Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
5


__ADS_3

Sawa kemudian memeluk buku tersebut di dalam dadanya. Arae berjalan ke arahnya dengan senyuman iblis lalu menekan buku itu yang ada di depan dada Sawa.


"Aku tanya, kamu yakin mau menuliskan nama sahabat karib mu yang selama ini selalu membantu dan mendoakan mu? Meskipun dia sibuk saat sekolah tapi selalu meluangkan waktu hanya untuk menemanimu," Bisik Arae membuat Sawa merinding.


"Di-dia sudah mengambil impianku. Kenapa aku harus iba padanya?" Tanya Sawa melawan Arae meski ketakutan.


"Kamu siap menerima akibatnya?" Tanya Arae berdiri seperti biasa di hadapannya.


"Apa kamu dendam padaku karena aku menuliskan namamu? Kamu ini apa sebenarnya? Lalu kenapa bayanganmu berbeda?" Tanya Sawa yang masih melirik.


Arae tersenyum dingin persis seperti yang dilakukan oleh Eris. Secara kilat Arae memperlihatkan sosok asli kepada Sawa.


"Iblis," kata Arae menampilkan tanduk besarnya serta sayap.


Sawa kaget bukan main tapi dia memantapkan hatinya akan tetap melakukan memasukkan nama Yuri ke dalam buku itu.


"Kamu ini iblis lalu kenapa menolongku dengan melarang ku untuk menuliskan namanya?" Tanya Sawa dengan suara gemetar.


"Menolong? HAHAHA karena Nona, di dunia ini teman seperti Yuri sudah hampir punah. Aku tidak akan pernah mengorbankan orang yang selalu mendukungku," kata Arae lalu melangkah mundur.


"Yuri sudah memanfaatkan aku sehingga dengan mudah dia bisa menjadi bintang iklan. Bahkan kini dia sudah merebut perhatian sutradara terkenal dan kesempatan ku untuk bermain film. Dia bukan sahabat aku!! DIA MUSUHKU!!" Teriak Sawa dengan marah.


"HAHAHA!! Baiklah, terserah kamu. Berbuatlah sesukamu. Aku hanya akan mengatakan sama dengan yang Eris katakan. Kalau temanmu selamanya selalu berada di pihak mu," kata Arae lalu menghilang bagaikan asap.


Hati Sawa telah tertutup kabut hitam, dirinya sama sekali tidak bisa berpikir lagi. Dia menduga-duga bahwa Yuri telah mengkhianatinya. Dia menangis.


Kemudian pandangannya kosong dan menulis nama Yuri di lembaran terakhir. Kini, dia tertawa keras melihat nama sahabatnya sudah tertera.


Di studio dimana Yuri tengah asyik membaca buku yang banyak foto Sawa serta membaca buku skenario yang akan diberikan pada Sawa nanti.


"Dia pasti senang aku akan sampaikan kabar baik kepadanya. Pak Kimihiro akan memasukkan namanya untuk menjadi pemeran utama. Aku tidak sabar ingin segera memberitahukannya. Dimana ya Sawa?" Tanya Yuri lalu berdiri.


Yuri kemudian melangkahkan kakinya di atas lampu sorot yang salah satunya melonggar. Saat melewati lampu tersebut, kabel tiba-tiba putus dan meluncur tanpa hambatan ke atas kepala Yuri.


"YURI, AWAS!!" Teriak salah satu kru berteriak berusaha menolongnya.


"Eh?" Tanya Yuri lalu memandang ke atas dan terkejut lampu besar itu jatuh ke arahnya. "KYAAAAA!!" Teriaknya.


Setelah puas tertawa, Sawa memasukkan buku tersebut ke dalam tasnya lalu keluar dan berjalan seperti biasa. Dari kejauhan dia tertawa jahat dan melihat segerombolan orang memenuhi studio.


"Ada apa?" Tanya Sawa pura-pura cemas.


"Oh, Sawa. Yuri kejatuhan lampu sorot!" Kata Penata riasnya menangis.


Sawa lalu berusaha menerobos dan melihat Yuri bersimbah darah dari kepalanya. Mirip yang dialami oleh Arae dan banyak orang membawanya.


"YURI!!" Teriak Sawa lalu pingsan.


"Sawa! Pak, bawa Sawa ke Rumah Sakit. Dia pasti syok melihat teman dekatnya tertimpa musibah," kata wakil direktur sangat panik.


"Kamu yang salah, Yuri. Mengambil peranku! Terima balasannya sekarang," kata Sawa dalam hati.


Setelah itu seminggu berlalu kondisi Yuri masih dalam keadaan yang kritis dan belum sadarkan diri.


"Kondisinya sangat parah sekali. Bocor lalu harus dirawat secara insentif. Kami tidak dapat memperkirakan kapan anak ini akan sadar," kata Dokter dengan sedih.


Kedua orang tua Yuri menangis begitu juga dengan orang tua Sawa yang menjenguknya.


Sawa mendengar kabar Yuri dan berpura-pura sedih mendengar kondisi Yuri terbaru. Dalam hati, dia bersuka cita dengan keadaannya. Kini perannya beralih ke dirinya.


"Sudah diputuskan yang menjadi pemeran utama adalah Sawa. Pak Kimihiro juga sudah menyetujuinya. Selamat ya!" Ucap Direktur dengan bangga.


Sawa senang sekali mendengar pengumuman itu, sekarang dia bisa terkenal seperti Artis idolanya yaitu Venus. Venus kini sudah pensiun karena menikah dan memiliki anak.


"Wah, Sawa! Lihat, idola kamu datang juga," kata staf lain.

__ADS_1


Sawa bersalaman dengannya. Sawa memang sangat mengidolakan Venus karena dijuluki Dewi Kecantikan.


"Saya sangat mengidolakan Anda. Terima kasih mau datang," kata Sawa sangat bahagia.


"Wah, senangnya bisa menjadi idola untuk gadis secantik kamu. Yang semangat ya kerjanya, sayang sekali aku sudah pensiun sejak menikah," kata Venus dengan ramah sekali.


Kemudian Pak Kimihiro datang dan menyambut yang lainnya lalu mendekati Sawa. "Sawa, saya permisi ingin bicara denganmu. Bisa?" Tanyanya.


"Tentu! Ah, Permisi," kata Sawa membungkuk pada keluarga Venus.


"Silakan," kata Venus lalu bergabung dengan suaminya.


"Ya, Pak sutradara? Ah, terima kasih karena sudan menerima aku yang begini," kata Sawa menundukkan kepalanya.


"Ah, tidak apa-apa. Hmmm saya yakin kamu sudah tahu kenapa akhirnya bisa menjadi pemeran utama," kara Pak Kimihiro tersenyum ramah.


Sawa menatap Pak Kimihiro dengan bingung. "Maksudnya? Bukankah saya dari awal juga sudah dicalonkan oleh wakil direktur, lalu Bapak menerimanya?" Tanya Sawa.


"Ah, itu. Bukan, hmmm jadi kamu belum tahu alasannya? Yuri belum menceritakannya?" Tanya Pak Kimihiro memastikan.


"Yuri? Memangnya Yuri mau menceritakan tentang apa?" Tanya Sawa yang agak pucat.


"Itu kan tidak mungkin ya saya dengar Yuri mendapat kecelakaan. Dia tertimpa lampu sorot, ah saya hanya ingin mengingatkan. Jangan lupa berterima kasih kepada temanmu," katanya lalu berlalu.


Sawa membeku di tempat. Kini hatinya mendadak sakit dan penuh tanda tanya. "Ada apa? Apa yang mau Yuri katakan padaku? Dan.. kenapa aku harus berterima kasih padanya?" Tanya Sawa bingung.


Beberapa staf dan artis lain menyapa Sawa, dia mengobrol meskipun ada sekilas kecemasan mengenai Yuri. Pokoknya sekarang, yang harus dia lakukan adalah berusaha untuk menjadikan dirinya bintang yang terkenal.


Sebulan berlalu akhirnya tanpa kehadiran Yuri, Sawa berhasil dalam film layar lebarnya yang pertama. Direktur stasiun TV mengadakan konferensi pers, mereka semua bertepuk tangan akan keberhasilannya.


Berbagai nama artis yang pernah dia tuliskan juga hadir meski dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Mereka tidak curiga hanya berpikir, kurang beruntung.


Orang tuanya hadir serta adik dan kakaknya yang lulus kuliah. Adiknya meminta maaf karena sering mengejeknya. Toko cilok milik orang tuanya pun semakin dikenal banyak orang.


Lagi-lagi dia memegang dahinya dan mengeluh kesakitan, dia melihat Sawa tergeletak bersimbah darah di jalanan tertabrak mobil dan dia juga melihat sebuah diary dimana Sawa menuliskan nama Yuri. Dia melihat hujan sedang deras, entah kapan tepatnya.


"Dia membunuh temannya sendiri demi sebuah bintang," bisik Aiolos dengan sedih lalu mematikan televisinya.


Di hari yang sedang hujan deras sama yang dilihat oleh Aiolos, diadakan sebuah pesta syukuran untuk film yang Sawa bintangi.


Namun Sawa terlihat tidak bahagia padahal namanya kini paling sering muncul di manapun.


"Kenapa hatiku terasa hampa ya?" Pikir Sawa memegang dadanya.


Yuri yang dirawat sudah melebihi sebulan pun menunjukkan grafik yang mulai menurun. Perawat dan dokter yang menanganinya bergegas menyeimbangkan alat pernafasannya.


Nafas Yuri lalu tiba-tiba terhenti dan grafik menunjukkan tidak ada lagi syara detak jantung. Mereka menutupi wajah Yuri dengan selimut dan berkabung.


"Filmnya bagus lho aku sudah melihat pemutaran perdananya," kata artis lain mendekati Sawa yang termenung.


"A-ah iya terima kasih," jawab Sawa agak linglung.


"Sekarang kamu sudah masuk ke kalangan artis top lho," puji yang lainnya.


Sawa senyum tapi hambar. Merasa ada yang kurang. Pak Kimihiro lalu membuka pintu dengan senang dan mencari Sawa. Setelah ditemukan, dia berlari dengan wajah yang sangat gembira.


"Sawa!" Kata Pak Kimihiro agak lega.


"Wah, Pak Kimihiro Anda kenapa basah begitu?" Tanya Kru lainnya tapi tidak dihiraukan.


"Hahaha aku kemari sambil berlari takut terlambat. Sukses ya sekarang kamu! Terus terang saja aku tidak menyangka kamu bisa melakukannya sehebat ini. Benar ternyata apa kata Yuri sesuai dengan ucapannya," kata Pak Kimihiro gembira.


Sawa terdiam. "Maksud Bapak apa? Yuri bilang apa soal saya?"


"Lho? Kamu masih belum tahu? Sebelum kecelakaan terjadi kalian belum bertemu?Padahal dia dengan gembira berkata akan menunggumu di studio. Tadinya saya yang akan mengatakannya padamu tapi dia menolak. Ingin memberikan kejutan. Kamu tidak datang?" Tanya Pak Kimihiro.

__ADS_1


Kali ini kedua lutut Sawa mulai terasa lemas. "Studio? Tempat Yuri kecelakaan?" Tanya Sawa mulai menerawang.


"Iya katanya dia akan menyuruhmu untuk datang kan. Saya kaget sekali saat tahu dia tertimpa lampu, dia sangat bahagia saya membuat keputusan untuk membuatmu menjadi pemeran utama," kata Pak Kimihiro senyum senang.


Sawa terdiam, gelas yang dipegangnya hampir jatuh. Lututnya melemas, dia menahan rasa kaget itu. Air matanya turun menetes ke atas sepatu Cinderella nya.


"Ah, jadi tidak enak. Sebenarnya aku memang tertarik ketika melihatnya di studio tempo hari. Dia cocok dengan karakter yang aku buat, berkali-kali aku membujuknya supaya dia mau menjadi pemeran utama tapi dia selalu menolak," kata Pak Kimihiro.


"Iklannya," kata Sawa dengan suara lemas.


"Oh, soal itu. Sebenarnya aku meminta tolong artis lain untuk memakainya. Yah, untuk membuatnya tertarik masuk ke dunia model ini sama dengan kamu, tapi dia menolak katanya kamu lebih cocok dengan pekerjaan ini. Kamu pasti senang ya memiliki sahabat sejati seperti dirinya," kata Pak Kimihiro bangga sekali.


"Tidak..." kata Sawa dengan suara parau. Inilah yang sering ditanyakan oleh Eris dan Arae karena sudah tentu mereka tahu kebenarannya.


"Dia terus memohon kepadaku untuk memakai mu saja katanya, kamu lebih pantas lagipula kamu sudah lama mengidolakan semua filmku. Aku terharu, sekarang kamu senang kan bisa main film di salah satu yang aku buat," katanya dengan bangga lagi dan memegang gelas.


"Tidak mungkin. Itu bohong. Yuri kan... Yuri..." kata Sawa yang sekarang mulai menyadari kesalahannya karena salah paham.


Dia juga teringat bagaimana dirinya tertawa dengan puas saat menuliskan nama Yuri dalam buku itu. Sawa lalu mencari bukunya berharap dia bisa menghapus atau membakar buku tersebut.


Pintu terbuka dengan syara sangat keras. Para hadirin lalu terdiam, tampaklah wakil direktur yang semua pakaiannya basah dan dia habis menangis.


"SAWA!! Ada kabar dari Rumah Sakit bahwa Yuri... keadaan Yuri memburuk dan tadi baru saja... dia meninggal," kata wakil direktur menundukkan kepalanya.


"Sawa," kata artis lain dan Pak Kimihiro menghampirinya. Namun Sawa langsung berlari ke luar gedung itu menuju Rumah Sakit dimana Yuri berada.


Dalam hujan yang deras, Sawa berharap kabar itu bohong. Berharap Yuri masih bisa bertahan saat dirinya tiba.


"SEHARUSNYA AKU KEMBALIKAN! SEHARUSNYA AKU MENDENGARKANNYA! Seharusnya sudah cukup dengan aku bisa menjadi bintang, padahal... padahal Yuri lah yang selalu ada di sampingku!" Teriak Sawa dalam hujan sambil menangis keras.


"Sukses terus ya Sawa! Aku akan selalu mendoakanmu supaya bisa jadi bintang terkenal!" Itu yang selalu Yuri ucapkan kepadanya.


"YURIIIIIIIII!!!" Teriak Sawa dalam derasnya hujan.


Setelah itu terdapat sorotan lampu yang berkedip ke arah Yuri, supir itu meng klakson kuat ke arahnya namun Sawa tidak menghindar. Dia merasa patut menerima hukumannya karena keinginannya yang telah membutakan hatinya.


Tubuh Yuri pun lalu tergeletak setelah terlempar oleh mobil tersebut. Dalam bersimbah penuh darah, Sawa menatap langit.


"Maafkan aku, Yuri. Aku terlalu serakah... karena... ing-in terkenal. Sam...pai menganggap mu... musuh." Kata Sawa lalu terdiam menutup kedua matanya.


Beberapa hari kemudian dunia berduka cita akan kejadian yang dialami oleh Sawa dan meninggalnya Yuri. Banyak yang menyangka Sawa menyusul setelah kehilangan Yuri.


Malam hatinya di Rumah Sakit, para perawat membicarakan sambil jurit malam.


"Para reporter TV masih banyak berkumpul di luar Rumah Sakit," katanya kepada temannya.


"Katanya di Rumah Sakit ini ada artis yang baru terkenal dirawat. Itu benar?" Tanya suster lain.


"Iya anak yang sedang naik daun itu," kata seniornya.


"Aduh, kasihan sekali orang tuanya pun sudah ikhlas karena kondisinya juga sudah dipastikan tidak akan aman," kata suster A agak sedih.


"Dokter juga sudah banyak yang angkat tangan. Ini kan jadi berita besar seorang idola tertabrak mobil saat mengetahui kabar temannya meninggal. Apa tidak ada kemungkinan bisa sadar?" Tanya Suster lain yang baru datang.


"Tidak ada harapan. Nafasnya juga sudah lemah lalu otaknya juga sudah mati syarafnya," kata perawatan senior yang selesai memeriksa Sawa.


Eris keluar dari tempat gelap lalu membawakan setangkai mawar hitam. Arae juga ada membawakan bunga mawar semerah darah. Mereka berdua memasuki kamar Sawa, ada begitu banyak karangan bunga berisikan doa semoga dirinya sembuh dan kembali.


"Sesuai yang dia mau ya. Kamar yang dipenuhi banyak bunga," kata Arae memandang sekelilingnya.


Eris meletakkan bunga itu kemudian menarik bola kehidupannya. "Kalau saja kamu mendengarkan nasihat kami, kamu akan menjadi bintang yang penuh kebahagiaan," Eris lalu menangkap bola itu.


Seketika, mesin itu menunjukkan Sawa sudah lewat. Buku yang ada di sebelahnya terbakar begitu saja menggunakan api Eris.


..."Kalau aku jadi bintang, aku akan tinggal di kamar yang luas dan dikelilingi banyak bunga. Aku tidak perlu mendengar lagi suara radio butut milik adikku."...

__ADS_1


__ADS_2