
Karena terkesan sangat aneh, Mina memanggil mereka bertiga untuk menepi dahulu. Mereka lalu balapan sampai pinggir pantai datang namun tiba-tiba Erika tenggelam dan terseret ombak.
Mina dan Naoko menjerit memperingatkan Rei dan Sui bahwa Erika kemungkinan kram.
"Tasukete! Dareka ga watashi no ashi o tsukanda! TASUKETE! ( Tolong aku! Ada yang menarik kakiku! TOLONG AKU )!" Teriak Erika sambil berusaha berenang ke atas.
Sui dan Rei lalu menyelam untuk menolong Erika. Mereka kaget melihat ada lilitan rambut yang sangat panjang menarik kaki Erika.
Sui berusaha memotong rambut itu menggunakan cangkang kerang, sedangkan Rei membantu mengangkat Erika. Menyadari rambutnya tengah dipotong, gadis itu kemudian melilitkan rambutnya ke arah leher Sui.
Erika kaget begitu juga dengan Rei. Erika yang kakinya terlepas rambut, menarik rambut itu dengan kesal. Rei berusaha menarik kembali Sui yang hampir kehabisan oksigen.
Gadis itu kaget melihat Erika berusaha mencekiknya menggunakan rambutnya sendiri. Setelah berhasil mereka bertiga segera berenang secepat mungkin menjauh dari sosok itu.
Setelah muncul ke permukaan, mereka kemudian dibantu murid lain serta guru. Ketiganya kelelahan amat sangat, mereka melihat sesuatu yang menakutkan.
"Daijobudesuka? ( Kalian tidak apa-apa )?" Tanya murid lain sangat cemas.
"Korehanandesuka? NE KAMI! ( Apa ini? HIII RAMBUT )!" Jerit Erika mengerikan melihat kakinya terlilit rambut.
Teman yang lainnya ketakutan mereka pun berusaha membersihkan kaki Erika lalu menjerit melihat lilitan rambut di leher Sui. Terlihatlah leher Sui dan kaki Erika yang memerah. Mereka tampak kesakitan.
"Shita ni hidoi onnanoko o mimashita ( Di bawah tadi aku melihat ada gadis mengerikan ). Kare... wa wata...shi to Erika... o obore sa...setai ( Dia ingin menenggelamkan aku dan Erika )," kata Sui yang berbicara terputus-putus.
Naoko lalu memperlihatkan foto yang tadi dia ambil dari tangan Mina ke mereka semua. "Karede wannaidesu ka? ( Dia bukan )?" Tanyanya.
Sui, Erika dan Rei melihatnya mengangguk lalu mereka menangis lemas. Masih bisa selamat.
"Hai! kono kodesuga, kare no kao wa hidoidesu ( Iya! Anak ini tapi wajahnya mengerikan ). Ne, anata wa kare ga dareka to omoimasu ka? ( Hei, menurut kalian dia siapa ya )?" Tanya Rei masih memegang fotonya.
Mereka semua tidak pernah melihatnya, kenal pun tidak apalagi di sekolah mereka rambut panjang dilarang.
Malamnya di aula untuk makan malam, kelompok Kaoru terlihat sangat lesu dan tidak ada seorangpun yang berisik apalagi mengobrol. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Leher Sui telah diperban begitu juga dengan kaki Erika. Murid banyak yang bertanya apakah mereka tidak apa-apa, mendengar ada kejadian aneh menimpa grup mereka.
Mereka lalu memutuskan untuk mulai fokus mengerjakan tugas karena Sayoko sudah pulang, jadi bagiannya mereka kerjakan juga. Masing-masing mengerjakan bagiannya dalam ruang itu, dan sebagian menawarkan cemilan.
Lalu ada suara ketukkan mengagetkan mereka, Rei membukakan pintunya dan tampak petugas membawakan nampan besar berisi onigiri serta sausnya.
"Sumimasen, kore wa anata ga chumon shita onigiridesu ( Permisi, ini onigiri yang kalian pesan )," katanya masuk ke kamar dan menaruh di lantai jerami di hadapan mereka.
Mereka semua saling berpandangan. Siapa yang keluar? Toh mereka semua mengerjakan tugas dalam kamar sedati tadi.
__ADS_1
"Nano mo chumon shimasendeshita ( Kami tidak memesan apapun )," kata Erika.
Petugas itu hanya kebingungan menatap mereka semua. "E? Demo izen anata to kodomo wa daidokoro de watashi ni kimashita ( Eh? Tapi tadi kamu dan anak itu mendatangi saya di dapur )," kata petugasnya memegang pipinya.
"Watashi? ( Saya )?" Tanya Kaoru bingung memandangi semuanya. Tapi kan dari tadi dia menulis bersama Erika untuk bagian diketik.
"Hai, hokoku shitakattanode onigiri o tsukutte moraimashita ( Iya, katanya karena mau mengerjakan laporan, kalian meminta dibuatkan onigiri ),"kata petugas itu memperlihatkan tulisan tangan Kaoru tapi masalahnya itu bukan tulisan tangan Kaoru. Lalu siapa?
"Demo okasan, watashitachiha tabemono o tsukutta koto ga arimasen ( Tapi Bu, kami tidak pernah dibuatkan makanan ). Nazenara, watashitachi wa sorezore baggu no naka ni takusan no tabemono o motte irukaradesu ( Karena kami masing-masing memiliki banyak makanan di tas )," jelas Naoko menunjukkannya pada petugas.
"Mo! ( Ya ampun )!" Kata petugas itu terkejut.
Karena sudah dibuatkan, petugas itu lalu pergi dengan kebingungan. Melihat anak-anak kamar 310 mana mungkin berbohong, membuatnya semakin pusing.
Dalam kamar tidak ada yang berani mengambil onigiri itu dan tidak ada yang keluar dari kamar. Mereka lalu merapatkan diri daripada mengerjakan tugas dengan berjarak.
Kemudian tiba-tiba Naoko teringat pada yang dilakukan Erika saat di toko. "Erika, ningyo no mekakushi o hazushimashita ka? ( Erika, apa kamu membuka penutup mata boneka itu )?" Tanya Naoko memastikan.
Dengan pelan Erika menjawab dengan tidak enak. "Hai ( Ya )," sambil menundukkan kepalanya.
"Sonogo, mata tojimashita ka? ( Apa setelahnya kamu menutupnya lagi )?" Tanya Naoko.
"Moichido oboete mite kudasai, Erika ( Coba ingat lagi, Erika ). Moichido tojita koto ga arimasu ka? ( Apa kamu sempat menutupnya kembali )?" Tanya Naoko memegang kedua tangan Erika.
Erika terdiam, dia menangis sepertinya waktu itu dia melihat penutupnya tidak lepas tapi saat kembali dari ruangan itu, kainnya sudah lepas. Dan boneka itu pun sudah berdiri di pojok lain memandangi mereka semua.
"Kono kimyona dekigoto wa sono ningyo no seida to kakushin shite ******imasu****** ( Aku yakin kejadian aneh ini karena boneka itu )," kata Naoko. Semuanya setuju.
"Ano mise de kakunin shinakya ( Kita harus memastikannya di toko itu )," kata Kaoru yang berpikir dan menyimak penjelasan Naoko.
Siang itu tidak ada lagi yang terjadi karena lelah Naoko kemudian memutuskan untuk tidur siang. 15 menit Naoko lalu terbangun karena kehausan lalu dia mengikat rambutnya dan hendak keluar kamar. Naoko berhenti dia tidak mendengar suara nafas temannya, dengan takut dia menyalakan lampu.
Naoko tidak melihat ada siapapun lalu berlari keluar kamar. "Sensei, watashino tomodachi zen'in o mita koto ga arimasu ka? ( Ibu guru, apa Anda melihat semua temanku )?" Tanya Naoko agak panik.
Guru yang ditemuinya adalah guru piket yang sedang menikmati kopi. "Hora, mo ittenakatta no? Nanika tarinaimono qa aromasu ka? ( Lho, bukannya kamu tadi sudah pergi? Ada yang ketinggalan )?" Tanya guru itu keheranan.
"Sono imi wa? ( Maksudnya )?" Tanya Naoko bengong dan membeku. Dia ketakutan wajahnya langsung pucat. "Watashi wa megasameta bakari de, tomodachi wa soko ni imasendeshita ( Saya baru bangun tidur lalu teman-teman saya tidak ada ). Watashi wa mada dete imasen ( Saya belum keluar )," kata Naoko menjelaskan.
Guru itu meletakkan kopinya lalu menghampiri Naoko dan melihat baju yang dikenakannya berbeda dengan "Naoko" yang tadi dia lihat.
"E? Demo saki hodo tomodachi to issho ni dekaketa nodesuga, mada karuinade ningyo ya san ni ikitai to iwa remashita ( Eh? Tadi kamu keluar dengan semua teman katanya mau pergi ke toko boneka karena hari masih terang )," kata Guru itu lagi.
__ADS_1
Naoko menutup wajahnya entah apa yang akan terjadi pada semua temannya. "Sore wa watashide wa arimasen! ( Itu bukan saya )!" Kata Naoko mulai menangis.
Melihat kemungkinan ada yang mengambil tempat Naoko dengan pura-pura menjadi dirinya, guru itu berlari menuju ruang guru. "Anata wa koko de matteimasu watashitachi ga issho ni iku tokoro ni wa ikanaide kudasai ( Kamu tunggu disini jangan kemana-mana kita pergi bersama )!" Katanya meminta bantuan.
Karena takut lama, Naoko menuliskan alamat toko itu di selembaran kertas lalu ditempel ke meja dan pergi duluan. Bergegas Naoko berlari keluar penginapan dengan secepat kilat menuju toko Zalaam. Gerbang sudah terbuka dan dia langsung masuk ke toko tersebut.
Dengan pelan dia melihat tas mereka yang tertinggal. Ada semacam kain dengan gambar segel tapi dia tidak mengerti lalu berjalan pelan. Dia melihat boneka antik tampak ketakutan, mereka saling berpegangan tangan.
Naoko lalu menuju ruangan lain yang gelap berbeda dengan ruangan utama. "Seram. Aku ingin... pulang saja. Ini kan, pita rambut Erika!" Kata Naoko mengambilnya.
Lalu dia terus berjalan, toko itu sepiii sekali. "ERIKA! KAORU! SUI! REI! KALIAN SEMUA DIMANA?!" Teriak Naoko. Dia berharap bertemu dengan Eris tapi tidak ada dimanapun.
Dia lalu jatuh tersungkur dan merasa seperti ada derap kaki yang banyak. Naoko ketakutan tapi tidak ada siapapun.
"Ada yang... sedang berlari dalam jumlah yang banyak. Tapi sosoknya sama sekali tidak ada. Kenapa?" Tanya Naoko sendirian yang semakin takut.
Kemudian dia melihat sesuatu. "Boneka!? Yang ada di dalam kotak kaca. Teman-teman kalian di mana?" Tanya Erika lagi.
Boneka yang dipegangnya tertawa. "Hihihi kamu merindukan mereka?" Tanyanya dengan suara parau.
Naoko menjerit lalu melemparkan boneka itu ke lantai dan berlari lagi. Dia melihat ruangan lain yang terbuka dan masuk, dilihatnya semua temannya berada di sana. Tergeletak tidak bergerak. Erika yang paling dekat dengan pintu terlihat seperti hendak kabur.
"Kalian semua! BANGUN!! ERIKA!! HEI!!" Teriak Naoko menepuk pipi Erika.
Lalu dia merasa seperti ada yang banyak menatapnya dari belakang. Naoko berkeringat melihat segerombolan boneka tua berjalan ke arahnya.
Ada yang kepalanya miring, terbelah, dijahit tapi buntung, bermacam-macam keadaan boneka bekas itu membuat Naoko berteriak. Karena sudah tersudut, Naoko melihat bulatan terang keluar dari badan Erika, Kaoru dan yang lainnya.
"Kalian mau apakan teman-temanku!? Kembalikan apapun yang kalian ambil," kata Naoko melempar boneka yang ada.
Lalu datanglah boneka yang ada dalam kotak kaca dengan suara serak mengerikan. Naoko melihat langsung boneka itu memang hidup. Kedua matanya menyipit berwarna hitam pekat dan mengeluarkan suara menyeramkan.
"Kenapa kamu tidak memakan onigiri yang kupesan? Kenapa hanya kamu dan temanmu itu yang menyadari semuanya? Kamu menggangguku hihihi," kata boneka itu melayang ke arah Naoko.
Naoko tidak bisa bergerak, kedua kakinya seakan membeku dan dirinya syok sekali melihat semuanya.
"Kamu...mau ap...a," kata Naoko ketakutan.
"Berkat kamu dan anak itu, aku bisa bebas bergerak lagi. Selama ini, pemilik toko menyegel gerakan ku sambil menunggu pemusnahan jiwaku. Aku akan memakan bola kehidupan teman-temanmu terakhir... KAU!" Teriaknya dengan suara tawa yang mengerikan.
Bersambung ...
__ADS_1