Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
5


__ADS_3

Apollo kemudian menaiki ojek online menuju rumah Artemis yang lumayan jauh. Sesampainya dia bayar dan memasuki rumahnya.


"Assalamualaikum," kata Apollo sambil membereskan rambutnya yang baru saja ketebas angin.


"Walaikumsalam, Eh Nak Apollo ayo masuk. ARTEMIS, APOLLO SUDAH DATANG NIH!" Teriak ibunya yang cempreng.


"IYA, MAK!" Jawab Artemis tidak kalah keras juga.


Ibunya kebetulan sedang menonton musik Korea di televisi. Dan dengan jelas melihat penampilan BTS dengan lagu terbaru mereka.


"Nak Apollo, mirip ya sama bias Ibu hohohoho," katanya heboh ke arah Apollo.


"Eh? Bias?" Tanya Apollo kurang mengerti.


"Itu itu. Jehob. Ibu nih ARMY juga lho," kata Ibu Artemis malu-malu.


Apollo melihat penampilan grup itu dan memandangi dirinya di cermin. "Lah, saya memang mirip orang itu pantas saya naik ojek, si mangnya senyum-senyum. Wah, boleh juga nih bisa lamar jadi penggantinya Jhope. Makasih Bun sudah melahirkan saya yang berwajah mirip member BTS terkenal hohoho," pikirnya sambil merapihkan rambutnya.


"JHope, maaaakk. Ya Allaaaah, pagi-pagi begini sudah menyalakan video. Malu, mak!" Kata Artemis garuk dahinya lalu meletakkan tas kerjanya.


"Kamu nih ya bisa tidak sih sekali-kali tidak mengganggu kesenangan ibu? Ibu sedih nih, punya anak mirip opah member BTS tapi kelakuan mirip ondel-ondel," kata Ibunya meneteskan air mata.


"Oppa, mak!" Kata Artemis bete. Apollo hanya senyum menahan tawa.


"Kalau opah itu panggilan kakek-kakek masa mereka emak panggil aki-aki? Mak akan di hajar ARMY lain lho," kata adik perempuan Nyx yang keluar sambil membawa puding.


"Ohh Oppa Jhopeee ayem lopyu," kata Ibunya sambil memeluk layar televisi.


"Hahahaha," akhirnya Apollo tidak bisa menahan tawanya lagi.


"Maaf ya mas Apollo. Ini Adek buatkan buat mas, nanti dimakan ya," katanya langsung lari masuk dapur lagi.


"DEK, BUAT KAKAK MANA?!" Tanya Artemis keheranan. Apollo dikasih ada 6 buah puding.


"Buat kakak mana ada," jawab adiknya lalu ngacir masuk.


"Sudah, sudah nih nanti kita makan sama-sama. Mau sekarang?" Tanya Apollo masih tertawa.


"Syuga i lopyu tu," kata Ibunya dengan antusias saat televisi menyorot wajah tampan Suga itu.


"SUGA, MAAAK!" Teriak Artemis dan adiknya membuat si Ibu merasa malu sekali.

__ADS_1


"Salah terus ya kalian tidak maklum sih, Ibu kan sudah tua," katanya membela diri.


"Mak sudah deh, Mak tuh sudah tidak pantas jadi ARMY segala. Urus anak deh cukup! Kurang aku apa punya wajah seperti anggota BTS? Setiap hari selalu dibandingkan dia kan orang Korea, aku Indonesia," kata Artemis emosi.


Ibunya terdiam lalu memeluk Artemis. "Maafkan Ibu, nak tidak bermaksud begitu. Ibu selalu bersyukur kamu setampan Syu..." kata Ibunya mau mengatakan nama yang salah lagi.


"Suga, Bu," kata Apollo sambil senyum.


"Nah ya itulah," kata Ibunya masih memeluk Artemis.


"Tapi Mak, kenapa kakak bisa wajah Korea? Kan Emak sama Abah bukan orang Korea," kata Artemis penasaran.


Apollo juga penasaran kalau dirinya sih ibunya memang Korea, bapaknya orang Semarang keluarnya ya Hybrid. Lah jangan-jangan Artemis sama adiknya juga ...


"Lho, kakak masih tidak tahu kenapa kita bisa beda?" Tanya adiknya keluar membawa puding untuk kakaknya.


"Lho, kamu tahu? MAK, KITA ANAK BUANGAN?!" Teriak Artemis kaget.


Hempasan dari pukulan penggebuk kasur mendarat di pinggangnya. "ENAK SAJA!" Teriak Ibunya.


"OWH!!" Teriak Artemis langsung lari ke belakang Apollo ketakutan.


Ibunya marah dan adiknya tertawa keras. "Mikirnya kejauhan deh."


Apollo, Artemis serta adiknya menghampiri lalu duduk bersama. Foto lelaki Korea berkewarganegaraan Korea juga.


"Mak, ini siapa? Mantan? SAYA ANAK MANTAN EMAK!? YA ALLAAAAH..." Teriak Artemis histeris lagi.


Ibu dan adiknya menghela nafas. Artemis anak pertama mereka yang memang lebay belum apa-apa sudah mikir aneh-aneh.


"Ini Abah. Cinta Emak yang ke sebelas," katanya menatap Artemis yang tersedu-sedu.


Artemis meraung lalu berhenti. "Apa!?" Serunya tidak percaya. Dia melepaskan Apollo yang menatap tanpa mata ke arah Artemis.


"Abah orang Korea," kata Ibunya menatap anak pertamanya.


"Hoh?" Tanya Artemis tidak percaya lagi. "Tapi ini. Foto Abah yang sekarang, hitam lusuh kemana-mana pergi pakai sarung," kata Artemis. Terkejut Bapaknya berubah 1000 persen jadi orang kampungan.


"Yah saking cintanya Abah mu selalu ke pantai berjemur sampai kulitnya hitam legam. Emak pikir Bapakmu wujud genderuwo sampai Emak tidak mau bicara selama seminggu dan memanggil Kyai," kata Ibunya. Adik dan Apollo tertawa mendengarnya.


"Lalu? Sehitam apa sih, Mak?" Tanya Artemis ingin tahu.

__ADS_1


"Nih fotonya," kata Ibunya menahan tawa.


"AAAAAAAARGHHHH!! MAK ITU GENDERUWO MAK BUKAN ABAH!!" Teriak Artemis melempar fotonya lalu memeluk sahabatnya itu.


Dalam fotonya Abah mereka memiliki kulit hitam legaaaaammm. Difoto saat ada di pantai dalam cuaca siang hari yang terlihat hanya Gigi dan kacamata bergagang Emas. Yah, menakutkan memang sih. Ibunya tertawa keras begitu juga adiknya.


"Ya makanya sebab Emak panggil kyai, ya itu. Ternyata Abah itu insekur dia sendiri yang kulitnya seputih cat tembok sedangkan Emak dan keluarga kan sawo matang, Arte. Ini Abah bukan setan serius. Emak simpan di paling pojok karena yakin kamu juga akan bilang begituuu," kata Ibunya kembali ngakak.


"Insecure, mak," kata mereka bertiga.


"Iya iya itulah. Lalu yah akhirnya Emak bantu Abah mendapatkan kulit hitam. Emak mengidekan ikut bantu mengelola sawah, kulit hitam yang dia dapatkan dari berjemur dalam seminggu kembali putih. Sekarang punya rumah sebesar ini ya hasil keringat Abah. Abah rajin menanam padi, menyiramnya dengan tujuan mendapatkan kulit kecokelatan. Nah ini hasilnya seperti yang kamu tahu," kata Ibunya menyerahkan foto.


Abah nya bergaya kampungan memakai sarung melorot dan peci setengah pakai alias melorot juga. Dia bangga memperlihatkan kulitnya yang setara dengan istrinya. Tersenyum memperlihatkan gigi sekarang setara tidak seseram penampakan foto yang awal.


"Jadi alasan aku sekarang dengan Adek, mirip orang Korea itu ternyata bibit unggul Abah?" Tanya Artemis bengong.


"Abahmu itu banyak yang mau ada juga yang ingin jadi istri kedua, ketiga sampai sepuluh. Bibitnya parah sampai kalian mirip artis Korea. Tapi Abah selalu bilang kalau dirinya warga Indonesia bukan Korea, dia juga tidak mau mengakui soal akta kelahirannya. Makanya Emak sembunyikan di brankas tersembunyi," jelasnya lalu mengembalikan semuanya ke dalam kotak.


"Keluarga kamu super lucu," bisik Apollo. Artemis setuju dia tertawa sekarang dan bernafas lega.


"Makanyaaaa hargai Emak mu ini yang ngfen sama BTS," kata Ibunya menyimpan kembali aset berharga suaminya itu.


"Fans atuhlaaaah," kata anak perempuan keduanya.


Tahu-tahu anak keduanya sudah terkena jitak pemukul kasur langsung lari ke dapur. Apollo berjalan melihat pemandangan sawah di belakang rumah besar itu. Dari sanalah mereka bisa makan sampai sekarang.


Keluarga Artemis membeli rumah yang besar untuk membuat sawah, Abah nya memang senang sekali menanam padi yah buat mempertahankan kulit cokelatnya sih. Hasilnya banyak beras dan akhirnya mereka membuka toko beras yang larisnya jangan ditanya.


"Coba Nak Apollo anak Emak juga ya. Hohoho jadi ada formasi BTS KW gitu," kata Emaknya memeluk tangan Apollo.


"Aku tidak bisa suka dong, mak," kata anak perempuannya.


"Selesaikan dulu sekolahmu! Baru usia cabe rawit sudah suka orang dewasa," kata Artemis menjitak adiknya itu.


Apollo tertawa, kedua orang tuanya tidak se- ekstrim keluarga Artemis.


Aryemis memandangi jam di rumahnya. "Sudah yuk. Kelamaan disini nanti susah keluar rumah," ajak Artemis mengambil tas kerjanya.


"Yuk. Maaf Bu kami permisi dulu ada tugas sampingan," kata Apollo menunduk dengan sopan.


Mereka berdua lalu salim tangan dengan ibunya Artemis dan pergi menggunakan mobil Artemis. Adiknya juga ikut melambaikan tangan saat sudah cukup, dia berteriak.

__ADS_1


"HATI-HATI DI JALAN YA CALON SUAMIKU!!" Teriaknya lalu menahan malu dan masuk ke dalam rumah melihat ibunya berjoget lagu BTS Go Go Go menggunakan daster panjang emak-emak.


Bersambung...


__ADS_2