Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
10


__ADS_3

Mendengar penjelasannya, semua orang yang ada di ruangan tersebut ketakutan. Ares menatap lembaran iklan dengan memandangi kata Selamat. Apa mungkin di tempat itu memang ada Iblis?


"Bagaimana Anda tahu?" Tanya Mila.


"Kedua orang tua seleb itu pernah menginap di sini dan mereka menuturkan seakan di teror oleh suara-suara, barang-barang yang bergerak atau berpindah sendiri. Bahkan..." kata Yoshi menundukkan kepala.


"Ceritakan saja," kata Panca meski kedua tangannya gemetaran.


"Mereka melihat penampakan mengerikan di ujung lorong," kata Yoshi memandangi mereka.


Yuri merapat pada Eris, Eris tahu rumah ini memang ada yang tidak beres apalagi bau darah yang pekat.


"Anda juga pernah lihat?" Tanya Eris.


"Ada tapi aku kira itu adalah kejahilan dari tukang kebun karena tinggi badannya sama," kata Yoshi memikirkan lagi.


"Apa Anda memastikan hal tersebut kepada mereka?" Tanya Chris dengan wajah yang serius.


"Ya. Saya tanyakan kedua orang tua pemilik, mereka juga tidak tahu pasti namun kami bersama-sama menuju taman dan bertanya," kata Yoshi.


"Lalu?" Tanya semuanya kompak.


"Tukang kebun itu berada di dalam rumahnya sedang makan malam bersama sang istri jadi tidak mungkin dia berada di rumah ini," jelas Yoshi.


Mereka semua merinding membayangkan hal itu. Yogi, Rey dan Rika adalah Otuber sangat senang sekali mendengar informasi tersebut.


"Kita harus mencobanya daripada tidak ada kegiatan," kata Rika antusias.


Yang terdengar okeh Sisna. "Jangan teruskan rencana kalian ini bukan main-main"


Mereka bertiga mengangguk, dan memberikan kode pada keduanya bajwa mereka akan terus menjalankan rencananya.


"Masih ada lagi kan kelanjutannya?" Tanya Eris.

__ADS_1


"Ah, maaf kami bertiga akan kembali ke kamar. Kami akan tidur," kata Yogi. Mereka lalu keluar dan mengobrol.


Yoshi mengangguk, "Setelah banyak kejadian mereka berdua meninggalkan vila ini dan para pelayan keheranan karena tidak pernah mengalami hal tersebut," jelasnya.


Semuanya berpikir karena ada yang aneh.


"Jadi hanya orang tertentu saja ya," kata Chris bergumam.


"Lalu hal itu pun berlalu begitu saja pemilik rumah ini sendiri tidak pernah mengalaminya. Lalu... diadakanlah permainan ini. Yang kalian ikuti, saya sudah melaporkan banyak keanehan tapi sang pemilik tidak peduli. Katanya itu hanyalah omongan seorang penakut," kata Yoshi.


"Saya ada teman tahun lalu pernah ada beberapa orang yang mengikuti permainan ini dan... menghilang. Apa itu benar?" Tanya Dani.


Yoshi terdiam, wajahnya agak pucat.


"Pak, lebih baik katakan saja secara terus terang. Apa yang terjadi dan semua yang Anda ketahui," kata Yuri memberikan teh panas.


Yoshi meminum sedikit lalu mulai bercerita kembali.


Dani kemudian berdiri sambil memegang kepalanya jadi benar info dari temannya itu. Dan kini dia terjebak disini.


"Apa Anda mencarinya?" Tanya Ares dengan meremas kedua tangannya.


"Tentu. Saya panggil polisi, pemadam kebakaran, detektif tapi hasilnya nihil. Sang pemilik lagi-lagi tidak perduli dan taruhannya ditambah menjadi yang kalian semua dengar," kata Yoshi.


"10 juta tiap orang bukan jumlah yang kecil," kata Fuji menyandarkan tubuhnya ke pintu.


"Baginya uang tersebut tidak berarti apapun," kata Yoshi meminum lagi tehnya.


"Anda masih ingat kejadiannya?" Tanya Chris.


"Sama seperti kalian, mereka juga memiliki cenayang dan pengusir hantu. Entah kenapa dari hari demi hari, jumlah anggota mereka yang asalnya 10 satu per satu menghilang sampai akhirnya semua habis. Saya jelas merasa kabar soal yang aneh itu memang benar tapi lagi-lagi para pelayan tidak mengalami apapun," kata Yoshi.


"Bagaimana dengan ucapan Anda yang melarang kami bepergian sendiri?" Tanya Yuri.

__ADS_1


"Ya itu... Dari yang sudah-sudah mungkin karena bosan, mereka berkeliling sendiri tanpa ditemani dan menghilang begitu saja. Dan saya menemukan sesuatu saat lewat seminggu," kata Yoshi menundukkan kepalanya lagi.


"Hei, ini sih kelihatannya sudah tidak mungkin aman kan," bisik Fuji pada Sani.


Sani diam memberikan kode pada Fuji untuk tetap mendengarkan dan tenang.


"Ada apa?" Tanya Rio.


"Sekantung plastik besar berisi..." kata Yoshi agak ragu menceritakannya.


"Jangan-jangan... mayat yabg termutilasi?" Tanya Yuri sudah ketakutan.


Mereka semua sudah memucat para lelaki pun mulai tegang.


"Bukan," jawab Yoshi membuat mereka lega.


"Aku pikir," kata Kay dengan berpose keren.


Eris masih memandangi lekat Yoshi seperti ada sesuatu yang aneh padanya.


"Darah yang menghitam," kata Yoshi melanjutkan.


Jawabannya itu membuat semuanya agak histeris terutama para perempuan.


Di luar gedung, Arae menemukan sesuatu yang tidak dia duga, bau amis itu ternyata datangnya dari dinding tembok rumah tersebut.


Karena penasaran, dia menggaruk sedikit dan menciuminya, bau darah itu lalu dia jilat dan terkejut. Darah hitam keluar sedikit dari tembok dimana Arae garuk tadi.


Arae mundur terlihat raut wajah yang agak aneh. Dia menggoreskan kukunya lagi dan darah merah dan hitam muncul bersamaan.


"Eris. Mereka semua berada dalam bahaya. Rumah ini... bukan rumah biasa," bisik Arae memandangi semua tembok dengan mencurigakan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2