
Almira terdiam, dia tidak mau kalau sampai Apollo berjabatan tangan dengannya. Takutnya apakah kata Nana benar, mungkin di sisi Apollo dia hanya menganggap Almira sebagai teman.
Keesokan harinya di sekolah, Almira seperti biasanya jajan dengan teman-teman. Lalu sesampainya depan kelas, ada teman lain menyapanya dan memberikan secarik kertas.
"Almira, nih ada titipan surat untukmu," kata temannya itu.
"Hmm? Dari siapa?" Tanya Almira mengambilnya.
"Tuh sekolah sebelah," siswa itu kemudian pergi dan Almira menganggukkan kepalanya.
"Siapa? Siapa?" Tanya mereka bertiga penasaran.
Sebelum Almira membukanya, Nana sudah menyeret mereka bertiga masuk kelas, dengan gerutuan.
Almira tertawa laku membuka kertas itu ternyata dari Tana yang mengajaknya bertemu di belakang sekolah. Dia berjalan menuju kesana sambil bertanya-tanya ada apa gerangan.
"Ada apa?" Tanya Almira yang sampai disana melihat Tana sudah menunggu.
"Almira, kamu tidak sedang sibuk? Sudah makan?" Tanya Tana agak gugup.
"Sudah tadi. Ada keperluan apa?" Tanya Almira.
Tana menatap Almira, gadis SMA cantik yang berjilbab. "Be... Begini. Aku sebenarnya..." katanya.
"Kalau bicara yang jelas dong. Kenapa gugup begitu sih?" Tanya Almira melipatkan kedua tangannya.
"Iya, jadi aku dengar kabar karena rumah kamu kan dekat dengan mesjid utama," kata Tana.
"Ya lalu?" Tanya Almira kebingungan.
"Ada kabar yang terdengar sampai di sekolahku katanya kalau berjabatan tangan dengan kamu, maka soal asmara akan terkabulkan. Jadi... Aku..." kata Tana memainkan tanah di sekitarnya.
Almira tersentak dan menepuk dahinya kabar soal dirinya ternyata sudah menyebar jauh, bahkan di sekolah Tana? Almira menghela nafas, mau bagaimana lagi ini semua gara-gara mereka berempat.
"Jadi kamu mengajak bertemu disini denganku hanya karena itu?" Tanya Almira mendengus.
"Yaaa, aku malu juga sih mau bertanya. Jadi benar?" Tanya Tana memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Yah begitulah kabarnya ya. Lalu kamu menyukai seseorang?" Tanya Almira.
"Iya," jawab Tana.
Almira enggan berkelit-kelit meskipun ada perasaan yang tertusuk saat tahu Tana menyukai seseorang. Benar saja memang bukan Almira orangnya. Dia mengulurkan tangannya ke depan Tana.
__ADS_1
Tana yang mengerti lalu berjabatan tangan. Dia merasakan kelembutan tangan Almira. "Terus?" Tanya Tana.
"Apa?" Tanya Almira kembali.
"Setelah berjabat tangan ini harus menunggu berapa lama?" Tanya Tana melihat tangannya yang memang tidak ada apa-apa.
Almira duduk di sebuah bangku begitu juga Tana.
"Hmm aku tidak tahu tapi yang aku lihat, teman-temanku ada yang bereaksi 3 hari," jelas Almira menatap tangannya yang habis berjabat tangan dengan Tana.
Benarkah hatinya memang berpaling? Lalu kenapa Almira merasa ingin menangis ya? Padahal kan dia menyukai Apollo.
"Ohh semoga untukku secepatnya ya," kata Tana penuh teka teki.
"Eh, aku mau tanya sama kamu," kata Almira berbalik.
"Ya? Soal?" Tanya Tana menatapnya. Ahhh kedua bola mata Almira yang menyejukkan membuat hatinya semakin berdebar.
"Apollo sudah punya kekasih belum?" Tanya Almira menunggu.
Tana sedikit kaget melihat Almira agak termenung. Dia tertawa mengasihani dirinya, wajahnya sedikit murung tapi dia mengerti.
"Belum. Kamu... suka dia?" Tanya Tana menatap Almira.
"Oh... hahaha sepertinya efek untukku tidak akan sesuai deh," kata Tana menertawakan dirinya.
"Lho, kok begitu? Kenapa memangnya kan belum kamu coba," kata Almira agak kaget.
"Karenaaa... tampaknya perempuan yang aku suka menyukai orang lain," kata Tana menatap Almira memberikan kode.
"Oh ya? Siapa sih perempuan itu?" Tanya Almira membuat Tana semakin tertawa.
"Tidak tidak rahasia. Oh ya ini buat kamu," kata Tana mengambil sesuatu dari saku celananya.
Coklat Toblet yang lumayan besar diberikan pada Almira. Dia terkejut!
"Ini buat aku?" Tanya Almira menerimanya dengan senang. Tumben Tana yang suka mengganggunya memberikan cokelat.
"Iya. Sebagai permintaan maaf juga sudah banyak menggoda kamu," kata Tana menggaruk kepalanya dengan wajah yang murung.
"Kamu yakin? Ini pasti untuk perempuan yang kamu sukai kan," kata Almira.
"Yah. Tidak apa-apa aku baru sadar, dia punya seseorang yang disukai di kelas. Sama dengan kamu," jawab Tana lalu berdiri.
__ADS_1
Almira penasaran siapakah perempuan yang disukai oleh Tana sampai sebegitu sukanya. Tapi sampai mereka sama-sama kembali ke kelas masing-masing, tidak ada pembicaraan apapun lagi.
Di kelas Almira terus berpikir kemungkinan perempuan itu karena memang Tana banyak disukai siswi sekolahnya dan dia sendiri.
Aphrodite muncul di depan sekolah Almira dan memandang tajam ke lantai 3 tempat dimana kelas Almira berada. Saat hendak berjalan, Eris menghalanginya.
"Apa yang kakak lakukan di sini?" Tanya Eris dengan suara dingin.
"Eris!? Kamu sudah sadar? Syukurlah," kata Aphrodite langsung memeluknya.
Eris menatap tajam kakak angkat dewi nya itu, mereka kemudian duduk bersama dan sedikit mengobrol.
"Oh ayolah Eris, aku hanya penasaran saja aku lihat ada kabar aneh tentang tanganku. Ada anak manusia yang disebut memiliki titisan kekuatan tangan Aphrodite," jelas Aphrodite dengan mengiba.
Eris menghela nafas. Sampai kabar itu juga menyebar jauh ke tempat sana. "Jadi alasan itu kakak turun dan ingin melihatnya?"
Aphrodite mengangguk keras. "Iya hanya itu. Sungguh! Aku tidak punya niat jahat," katanya.
"Dengan penampilan seperti itu mana mungkin ada manusia yang tidak heboh," kata Eris menatap baju kakaknya.
"Ya ampun Eria, tentu saja kakak akan membuat tidak terlihat. Boleh kan? Aku janji tidak akan berbuat apapun pada manusia itu. Hanya... penasaran," kata Aphrodite menunggu.
"Baiklah," kata Eris berdiri lalu menghilang.
Aphrodite lalu berjalan melalui para siswa siswi yang berlalu lalang, mereka memang tidak mampu melihat kehadirannya. Dengan kerlingan mata, dia sampai di depan kelas Almira.
Aphrodite berjalan dan berdiri di depan meja Almira, dia menatap anak manusia itu dengan takjub. Lalu menekan tangan kanan Almira, muncullah aura berwarna pink dan kuning.
"Ah ternyata ini efek dari dirinya yang rajin beribadah. Syukurlah aku kira memang ada anak manusia yang memiliki kemampuan dewa. Dan itu lebih baik dimusnahkan," kata Aphrodite lalu menghilang.
"Hmm? Apa tadi ya? Aku merasa ada yang menekan tanganku," kata Almira memandangi ke sekelilingnya. Desiran angin yang lembut menerpa wajahnya yang putih.
Di luar Aphrodite melambaikan tangannya pada Eris yang berdiri di atas atap sekolah.
Nana datang setelah selesai mengurus mereka bertiga. Dia melihat Almira termenung dan di depannya ada sebatang coklat toblet yang belum dibuka.
"HEI!! Melamun. Ada apa sih? Cokelat dari Tana yaaa," kata Nana tertawa.
Almira hanya menghembuskan nafasnya dan terus memandang ke luar jendela. Nana merasa aneh dengan sikap temannya itu.
Bersambung ...
__ADS_1