Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
3


__ADS_3

"Eris," kata Arae berbisik.


Eris mengangguk, mereka juga mendengar suara derap langkah kaki, Aiolos melepaskan tangan Ares dan memandang ke arah belakang.


Artemis juga melakukan hal yang sama tapi karena merasa itu hanyalah desiran angin, dia kembali fokus pada cerita.


Tebaran garam yang membentuk lingkaran kembali bertebaran layaknya es yang mencair. Teran semakin aneh dan menambahkan garamnya lagi.


Sang biksu yang sedang membacakan sutra mendapatkan firasat buruk namun, kembali melantunkan doa lagi.


Kembali ke ruangan dimana Eris berada, Nyx meminum air tehnya lalu melanjutkan ceritanya.


"Suatu ketika, Ibu merasa suasana di kompleknya begitu sepi dan sunyi. Biasanya banyak suara kucing dari dalam masing-masing rumah. Lalu Ibu mengetuk pintu rumah, penghuni keluar tentunya. 'Kenapa suasana di komplek ini begitu sepi?' Tanya Ibuku," kata Nyx.


Bayangannya kembali seperti bergoyang karena pancaran api pada lilin seakan tertiup angin.


"Lalu?" Tanya Poi yang penasaran.


"Kata tetangga dengan wajah yang memerah, 'Kamu tidak tahu? Semua rumah kehilangan kucing peliharaannya. Apa milikmu ada?' Tanyanya.


'Ya tentu. Dia tidak pernah keluar lagi semenjak kejadian itu,' Ibu memeriksa semua rumah. Benar saja semua kucing peliharaan telah menghilang," kara Nyx.


"Kok bisa? Menghilang begitu saja?" Tanya Ares.


Nyx mengangguk. "Mereka semua cemas karena soal kabar pasangan lansia. Tapi sejak beberapa hari, nenek dan kakek itu tidak pernah terlihat lagi.


Koran bertumpukan di dalam kotak surat, tidak ada suara perkelahian seperti biasanya, suara kucing atau apapun!"


Mereka terdiam tidak ada yang memberikan komentar. Nyx melanjutkan lagi.


"Semuanya sepi dan tenang, ibu ku sudah tentu heran lalu dia memberanikan diri mendatangi rumah lansia itu.


Dan saat membuka pintu, dia melihat kucing peliharaan para tetangga keluar dengan langkah yang santai," kata Nyx memandangi mereka semua.

__ADS_1


Wajahnya yang terkena sinar cahaya lilin, membuatnya semakin terlihat misterius. Eris menatap sosok Nyx yang bertumpuk dengan Nyx sang Dewa Malam. Temannya yang dekat bersama Aiolos.


Dia tidak pernah memperhitungkan dirinya yang berasal dari kegelapan. Betapa Eris sebenarnya merindukan sosok Nyx yang sangat ceria dan mampu mencairkan suasana sedih.


Eris juga menatap Aiolos, kekasihnya di dimensi dunia dewa. Aiolos yang tidak pernah gentar membelanya dan melawan pasukan Zeus bahkan sampai akhir hayatnya.


"Misterius sekali. Kok bisa kucing-kucing itu selamat?" Tanya Arae sambil berpikir.


"Tidak ada yang tahu, Ibu ku juga keheranan semua kucing keluar dari rumah itu dengan perut yang agak gemuk.


Ada sekitar 20 ekor kucing dan mereka kembali ke rumah majikan mereka masing-masing," kata Nyx mengangkat bahunya.


"Kucing gadis itu juga?" Tanya Aiolos.


"Iya. Ibu lalu penasaran, dia bersama teman-temannya memasuki rumah itu dengan keadaan yang sangat sepi, masih rapi tidak ada bekas pergulatan.


Di semua ruangan sama sekali tidak terlihat pasangan lansia tersebut. Beberapa hari tidak ada kehidupan, para warga sana melaporkan pada polisi setempat," kata Nyx menarik nafas.


"Pasti heboh tuh," kata Apollo.


Kakek dan nenek itu telah menjadi tulang belulang yang sangat bersih. Tidak ada ceceran darah atau daging yang tersisa. Ceritaku selesai," kata Nyx meniup lilinnya agar padam.


"Huff! Kata mereka semua bernafas lega lalu meminum air teh. Setidaknya kali ini tidak begitu menyeramkan.


"Jadi intinya kucing-kucing itu memakan pasangan lansia?" Tanya Poi merinding. Dia tidak pernah suka kucing karena bentuk mata mereka yang aneh.


"Ya ada kemungkinan begitu karena dalam ceritanya para kucing berjalan santai dan terlihat sangat senang kan. Apalagi badan mereka gemuk," kata Ares agak menekan kedua pipinya.


"Kucing ibuku normal, 20 kucing itu kabarnya tidak makan selama 3 hari setelah itu kembali menjadi kucing biasa," kata Nyx mencomot kue.


"Kucing Ibumu masih ada?" Tanya Aiolos.


"Sudah tidak ada saat Ibuku berusia 20 tahun, kucing itu memilih pergi selamanya dan Ibu pindah ke Jakarta setelah lulus kuliah laku bekerja ya menikah. Dan keluarlah aku yang tampan ini," kata Nyx mengibaskan rambutnya mirip iklan rambut ketombe.

__ADS_1


"BUUUU!!" Sorak yang lainnya mengacungkan jempol yang diarahkan ke bawah.


"Selanjutnya?" Tanya Eris tidak sabar.


Apollo yang menatap lagi ke sampingnya hanya bisa melihat. "Anu, kenapa air itu bisa bergerak? Tidak ada yang menyentuhnya bukan?" Tanya Apollo pada Eris.


"Wah, kenapa ya," kata Eris dengan nada dingin.


Yang lain langsung melihat juga karena penasaran, mereka memeriksa semua wadah air. Riakan itu kembali tenang lalu terbentuk lagi sebuah garis gelombang.


"Di sini juga," kata Artemis termenung.


"Wadah air ini sebagai mantra pelindung bila air yang ada di dalamnya tersebut banyak tumpah, berarti..." kata Eris memberikan teka teki.


"Pelindungnya rusak," kata Aiolos melihat gelombang air.


"Ya," jawab Eris.


"Hei, apa kita akan aman di sini?" Tanya Anemoi agak cemas.


"Ingat kalian tidak bisa memutuskan permainan ini karena Kak Ares sudah mengumpulkan kita semua dan memulai kontrak, menceritakan 10 kisah seram," kata Arae dengan kedua mata yang berkilat merah.


Mereka semua terdiam dan kembali duduk, meski perasaan cemas melihat wadah air. Eris memandangi Teran yang masih dengan peranannya sebagai pemegang kamera.


Dia mencurigai sesuatu padanya karena yang mengide kan tempat ini. Lalu Eris memperhatikan sesuatu dan kaget, dia memandangi botol teh yang ada. Eris yakin Arae tidak pernah memberikannya botol teh.


Teran minumnya tanpa tahu bahwa Eris memperhatikan setiap tingkahnya.


"Arae, apa kamu memberikan minuman pada gadis itu?" Bisik Eris.


"Eh? Tidak. Kapan? Kapan dia mengambilnya?" Tanya Arae lalu menghitung.


"Yang kamu bawa sesuai jumlah pemain dalam lingkaran. Dia sepertinya menciptakan minumannya sendiri, apa dia lupa ya kalau kamu belum menawarinya?" Tanya Eris tersenyum dingin.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2