
"**Oh, tidak perlu. Aku permisi dulu," kata Panji lalu berlari ke arah yang berlawanan.
"Kak, tunggu! Hei! Kita kan belum kenalan.. Nama kamu siapa?" Tanya Miu mengejar Panji. Saat berbelok, Miu heran tidak ada siapapun di sana**.
Nenek teringat kejadian itu. "Benar, saat itu aku merasa aneh sekali kenapa saat Panji berbelok kesana, tidak ada wujudnya. Aku mengira apa itu ilusi?" Tanyanya ternyata memang suatu keajaiban.
"**Kok aneh tidak ada siapapun. Ah Pak, anu apa Bapak melihat ada anak laki-laki lewat kemari?" Tanya Miu.
Bapak itu berpikir. "Ciri-cirinya bagaimana, Nak?" Tanyanya.
"Anak laki-laki yang bajunya basah kuyup. Tadi aku melihat dia berbelok kemari," kata Miu.
"Anak laki-laki? Tapi sedari tadi tidak ada anak kecil yang lewat hanya orang dewasa," katanya menggaruk kan kepalanya.
Miu kaget. "MASA SIH!?" Teriaknya memegang kedua pipinya. Lalu Bapak itu pergi sambil memiringkan kepalanya.
Karena Miu tidak percaya, dia mencari ke semua sekitar geladak tapi tetap tidak ada. Bertanya pada siapapun mereka menggelengkan kepala, Bapak yang menolongnya pun tidak mengerti kemana anak itu pergi**.
"Benar Aku mencari anak itu tapi dicari kemanapun tidak ada," kata nenek.
**Kemudian Miu berjalan menuju ibunya yang tengah menunggu. "Mana anak itu?" Tanyanya.
"Tidak ada, Bu," kata Miu dengan suara pelan.
"Apa maksudmu?" Tanya ibunya menatap anaknya itu.
"Aku sudah bertanya pada orang disana tapi katanya tidak ada anak kecil yang melewati jalan tadi. Ini aneh kan Bu?" Tanya Miu.
"Kamu sudah mencarinya ke semua tempat?" Tanya ibunya merasa aneh.
"Sudah! Aku kelilingi seluruh geladak sampai lantai tengah, tapi dia tidak ada," kata Miu memegang topinya yang masih basah.
"Itu aneh sekali. Siapa anak itu ya?" Tanya ibunya ketakutan. Gosip kapal pesiar ini suka terlihat hantu memang pasti ada.
"Mungkin dia anaknya Superman, Bu," kata Miu menjawab asal.
Ibunya men jitak kepala anak perempuannya itu dan menyeretnya masuk ke dalam kapal**.
"Setelah itu ibu memarahiku karena sudah ceroboh. Ayah tiba dan menyambut kami berdua. Ibu ceritakan segalanya dan mengenai keanehan anak itu," kata nenek Miu memandang almarhum kedua orang tuanya.
"**Suatu hari nanti pasti bertemu lagi, Miu. Kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kan?" Tanya Ayahnya menggendong putrinya.
"Tidak dong. Sudah aku katakan. Semoga benar bisa bertemu lagi, Yah," kata Miu tertawa.
"Kamu suka ya?" Tanya Ayahnya.
"Dia tampan sih hehehe," kata Miu tertawa.
__ADS_1
"Dasar kamu ini masih kecil, Miu," kata Ibunya membelai kepala anaknya**.
Kemudian sekitar nenek berpindah tempat dengan cepat. Dia termenung sejenak lalu tersentak. "Panji? Tapi kenapa dia?" Tanya nenek Miu terkejut melihat Panji yang berbaring di tempat tidur. Lalu di sebelahnya adalah ... Sato.
Ya, suaminya yang sekarang. Nenek Miu menangis, dia pindah duduk dekat sebelah Sato. "Panji, ternyata huhuhuhu kamu bertubuh lemah. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa kamu tidak bilang?" Tangis nenek Miu semakin nyata.
"Panji. Woi!" Kata Sato menyapa temannya yang tengah tidur. Panji bergerak dan membuka matanya.
"Sudah datang," katanya senyum.
"Maaf ya membangunkan mu. Tidur lagi saja," kata Sato melihat sahabatnya tampak lelah.
"Tidak apa. Ada yang ingin aku ceritakan," kata Panji bangun lalu duduk sedikit. Sato menaruhkan bantal di punggungnya.
"Wah, ada cerita apa lagi nih?" Tanya Sato tidak sabar.
"Aku naik kapal putih jalur luar negeri," Panji mulai bercerita.
"Uwwwooowww mimpi kamu kenapa selalu enak ya?" Tanya Sato sebal.
Panji tertawa riang. "Bodoh! Karena aku orang yang selalu beruntung," kata Panji dengan bangga.
Sato cemberut memalingkan wajahnya.
"Jangan marah dong mau lanjut atau tidak nih?" Tanya Panji melihat sahabatnya bete.
"Di dalam mimpi itu, aku bertemu anak perempuan yang sangat manis. Topinya terbang, lalu aku melompat ke laut untuk mengambilkannya," jelas Panji.
"Haaa? Kamu terjun ke laut? Kalau aslinya pasti mati sih," kata Sato tertawa usil.
"😒😒awas ya kamu," kata Panji kesal lalu gantian cemberut.
Mereka lalu tertawa bersama.
"Lalu? Kamu merasakan airnya seperti apa?" Tanya Sato antusias.
"Dingin tapi semakin berenang semakin hangat. Senangnya aku bisa berenang! Aneh tapi nyata meskipun dalam mimpi aku senang sekali! Padahal seperti yang kamu lihat tubuhku terbaring di tempat tidur seperti ini," kata Panji.
"Baguslah akhirnya kamu bisa merasakan air laut dan berenang," kara Sato menepuk pelan bahunya.
"Iya. Aku senang bisa mengambilkannya topi karena dia terus menangis dan aku dengar itu adalah topi kesayangan dari Ayahnya," kata Panji membayangkan saat itu.
"Widih, keren coy!" Kata Sato mengacungkan jempolnya.
"Ehehehe terima kasih," kata Panji.
"Lalu kamu menanyakan namanya?" Tanya Sato.
__ADS_1
"Tidak sih tapi aku mendengar ibunya memanggil namanya. Miu, dia melihatku dengan mali karena gara-gara topi itu aku basah kuyup," kata Panji terkekeh-kekeh.
"Dih, bisa-bisanya kamu ingat nama anak perempuan itu," kata Sato.
"Iya dong aku pasti ingat. Aku juga malu waktu ditawari untuk ganti baju. Ibunya punya baju anak laki-laki seusia aku," kata Panji.
"Lalu? Kamu ganti baju?" Tanya Sato melongo.
"Aku sempat lari menghindar lalu ya aku terbangun karena kedatangan mu," jelas Panji mendatarkan kedua matanya.
"Jadi kamu mau menyalahkan aku nih? Ya sudah aku pulang saja deh," kata Sato yang berdiri menuju pintu.
"Eh, jangan dong kan ceritanya masih ada. Hahaha aku senang kamu datang hari ini. Sekarang aku tidak masalah lagi kalau disuruh tidur setelah minum obat. Karena kan bisa bertemu dengannya hehehe," kata Panji memohon pada Sato.
Ya satu-satunya jalan menghibur Panji adalah dengan mendukung cerita soal alam mimpinya, dunia kedua baginya. Dimana dia bisa dengan leluasa berlari dan melakukan apapun.
Sato senang Panji semakin mengalami kemajuan. Dia lalu duduk, "Mungkin juga bagaimana kalau kamu coba lagi?" Tanya Sato.
"Lagi? Tapi kan aku baru bangun lagipula nanti kamu..." kata Panji tidak enak artinya lalau dia tidur, Sato harus pulang.
"Sudah! Aku tidak apa yang penting kamu bahagia. Sana! Temui gadis impianmu hehehe," kata Sato menggoda.
"Kalau begitu sih tidak ada ruginya sekarang kalau aku harus tidur seharian," kata Panji.
"Iya," Sato mengacungkan jempolnya.
"Terima kasih ya Sato. Besok datang lagi ya," kata Panji yang terlelap tidur.
Sato lalu berdiri dan berjalan pelan lalu membuka pintu.
Nenek Miu memandangi kekasih masa lalunya yang tidur terlelap. Dia merasa sangat sedih sekali Sato, suaminya tidak pernah menceritakan soal ini.
"**Lho sudah mau pulang? Panji?" Tanya ibunya Panji keheranan. Baru juga Sato datang eh 10 menit kemudian pulang?
"Sedang tidur, tante," jawab Sato.
"Tidur lagi?" Tanya ibunya menghela nafas.
"Katanya kalau tidur mimpinya sangat indah. Aku kemari berjanji untuk mendengarkan cerita mimpinya. Besok aku datang lagi membawa hasil karya sekolah," kata Sato tertawa.
"Hohoho ya ampun anak itu ada-ada saja. Ini bawalah makanan untuk di rumah," kata Ibunya Panji menyerahkan bingkisan besar.
"Aduh tidak perlu," kata Sato menolak.
"Sudah, ambillah. Tante senang kamu yang menjadi sahabat baik Panji. Padahal sudah waktunya minum obat," kata Ibunya memandangi anaknya itu lalu menutup pintu.
Bersambung** ...
__ADS_1