
Instrumental Sailor Neptune and Sailor Uranus Violin
...This is my Darkness...
...Nothing anyone says can console me......
...Despair and Hope......
...Light and Dark......
...Happy and Sad......
...Hard and Easy......
...Good and Evil......
...Fall and Rise......
...Near and Fall......
...Group and Invidual......
...I'll stop loving you when diamonds never sparkle and flowers cease to grow...
...When thunder never echos and river don't flow...
...When hearts no longer wonder and hands are never held...
...When smiles are only memories and hope is never felt...
...When trees no longer blossom and star refuse to shine...
...When God alone commands me then I'll stop loving you...
Eris sedang terduduk di kursi kebesarannya dalam kamarnya dan secara tidak sadar dirinya mengantuk dan tertidur. Biasanya Eris tidak pernah sekalipun tidur saat pagi hari.
Tertidurlah dia dan terbawa ke alam mimpi dimana tidak ada seorangpun melainkan awan-awan putih. Dengan ukuran dirinya yang sebenarnya dia hanya berdiri terpaku. Saat terdiam itulah Eris merasa ada yang menghampirinya.
Sosok itu lalu berdiri di hadapannya lalu memanggil namanya, sebagian wajahnya yaitu mulut tersenyum kepadanya.
"ERIS!" Ucapnya membuat kedua mata Eris melotot kaget.
Lalu sosok itu berlari. "Ayo lari! Coba kejar aku hahaha," kata sosok itu.
Eris yang ingin tahu mengejarnya tapi semakin jauh jaraknya dengan sosok itu. Eris perhatikan sosok itu dari belakangnya. Rambutnya pirang memakai baju putih dan tampaknya sangat ceria.
Suaranya Eris sepertinya mengenali suara itu tapi dimana?
Eris merasa kepalanya sangat sakit. "Apa yang terjadi?" Dalam pikirannya. Lalu saat dia melihat ke depan, sosok itu tidak ada. Eris berusaha mengingat siapakah dia rasa-rasanya dekat tapi juga jauh.
Eris lalu terbangun dan mengusap air mata yang jatuh. Dia melihatnya dan terkejut, dalam benaknya tidak terpikir dirinya bisa menangis. Sudah pagi Eris membuka tirai, cahaya pagi memasuki kamarnya dan memantulkan bola kristal kamarnya.
Dalam dunia kegelapan Ratu melihat bahwa sosok itu tentu dia ketahui. Tangannya menggenggam erat sisi singgasananya.
"Bagaimana bisa..." ucapnya tidak percaya. Takdir yang mengerikan terjadi pada anaknya dan sosok itu.
"Ada apa, Ratu?" Tanya Raja yang datang dengan para pengawal.
"Anak itu muncul. Apakah Eris memiliki takdir dengannya?" Tanya Ratu cemas.
__ADS_1
Raja melihat isi dari alam mimpi dan juga terkejut. "Kalau nanti dia ada dalam dunia manusia, kita harus memutuskan benangnya dan membuat mereka tidak saling mengenal. Apapun yang terjadi jangan sampai mereka tahu yang terjadi dalam masa lalu," kata Raja memeluk istrinya yang menangis.
Berpindah ke sebuah kos-kosan khusus untuk laki-laki, terlihatlah seorang pemuda dengan rambut hitam bergelombang masih terlelap tidur di pagi hati itu. Lalu bermimpi sesuatu sambil mengacak rambutnya yang lembut.
Wajah pemuda itu sangat tampan putih dan mulus, memakai kaos berwarna abu-abu bertuliskan, "I'm A Man" berwarna hitam dan celana piyama pendek berwarna merah.
Rambut yang hitamnya dia acak-acak dan menarik nafas lalu dikeluarkan. "Huaaaaam!" Katanya.
Cahaya pagi memantulkan sinarnya di kedua tangannya yang putih dan dia memicingkan mata lalu menatap jam di kamarnya. Dia lalu terduduk dengan rambut yang berantakan.
"Mimpi apa ya tadi? Sudah jam berapa nih?" Tanya bergumam sendiri sambil mencari sendal kamarnya.
Dia berjalan dengan malas sambil menggaruk perutnya dan mencuci wajahnya. Kemudian dia ambil handuk sambil menguap sekali lagi dan mandi sambil bernyanyi.
Baju kerja yang akan dia gunakan hari ini sudah disiapkan di hati sebelumnya supaya tidak heboh. Begitu pun dengan tas berisikan surat keterangan syarat untuk wawancara nanti kalau dipanggil.
Selesainya dengan santai juga dia makan pagi yang sudah disiapkannya sendiri. Sambil bersiul dia mencari jam wekernya, ternyata berada di bawah tempat tidur. Saat dia lihat, secepatnya dia lempar kemanapun lalu memakai seragamnya.
"JAM 9!? HUAAAA SEBENTAR LAGI JAM 9!!" Teriaknya dengan panik. Dia lalu menyisir rambutnya sampai rapih dan kini terlihatlah dirinya mirip dengan Park Jimin BTS. Dia tersenyum dan berkata, "Saranghae," di depan cermin.
Lalu kembali panik saat mendengar dering ponselnya, sudah pasti temannya yang cerewet itu.
"Ha..." Kata pemuda itu yang tenang.
"HALO APANYA!? SUDAH PAGI PASTI KAMU BARU BANGUN!" Teriak pemuda di seberang ponsel.
"HAHAHAHA," kata pemuda itu sambil berkacak pinggang tampak bangga sekali.
"Aku tidak memuji," kata diseberang kesal.
"Aku terlambat bangun nih. Tapi sudah siap," katanya membenarkan dasinya.
"Sudah sudah kok," katanya sambil membuka kalender tetap saja dia lupa.
"Hahhhh bagaimana iniiii bagaimana kalau kamu diterima? Apa bisa bangun pagi? Sarapan sudah? Bawa persyaratannya jangan sampai lupa. Sepatu harus hitam, berdasi, kemeja putih corak pun tidak apa, celana panjang jangan pendek kamu kira mau ke pantai," katanya panjaaaang.
Pemuda itu menghela nafas dia hanya bisa mendengar setiap omelan nya.
"Nyx," katanya menghentikan karena kesal.
"Apa?" Tanya Nys berhenti mengomel.
"Aku ini usianya lebih tua dari kamu," kata Aiolos mengingatkan dia agak kesal sama sahabatnya.
"Aku tahu kamu lebih dewasa tapi selama ini siapa yang rajin membangunkan? Mengingatkan segala sesuatu? Aku merasa seperti seorang istri tapi tinggal di rumah yang berbeda," kata Nyx sambil tertawa.
"HAHAHAHA!" Aiolos tertawa lagi.
"Lagipula memang tidak selalu terlambat bangun sih tapi di saat ada jadwal penting selalu terlambat. Tadi malam kamu habis apa? Mimpi basah ya?" Tanya Nyx cengengesan.
"ENAK SAJA! Ini masih pagi, hanya mimpi aneh saja kelihatannya aku bertemu perempuan yang rasanya pernah aku lihat," kata Aiolos berpikir.
"Sudah cepat kesini! Sudah banyak yang datang kamu ceritakan kalau lulus wawancara dan diterima di kantorku. Cepat!" Kata Nyx lalu menutup teleponnya.
Dengan kilat Aiolos keluar lalu kembali lagi, dia lupa memakai parfum kemudian berlari kilat. Dia berlari sama dengan dalam mimpinya, dalam pikirannya jam 9 tepat sudah ada di gedung tempat Nyx bekerja.
Di kota lain, sebuah rumah sederhana terlihat dua perempuan remaja yang sedang mengerjakan tugas sekolah, seorang lagi mengerjakan dengan serius sedangkan satunya sedang tidur nyenyak.
"Ya ampun! Lagi-lagi? Apa dia ini suka bergadang? Lira... ALIRA!!" Teriak temannya supaya dia bangun.
__ADS_1
"HOOO! IYA! ADUH!" Jawab gadis itu sambil berusaha mengangkat kepalanya lalu terbentur oleh dahi temannya dengan mata yang setengah terpejam.
"UGH! Sakiiit," kata Honna meringis sambil memegang dagunya.
"Honna! Aduuh maaf maaf lagi-lagi aku tertidur," katanya menjulurkan lidah.
"Kamu ini ya," kata Honna yang kesal.
Alira lalu melihat kiri kanan, dia kira berada dalam rumahnya tapi ternyata rumah Honna.
"Lho?" Tanya Alira kebingungan.
"Sekarang apa lagi? Kamu lupa ini dimana dan kamu sedang apa?" Tanya Honna menghela nafasnya. Dia sudah agak lelah dengan situasi teman yang satu ini.
"Kamu sudah lama di rumahku?" Tanya Alira.
"Ini rumahku! Ya ampun Alira, kamu kenapa sih setiap hari? Tidak biasanya bisa tidur dimanapun," kata Honna agak khawatir.
"Rumahmu? Aaah iya ya kita kan sedang mengerjakan tugas. Aku belum selesai, tunggu aku kerjakan dulu," kata Alira secepat mungkin mengerjakannya.
Honna memandang aneh kepada sahabat sejak kecilnya itu. "Tidur kamu nyenyak sekali! Lalu kamu juga tadi mengingat sesuatu. Kamu ini yang meminta belajar bersama tapi selama mengerjakan kamu sendiri yang tidur," kata Honna kesal.
"Maaf... ya aku juga aneh. Aku mengantuk sekali. Mana di rumah kamu hanya ada kita berdua juga sepi dan tenang jadi..." kata Alira tertawa iseng.
"Hhhhhh kalau begitu aku akan putarkan lagu supaya kamu tidak bosan dan tertidur. Tugas sekolah kan banyak jadi kita harus menyicilnya," kata Honna yang memasang lagu kesukaan mereka lalu menyediakan minum dan kue ala kadarnya.
"Waaah lagu ini," kata Alira semangat dan mereka bernyanyi bersama.
"Kamu kurang tidur? Aneh sekali biasanya tidak kan pasti bukan karena banyak belajar aku tahu kamu itu kan pemalas kalau disuruh belajar," kata Honna membuat Alira seperti tertusuk banyak panah.
"Jahatnya!" Kata Alira memukul Honna bercanda lalu tertawa.
"Lalu mau bagaimana lagi kan itu kenyataannya," kata Honna mengelus bahunya sambil tertawa.
Alira mengambil kue dan memakannya dengan rakus. "Hmmm sebenarnya aku mengkonsumsi obat tidur," kata Alira terus terang.
"Apa!? Obat tidur!? Untuk apa?" Tanya Honna kaget sambil memegang kedua tangan sahabatnya itu dengan takut.
"Aku berbohong pernah mengatakan kalau aku menderita insomnia ke teman-teman. Sebenarnya aku meminta ke dokter obat tidur tapi tidak banyak kok saat aku sedang tidak bisa tidur saja," kata Alira memperlihatkan sebotol kecil berisi obat tidur.
"Kamu tidak biasanya berbohong Ada apa sih? Ayo dong cerita," pinta Honna.
"Hahaha sulit sih mengatakannya kamu kan orangnya tidak percaya hal yang tidak terlihat mata kan," kata Alira.
"Kamu kan tidak punya riwayat gangguan kesehatan akan sangat berbahaya bila sering dikonsumsi," jelas Honna.
"Tenang saja, tidak akan ada efek berlebihan. Bahkan kata dokter jika aku meminumnya sampai habis tidak akan menyebabkan mati. Ini dosisnya rendah kok coba saja kamu cari di net," kata Alira menenangkan Honna yang ingin menangis.
Mau di beri nasehat apapun Alira memang sulit kadang membuat Honna sangat marah, dalam hatinya dia takut Alira nekat melakukan sesuatu.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak coba meminum semuanya? Sekalian tidak bangun dan tidak perlu datang ke sekolah untuk belajar dan ujian?" Tanya Honna memandang tajam pada Alira.
"Kamu kenapa bicara begitu sih!? Hanya ketiduran saja," kata Alira yang tersinggung.
"Bukan itu masalahnya! Kamu kan sebetulnya baik-baik saja, normal! Kenapa kamu sampai minta resep obat tidur? Itu yang aku tidak mengerti dan bukan hari ini saja kamu ketiduran kan," kata Honna.
Mereka teringat kejadian Alira sudah berapa kali tertangkap tidur saat sedang belajar. Karena hal itulah nilainya jatuh semua.
Bersambung ...
__ADS_1