Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
1


__ADS_3

Supir itu lalu mengeluarkan koper-koper dengan susah payah dan masuk ke dalam toko itu lagi. Lalu mulai meletakkan koper itu di meja dan kakek itu terengah-engah menarik nafasnya.


"Huff mungkin sebaiknya aku mulai menyingkirkan lelaki tua ini ke pinggir jalan. Di dunia ini masih banyak laki-laki yang berpenampilan lebih menarik. Benar tidak, Nak? Hahahaha!" Ucapnya lalu tertawa keras.


Eris sama sekali tidak berkata apapun, dia hanya menatap kakek tua itu. "Apa Anda tahu kalau dia juga seorang pembunuh?" Tanya Eris dengan suara pelan.


"Apa? Apa kamu bilang, Nak? Oh iya ini dan ini bagaimana. Masih kurang? Ah ya toko yang kamu miliki ini aku yakin membutuhkan banyak uang kan. Aku masih ada 4 koper lagi di mobil kalau ditotalkan semuanya ada 50 miliar," katanya dengan angkuh.


Kakek itu menunduk sedih, dengan uang segitu dia bisa membeli keperluan putrinya tapi menatap wanita kurus di hadapannya itu tidak mungkin.


"Aku tidak butuh uangmu," kata Eris.


"Apa kamu yakin? Dengan uang ini kamu bisa merenovasi atau bahkan menambah banyak rak barang yang lebih super mewah lagi. Yah, atau kamu bisa membeli banyak baju dengan model yang bervariasi lagi," kata wanita itu menatap baju Eris.


Eris menjentikkan jarinya dan terbukalah lemari di sampingnya. Ada ratusan baju gothic yang dia miliki membuat wanita itu terkesima menatapnya.


"Bagaimana bisa... lemari itu terbuka dengan sendirinya lalu menutup?" Tanya wanita itu agak gemetaran.


Sedangkan supirnya hanya keheranan karena dalam penglihatannya, tidak ada sesuatu yang aneh terjadi padanya. Semuanya normal tidak ada lemari yang terbuka.


"Yang seharusnya terlihat, tidak akan terlihat. Yangs seharusnya ada, tidak akan pernah ada," kata Eris menunjuk kepada wanita itu.


Dalam waktu yang terdiam, Eris melayang dihadapan wanita itu. Supirnya membeku hanya wanita itu saja yang tidak tapi tidak ada suara yang keluar.


"A... a..." katanya menatap Eris dengan ketakutan.


"Gelang ini disebut Gelang Venus, kau pasti tahu dewi Aphrodite kan dia adalah dewi yang terkenal di duniaku dan duniamu," kata Eris.


Wanita itu menundukkan kepala. Dia hanya bisa merespon dengan anggukan kepalanya. Sama sekali tidak tahu kalau anak kecil di hadapannya adalah iblis.


"Gelang ini dapat memikat dan menundukkan seseorang hanya dengan memakaikannya di tangan. Saat Anda memakai gelang ini, semua orang akan tertuju hanya pada Anda saja. Apa Anda sadar bahwa diri Anda sudah lebih berumur? Dengan gelang ini, usia Anda tidak akan terlihat tua," kata Eris. Gelang emas itu melayang berbinar di sampingnya.


"A...ku... ma...u," kata wanita itu berusaha bicara.


Eris tersenyum lalu menyerahkan gelang itu pada telapak tangan wanita itu. Rasa takut padanya sudah tidak ada, sekarang dia semakin menginginkan kejayaan dan terkenal lebih dari sebelumnya.


Semua kembali normal. Wanita itu kini semakin lebih menggila dia tertawa jahat sambil mengacungkan gelang emas itu lalu dia pakai.


"Hahaha aku sungguh beruntung namaku juga Venus. Ibuku memberikan nama itu agar aku bisa menjadi seseorang yang cantik dan berhasil dalam dunia akting. Gelang ini bernama Venus juga, memang hanya AKU SEORANG yang ditakdirkan untuknya," kata wanita bernama Venus itu memakaikannya.


Supirnya hanya terdiam mendengarnya. "Nyonya, bukankah berbahaya?" Tanya supir itu.


"DIAM KAU! Ah, berapa harganya aku akan bayar berapapun itu. Katakan saja," katanya dengan suara yang lembut.


"Anda bisa membayarnya nanti bila keinginan Anda sudah terpenuhi. Saat kejayaan sudah Anda berhasil dapatkan, dan kecantikan yang tidak bisa disandingkan oleh siapapun, Anda bisa mengembalikannya ke toko ini," kata Eris berdiri di hadapannya.


"Oh, sayang sekali kau menolak uangku tapi tidak apa. Jadi jatuhnya aku meminjam ya? Hmm baiklah," kata Venus berlalu dan memperlihatkan wajah dengan pikiran kotornya. "Anak itu akan kuurus nanti," dalam pikirannya.


Wanita itu kemudian dibukakan pintu oleh supirnya dan memerintahkan semua koper itu dibawa kembali. Supirnya menurut sebelum keluar, dia bertanya.


"Pembayaran seperti itu agak tidak biasa apakah kamu tidak akan rugi? Padahal uangnya sangat banyak kamu bisa membeli apapun," kata kakek itu.


"Saya bukan manusia. Saya tak punya rasa keserakahan," kata Eris masih berdiri tanpa bergerak sedikit pun.


"Kenapa kamu memberikan pinjaman pada majikan saya? Dia tidak akan mengembalikannya meskipun nanti sudah terkenal. Lalu bagaimana?" Tanya supir itu.


Eris menyeringai. "Takdirnya akan berputar, seseorang akan membawakannya kemari," kata Eris menatap supir itu.

__ADS_1


"Saya merasa kamu bukan anak kecil sembarangan. Dan lagi lelucon kamu sebagai bukan anak manusia itu sangat lucu," kata supirnya tertawa.


"PAK SAPTO SEDANG APA KAMU!?" Teriak Venus dengan galak.


"Saya tidak takut ancaman wanita itu atau apa yang akan terjadi nanti. Dia tidak akan pernah datang kemari lagi jadi jangan cemas," kata Eris berjalan mendahului supirnya itu.


"Kalau misalkan... keinginan Nyonya terpenuhi dan gelangnya bisa lepas. Apakah saya bisa meminjamnya?" Tanya supir itu dengan wajah yang agak picik.


"Saat gelangnya terlepas, keinginannya sudah terpenuhi. Kakek bisa langsung memberikannya pada orang lain, dan waktu peminjamannya akan sama," kata Eris mempersilakan kakek itu keluar. Eris melihat aura kelam pada kakek itu, sudah tentu tanpa wanita tua itu sadari. Sepertinya sang supir pernah melakukan pembunuhan.


"Benar tanpa harus Anda datang kemari pun lalu merebut gelangnya sama saja artinya, bila semua keinginannya tercapai, saat itulah harus dikembalikan. Rugi atau tidak, bukan urusanku," pikir Eris.


"Baiklah. Saya menjadi tenang. Setelah Nyonya selesai, saya akan meminjamnya. Selamat siang," kata supir itu.


"Sekedar saran. Daripada harus membunuh wanita tua itu, lebih baik Anda keluar secepatnya dari sana. Tapi bila Anda tidak masalah disiksa sampai ajal menjemput dan membiarkan putri Anda menjalani hidup yang sengsara, silakan." Kata Eris.


Supir itu kaget dan membalikkan badannya menatap Eris yang menutup pintu tokonya. Supir tua itu lalu menundukkan kepalanya. Dia kaget kenapa anak itu bisa tahu rencananya?


Dalam perjalanan sudah tentu wanita itu terus memberikan gelang emasnya. Apalagi membicarakan putrinya yang harus hidup miskin bersamanya, sungguh membuat kakek tua itu menahan emosinya.


Di sebuah gedung tinggi, akhirnya wanita itu sampai dan tengah berlatih di ruangannya. Supirnya itu berada di ruangan yang lain menjaga semua barang serta perhiasannya. Dia melirik ke sebuah kotak berisikan gelang emas. Lagi-lagi terbayangkan apa kata Eris kepadanya saat itu.


"Apakah Nyonya akan membunuhku? Sebelum itu aku harus..." kata kakek. Lalu terbukalah ruang itu dan masuk suami dari Venus.


"Kamu disini aku ada perlu denganmu," kata suaminya.


Mereka mengobrol dan alangkah terkejutnya kalau suaminya menyuruh supir tua itu untuk membubuhkan racun di minumannya. Suaminya sudah tidak tahan lagi dengan semua keinginannya apalagi dia sudah bosan.


Ternyata mantan istri kakek tua itu dulu berencana membantu suami Venus kabur dengan kekasihnya tapi, suaminya itu malah memfitnahnya. Alhasil istrinya yang malah kena bunuh bukan suaminya tapi kali ini tidak akan begitu lagi.


Kakek itu kaget. Dengan uang sebegitu, putrinya akan bisa ... lalu dia menggelengkan kepalanya. "Akan saya pikirkan, Pak," katanya menunduk.


"Hah dasar tua bangka untuk apa dipikirkan?" Pikirnya kesal. "Baiklah tidak apa, saya akan tunggu jawabannya pukul 11 malam ya. Kamu sedang apa disini? Apa ini? GELANG EMAS? NYONYA BELI PERHIASAN LAGI?!" Teriak suaminya kaget.


Kakek itu mengangguk. Suaminya marah sekali tapi setelahnya dia terdiam lalu keluar ruangan. Kakek tidak menjelaskan gelang apa itu, suaminya lebih parah lagi dari istrinya. Kalau dia ceritakan akan sulit baginya mendapatkan gelangnya.


Lalu tiba-tiba suaminya kembali. "Kamu, aku ada tugas untukmu. Aku akan mencari gelang yang sama persis dan tugasmu adalah menukarkannya. Paham?" Tanya suami Venus.


"Ditukarkan?" Tanya supir itu kaget.


"Gelang indah ini akan sangat cocok dipakai oleh calon istriku bukan wanita kurus seperti dia. Aku akan memberimu bonus," katanya lalu pergi lagi.


Di ruangan lain, seorang kru mengetuk dan memasuki ruangan Venus lalu berbicara kepadanya. Tiba-tiba ekspresi wanita tua itu berubah menjadi merah padam.


Kru itu ketakutan dan temannya ikut masuk juga. Menatap mereka berdua seperti diduga Venus akan meledak.


"AKU INI RATUNYA DRAMA! Sudah banyak film dan drama yang aku bintangi termasuk peran Ophelia. Kenapa sekarang kamu bilang peranku akan digantikan!?" Teriaknya pada salah satu kru.


Para kru tahu akan seperti ini makanya mereka semua malas kalau harus memberitahukan sesuatu apalagi soal perannya yang dimundurkan menjadi bintang lain. Venus selalu ingin menjadi nomor satu di seluruh drama dan film. Apapun yang terjadi, berapapun harganya dia lah yang harus memerankannya.


Venus membanting naskah itu ke lantai dan menggeram pada mereka semua.


"Ya mau bagaimana lagi, aku hanya diserahkan tugas untuk mengatakannya pada Anda," kata satu kru.


"Anda kan sudah terkenal sekali, tidak apa kan rehat sejenak. Berlibur ke negara Perancis atau Swedia," kata yang lain.


"Benar. Sedikitnya beri kesempatan pada pemula," kata temannya mendorong yang lain.

__ADS_1


"Berlibur?" Tanya Venus.


Mereka mengangguk dan tersenyum.


"Kesempatan?" Tanya Venus mendatangi mereka perlahan dengan wajah ceria.


"Iya iya," kata mereka bertiga.


"Untuk pemula?" Tanya Venus lagi.


Mereka mengangguk cepat.


"YANG BENAR SAJA!!! KELUAAAAR!!" Teriak Venus lalu mereka bertiga kabur sejadi-jadinya.


Dengan super marah, Venus keluar ruangan dan berjalan cepat menuju ruangan produser. mereka bertiga sudah tentu berada disana dan menceritakannya.


"Akan jadi masalah nih," kata asistennya ketakutan.


"Bagaimana dong? Kami takut. Bapak saja yang menghadapi mak lampir itu," kata kru-kru setuju.


Pintu terdorong keras membuat semua orang di dalamnya kaget. Produser sudah bisa menebaknya juga dan menggaruk kepala.


"Ada orang yang memberitahuku kalau peran Ophelia ku digantikan. Apa itu benar?" Tanyanya dengan marah.


"Haduh haduh tenang dulu jangan emosi begitu," kata pak produser.


"Tapi Pak, selama ini kan aku selalu menjadi yang terbaik. Dan aku lebih fasih dalam memerankan tokoh utama. Kenapa sekarang... apa kamu tidak puas dengan aku yang memerankannya? Katakan saja apa kekurangannya," kata Venus tidak sabaran.


"Wah, kamu langsung meledak saja hahaha duduklah dulu. Bukan begitu peran Ophelia yang kamu perankan sangat memuaskan," kata produser menenangkan Venus.


"Lalu kenapa?" Tanya Venus menatap ketiga kru tadi. Mereka langsung menutup kedua mata.


"Aku ingin mencari pemain baru yang lebih berbakat, ingin melihat Ophelia dengan bakat yang lain," katanya


"Memangnya ada? Ingat ya aku ini yang paling berbakat!" Kata Venus memukul dadanya sendiri.


Semua irang malas melihatnya, mereka semua tidak menyukai wanita tua itu. Memang dulu yang paling cepat hafal naskah, paling cantik, dan juga berbakat. Peran yang dia tampilkan sama sekali tidak membuat banyak orang bosan. Tapi seiring waktu, kulitnya pun semakin melonggar dan penonton banyak yang protes.


"Tentu saja, kami telah menemukan satu orang gadis yang bakatnya sama denganmu. Apalagi dia juga penggemar berat kamu," kata produser.


"Penggemar aku? Benarkah! Kalau begitu seharusnya aku yang lebih pantas memerankannya lagi, Pak Produser. Supaya penggemarku itu semakin puas melihat aku," kata Venus kesenangan.


Semuanya bergumam, dan Venus tidak memperdulikan. Pak Produser tersenyum dan membelai bahunya Venus.


"Ayolah jangan egois begitu. Anggap saja kali ini kamu bisa beristirahat dulu dari panggung hiburan. Bagus kan, bukankah kamu pernah bilang ingin menikmati bunga Sakura di Jepang? Lakukanlah. Bagaimana? Sekalian menyehatkan kulit dan aura," saran pak produser.


Venus yang mendengar kata "kulit" dan kata "menyehatkan" lalu seperti tahu maknanya. "JADI AKU INI DIANGGAP SUDAH KUNO!? AKU INI BELUM SETUA ITU SAMPAI HARUS PENSIUN DINI!! Huh, mana aku mau peran Ophelia ku direbut hanya oleh seorang penggemar. Lihat saja aku akan memenangkan kembali posisi itu!" Kata Venus pergi sambil menggebrak pintu sekeras mungkin.


"Wah, bagaimana ini? Pasti Bu Venus akan melakukan sesuatu saat latihan," kata kru yang lain.


"Kacau!" Kata produser menghempaskan badannya dan berpikir.


"Saat nanti ada jumpa pers sebisa mungkin kunci saja dia di ruangannya. Bagaimana?" Tanya asistennya. Mereka semua setuju daripada jadinya kacau balau.


"Sudahlah tenang saja dia tetap dihadirkan saat latihan. Dia pasti akan melihat seperti bakat pada anak itu. Dia akan sadar bahwa kemampuan akting dan usianya itu sudah tidak muda lagi. Sudah pasti akan digantikan oleh bunga muda," kata produser membuat mereka semua tertawa keras.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2