
Sang kakak kembali setelah bersusah payah membuatkan minuman untuk mereka berdua lalu memeriksa hasil pekerjaan adiknya, kadang adiknya lamaaaa sekali mengerjakan yang disuruhnya. Saat sampai di tempat bebatuan, sang kakak melihat tumpukan bunganya sudah habis terbakar menyisakan debu dan mengangguk puas.
Andriani akhirnya selesai membuang hajatnya dan berjalan menuju tempat dimana kakaknya sekarang menunggunya sambil tersenyum.
"Maaf tadi aku ke toilet dulu, sekarang mau aku..." kata Andriani memperhatikan kakaknya yang puas lalu menepuk bahunya.
"Kerja bagus! Yok, kakak sudah buatkan minuman. Biarkan saja abunya di sana supaya ada tukang beling yang angkut," kata kakaknya mengajak adiknya masuk ke rumah.
"Hah? Tapi aku belum..." kata Andriani melihat sisa dari tumpukan bunga itu sudah tidak ada. Hanya menyisakan abu entah dari mana asalnya, sambil menggaruk kepalanya lagi. Andriani mengucek kan kedua matanya.
"Sedang apa kamu disana? Tidak haus?" Tanya kakaknya memanggil.
"Tapi kak bukannya kakak yang membakarnya? Adek baru saja keluar dari toilet," kata Andriani berjalan menyusul kakaknya ke dalam rumah.
"Ah, kamu ini terus bercanda. Memangnya siapa lagi yang membakar selain kamu? Kan kakak yang suruh, memangnya hantu? Siang bolong begini jangan banyak bicara yang aneh-aneh deh. Kakak kan takut," kata kakaknya sambil minum.
"Terus siapa yang membakarnya dong? Apa mentari? Karena memang panas sekali sih. Kok aku merasa aneh ya akhir-akhir ini, kak?" Tanya Andriani mengambil minuman bagiannya. Segaaaarrrr limun stroberi memang enak diminum saat panas begini.
"........." jawab kakaknya tidak mau memikirkan hal lain. Adiknya tidak mungkin berkata bohong juga sih. Ah sudahlah! "Lalu David sudah menghubungi kamu lagi, dek? Kok tidak ada kabarnya sekarang? Kalian putus atau ada yang selingkuh nih?" Tanya kakaknya menyelidiki.
David adalah pacar adiknya yang seangkatan dengan kakaknya. Ya, mereka berdua kuliah di tempat yang sama.
"Ih, kakak mendoakan aku putus sama dia ya? Jahat! Kakak sendiri yang mendukung aku buat pacaran sama dia eh sekarang didoakan putus. Kakak sendiri bagaimana dengan Leon? Sama kan tidak ada kabarnya," kata Andriani memainkan ponselnya.
Masih sama tidak ada pesan dari David. Andriani sebal kemana saja sih kekasihnya itu? Bayangan apa kata kakaknya mulai meracuni pikirannya. Selingkuh? Tapi dengan siapa?
"Nih kakak buat pancake juga tadi pagi. Sudah dingin tapi masih enak, kakak buat cokelat panasnya juga," katanya menyodorkan sepiring pancake yang mengepul karena terkena cairan cokelat.
"Wuuuh! Asyik terima kasih kak," kata Andriani melahap besar pancake nya yang yummy.
"Enak saja! Tidak seperti kamu ya yang cuek sama pacar sendiri. Kakak sering kok kontak sama Leon. Hayooo! Kasihan deh yang sedang galau telepon sana jangan sok gengsi. Wajar kok kalau perempuan yang menghubungi," kata kakaknya memakan bagiannya dan memperlihatkan isi percakapannya dengan sang pacar.
Andriani hanya bisa cemberut melihat kakaknya masih berhubungan baik dengan pacarnya tidak seperti dirinya. Andriani terlalu egois dia tidak mau menghubungi duluan ataupun bertanya kenapa tidak ada kabar. Untuk mengalihkan perhatian kakaknya, Andriani membawakan tema yang menjadi pengalamannya.
"Oh iya kak waktu hari kemarin aku jalan-jalan di taman kota, aku bertemu dengan anak kecil yang memakai baju ghotic. Maniiiis sekali anaknya juga baju yang dia kenakan. Kalau kakak lihat pasti akan berpikiran yang sama," kata Andriani dengan ceria.
"Oh ya? Tapi kakak tidak tertarik tuh dengan baju seperti itu kesannya menyeramkan. Hitam-hitam itu kan? Memang sih kalai di Jepang tidak mengherankan lah, di Indonesia? Disangka orang gila kali," kata Kakaknya memperhatikan adiknya yang berbinar-binar. Jangan lagi deh!
"Duh, itu tuh keren sekali kak," kata Andriani.
"Iya keren tapi kalau sudah pakai hiasan lalu kosmetik serba hitam di wajah. Seram tahu! Kamu kok bisa suka sih? Dulu kamu juga punya baju seperti itu ingat tidak, sampai banyak kamu diejek dibilang Zombie dan Mayat Hidup. Bagaimana akhirnya? Pakaian mahal kamu gunting-gunting sampai mama menangis," kata kakaknya mengomeli Andriani.
Andriani terdiam dan cemberut. "Ya itu kan dulu, sekarang jamannya sudah berubah. Dan memang mulai masuk trend ala Jepang kan," kata Andriani membela diri.
"Ya sama saja kalau kamu memang suka, pertahankan. Kalau sampai dirusak sih niatnya kamu ingin dapat pujian saja karena berbeda," jelas kakaknya.
"Karena aku bertemu anak kecil itu aku jadi semangat lagi. Semuanya juga memandang aneh anak itu tapi ternyata masyarakat kita sudah terbuka dengan trend seperti itu. Apalagi nanti kan ada acara unik di kampus," kata Andriani.
"Lalu? Serius kamu mau pakai baju seperti itu lagi? Nanti kalau banyak yang bilang negatif apa kamu sanggup bertahan? Sayang dek, baju seperti itu tuh mahalnya tidak main-main lho," kata kakaknya berusaha menghalangi.
__ADS_1
"Iya aku tahu," jawab adiknya.
"Yang dulu kan harganya 20 juta dek, pantaslah mama sampai menangis kamu merobek bajunya sampai kecil-kecil. Kamu pakai uang mama bukan uang hasil kerja kamu. Sadar tidak?" Tanya kakaknya yang juga kesal mengingatnya.
Andriani menundukkan kepalanya sejak hari itu, mamanya enggan membelikannya barang mahal lagi dan Andriani terpaksa membeli sesuatu dengan harga murah. Uang sakunya pun dikurangi banyak.
"Iya iya adek tahu semua! Sekarang masih menyesal coba waktu itu adek tidak terlalu mendengarkan apa kata orang, pasti baju itu masih ada. Oh iya kak, baju yang dipakai anak itu sama persis dengan yang aku punya dulu," kata Andriani dengan heran.
"Yaelah itu tidak aneh. Mana ada toko yang jual baju hanya ada 1 macam? Banyak dek, baju yang kamu punya itu dijual menyebar!" Kata kakaknya tertawa.
Entah kenapa adiknya merasa dirinya sangat bodoh sekali. "Hahaha iya juga ya," kata Andriani tertawa.
"Lalu anaknya itu seperti bagaimana?" Tanya kakaknya keheranan.
"Cantik sekali! Seperti bukan manusia," jawab Andriani semangat.
"Hah? Memangnya kamu pernah lihat jelmaan lain? Sok tahu! Mirip kakak tidak?" Tanyanya sambil bergaya bak artis.
"Justru lebih cantik dia. Rambutnya putih panjang jadi parasnya yang mulus putih lebih terlihat sih," kata Andriani mengingatnya.
"Wah! Itu wig kali, dek!" Kata kakaknya.
"Bukan. Itu asli rambutnya kak kan kena angin besar kalau wig sudah pasti terhempas ini tidak," kata Andriani meyakinkannya.
"Hmmm kalau begitu sih memang aneh ya. Apa dia keturunan albinisme? ( kelainan genetik yang membuat seseorang tidak memiliki pigmen pemberi warna alami pada kulit )" Tanya kakaknya.
"APA!? Kakak ini kan pemenang model catwalk, dek. Mana mungkin ada yang lebih bagus dari kakak," kata kakaknya agak tersinggung.
"Ya memang kenyataannya begitu," Andriani mengangkat bahunya.
Kakaknya mengaca baginya tubuh langsingnya itu sudah komplit, dan kecantikan parasnya tidak ada yang bisa mengalahkannya. Sekarang malah dibandingkan kalah dengan seorang anak kecil!?!?
"Secantik nya itu seperti apa sih? Coba kamu jelaskan," pinta kakaknya.
"Cantik sekali! Adek juga baru kali ini bertemu dengan anak kecil uang kecantikannya melebihi yang alami. Misterius sih orangnya. Wajahnya itu putih, bersih, mulus, dan lembut tidak ada jerawat atau bruntusan sama sekali," kata Andriani mengingat kembali wajah anak itu.
"Wah!! Pakai Skincare apaan ya, dek? Eh kira-kira kamu pernah ke rumahnya?" Tanya Kakaknya.
"Masa anak sekecil itu sudah pakai Skincare sih kak? Hmmmm itulah yang aku lupa, kesannya aku pernah datang ke suatu tempat tapi tidak bisa mengingatnya," kata Andriani sedih.
"Jangan-jangan kamu dihipnotis?" Tanya kakaknya membuat Andriani kaget.
"Pleaselah kak, anak kecil ya. Lalu matanya tuh agak sipit tapi belo setengah lah. Rambutnya putih panjang kan jarang tuh ada anak kecil berambut seperti itu, pantas banyak orang yang penasaran sama dia. Pandangannya sangat dingin, tidak ada ekspresi sama sekali. Itu yang membuat adek merinding sebenarnya," jelasnya sambil makan pancake yang terakhir.
Kakaknya mendengarkan dengan penuh ketegangan tapi juga penasaran. Menurutnya apa yang dijelaskan oleh adiknya terkesan tidak masuk di akal tapi mungkin memang benar.
"Kita cari tahu yuk, dek. Kamu ketemu dia dimana? Kita ke tempat itu lagi saja siapa tahu bisa bertemu. Dan kali ini biar kakak yang bertemu dengannya, aku penasaran. Tidak ada yang boleh menyaingi kecantikan kakak," katanya dengan semangat berapi-api. Andriani sih hanya mengangguk setuju saja.
Beberapa jam setelahnya mereka berdua tiba di tempat yang adiknya berada waktu itu dan menunggu. Sampai beberapa jam pun, tidak tampak anak itu disana sampai menjelang malam. Sang kakak lelah begitu juga dengan adiknya mereka memutuskan untuk pulang saja.
__ADS_1
"Dek, kamu yakin bertemu dia di sini? Tidak ada sama sekali lho, banyak orang memandangi kita. Pulang saja yuk esok lagi deh kita coba," kata kakaknya yang beranjak berdiri.
"Iya, kakak terlalu semangat juga sih sampai lupa tidak mungkin dia lewat jalan ini lagi kan. Sudah malam ini pasti mama papa cemas," kata Andriani.
Akhirnya mereka pulang tanpa membawa hasil tanpa mereka sadari, Eris berada di belakang mereka mengamati.
"Belum saatnya, salah satu dari mereka belum ada keinginan kuat untuk memiliki baju ini. Lagipula keinginan kakaknya harus aku pikirkan," kata Eris lalu menghilang.
Sesampainya di rumah benar saja kedua orangtuanya khawatir karena rumah kosong. Eris masih terus mengawasi rumah tersebut namun kemudian menutup bola itu dan bergerak ke tengah ruangan.
Secara tiba-tiba ruangan itu berubah suasananya menjadi semacam energi bimasakti dan kemudian menjadi ruangan rumah seperti biasanya hanya saja ada beberapa penambahan batang termasuk cairan yang diperlukan oleh Arae. Dia bisa mengambil dan membayarnya kapan saja, Eris melihat kotak uangnya bertambah beberapa tumpukan uang dan membiarkannya.
Kembali ke dalam kamarnya dan membuka bolanya. Masih mematai mangsa keduanya dengan warna matanya yang antusias.
Dalam bolanya menampilkan Andriani yang langsung merebahkan tubuhnya ke kasur dan kemudian membalikkan badannya menghadap ke langit kamarnya. Sebenarnya dia juga kecewa anak itu sama sekali tidak muncul lagi.
"Sudah semangat dan menuju ke sana ternyata malah tidak ada. Kira-kira kapan ya bisa bertemu anak itu lagi? Uhhh mandi ah," katanya bangkit dari kasurnya, mengambil handuk dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Satu jam selesai juga mandinya dan memakai baju piyama. Ponselnya sama sekali tidak ada notif apapun dari pacarnya selain ketua kampus yang mengingatkan 3 hari lagi acara kampus akan dilaksanakan. Andriani pusing mana baku yang dia inginkan masih belum bisa didapatkan.
"David kemana sih! Masa aku dicuekin terus? Benar-benar tidak ada kabar apapun apa benar aku ini sebenarnya diputusin sama dia? Apa dia sudah bosan sama aku? Huh! Lihat saja nanti aku akan buat dia menyesal!" Katanya teriak.
Untung kamar dirinya dan kakaknya berjarak jauh karena rumahnya sangat besar dan juga luas. Mau dia berteriak atau nyanyi dengan suara keras pun tidak akan terdengar ke kamar kakaknya kecuali ke lantai bawah.
"Kamu akan menyesal kalau benar diam-diam memutuskan aku. Ditelepon saja tidak diangkat. Aku akan memikat lelaki lain yang lebih oke dari kamu. Ah, masih kepikiran dengan baju gothic yang dipakai anak itu. Berapapun harganya pasti aku beli, aku akan menyerahkan APAPUN asal bisa mendapatkan baju itu," katanya dengan tekad yang kuat.
CTAAAARRRR!! GLUDUK GLUDUKK!!
Dalam toko Eris menyeringai mendengar apa yang Andriani katakan. "Bagus, teruslah seperti itu berapapun harganya pasti akan kamu berikan lagipula kamu sudah bertekad akan menyerahkan apapun syaratnya untuk baju itu. Kemarilah, aku menunggumu," katanya menutup bola kristal dengan sehelai kain.
Eris keluar kamar lagi dan menyiapkan pakaian yang Andriani inginkan. Baju itu terbang mengikuti Eris dari belakang dan Eris menunjuk ke arah alat gantungan kaki. Baju itu kemudian meletakkan dirinya menggantung menunggu pembeli.
"Nah, persiapannya selesai. Kamu akan datang ke toko ini sesuai yang diinginkan," kata Eris dengan pandangan dinginnya.
Di tempat lain semua anggota keluarga menatap keluar jendela. Mereka jelas mendengar suara petir tapi langit cerah, agak merasa aneh.
"Mau hujan ya? Suara petirnya menakutkan sekali. Tapi malam ini cerah sesuai berita lantas kenapa tadi ada suara petir ya? Dari arah mana?" Tanya Andriani membuka tirai jendelanya dan mencari sumber. Dia akhirnya membuka balkon dan menatap dengan angin yang lembut menghampirinya.
"Andriani, kamu lagi apa? Sudah mandi?" Tanya ibunya di bawah. Andriani mendongak melihat ke bawah.
"Sudah Ma," kata Andriani melihat ibunya yang sedang membereskan halaman.
"Sudah sholat? Kamu tadi keluar rumah ada janji sama David?" Tanya ibunya masih memandangi ke atas.
"Hehehehe ini mau. Jalan-jalan sama kakak, Si David sepertinya sudah putusin aku tidak ada kabar," kata Andriani langsung masuk biasanya mamanya akan terus bertanya.
"CEPAT SHOLAT SEBENTAR LAGI ISYA!!" Teriak ibunya.
Bersambung ...
__ADS_1