Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
1


__ADS_3

"Maaf, aku ada klub senam hari ini," kata Mia yang sudah bersiap akan meninggalkan kelas dengan riang.


"Duh, enak sekali ya setiap giliran piket menyuruh orang seenaknya mengerjakan bagian mu. Sedangkan kamu sendiri malah enak-enak latihan di klub. Memangnya kamu pikir mereka tidak punya klub juga?" Tanya seorang murid laki-laki bernama Kudo muncul.


Mia dan Kudo saling adu pandang tidak suka.


"Sembarangan ya! Aku kan terpaksa tahu karena pertandingan sudah dekat," kata Mia dengan galak lalu pergi.


Kudo menggarukkan kepalanya kemudian gagang sapu memukul punggungnya sampai dia kaget.


"Benar. Bagi Mia satu detik itu sangat berharga. Kami tidak masalah kok kalau harus terus menggantikannya," kata siswi A.


"Kamu harus minta maaf ke dia, Kudo," kata siswi B.


"Idih, malas sekali," kata Kudo kembali ke bangkunya dan menggendong tas sekolahnya.


"Hei, berkat dia memenangkan pertandingan lalu, sekolah kita kan banyak kebanjiran tawaran kerja sama," kata siswi A dengan bangga.


"Kantin juga sekarang banyak makanan yang lebih enak," kata murid laki-laki lain sambil memperlihatkan jajanan mereka.


Semuanya bersorak hanya Kudo yang malas mendengarkan lalu keluar kelas.


Di tempat lain, Mia menjadi sebal sekali sambil dirinya menuju gymnasium sekolah.


"Huh! Kenapa sih si Kudo? Tidak suka padaku ya sampai dia berkata begitu. Menyebalkan! Baiklah, aku siap untuk latihan," kata Mia dengan semangat.


Sebenarnya Mia anak yang baik hanya saja setelah dia memenangkan tiga kali pertandingan, membuatnya agak sedikit angkuh.


Mia lalu menuju ruang ganti dan memakai baju senam nya. Dia berlatih dengan tekun sekali kalau kurang puas, dia akan mengulanginya sampai sempurna.


Teman klubnya memperhatikan dia berlatih dan bertepuk tangan saat Mia terbang dan mendarat dengan sempurna. Mia sangat suka sekali dengan pujian, menganggap bahwa dirinya yang mampu menjadi pemenang.


"HEBAT! Kak Mia keren! Aku sampai terpesona," kata anggota junior lain.


"Dia memang memiliki bakat sih jadi wajar," kata Ketua klub.


"Dalam kejuaraan kali ini pun, Mia adalah calon juara pertama. Dia juga bintang harapan dunia senam putri di masa depan," ucap wakil ketua yang menuliskan perkembangan Mia.


"Berkat Mia juga kita bisa mengalami hal yang seru di sekolah ini," sorak anak dari kelas lain.


Mia hanya tersenyum bangga mendengarnya dimana dia sendiri pun bangga. Impiannya kini tercapai sedikit lagi mengenai kejuaraan nya menjadi Bintang Harapan.


"Aku akan menjadi bintang senam putri! Sejak kecil, hanya itu yang terus ku perjuangkan," pikir Mia.

__ADS_1


Saat Mia sedang mengeringkan keringat, dia melihat anggota lain membawa palang yang akan dia gunakan nanti. Dengan cepat dia menarik tangannya.


"Marina, kamu mau pakai palang itu? Jangan ah! Sebentar lagi aku mau memakainya," kata Mia agak galak, membuat semua anggota memandangi mereka.


"Lho? Tapi kan kamu baru saja selesai latihan. Aku juga ingin melancarkan latihan ku," kata Marina semangat.


"Aku tidak mau kamu mendahului latihan atlet utama! Kamu ini harusnya tahu diri dong hanya cadangan saja untuk apa berlatih keras? Taruh lagi palang itu disana," kata Mia dengan seenaknya.


Akhirnya karena tidak ingin bertengkar Marina kemudian mengalah, wajahnya pucat dan marah mengeluarkan air mata.


"Sabar ya, Marina. Dia jadi angkuh semenjak dirinya menang secara beruntun. Kamu juga pasti akan mendapatkan kesempatan," kata Ketua klub menyemangatinya.


"Iya Ketua," katanya tertawa menyeka rasa sedihnya.


Sepulang dari latihan, Mia merasa sangat lelah sekali apalagi setelah memarahi Marina, anak cadangan. Sore itu dia berpikir ingin sekali memakan es krim.


"Haaahhh pegalnya, membayangkan es krim saat lelah kelihatannya enak. Marina itu sok sekali seperti akan menjadi atlet saja hahaha. Toko ajaib apanya!? Lucu sekali apa kata teman-teman di kelas," kata Mia tertawa sendiri.


Dari kejauhan dia melihat ada rumah yang tampak berbeda dari yang lainnya. Anehnya dia melihat toko itu seperti layar televisi yang buram.


Mia mengucek kedua matanya. "Aneh, kenapa cuma rumah itu saja yang tampak samar ya?" Tanya Mia keheranan sambil mendekatinya.


Secara tidak sengaja dia melihat seekor gagak yang berubah menjadi manusia. Ya, itu adalah Raven lalu dia menghilang.


"Ada anak penjaga yang sangat cantik,"


Mia teringat apa kata teman di kelasnya, lalu mengendap-endap untuk membuktikannya.


"Rambutnya putih dan pandangannya sangat dingin,"


Mia berputar ke arah bangunan samping, dimana terdapat teralis jendela yang sangat bersih. Tampak Eris sedang merapihkan sesuatu lalu Mia menutup mulutnya, berjalan mundur lalu berlari dengan kilat.


"Hmmm tampaknya dia tidak percaya kalau toko ini memang ada," kata Eris pada Raven yang sedang duduk.


"Nona, dia melihat aku berubah tadi," kata Raven agak cemas.


"Biarkan saja," jawab Eris lalu pergi meninggalkan Raven yang kebingungan.


Mia tengah berlari kencang dia memang tidak percaya apa yang tadi dilihatnya. Lalu berhenti dan istirahat.


"Tidak! Toko yang dimaksud teman-teman pasti bukan itu! Tapi penjaganya... adalah anak kecil berambut putih," katanya terus berpikir.


Mia akhirnya tiba di rumahnya agak malam. Orang tua serta adiknya mengajaknya makan malam bersama, hanya dia seorang yang tidak semangat malam itu.

__ADS_1


Lalu ke dalam kamarnya untuk mengerjakan tugas sekolah. Dalam obrolan grup kelasnya banyak orang yang membicarakan soal toko Eris.


Mia hanya membacanya saja tanpa berkomentar. Dia penasaran juga barangkali ada beberapa temannya yang bisa menjelaskan.


"Toko itu ada dong," kata A dengan mengirimkan emoji senang.


"Benarkah? Aku ingin melihatnya!" Sambut anak-anak lainnya.


"Di dalam grup ini apa ada yang dihampiri oleh toko itu? Beritahukan alamatnya, ya," pinta anak laki-laki yang juga ingin tahu.


Mia hanya diam tentu saja dia melihatnya secara langsung, hendak membalas tapi tidak jadi.


"Kalian percaya toko itu nyata?" Tanya Mia yang akhirnya menyerah pada rasa penasarannya.


"Tentu saja, kakakku dan temannya membeli beberapa kosmetik lucu dari sana tapi setelah dicari lagi, toko itu menghilang," kata temannya.


"Mia, apa kamu menemukannya?" Tanya Kudo yang mengejeknya.


Mia kesaaal ternyata Kudo dimasukkan ke dalam grup. "MANA AKU TAHU!" Balasnya.


Kudo yang membacanya langsung curiga kalau memang tidak, kenapa juga Mia harus berteriak? Itulah pikiran sama dengan anak-anak lainnya.


"Kudo kan hanya bertanya tidak perlu juga kamu sampai membentaknya," bela anak kelas yang lainnya.


"Kenapa juga aku harus dihampiri toko itu," ketik Mia.


"Gosipnya kalau kamu sampai dihampiri berarti punya keinginan atau... yah, karena kelakuan kamu yang kasar dan sombong pada orang. Siapa tahu ada orang yang sengaja memanggil," celetuk anak lain.


Lalu Mia memutuskan untuk menutup ponselnya dan mulai tidur. Dia sendiri memang tidak percaya toko itu mendatanginya, agak mengerikan namun Mia akhirnya tertidur.


Keesokan paginya seperti biasa Mia berangkat lebih pagi karena harus berlatih lalu pukul tujuh masuk kelas. Murid-murid masih sedikit dan Mia tidur sebentar.


"Mia, bantu aku belajar dong," kata Sarah menghampirinya.


Mia lalu bangun dan melihat Sarah. "Boleh," kata Mia lalu mereka berdua mengeluarkan buku pelajaran.


Pukul 8 kelas mulai berdatangan para murid lalu ada anak gadis entah kelas berapa menunggu di depan pintu.


"Permisi, Kak Kudo ada?" Tanya anak itu sambil malu-malu.


"Ada apa ya?" Tanya anak lain.


"WOI, KUDO ADA YANG MENCARI KAMU TUH!" Teriak wakil ketua dengan suaranya yang lantang.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2