarnya dia beritahukan setelah kami keluar dari SMP, katanya dia baru berani cerita karena ketakutan dan tidak terpikir kalau itu hantu. Lalu, aku meninggalkannya di UKS setelah aku berkata akan meneruskan pelajaran," kata Apollo.


"Wooow, perhatian sekali ya. Yakin tidak ada perasaan khusus tuh?" Goda Artemis.


Apollo memandang Artemis dan senyum tipis. Mereka semua bermaksud menggodanya tapi Apollo menjawab dengan nada datar.


"Tidak," jawabnya datar.


Mereka terdiam memperlihatkan mata yang setengah tertutup.


"Payah!" Kata Nyx, Ares, Artemis dan Anemoi.


"Kamu masih bertemu dengan dia sekarang?" Tanya Aiolos yang kagum.

__ADS_1


"Masih, kemarin aku baru bertemu. Cerita ini sudah lama juga karena aku orangnya lurus dan datar jadi dia ceritakan," kata Apollo.


"Lurus?" Tanya Nyx.


Yang lain tertawa mendengarnya.


"Orang yang tidak ada ekspresi apapun kalau bertemu hantu juga, mungkin dalam pandangannya itu hanyalah asap rokok," jelas Ares masih tertawa.


"Iya iya seperti itu. Apapun yang orang lain cerita mau yang seram atau lucu, wajahnya akan biasa saja. Lanjut!" Kata Poi dengan semangat.


"Dia tengah melamun karena kepalanya juga sakit, kalian pasti mengerti kan?" Tanya Apollo.


Semuanya mengangguk, Aiolos cengengesan yah memang agak aneh pikirannya.


"Lalu tiba-tiba ada anak entah siapa menyapanya. 'Hei, kamu yang tadi pingsan ya?' Temanku berpaling ke sebelah kanan. Memang di sana ada jendela tapi dia lupa sesuatu," kata Apollo.


"Apa tuh?" Tanya Nyx agak penasaran.


"Ssst, dengarkan," kata yang lainnya.


Nyx menutup mulutnya selalu saja dia bertanya sebelum ceritanya selesai.


"Anak itu nampak dari sisi jendela temanku hanya tersenyum. 'Iya, kamu lihat? Memalukan sekali bukan,' lalu anak itu katanya tertawa. 'Tidak apa-apa itu kan normal kamu sedang Lampu Merah kan?' kata anak itu," jelas Apollo.


"Dari situ seharusnya bertanya-tanya karena sudah aneh kan," kata Poi.


"Ya. Temanku tertawa mendengarnya dan berpikir kenapa anak itu bisa tahu? Dia lihat darimana? Kemudian tidak dia pikirkan lagi," kata Apollo.


"Laki-laki atau perempuan?" Tanya Aiolos.


"Laki-laki. Dia hanya berpikir anak itu berasal dari kelas sebelah atau lantai 2, yang mengenal dia kan sangat banyak. 'Bagaimana perasaanmu sekarang?' 'Pusing. Yah, aku memang begini kalau setiap pelajaran olahraga,' 'Hahaha baguslah karena aku mencemaskan mu setiap kali kamu pingsan.' Setelah itu mereka mengobrol cukup lama sampai aku kembali untuk memeriksa keadaannya," kata Apollo lalu meminum sisa airnya.


Mereka semua tidak ada yang bertanya atau mengatakan apapun. Eris dan Arae juga fokus pada kisahnya.


"Lalu temanku bilang saat itu sama sekali tidak terpikirkan kehadiran anak itu yang menurutnya agak aneh. Dia belum pernah melihat wajahnya di sekolah bahkan kelas lain. Bodohnya, kata dia tidak sempat menanyakan siapa namanya," kata Apollo.


"Hiii," kata Nyx.


"Lalu saat temanku ingin bertanya, anak itu seakan tahu lalu mengatakan, 'Semoga lekas sembuh ya aku harus pergi,' lalu melambaikan tangannya dengan senang," kata Apollo.

__ADS_1


"Temanmu membalas?" Tanya yang lain bersamaan.


Bersambung ...


__ADS_2