Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
6


__ADS_3

Aiolos menenangkan Nyx yang keberatan bila mereka harus menuju kuil itu lagi. "Tenang tenang sekaran kan keadaannya sudah aman. Tapi kalau kamu takut, pergi saja ke toko duluan nanti aku menyusul," katanya tersenyum.


Nyx berpikir kembali dengan cepat. Pergi saja atau ikut? Kalau Emaknya menelepon, pasti kena marah besar.


"Tidak, tidak aku ikut saja deh daripada di getok centong nasi sama Emak. Kita... pergi," kata Nyx menengadahkan payung ke temannya itu.


Aiolos tertawa melihat gelagat Nyx yang menelan ludah dan berdoa. "Oh ya, ini. Bawa saja dulu payungnya. Nyx punya payung juga jadi aku akan se payung dengannya," kata Aiolos menyerahkan.


Eria menatap mereka berdua lalu menerima payung tersebut. "Kita mau kemana?" Tanya Eria mengikuti Aiolos. Nyx berada di belakang Eria menjaganya.


"Kamu tahu kuil Saotome?" Tanya Aiolos melirik ke belakang.


Eria mengangguk. "Tentu. Waktu minggu lalu aku sedang menatap kuil itu, lalu terlihat banyak sekali roh jahat yang berkumpul. Entah ada kegiatan apa di dalam kuil itu," kata Eria menatap langit dari balik payungnya.


Mereka berdua terdiam tentu saja mereka juga mengingat hal itu. Mereka tertawa datar mendengar pertanyaan Eria.


"Lalu apa lagi yang kamu lihat?" Tanya Aiolos penasaran.


"Ada kekuatan yang sangat besar dan mengerikan entah kenapa aku merasa tidak diperkenankan mendekat," kata Eria memegang dadanya.


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Nyx.


"Entahlah," kata Eria memperhatikan Ibu yang berdiri dengan tatapan kosong.


Eria bisa melihat hantu juga dan dia mendoakan sesuatu, membuat Nyx keheranan. Hantu itu lalu menghilang begitu saja saat dirinya melewati jalan itu.


Sampailah mereka bertiga di kuil Saotome yang jarak dari taman tidak begitu jauh. Nyx dan Aiolos menghela nafas dan mengetuk pintu kuil. Pintu dibuka oleh biksu yang pertama menyambut mereka minggu lalu.


"Lho, kalian lagi? Apa kalian akan mengadakan kisah seram kembali? Kebetulan ada banyak ruang yang kosong," kata Biksu membungkukkan kepalanya.


"Bukan. Itu, begini," kata Aiolos bergegas dan menceritakannya.


Eria menatap kuil itu lini suasananya tidak begitu mengerikan seperti apa kata orang-orang.


"Ya ampun. Masuklah," Biksu membuka lebar pintu dan mereka berdua masuk.


Eria masih berdiri. Dia agak tidak mengerti kenapa membawanya ke sana.


Nyx menyadari Eria belum masuk. "Ayo," katanya memegang tangan Eria.


"Kuil ini suasananya segar sekali," gumam Eria.

__ADS_1


"Oh ya? Berkat pemurnian yang dilakukan oleh Arae," kata Aiolos tertawa.


"Arae?" Tanya Eria merasa pernah mendengar nama itu namun entah kenapa tidak ada petunjuk.


"Memang kuil ini dipakai banyak orang untuk menyimpan jenazah yang tidak dikenal, kecelakaan sampai tidak ada wujudnya atau hancur, Tapi semuanya jadi berubah kan lihatlah banyak pepohonan besar," kata Aiolos menunjuk.


"Kuil ini suci," kata Eria yang menutup kedua matanya untuk melihat aura sejuk.


"Benarkah? Wah!" Seru Aiolos dan Nyx yang menikmati angin meski hari itu sedang hujan.


"Benar. Meski hujan anginnya tidak terasa dingin," kata Biksu dengan senang.


Dentingan gelang kaki terdengar, Eria berbalik badan ke belakang. Hantu perempuan cantik itu menatap sekelilingnya lalu terbang memilih satu pohon. Pohon itu bercabang berdekatan dengan ruangan yang pernah mereka gunakan.


"Bagaimana?" Kata Nyx mendekati Aiolos karena dia tidak bisa melihat ghaib.


"Dia senang," kata Eria menunjuk pohon yang hampir mati.


"Baguslah tapi kenapa pohon itu?" Tanya Aiolos bingung. Padahal masih banyak pohon yang lebih segar.


"Ahh. Pohon itu akan menjemput ajalnya mungkin karena itulah hantu itu berada disana," kata Biksu tersenyum.


Lalu Biksu itu pergi dan kembali lagi sambil membawa 3 cangkir berisi teh hijau.


"Sekarang di saat usianya yang senja, hantu itu berada di sana menemaninya, mengabulkan permintaan terakhir lalu mati," jelas Eria.


Aiolos mendatangi Eria dan berjongkok di depannya. "Dia telah menemukan tempatnya. Apa kamu lega?"


Eria mengangguk malu ditatap oleh pemuda setampan Park Jimin. Eria tersenyum menatap pohon itu.


Sekilas pohon itu menumbuhkan banyak daun dan bunga yang enak harumnya. Hantu perempuan itu mengeluarkan energi hangat membuat pohon itu seolah tertawa.


"Berbunga. Pohon itu berbunga!" Seru Biksu yang membuat semua murid keluar dan menyambutnya.


Mereka semua mengumpulkan bunga-bunga untuk dijadikan teh dan puding. Ternyata pohon itu dulunya selalu dijadikan bahan makanan pada bunganya karena harum.


"Kalau begitu, aku akan pulang sebelum Ibu menjemput dan berbuat ulah pada Oppa," kata Eria.


Aiolos tertawa tidak enak, Nyx hanya cekikikan. "Hahaha ya ampun jangan panggil aku begitu ah. Maaf dan terima kasih membuat kamu mengikuti aku sampai sini," katanya.


"Tidak apa kak. Lagipula dari awal pun aku sudah basah," kata Eria memberikan payung Aiolos.

__ADS_1


Aiolos menolak. "Bawa saja jangan sampai kamu syuting lalu masuk angin. Para penggemarmu terutama Nyx akan kecewa," katanya mengedipkan salah satu matanya.


"Iya itu benar," kata Nyx.


"Pakai ya nanti kan kita bisa bertemu di tempat yang tidak aneh ya," kata Aiolos mengeringkan rambut Eria menggunakan saputangannya.


"Baiklah," kata Eria lalu mulai berjalan menuju pintu kuil.


"Eh, tunggu! Nama kamu apa benar hanya Eria?" Tanya Aiolos mengejarnya.


Eria berbalik menatap Aiolos dan Nyx. "Namaku?"


"Beritahu kami nama kamu yang aslinya. Aku juga hanya tahu Eria saja," kata Nyx.


Eria menunduk diam.


"Aku juga ingin tahu," kata Aiolos.


"Namaku yang asli tidak jauh dari nama panggilanku. Sabriela Matsuyama," jawabnya dengan suara yang mantap.


"Hmmm jadi itu nama lengkap kamu. Di TV berbeda ya," kata Aiolos.


"Eria adalah nama kecil dari Ayahku," kata Eria.


"Baiklah, tidak apa-apa. Aku panggil Eria saja ya supaya sama dengan yang lainnya. Kamu sangat mirip dengan orang yang kami kenal," kata Aiolos.


"Tentu saja. Apa yang mirip dengan aku? Kalian salah memanggilku Eris," kata Eria.


"Ahhh bagaimana ya," kata Aiolos memandangi Nyx.


"Pokoknya mirip tapi hanya berbeda di rambut saja dan Eris yang kami kenal, jauh dari orang tuanya," kata Nyx.


"Aku jadi ingin bertemu dengannya. Sudah lama sekali aku dipanggil menggunakan nama Eria. Meskipun namaku di TV adalah Eria tapi tidak ada yang berani memanggilku," kata Eria.


"Eh? Kamu tidak dipanggil Eria di tempat kerja?" Tanya Aiolos.


Eria menggelengkan kepala. "Mereka takut kepadaku," kata Eria menatap genangan air.


"Di rumah?" Tanya Nyx.


"Sudah lama tidak ada orang yang ingin tahu nama lengkap ku dan memanggil dengan Eria," kata Eria menatap Nyx.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2