Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
6


__ADS_3

Ana sendiri melihat dan melemparkan begitu saja alat komunikasi itu. Eris tahu Ana pasti syok setelah melihat Tabiko yang berubah karena itulah Eris mengambil alih peran Ana.


Dengan wajah pura-pura ketakutan, Eris berusaha menghindari serangan Tabiko. "Jadi memang kamu ya. Apa alasannya kamu membunuh begitu banyak wanita? Bahkan sampai adiknya Sari?" Tanya Ana-Eris dengan suara yang serak.


"Aku ingin darah," kata Tabiko yang nafasnya terengah-engah karena sudah saatnya dia harus mengkonsumsi darah pengganti.


"Kamu berjanji dengan siapa?" Tanya Ana-Eris.


"AKU BUTUH DARAAAAH!!" Teriak Tabiko berlari mengejar Ana-Eris dengan membabi buta.


Ana-Eris sengaja berlari memasuki hutan yang ada dalam taman kota. Itulah yang diharapkan oleh Tabiko, kedua katanya menjadi liar dan dia mengacungkan pisau tajam dan juga suntikan.


"Kenapa kamu membutuhkan darah Rhesus?" Tanya Ana-Eris yang bersembunyi di balik pohon besar.


"Karena aku telah memilih jalan untuk tetap cantik karena itu, aku bersedia menyerahkan jiwaku ini pada Iblis sekalipun. Dokter itu berkata aku bisa mendapatkannya lagi asalkan... Membunuh orang yang bergolongan darah Rhesus!" Ucapnya tertawa senang berhasil menangkap Ana-Eris.


Dia langsung membekap mulutnya dan memasukkan cairan lewat suntikan pada leher Eris.


Yah, Eris tidak akan mempan diberikan obat bius tapi untuk meyakinkan perannya, dia harus pura-pura pingsan.


Mari kita flashback ke setahun yang lalu saat Thanatos mengubah wujudnya menjadi Dokter dan memasuki kamar Tabiko.


*Dalam kamar Tabiko, dokter asing itu masuk dan menemuinya. Tabiko sedang bersiap menghunuskan pisau ke dadanya.


"Kamu yakin? Apa kamu cukup berani?" Tanya Thanatos mendengar ucapan Tabiko tadi.


"Si-siapa Anda?" Tanya Tabiko dengan menutup wajahnya.


"Aku adalah dokter bedah yang baru. Atau kamu bisa..." kata Thanatos menunjukkan ke arah bayangannya.


"Iblis!?" Tanya Tabiko gemetaran, pisaunya terjatuh ke lantai.


"Wah wah, kenapa kamu jadi ketakutan? Bukankah kamu berkata bersedia menyerahkan nyawamu kepada iblis?" Tanya Thanatos mengambil pisau itu.


"Y-Ya! Asalkan aku bisa mendapatkan kembali wajah cantikku seperti sedia kala. Tapi aku belum pernah bertemu dengan Iblis," kata Tabiko lalu turun dari kasurnya.


"Kamu sudah bertemu dengannya. Aku bisa mengembalikan wajahmu," kata Thanatos dengan senyuman yang jahat.


"Benarkah!? Sungguh!? Padahal semua dokter di sini sudah angkat tangan," kata Tabiko tidak yakin.


Thanatos lalu mengiris tangannya sampai berdarah dan Tabiko menjerit. Beberapa detik, darahnya berhenti berjatuhan, luka iris itu tiba-tiba sembuh begitu saja menjadi normal kembali.


Tabiko tidak percaya dan dia memohon agar wajahnya kembali cantik lagi.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Kamu harus melakukan operasi wajah, biar aku merombak semuanya," kata Thanatos membuat tangan Tabiko terbuka.


Wajah hancurnya terlihat, Tabiko ketakutan.


"Operasi?" Tanya Tabiko.


"Hmmm ini mudah. Tenang saja kamu tidak perlu se takut itu," kata Thanatos kemudian duduk.


"Apa akan berhasil? Mereka bilang luka wajahku ini sudah berada di tingkat yang tidak bisa disembuhkan," kata Tabiko menunduk lemas.


"Hahaha mereka tidak memiliki kemampuan khusus yang aku punya. Bagaimana? Kamu mau menerima tawaranku? Atau berwajah buruk seumur hidupmu?" Tanya Thanatos menunggu Tabiko.


"Aku..." jawab Tabiko lalu melihat bayangan Thanatos.


"Aku menawari mu dua jalan mana yang mau kamu pilih?" Tanya Thanatos menunggu.


"Aku tidak akan memilih," gumam Tabiko.


"Sayang sekali baiklah aku pergi," kata Thanatos yang kecewa. Lalu dia merasakan bajunya ditarik oleh Tabiko.


"Maksudku tidak mungkin aku tidak memilih. Aku akan memilih menjadi cantik. Jadi tolonglah aku Dokter," kata Tabiko memohon.


Thanatos pun tersenyum dengan lebar. "Tapi prosesnya akan sangat menyakitkan, apa kamu bisa bertahan?" Tanyanya.


Thanatos dalam hatinya sangat senang bukan kepalang. "Baiklah, aku akan membuatmu cantik," katanya.


Kemudian keesokan harinya Thanatos memberikan janji pada Tabiko untuk menunggu di depan ruang operasi pukul 12 malam tepat. Tabiko tidak bertanya atau merasa heran, dia hanya mengangguk sudah siap.


Lalu operasi itu pun dilakukan dengan Magic. Thanatos tidak memberikan obat bius kepada Tabiko, rasa iris dari pisau dan gunting membuat Tabiko menjerit.


Lalu Thanatos memberikan cairan bening yang aneh untuk dimasukkan ke dalam wajah Tabiko. Setelah itu rasa sakit mendadak hilang. Seperti dirinya sedang dibersihkan dari jerawat.


"Nah, sudah selesai. Lihatlah wajahmu di cermin," kara Thanatos yang berkeringat.


Tabiko lalu berdiri, dirinya agak pusing seperti kehabisan energi lalu melihat wajahnya di cermin dengan takut.


"WAJAHKU! Ini wajahku... aku kembali seperti semula! Terima kasih Dok," kata Tabiko yang melompat senang.


"Ingat ada pembayarannya untuk memperbaiki wajah kamu," kata Thanatos membersihkan peralatan dokternya.


Tabiko menatap Thanatos dengan gembira. "Berapa semuanya? 2 Miliar?"


Thanatos menggelengkan kepalanya. "Aku tidak butuh uang manusia. Kecantikan wajahmu hanya bertahan 2 minggu," kata Thanatos yang duduk di kursinya.

__ADS_1


Tabiko terkejut dan memegang wajahnya lalu menangis. "Kenapa? Hanya 2 minggu?" Tanyanya duduk lemas.


"Katakan saja aku membuat wajahmu kembali dari kematiannya. Kalau hanya dibiarkan begitu lewat 2 minggu, wajahmu akan membusuk," jelas Thanatos dengan enteng.


"BUSUK!?" Tanya Tabiko tidak percaya. "Ba-bangkit dari kematian?" Gumamnya masih bengong.


"Wajah itu supaya terlihat cantik membutuhkan zat dan vitamin bukan? Itulah kenapa manusia sangat apalagi perempuan, banyak yang heboh dengan perawatan wajah," kata Thanatos tertawa.


"Aku tidak mau wajahku membusuk!! Dokter, aku harus melakukan perawatan apa? Katakan. Aku akan melakukan APAPUN!" Kata Tabiko dengan panik.


"Cukup dengan mengganti darah lamamu dengan yang baru setiap 2 minggu berakhir. Kamu bisa mengumpulkannya sebelum 2 minggu ini berakhir," kata Thanatos membelai tangan Tabiko lalu membantunya berdiri.


"Darah lama diperbarui?" Tanya Tabiko agak bingung dan menatap Thanatos.


"Ya tapi masalahnya agak sangat sulit sekali dan aku kurang yakin kamu bisa melakukannya," kata Thanatos memasukkan tangan satu ke sakunya.


"Aku bisa. AKU PASTI BISA MELAKUKANNYA! Tolong katakan aku harus bagaimana?" Tanya Tabiko sambil menangis.


"Ambil darah wanita atau pria yang memiliki golongan darah Rhesus," jawab Thanatos.


"Rhesus? Lalu orang yang diambil darahnya bagaimana?" Tanya Tabiko yang agak ketakutan mendengarnya.


"Ya mati lah," jawab Thanatos seenaknya.


"Apa!? Tapi kan cukup dengan beberapa mili darah kan," kata Tabiko mencoba mencari celah.


"Kamu pikir berapa mili darah yang diperlukan untukku agar bisa merombak habis wajah kamu?! Semua darah gadis yang golongan Rhesus itu harus kamu kumpulkan. Semua darahnya!" Kata Thanatos kemudian hendak pergi dari kamar Tabiko.


Tabiko sangat terkejut ternyata harga yang harus dia bayar memang sangat mahal sekali. Menyangkut nyawa yaitu darah. Tabiko masih berdiri disana tidak mempercayai semuanya.


Dia berjalan ke arah cermin dan menatap wajahnya yang kembali normal namun sisi lain, dia harus membunuh.


"Artinya aku harus..." kata Tabiko menatap cermin.


"Ya, membunuh. Toh kamu kan berteriak tadi apapun kan? Jangan terkejut dan mundur sekarang semuanya sudah kamu pilih. Kalau kamu tidak mampu melakukannya, bawa korban kamu ke tempat sepi dan panggil namaku dalam hati. Aku akan datang membantumu," kata Thanatos.


"Kalau aku tidak melakukannya?" Tanya Tabiko yang meneteskan air mata.


"Tidak masalah bagiku. Kamu lebih memilih mati membusuk untuk kebaikan hati kamu terhadap orang lain. Pikirkanlah." Thanatos keluar kamar Tabiko lalu mengubah wujudnya dan tertawa dengan jahat.


Tabiko terus berdiri di sana menatap wajahnya dan kemudian menangis dengan histeris.


Bersambung* ...

__ADS_1


__ADS_2