Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
GADIS VAMPIR


__ADS_3

...Ins. Melancholia - Music Box ...


...This is my darkness...


...Nothing anyone says can console me...


...Despair & Hope......


...Light & Dark......


...Happy & Sad......


...Hard & Easy......


...Kind & Evil......


...Fall & Rise......


...Near & Far......


...Group & Individual......


...Sometimes smart people feel capable of doing everything...


...But that self-confidence can lead him to fall into failure...


Seragam hari ini :



"Apa kamu percaya kalau di dunia ini ada makhluk yang bisa menghisap darah?" Tanya siswi SMP yang baru-baru ini datang ke toko Eris.


Mereka bertemu dan ternyata gadis ini kesepian tidak ada seorangpun yang bisa diajak curhat, alhasil mereka menerima dirinya kapanpun untuk berkisah.


Setiap seminggu dua kali pasti selalu datang entah menceritakan soal keluarga, teman-temannya atau bahkan kecengan dirinya di sekolah.


Karena ada Yuri yang selalu siap mendengar dan memberikan saran, membuat dirinya semakin betah. Meskipun Eris hanya datar saja mendengar ceritanya.


"Lama kelamaan toko ini berubah menjadi kedai," kata Raven yang berkunjung.


"Aku sih tidak masalah. Ini kiriman hari ini," kata Arae memberikan beberapa kardus besar pada Eris.


Saat itu Yuri kebetulan sedang membuat Patbingsop dengan aneka topping yang enak. Arae juga duduk meminta dibuatkan kudapan itu.


Setelah selesai, Yuri memberikan pada gadis siswi dan Arae. "Vampir maksudmu?" Tanyanya.


"Iya itu. Di sekolahku sedang heboh berita itu," kata Ana memakan patbingsoo buatan Yuri.


"Lalu? Apa semua guru hanya diam saja? Memangnya Vampir itu benar-benar ada?" Tanya Yuri pada Eris.


Eris meletakkan gelas yang sedang dia bersihkan. "Ada tapi keberadaannya tentu saja disembunyikan, apalagi vampir jaman sekarang bisa bercampur dengan manusia biasa," jelas Eris dengan nada yang dingin dan memandang Yuri.


Yuri tahu arti sindiran tersebut intinya anal iblis saja bisa dengan mudahnya bercampur dengan manusia apalagi vampir.

__ADS_1


"Ha-ha-ha," kata Yuri tertawa garing. Ana menatapnya keheranan.


Ana memandangi Eris dari atas kepala sampai bawah kaki apalagi tampilan bajunya yang serba hitam, berwarna sedikit seperti Vampir.


"Hei, Kak Yuri apa pemilik toko itu Vampir?" Bisik nya bertanya pada Yuri yang duduk sebelahnya.


Yuri lalu mengibaskan tangannya. "Bukan, dia sama dengan kita kok," kata Yuri membuat alasan.


"Aaah Albino ya? Rambutnya putih sekali. Manis juga," bisik Ana lagi.


Eris sudah tentu bisa mendengarnya dan sudah terbiasa dengan pandangan orang terhadapnya. Yah anggap saja dia memiliki penyakit Albino agar bisa diterima.


"Lalu bagaimana kelanjutan cerita soal itu di sekolahmu?" tanya Yuri penasaran sambil meminum jus.


"Murid itu meninggal dalam keadaan yang aneh," kata Ana mengingatnya.


"Oh ya? Apa kamu tidak takut? Kalau semisalnya vampir itu benar ada," kata Yuri.


"Para polisi juga sudah menyelidikinya, guru juga memeriksa semua isi kelas takutnya murid pelakunya. Tapi tidak ditemukan sesuatu aneh atau seperti benda kecil yang mampu membuat lubang kecil di leher," jelas Ana.


Yuri memegang leher belakangnya, agak merinding. Arae dan Eris saling berpandangan. Kalau kalian ingat, cara makan Arae yang berwujud iblis bertanduk juga bisa menghisap darah sampai tidak bersisa.


Namun dalam kasus ini, itu bukan kerjaan Arae. Lalu Raven datang dengan masih berwujud burung gagak dan bertengger di jendela dekat Arae.


"Nona, apa vampir itu benar ada?" Bisik Raven agak takut.


"Itu bukan vampir sepertinya ada yang bertindak seperti itu untuk tujuan mengambil darah dari manusia. Kamu itu gagak bukan sih? Masa dengar cerita begitu kamu ketakutan? Gagak itu ya identik dengan kegelapan," kata Arae yang memandang lurus pada Raven.


"Hahaha aku memang gagak tapi kan wajar kalau aku merasa ketakutan," kata Raven tertawa.


"Hah, memangnya kenapa?" Tanya Raven menggaruk kepalanya dengan sayap.


"Arae juga bisa menghisap darah manusia sampai menjadi tengkorak. Apalagi kamu," kata Eris lalu pergi untuk menaruh gelas antik.


Raven memandang Arae yang menyeringai padanya memperlihatkan gigi taring Arae yang sedikit keluar.


"HIIIIIII!!" Teriak Raven langsung kabur ke luar jendela.


Arae lalu tertawa keras dan melepaskan gigi vampir palsu yang baru saja dibelinya di toko saat menuju toko. Raven mengumpat kesal di langit karena ulah Arae.


Raven lalu berpikir untuk mencari tahu sendiri, dia mendatangi sekolah Ana dan memang benar. Sangat ramai sekali disana. Raven bertengger di depan sebuah jendela yang terbuka.


"Kabarnya kematian Rei masih belum diketahui," kata A dengan wajah yang ketakutan.


"Mengerikan sekali masa iya di sekolah kita ada vampir?" Tanya B agak merasa tidak percaya.


"Bukankah saat itu Rei sedang berlatih panahan ya sampai sore?" Tanya C.


Mereka semua mengangguk. "Tubuhnya ditemukan di semak belukar belakang sekolah," kata yang lainnya.


Raven lalu terbang menuju belakang sekolah yang dimaksud dan mencari keberadaan mayat itu. Sudah banyak polisi di sana, Raven berdiam diri di sebuah ranting besar dan mendengarkan isi obrolan mereka.


"Buku-buku berserakan lalu dia juga kelihatannya habis pulang dari klub memanah," kata polisi 1 yang melihat segala barang tas Rei semuanya berhamburan.

__ADS_1


"Panahnya tidak ada hanya busur saja apa dia berhasil menusuk pelakunya?" Tanya polisi lain menunjukkan busur.


"Yang anehnya lagi, Pak. Tidak tersisa setetes pun dara dari mayat ini. Seperti telah diambil menggunakan pipa kecil yang elastis. Tapi untuk apa?" Tanya yang lain.


"Mungkin untuk kenang-kenangan setelah membunuh," tebak petugas lainnya membuat semua menjadi misteri.


Raven langsung merinding mendengarnya lalu terbang pergi untuk mengabarkan.


Di toko, Ana meminta ijin untuk kembali ke sekolahnya karena ada rapat dengan klub Drama.


"Hati-hati ya kalau ada apa-apa hubungi aku," kata Yuri melambaikan tangan.


"Oke, Kak," kata Ana lalu berlari menembus portal yang tidak bisa dia lihat.


Raven kembali dan menceritakan semuanya sampai darah yang tidak ada sisanya. Yuri merinding, Arae penasaran siapakah manusia yang bisa melakukan hal sekejam itu selain dirinya.


"Aku takut," kata Yuri menaikkan kerah bajunya.


Eris menatap Yuri. "Kamu takut akan vampir tapi kamu tidak takut dengan iblis?" Tanya Eris.


Yuri cengengesan dan memeluk Eris. "Kamu kan iblis nya cantik. Arae juga," katanya tertawa.


"Toko ini akan berubah menjadi kedai," kata Raven. Arae dan Eris setuju melihat Yuri yang bisa membuat berbagai macam makanan.


Raven duduk dimana Ana tadi duduk memandangi mangkok patbingsoo yang sudah habis isinya.


"Bagus kan sambil menunggu perjalanan selanjutnya," kata Yuri dengan senang lalu memberikan bagian untuk Raven dan Eris.


Eris tidak membutuhkan makanan tapi dia tidak masalah bila harus makan. Lagipula ini pertama kalinya dia memakai kudapan yang segar itu.


Ana yang sedang menuju sekolahnya melihat masih banyak polisi dan orang di sekolahnya. Dia lalu menyimpan sepatunya di rak dan mengambil sepatu sekolah yang sudah tersedia. Dalam menuju kelas pun semua murid keluar lalu lalang membicarakan kasus.


"Masih belum selesai penyelidikannya?" Tanya murid lain yang melihat dari jendela atas.


Ana memasuki ruangan klub Drama dengan ceria.


"Hai, Ana. Penyelidikan mereka masih belum menemukan jalan keluar. Hari ini kita rapat di kelas saja jangan di ruang klub. Sebagian anggota merasa ketakutan," kata Ketua.


"Masalahnya kan klub kita ini berada dekat lokasi kejadian," balas anggota lain.


Ana tidak masalah. "Oke," mereka semua segera mengambil tas dan pergi bersama menuju kelas ketua.


Satu per satu mereka memasuki kelas Ketua dan duduk, siang itu karena ada kejadian tidak terduga, sekolah dibebas tugaskan. Anggota drama pun diberitahukan lokasi rapat dan mereka masuk satu per satu termasuk Tabiko.


Anggota yang paling sering memainkan peran utama, dengan perawakan badan yang tinggi, kulit putih langsat, wajah yang super cantik dan juga agak angkuh.


"Hai, Tabiko," kata Ana melambaikan tangannya.


Tapi Tabiko melewatinya tidak membalas sapaannya. Yah seperti itulah dirinya.


Tapi berbeda kalau ketua dan wakil klub yang menyapa seperti sekarang.


"Hari ini kulit kamu mulus sekali, wangi bunga. Rahasianya apa sih?" Tanya Wakil ketua mengaguminya. Tapi sebenarnya lebih menakutkan karena Tabiko tidak terlihat sama dengan murid perempuan di sekolah.

__ADS_1


"Tentu saja aku melakukan suatu meditasi dan... meminum ramuan rahasia," jawab Tabiko dengan suara yang terkesan manja dan sombong.


Bersambung ...


__ADS_2