Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
1


__ADS_3

Toko Eris berdiri secara tiba-tiba di antara toko dan rumah Gang sempit. Arae membawakan banyak makanan khas Semarang membuat Eris mau tidak mau ikut memakannya.


Lagi-lagi ekspresi Eris saat memakannya hanya datar mengatakan enak, Raven dan Arae sudah tentu hanya tertawa mendengarnya. Ela tidak bisa makan karena dia hanyalah boneka kayu yang hidup selama 3 jam.


"Arae," kata Eris yang menghentikan makannya.


Arae yang sedang melahap banyak makanan memandanginya dengan pipi yang penuh. "Apha,"


"Aku bertemu dengan roh salah satu dewa di dimensi kita," kata Eris terdiam memandangi piringnya.


Arae yang lahap langsung menjatuhkan semua makanannya. Dengan sekali telan semua makanan itu masuk ke perutnya yang langsing.


"Serius!? Lalu!? Rohnya jangan-jangan..." kata Arae menebak sambil menahan.


"Tampaknya dia tidak ingat betul," kata Eris lalu pergi.


"Roh siapa yang kamu lihat?" Tanya Arae berdiri dari kursinya.


Eris berhenti dan menunduk. "Ares," lalu memasuki kamarnya.


Arae tercengang lalu duduk dengan lemas. "Ini gawat kalau benar, Ares kan..." pikir Arae. Sudah tentu dia diceritakan oleh kedua orang tuanya bagaimana kejadian itu terjadi.


"Ada masalah?" Tanya Raven penasaran.


"Semoga apa yang Eris katakan benar. Kalau roh itu mengingatkan tubuh orang lain seperti apa, Eris harus membunuh mereka semua," kata Arae dengan kedua mata yang kosong.


Tentulah dia mengetahui bagaimana kisahnya, berbulan-bulan Eris mengurung dirinya sendiri dalam istana dengan kedua mata yang nanar.


Arae menceritakan pada Raven dan dirinya sangat terkejut kalau Eris aslinya yang ceria berubah menjadi penyendiri. Penyebabnya karena kejadian perang itu.


"Lalu apa yang akan Anda lakukan? Melaporkan pada Raja dan Ratu disana?" Tanya Raven.


"Hmm belum bisa ku pastikan. Kalau keadaannya sudah gawat, aku akan melaporkannya," kata Arae lalu mulai makan lagi tapi tidak se-rakus yang tadi.


Keesokan paginya di rumah Kio, dia bergegas turun ke bawah dan memberikan makan pada ikannya sebelum dia bersekolah.


"Kio, sedang apa kamu?! Sudah cepat kilat menuju akuarium tapi masih belum sarapan. Ayo cepat!" Kata Ibunya dengan galak.


"Iya, Bu!" Jawab Kio bergegas lari ke ruang makan.


Sang Ibu melihat akuarium dengan pandangan tidak senang lalu menyusul anaknya.


"Hari ini hasil tes kursusnya keluar kan. Jangan lupa kamu bawa ya," kata Ibunya sambil makan dan mengambil sayur.


"I-iya," jawab Kio. Dia sama sekali lupa soal tes kursus!


"Jangan sampai nilai kamu jelek seperti bulan lalu itu karena kamu malah sibuk memperhatikan ikan," kata Ibunya terus mengomel.


"Hmmm," kata Kio merasa tidak enak. Dia sudah berusaha keras sama seperti dulu tapi Ibunya sama sekali menyangka dirinya malas.

__ADS_1


Bulan lalu itu semangatnya turun karena ikan pemberian Ibunya ada yang sakit dan Ibunya juga sibuk bekerja jadi tidak ada yang memperhatikannya.


"Ujian masuk SMA tinggal setahun lagi belajarlah dengan serius! Ibu ini cemas, kamu sudah gagal masuk ujian sekolah negeri. Kamu terus saja hanya bisa masuk sekolah swasta dengan nilai kamu yang memalukan," kata Ibunya terus mengomel.


Kio hanya terdiam mendengarnya. "Aku akan berusaha lagi," katanya lemah.


Ibunya menatap tajam Kio. "Benar-benar berusaha ya jangan pikirkan soal ikan lagi. Dan... habiskan semua sayurnya!" Seru Ibunya melihat Kio dengan sengaja menyembunyikan sayur yang tidak dia sukai.


"Iya. UHUK! Kenapa ya aku sulit bernafas?" Pikirnya.


Dadanya sesaat sakit lalu tidak dia rasakan lagi.


"Ayo, sudah pukul 7 bersiaplah untuk sekolah," kata Ibunya yang membawa tasnya sendiri.


Mereka berjalan keluar dari rumah kompleks lalu Ibu Kio mengunci rumah dan memasukkannya dalam saku jaket.


"Bu, apa hari ini pulangnya akan cepat?" Tanya Kio agak takut.


"Sepertinya tidak. Makanlah makan malam yang sudah Ibu siapkan. Seperti biasanya jangan terlambat pergi kursusnya!" Kata Ibunya mengingatkan tanpa memperhatikan kesedihan Kio.


Kio terdiam mengangguk lalu pergi sekolah sendirian, dia tampak sedih sekali.


Saat Kio sudah pergi, tetangga sebelah datang mendekati dirinya.


"Aduh, sudah pagi begini mau pergi bekerja ya?" Tanya tetangga itu melihat Ibu Kio sudah rapi.


"Ah, iya," jawabnya dengan ramah.


"SMA Mentari," jawabnya singkat.


"Ya ampun! Itu kan sekolah elit. Katanya persaingan masuk ke sana ketat sekali. Apa Kio bisa?" Tanyanya agak cemas.


Ibunya Kio termenung. "Kio pasti bisa!" Katanya.


"Baguslah kalau memang bisa, almarhum suami Ibu kan lulusan universitas ternama ya, Ibu juga asisten Profesor ternama jadi Kio pasti bisa ya. Tapi jangan terlalu memaksakan diri," saran tetangga itu.


Sang Ibu merasa diremehkan, dia tegak dengan leher yang agak tinggi dan nada suara yang agak dingin.


"Tidak, anak saya Kio harus punya bakat sama seperti saya dan Ayahnya. Kalau saya tidak menyekolahkannya ke sekolah yang bagus, saya merasa malu sekali pada alm. suami saya," kata Ibunya dengan nada yang agak simpati.


"Oh, begitu," kata tetangga itu memegang pipi sebelah.


"Kio adalah kehidupan saya juga. Ah! Saya harus pergi sekarang, nanti kita bicara lagi ya," kata Ibu Kio bergegas menyalakan mobil.


"Baiklah. Hati-hati ya," kata tetangga itu melambaikan tangannya.


Di sekolah Kio, dia sudah merasa senang sekali akan memperlihatkan karyanya. Dia masuk kelas dan disambut teman-temannya.


"Kio! Pagi!" Sapa Tora melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Pagi juga," jawabnya dengan ceria.


"Hei, Kio hari minggu depan nanti kita mau pergi ke akuarium yang besar itu. Ikan barunya sudah datang!" Kata teman sekelasnya Eka dengan semangat.


"Wah, asyiknya. Aku juga mau ikut," kata Kio.


"Boleh ayo!" Sambut Eka dan teman lainnya.


"Apa kamu mau ikut?" Tanya Sora yang baru datang.


"Hmmm ya mau," kata Kio menatap kedua kakinya.


"Ya pasti dia ikut dong kan dia juga suka ikan. Eh, ini apa?" Tanya Eka menarik sesuatu dari kantongnya.


"Ah! Ini aku mencoba membuat pembatas buku. Bagaimana?" Tanya Kio pada temannya.


"Bagus! Kamu kan pintar menggambar, kenapa tidak buat pembatas buku seperti ini lebih banyak? Aku bantu deh untuk menjualnya. Kan lumayan, bisa dijual di gedung akuarium," kata Eka memeluk bahu Kio.


"Duh, lebih baik jangan deh," kata Rico di belakang teman yang lainnya.


"Oh, Rico. Apa sih maksudmu?" Tanya Eka.


"Seperti kalian tidak tahu saja kalau kalian ajak Kio, kita semua bisa kena omelan Ibunya. Sekarang ini kan waktu yang penting buat Kio, jangan mengganggu dia belajar untuk ujian deh," kata Rico dengan benarnya.


Kio menunduk, dia ingin sekali bisa pergi main dengan semuanya tapi yang dikatakan oleh Rico memang ada benarnya juga.


"Huh!" Kata Eka sebal pada Rico dan men jitaknya.


"Aku juga ingin pergi sebenarnya," kata Kio.


"Kamu sudah bilang Ibumu soal itu?" Tanya Sheila.


Kio mengangguk. "Tapi Ibu banyak alasan dan terus saja bicara soal belajar," katanya sedih.


Teman yang lainnya merasa tidak enak hati tapi kalau diajak juga sudah pasti Ibunya akan menyusul.


"Ya sudah, aku akan menemani kamu sebagai pengganti Kio," kata Rico cengengesan.


Eka sama sekali tidak percaya pada Rico. "Kamu mau minta ditraktir ya? Kio, aku harap Ibumu kembali menjadi baik seperi saat kita kelas 1. Jadi kita bisa bermain bersama lagi," kata Rico dan Eka.


Kio tertawa lalu sangat sedih karena hanya dirinya yang akan berada di rumah, sedangkan temannya akan datang ke akuarium besar itu.


Sore harinya Kio mendatangi tempat kursus, hasil tes dibagikan namun sesuai dugaan. Semua nilainya hancur, Kio membayangkan Ibunya akan murka angkara.


"Sebal! Semakin jelek! Sudahlah, aku buang saja kalau nanti ditanya bisa memberikan alasan. Karena berjalan tanpa melihat jalan, lalu ditabrak orang dan kertasnya dibawa angin," kara Kio mantap lalu meremas kertas ujiannya dan melempar sembarangan ke jalanan.


Arae secara kebetulan muncul disana dan melihat kertas ujian. "Jelek sekali," kata Arae mengejek.


"Eh? AAAAAAAA!" Teriak Kio merebut kertasnya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2