Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
3


__ADS_3

Saat sekolah ada pelajaran menggambar hal itu dimanfaatkan oleh Alira untuk menggambar sosok Aiolos. Janjinya pada Eris, dengan sangat detail dari rambut dan kedua bola matanya. Alhasil memang mirip Jimin BTS karena kelembutannya juga sama.


Mereka semua berada di luar sekolah, dikumpulkan oleh guru seni dan bebas menggambar apapun. Saat guru seni sudah memeriksa hasil gambarnya, guru itu lalu memeriksa yang lainnya.


Honna melihat apa yang dilakukan Alira, dia mendekatinya. "Kamu gambar siapa?" Tanyanya duduk dekat Alira sambil membuat sketsa.


"Teman dalam mimpiku," kata Alira yang terus menggambar.


"Hati-hati kalau ketahuan guru, gambar kamu pasti diambil," bisik Honna.


Alira melihat guru seni yang duduk tidak jauh dari tempat mereka. "Iya, makanya kita pura-pura saling memperlihatkan gambar saja," kata Alira.


"Iya ya kamu kan penggemar BTS," kata Honna sambil mengerjakan pekerjaannya.


"Tapi ini bukan anggota sana memang sih waktu aku bertemu dengannya aku kira itu Jimin tapi bukan. Dia lahir di Indonesia dan bahasanya aktif sekali," jelas Alira.


Honna hanya mendengarkan, dia mulai berpikir kebiasaan Alira muncul lagi dan dia berpikir akan mengajaknya menemui Tora sepulang sekolah atau secepatnya.


"Kamu masih saja percaya dengan mimpi? Aku kira kamu sudah... tidak, tidak apa-apa. Lalu sosok itu sudah kamu lihat?" Tanya Honna melihat wajah Alira sudah mulai cemberut lagi.


Alira tahu Honna berusaha sebisa mungkin menerima ceritanya. "Mungkin memang aki yang terlalu egois ingin Honna mempercayainya tapi memang itu yang aku alami," pikirnya. Alira mengiyakan.


"Lalu?" Tanya Honna ingin tahu juga karena Alira bukan sosok orang yang senang berbohong.


"Iya. Aku senang sekali berkat benda yang aku pinjam itu, lelaki pertama yang kulihat entah kenapa mirip dengan anak ya g selalu menjahili aku. Kamu tahu tidak?" Tanya Alira meninggalkan petunjuk yang tidak jelas.


Honna mengerutkan dahinya. "Benda? Seperti apa? Kamu kan belum memperlihatkannya sampai sekarang, Ra," kata Honna menyilangkan tangannya.


"Oh... hahahahaha aku lupa? Maafkan! Nanti sepulang sekolah aku pasti akan mengirimkan fotonya hehehe," kata Alira menggaruk-garuk kepalanya.


Honna menghela nafas. "Dasar! Seharian aku menunggu dan selalu memeriksa ponsel tapi kamu sampai sekarang ya tidak ada kirim foto. Bagaimana sih," kata Honna manyun.


"Maaf hahaha," kata Alira menyenggol teman dekatnya itu.


"Lagipula Alira, yang mengisengi kamu kan banyak dulu itu. Memangnya anak yang mana?" Tanya Honna berpikir.


"Ada yang paling nakal sampai aku berkeleahi dengqn dia, kamu yang menengahi dan ibu guru," jelas Alira memandangi Honna.


"Hmmm... AHA! Torako!" Kata Honna dengan semangat.


"Iya iya anak itu! Aku kesal sekali dengan dia eh ternyata saat kita SD malah sekelas," kata Alira kesal.


"Nah lhooo jodoh kaliiii. Oh iya aku lupa memberitahu kamu. Dia datang lagi lho ke kota ini dan sekarang menginap di rumah aku karena Ibuku kan masuk komunitas ayahnya," kata Honna.


"Sungguh!? Kebetulan sekali ya dalam mimpiku juga bertemu dengannya wah, aku bisa balas dendam soal waktu itu nanti," kata Alira membara.


Mereka kemudian dengan semangat membicarakan Torako alias Tora, lelaki yang kelihatannya juga menyukai Alira. Honna yabg paling tahu kalau keduanya sama-sama memendam rasa.


Sepulang dari sekolah Alira berjalan dengan teman yang lainnya tidak memungkinkan bila Honna tiba-tiba mengajaknya bertemu dengan Tora. Saat Alira mau berbelok, Honna berteriak.


"JANGAN LUPA FOTONYA!" Serunya dari jauh.


Alira lalu memberikan tanda Ok menggunakan telunjuk dan jempolnya.

__ADS_1


Rumah Alira dia berganti baju tidak sabar untuk tidur siang. Sebelum dia tidur, tidak lupa dia memfotokan dirinya lalu mengirimkan pada Honna dengan ada tulisannya.


"Ini mahkota angsa yang toko itu pinjamkan padaku katanya ini bisa membuatku melihat jelas lelaki yang aku lihat dalam mimpi. Hari ini aku akan memastikan apa itu Tora atau bukan, oh iya mungkin aku bisa bertemu lagi dengan kakak BTS itu hehehe. Met tidur," kata Alira.


Honna langsung membuka ponselnya dan membacanya. "Jadi itu bendanya," kata Honna. Dia memperbesarkan nya memang cantik sekali sih.


"Amankah?" Tanya Honna dalam ponselnya tapi tidak dijawab oleh Alira.


Honna melemparkan ponselnya dan kesal Alira mungkin sudah tidur siang. Lalu dia mendengar pintu rumah terdengar sepertinya Tora sudah kembali.


"Halooo apa belum ada yang pulang ya?" Tanya Tora dalam rumah.


"Aku sudah pulang," kata Honna dari lantai atas.


"Hai! Bagaimana harimu?" Tanya Tora yang mendongak ke atas.


Honna lalu turun menuju bawah. Ah ya Tora dan ayahnya tidur di kamar lantai bawah sesuai arahan ibunya.


"Begitulah," kata Honna lalu duduk di atas karpet.


"Aku beli makanan, nanti kita ajak Alira kesini," kata Tora meletakkan banyak plastik makanan di meja.


"Sepertinya tidak akan bisa datang," kata Honna melihat isinya.


"Kenapa? Dia kan tukang makan. Sepertinya mood kamu sedang turun ya. Ada apa lagi dengan si Alira?" Tanya Tora duduk di depan Honna.


"Tuhan itu sama sekali tidak bisa menolong," kata Honna sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa sih? Jangan berpikir begitu bukankah kamu cerita kalau Alira sudah kembali normal?" Tanya Tora.


"Ada apa dengan benda itu?" Tanya Tora bingung.


"Bisa mengabulkan keinginannya," kata Honna memakan cilok.


"Mana ada benda yang bisa mengabulkan harapan selain berdoa," kata Tora kemudian membuka chat Honna.


"Berkali-kali aku berdoa pun keadaan sama sekali tidak berubah. ALIRA SUDAH MENJADI BUDAK MIMPI terbukti dengan dia meminjam sebuah jimat mahkota," kata Honna melempar tusuk cilok ke lantai. Tapi sudah tenang, dia ambil dan buang ke tempat seharusnya.


"Jimat?" Tanya Tora lalu melihat foto itu. Dia perhatikan hanya sebuah mahkota biasa.


"Mahkota Angsa itu disebutkan begitu yang untuk dipakai kepala kan," kata Honna.


Tora terdiam dia sepertinya pernah melihatnya tapi entah dimana. "Sepertinya aku harus memeriksa sesuatu," kata Tora mengeluarkan ponselnya dan mencari sesuatu.


Honna penasaran. "Kenapa? Kamu tahu mahkota itu?" Tanyanya.


"Sebentar sebentar Honna, Alira tinggal dimana!? Kita harus segera ke rumahnya," kata Yora berdiri dan mengambil buku kitab dan air suci.


Honna yang kebingungan ikut berdiri dan mengambil kunci rumah. "Ya tapi ada apa? Jelaskan dulu," kata Honna.


"CEPAT, ALIRA DALAM BAHAYA! Itu adalah mahkota Angsa yang terkutuk, seharusnya sudah tidak ada dan gunanya bukan untuk dipakai di kepala," jelas Tora.


Di luar mereka berlari dengan secepat mungkin menuju rumah Alira.

__ADS_1


"Kalau sampai dipakai kenapa?" Tanya Honna panik.


"Itu buatan penyihir yang berasal dari negeri Weyz tapi cerita yang aku dengar dari para tetua, benda mahkota itu bukanlah mahkota yang bisa dipakai oleh manusia. Meskipun ini hanya sebuah cerita dongeng ternyata memang ada," kata Tora agak kagum juga.


"Tapi kenapa bisa ada?" Tanya Honna pelan.


"Aku tidak tahu. Warga sana membuatnya hanya untuk ornamen kota," kata Tora.


"Tapi itu dibuat oleh penyihir? Maksudnya bagaimana sih?" tanya Honna bingung.


"Jadi begini, penyihir itu pada awalnya membuat mahkota angsa untuk hiasan kota tapi tiba-tiba kota sering dimasuki semacam serigala pemakan daging dan sering menyerang rumah. Lantas tanpa memberitahu warga, penyihir itu membantai ribuan Angsa lalu darahnya disiram ke tanah," jelas Tora.


Honna membayangkannya sangat mengerikan. "Lalu?" Tanyanya menutup mulutnya.


"Yah, akhirnya ketahuan dan penyihir itu mereka bantai juga saat sekarat, penyihir itu menyimpan kekuatannya dalam mahkota angsa. Karena ketua kota itu takut terjadi hal aneh, dia membuang mahkota itu jauh dari kotanya. Memasukkan mahkota itu lalu dikubur dalam," kata Tora sesuai artikel.


"Dan sekarang mahkota itu ada dalam tangan Alira. Dari mana toko itu mendapatkannya?" Tanya Honna berpikir.


"Entahlah soal toko itu pun aku takut bukan makhluk sembarangan. Memang mahkota itu terlihat cantik tapi dipenuhi energi jahat," kata Tora.


"Kata Alira itu membuatnya berhasil menemui sosok yang mendatanginya. Dan dia ingin memastikan lelaki itu memang kamu atau bukan," kata Honna.


"Astaga! Aku kan ada disini, Honna. Aku yakin sosok itu adalah jelmaan penyihir yang ingin membunuhnya disana. Kita harus cepat, Honna!" Kata Tora mempercepat larinya.


Di rumah Alira, dalam kamarnya. Alira sudah tertidur dengan pulas sambil memakai mahkota itu lalu memasuki dunia mimpi.


"Orang itu yang memanggilku kini aku sudah berada di alam mimpi lagi," dalam pikiran Alira.


Sosok itu kembali muncul dari kejauhan hanya diam.


"Seharusnya kamu tidak kembali," kata Eris dalam mimpinya.


Alira mencari suara itu tapi tidak ada dimanapun. "Siapa? Suara perempuan. Tora, apa itu kamu?" Tanya Alira ke arah sosok yang jauh disana.


Lalu sosok itu terlihat berjalan mendekatinya. Alira hanya diam tapi hatinya entah kenapa agak tidak nyaman saat tahu sosok itu kini berjalan ke arahnya.


Lalu sosok itu berhenti di jarak 2 meter darinya. Meski tidak terlalu jelas kini Alira dapat melihatnya. Berambut pirang, tegap dan mulutnya tersenyum.


"Tora?" Tanya Alira meyakinkan. Sosok itu hanya terdiam tapi tetap tersenyum.


"Alira, kembalilah ke duniamu," muncul Aiolos yang memblok penglihatannya.


"Kakak! Syukurlah aku bisa bertemu lagi," kata Alira namun terdiam saat melihat wajah Aiolos yang sangat serius sekali.


"Kamu dalam bahaya besar. Pulanglah sekarang masih sempat, "Dia" akan membunuhmu. Seterusnya jangan pernah berpikir bahwa segalanya akan teratasi dengan memasuki dunia mimpi. Ingat masih ada yang menyayangimu dan teman yang selalu jahil. BANGUN!!!" Teriak Aiolos dalam upayanya yang terakhir.


Alira terkejut mendengarnya lalu berusaha untuk bangun dengan memejamkan kedua matanya tapi tidak ada yang terjadi, dia tidak kembali ke dunianya.


"Aku tidak bisa bangun, Kak," kata Alira panik sekarang.


"Kamu datang kemari bagaimana? Kamu memakai sesuatu?" Tanya Aiolos yang kini panik karena waktunya tidak panjang.


"Aku meminjam semacam mahkota yang ada kepala angsanya, dari benda itulah aku bisa bertemu dengan kakak dan Tora," kata Alira yang menghapus air matanya.

__ADS_1


Aiolos berpikir entah seperti apa mahkota itu tapi sampai membuat Alira masuk dan tidak bisa keluar mungkin... "Kalau kamu bangun nanti, kembalikan mahkota itu dan hentikan obsesi kamu dengan dunia mimpi. Kadang dalam mimpi pun hanyalah bunga tidur. Sebentar lagi malam tiba, kamu harus berusaha untuk ba..." kata Aiolos yang kemudian menghilang seperti tersapu.


Bersambung ...


__ADS_2