Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
1


__ADS_3

Eris lalu berjalan ke arahnya dan menyajikan teh serta kue. "Silakan, duduklah," kata Eris.


Wanita itu lalu duduk dengan nyaman dan melihat isi toko. "Ini toko ya?" Tanyanya.


"Iya, toko ini bisa membuat keinginanmu terpenuhi," kata Eris.


"Mengabulkan keinginan? Apa bisa?" Tanya wanita itu agak ragu.


"Anda bisa masuk kemari tanpa penghalang tandanya Anda punya suatu keinginan atau kepentingan yang tidak bisa diceritakan, bukan. Misalnya seorang kekasih," kata Eris masih terus menatap dirinya.


Wanita itu memgerti dengan kalimat Eris lalu tertawa keras. "Hahaha aku sudah punya," katanya dan asap hitam itu lalu keluar seperti meledak.


Arae melihatnya dengan kaget dan menutup mulutnya.


"Hei, Arae ada apa sih? Coba kamu jelaskan," kata Yuri agak cemas.


"Wanita itu menjawab pertanyaan Eris namun keluar lebih banyak lagi asap hitam," kata Arae berbisik pada Yuri.


"Hah!? Apa sebabnya? Asap hitam apa sih? Aku tidak bisa melihat apapun," kata Yuri menajamkan kedua matanya tetap saja tidak ada apapun.


"Belum diketahui sepertinya Eris sedang memancing sesuatu," kata Arae terus memperhatikan wanita tersebut.


"Jadi Anda sudah memiliki kekasih," kata Eris.


"Iya begitulah," kata wanita itu lalu meminum tehnya.


"Ada keinginan yang lain? Atau kisah yang tidak bisa kamu ceritakan pada orang lain," tebak Eris.


Wanita itu menghentikan minumnya dan meletakkannya dengan anggun. "Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Banyak orang yang datang untuk bercerita sesuatu yang tidak bisa mereka katakan pada orang tua, sanak saudara, bahkan sahabat mereka sendiri. Kamu bisa menceritakannya disini," kata Eris masih menatap dingin ke arah wanita itu.


"Aah jadi didampingi gunanya toko mengabulkan keinginan bisa juga dijadikan tempat curhat. Yah, ada beberapa masalah yang aku punya," kata wanita itu.


"Aku bisa membantu tapi kamu harus membayarnya karena kebiasaan kamu," kata Eris membuat wanita itu memandang heran.


"Kebiasaan? Hmm aku tidak punya keinginan yang istimewa kok," katanya dengan mimik wajah agak... meremehkan Eris.


"Begitu," kata Eris lagi-lagi asap hitam mulai menjangkau wajahnya namun tiba-tiba menghilang begitu saja.


Arae yang masih berada di bagian Kasir menjulurkan lidahnya, merasa jijik. "Ugh, kotor sekali!"


"Asap hitam dimana-mana memang kotor kan," kata Yuri dengan santai karena tidak bisa melihatnya.


"Bukan. Setiap kali wanita itu menjawab sesuatu asap hitam itu keluar semakin banyak. Ada kemungkinan sumbernya itu... mulutnya," kata Arae menunjukkan bibirnya sendiri.


"Mulut?" Tanya Yuri menatap wanita dengan rambut keemasan itu.


Arae mengangguk. "Mulut adalah sumber asap hitam itu berada,"

__ADS_1


"Kok bisa?" Tanya Yuri sambil menutup mulutnya. Apakah ada asap hitam juga setiap kali Yuri bicara? Karena kadang dia juga berbohong.


"Kalau kamu berbohong kadang untuk kebaikan kan. Kadang juga kita berbohong untuk membela diri tapi Kalau dia... karena kebiasaannya adalah senang berbohong," tunjuk Arae ke wanita tersebut.


"Ya aku juga pernah berkata bohong pada Ibuku lalu Suga tapi bukan untuk selingkuh ya," jelas Yuri.


Arae tertawa. "Bukan berbohong ringan seperti itu tapi ini kepada kebiasaannya. Dan setiap kali dia berbohong tidak pernah memikirkan konsekuensinya,"


Yuri termenung bagaimana bisa wanita secantik itu pandai berbohong. "Apa karena dia kurang pede?"


"Mungkin," jawab Arae mengangkat kedua bahunya.


"Padahal badannya proporsional dan secantik itu?" Tanya Yuri tidak percaya.


"Kadang apa yang kita lihat dari orang lain belum tentu sesuai nyatanya. Apa kamu bisa menilai bila ada orang yang tersenyum padamu, tandanya dia senang sama kamu?" Tanya Arae menatap Yuri.


"Ah!! Benar juga! Belum tentu semua orang yang tersenyum dan baik pada kita memiliki hati yang tulus. Benar tidak?" Tanya Yuri.


"Iya seperti itu. Kadang juga kita tertipu oleh penampilan baik seseorang tapi dibelakang, mereka menusuk kita sampai terluka. Kita tidak pernah tahu termasuk contoh di wanita ini. Kalau asapnya semakin tebal dan banyak, kemungkinan dia memang senang berbohong ke semua orang," kata Arae.


"Akhir-akhir ini mulutku terasa asam. Mau makan apapun terasa asam," kata wanita itu.


"Sejak kapan?" Tanya Eris.


"Sekitar tahun lalu sampai sekarang," jawabnya tidak ada asap hitam yang keluar.


"Hmm jujur ya," kata Eris tanpa melihat adap keluar dari mulutnya.


Asap hitam lebih pekat keluar dari mulutnya dan mencapai ujung jendela toko.


"Anda tahu kenapa mulutnya selalu terasa asam?" Tanya Eris.


Wanita itu memiringkan kepalanya merasa heran dengan pertanyaan Eris. "Makanya aku menanyakan itu kepadamu karena aku tidak tahu. Aku sampai harus periksa ke dokter tapi kata mereka lidah dan mulutku normal. Menurutmu bagaimana?"


"Kamu memiliki kebiasaan yang tidak bisa dikendalikan," kata Eris.


"Hah? Perasaan kebiasaanku baik-baik saja," kata wanita itu berpikir.


"Ada keluhan lain?" Tanya Eris seperti dokter konsultasi.


"Iya, jari kelingkingku juga kadang tidak bisa digerakkan secara bebas," kara wanita itu menunjukkannya pada Eris.


Eris melihat jari wanita itu diselubungi oleh asap hitam pekat membentuk jarinya. Saat Eris berusaha menyentuh jatinya, asap itu berpindah ke sisi, saat tangan Eris menjauh, asapnya berkumpul lagi.


"Anda pernah menjanjikan sesuatu pada seseorang?" Tanya Eris kemungkinan fungsi jari kelingking adalah mengikat jiwa pasangan.


"Tidak ada seingat aku," kata wanita itu. Asap hitam keluar lagi dalam mulutnya seperti asap rokok.


"Hei, berhentilah berbohong! Kau tidak sadar semua keluhan itu karena kebiasaanmu yang senang berbohong pada orang! Lalu jarimu itu aku tebak kamu pernah menjanjikan pernikahan lalu kabur membawa uangnya kan," kata Arae yang gemas kepadanya.

__ADS_1


Wanita itu terkejut mendengarnya, Eris memperhatikan raut wajahnya yang berubah menjadi pucat. Jari kelingkingnya seperti gemetaran namun tidak bisa dia gerakkan.


"Itu salahnya! Dia mengingkari janji menikah denganku," ucap wanita itu, asap hitam masih keluar dari balik punggungnya.


Arae muak sekali. "Masih saja berbohong. Katakan sejujurnya apa Anda ini Penipu Pernikahan? Dimana uang pria itu? Kalau dia melanggar, kamu bisa mencari yang lain," kata Arae agak galak.


Wanita itu terdiam seribu bahasa. Yuri yang me dengarnya hanya melongo. Penipu Pernikahan?


"Jadi dia..." kata Yuri pada Arae.


"Ada kemungkinan. Jari kelingking tidak bisa digerakkan itu kan berkaitan dengan janji. Kamu juga selalu begitu kan dengan teman-teman dan dia sepertinya sering mengingkari termasuk janji menikah," jelas Arae.


"Aku tahu obatnya agar jarimu kembali normal," kata Eris.


Wanita itu mendengar dan mengangkat kepalanya. "Benarkah? Bagaimana?!" Tanyanya dengan lega.


"Kembalikan uang pria itu lalu kamu meminta maaf padanya," kata Eris kemudian turun dari kursinya dan berjalan ke arah kasir.


"Tidak mungkin! Uangnya..." kata wanita itu tertahan.


"Uang pria itu akan kamu gunakan untuk kabur ke luar negeri bukan? Sekarang pilihannya ada padamu, mau selamanya jari itu tidak bisa bergetak atau... leoas bebas?" Tanya Eris berpaling lalu menuju ruangannya.


"Ka-kalau aku tidak mengembalikannya?" Tanya wanita itu agak takut.


"Kamu akan kehilangan jari kelingking," jawab Eris.


"APA!?" Wanita itu berteriak tidak percaya. Jari camtiknya itu akan menghilang dan dirinya menjadi cacat.


"Kalau dikembalikan apa jariku akan kembali normal?" Tanyanya lagi.


"Tentu," jawab Eris yang menunggu wanita itu pergi.


Wanita itu lalu berdiri dari tempat duduknya dan memutuskan untuk mengembalikan uangnya. Percaya atau tidak percaya, dia akan membuktikan perkataan Eris.


"Hah! Aku ini maunya saja percaya dengan anak kecil. Mana mau aku kembalikan uang itu, dengan uang itu aku akan pergi ke negara terjauh dan hidup enak. Jariku hilang? Hahaha itu pasti hanya gertakan," pikir wanita itu tersenyum.


"Berapa harga konsultasinya?" Tanya wanita itu.


"Kamu akan datang lagi kemari untuk masalah yang lain, jadi belum ada bayaran," kata Eris.


Wanita itu lalu keluar toko, jejak asap hitam pun kemudian menghilang saat wanita itu juga pergi.


"Sudah aman? Udaranya menjadi segar," kata Yuri bernafas lega.


"Sudah. Menurutmu dia akan kembali tuh?" Tanya Arae pada Eris.


"Iya berulang. Karena jarinya masih akan terus kaku," kata Eris menumbuk beberapa bahan.


"Eh!?" Ucap mereka berdua.

__ADS_1


"Asap hitam itu adalah jumlah seberapa seringnya dia berbohong pada banyak orang dan dirinya sendiri," kata Eris membuat mereka berdua terdiam.


Bersambung ...


__ADS_2