
"Pak supir, nanti antar dulu aku ke suatu tempat ya. Masih ada urusan," kata Sia duduk sambil menaruh tasnya.
"Baik, Non," jawabnya sambil mulai menyalakan mesin mobil.
Mobil itu melaju sesuai alamat yang dikatakan Sia, supirnya agak bingung karena wilayah itu tidak pernah dilalui banyak orang.
Pukul empat sore akhirnya tiba di lokasi toko Eris. "Non, memangnya ada apa disini?" Tanyanya kebingungan.
Dilihatnya hanya ada danau dan ladang rumput yang terhampar luas dan tidak ada satupun rumah yang terlihat. Sia lalu turun begitu juga supirnya.
"Non, tidak ada rumah satupun. Nona mau apa disini?" Tanyanya agak cemas.
Sia menatapnya yang lebih keheranan. Dalam penglihatannya, jelas-jelas toko Eris tampak minimalis dan besar.
"Bapak ini bilang apa sih? Itu ada rumah coba dibersihkan dulu kacamatanya baru lihat lagi. Sudah, Bapak tunggu saja disini biar saya yang kesana," kata Sia berangkat sendiri sambil membawakan kotak kecil serta botol bubuk.
Sambil memperhatikan sekelilingnya, supir itu menggaruk kepalanya. Lalu memastikan keselamatan Ambrosia, tiba-tiba kedua matanya kelilipan. Sambil berjalan mengikuti Sia, supirnya membersihkan kedua matanya.
Setelah selesai dan melihat ke sebelah, supir itu terkejut. Ada rumah yang cantik berdiri di hadapannya.
"Benar juga ada rumah," katanya lalu berjalan menjauh dan melihat lagi. Rumah itu masih berdiri disana dan terlihat. Supir itu lalu kembali menjaga mobil sambil memiringkan kepalanya.
Arae tertawa di samping jendela lalu masuk dan menunggu di kasir. Hari ini pun masih tetap sama banyak pembeli.
Ambrosia lalu mengetuk pintu dan membukanya. Memang terlihat hangat sekali dengan lampu berwarna putih dan jingga terang.
"Selamat datang," kata Eris menyambutnya.
"Lho kemana gadis yang ada di sini?" Tanyanya menunjuk ke sebelahnya.
Eris memperlihatkan Ela sedang sibuk mengisi ulang produk yang lain. Sia mengangguk.
"Silakan," kata Eris membuatnya mengikuti dirinya.
Sia berjalan sambil melihat-lihat, ada beberapa barang yang baru datang terbungkus dalam paket. "Toko sebegini besarnya masa tidak terlihat? Dari luar seperti kecil ternyata dalamnya luas juga," katanya lalu menuju etalase.
Eris lalu mengeluarkan kotak cantik berisi 2 buah sabun garam dengan warna yang berbeda.
Lalu Sia mengeluarkan botol bubuk yang sudah hampir habis. Arae mengambilnya dan mengisi ulang lalu diberikan pada Eris.
"Warnanya berbeda ya," kata Sia memperhatikan semuanya.
"Karena penyakit kamu pun sudah berbeda tingkatannya kan. Dan bubuk ini bila sudah habis tidak perlu diisi ulang. Kamu bisa memilikinya diganti isinya," kata Eris menjelaskan lalu memberikan pada Sia.
Sia memang menyukai botol bubuk itu karena bentuknya yang tidak ada dimanapun. "Waah terima kasih. Lalu pembayarannya bagaimana?" Tanya Sia yang sudah menyiapkan uang.
"Untuk peminjaman ini aku tidak memerlukan uang. Kalau urusanmu sudah selesai, datanglah kemari untuk menceritakan kesembuhanmu. Itu bayarannya," kata Eris menatap Sia.
"Hanya itu? Mungkin yang lain?" Tanya Sia meyakinkan.
"Tidak ada. Kalau kamu bisa menepatinya," kata Eris.
"Tentu saja! Tapi apa toko mu tidak akan rugi?" Tanyanya lagi menyimpan semuanya ke dalam tasnya.
"Tidak masalah," jawab Eris.
"Yah, aku sih tidak keberatan. Baiklah kalau begitu, setelah berhasil aku akan datang kemari bersama sahabatku. Thanks ya," katanya dengan senang lalu keluar toko.
Ambrosia keluar suasana dalam toko pun kembali sepi, pengunjung hanyalah ilusi yang dibuat oleh Arae. Saat itu memang hanya sedikit yang datang.
Lalu pintu toko terbuka lagi, dan nenek kemarin dayang kembali sambil membawakan keranjang kue. Arae menyambutnya dan membawakan keranjang itu.
Eris menarik kursi dan menempatkannya di hadapan neneknya. Nenek itu sudah terbiasa dengan kekuatan Eris yang terbilang mengesankannya.
__ADS_1
"Anak tadi akan kembali lagi?" Tanyanya pada Eris yang menaruh teh mawar.
"Tidak akan," katanya duduk.
"Dia akan meninggal?" Tanyanya lagi agak cemas.
"Tidak. Tenang saja," kata Eris menatap nenek itu.
Arae datang sambil membawakan piring yang ditaruh kue dengan rapih. Hera datang juga ingin melihatnya.
"Saya datang kemari membawakan kue. Saya buat bersama tetangga rumah, cobalah untuk memakannya," katanya yang menyeruput teh.
"Aku makan," kata Arae yang dengan senang hati.
"Aku juga mau," kata Hera kemudian mengambil satu.
"Enaaaaak," ucap mereka berdua bersamaan.
"Syukurlah," katanya tertawa lalu memandang Eris.
Eris mengangguk dan mengambil juga lalu memakannya. "Enak," katanya dengan suara dingin dan ekspresi datar.
Semua menatap Eris dengan kedua mata yang mengecil.
"Ah ya baguslah," kata nenek itu lalu tertawa.
Beberapa Minggu terlewati, dengan rajin Sia masih menggunakan sabun itu dan kembali lagi untuk menukarkan. Perlahan kulitnya pun kembali cerah membuatnya percaya diri tidak memakai jaketnya lagi.
Di sekolah pun dia kembali banyak teman Sehan juga terus mendukungnya sampai sembuh meski beberapa teman lain masih menghindarinya.
Adelia pun terkejut sekali kutukannya lambat laun menghilang dari genggamannya dan dari Sia. Bagaimana bisa? Sejak itu dia merasa terancam.
Tampak Adelia terlebih dahulu memasuki kelas dan memindahkan buku dari kolong meja. Dia kesal bukan main sekarang Ambrosia kembali ke bentuk semulanya.
Saat pemulihan itu, Ambrosia berjanji tidak lagi menjadi anal yang egois, sok cantik bahkan sombong membuatnya banyak dijauhi. Kini dia tampil berbeda, sesuai janjinya dia menceritakannya dalam toko tersebut.
Eris masih memberikan sabun terakhirnya dua buah untuk menjaga kelembapan kulit dan menghapus aura santet pada dirinya. Bubuk garam sudah tidak diperlukan dan botolnya menjadi botol biasa yang tersimpan dalam kamarnya.
Kembali ke sekolah keesokan harinya, dalam kelas sebelum pelajaran dimulai beberapa murid tengah mengobrol. Adelia datang dan berganti pakaian dengan baju olahraga. Sehan dan Sia berada di kelas lain membagikan selebaran festival.
"Tapi itu benar. Di toko itu banyak barang antik yang cantik dan harganya mahal sekali," kata A.
Adelia tidak mendengarkannya dia hanya sedang kesal saat itu.
"Lalu kamu masuk ke dalamnya? Seperti apa pemilik tokonya? Lelaki?" Tanya yang lain histeris.
"Bukan justru kebalikannya. Anak kecil usia sekolah dasar tapi cantik sekali, pandangan kedua matanya kosong. Kabarnya lagi semua orang yang masuk ke dalam tokonya akan disuguhkan dengan pemandangan indah," kata C dengan semangat.
Adelia yang mau melangkah keluar kelas, menghentikan langkahnya dan mendengarkan. Pura-pura tertinggal barang kembali ke kursinya.
"Waaaah kita ke sana yuk," kata yang lain.
"Yah, aku tidak bisa bentrok dengan jadwal karate," kata D menimpali.
"Masa anak itu sendirian? Orang tuanya kemana?" Tanya A lagi.
"Entahlah. Bagian itu misteri juga sih. Masalahnya kan wilayah itu jarang dilalui orang lalu tiba-tiba ada rumah. Menurut kalian aneh tidak sih?" Tanya C.
"Bukannya disana memang ada rumah? Tapi hanya ada satu," kata Arae muncul dengan seragam sekolah itu dan duduk di antara mereka sambil tertawa.
"Hmmm sepertinya begitu kenapa aku merasa baru lihat ya," kata yang lain tertawa.
Adelia tidak menyadari Arae karena dirinya memakai seragam yang sama lagipula penampilan Arae pun dibuat sama dengan yang lainnya.
__ADS_1
Arae memperhatikan Adelia yang membukakan saputangannya dan terdapat sabun garam berwarna hitam lalu tersenyum. Dia mendatangi toko itu beberapa menit kedatangan sang nenek.
Toko yang sudah tertutup kembali, kedatangan seorang siswi. Wajahnya kesal sekali dia sempat melihat Sia masuk ke toko ini dan dia bersembunyi.
"Jadi rahasia sakitnya sembuh itu ada dalam toko ini," katanya dengan wajah kesal dan marah.
"Selamat datang," kata Ela menyambut.
"Aku membutuhkan benda yang sama dengan dimiliki oleh temanku tadi. Berapapun harganya akan kubayar," katanya mengeluarkan berlembaran uang berwarna merah jambu.
"Silakan ke arah sana. Saya hanya bertugas sebagai penyambut tamu," kata Ela mempersilahkan Adelia untuk mengikutinya.
Dia tidak berminat melihat-lihat ingin langsung ke tujuannya. Eris menyambutnya.
"Selamat datang. Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Eris meski sudah tahu apa niatnya.
Ela kembali ke mejanya dan berdiri disana.
"Aku membutuhkan barang yang temanku tadi beli," kata Adelia menaruh uangnya.
Eris menatap Adelia yang tampak sok lalu melihat aura hitam yang menyebar.
"Untuk apa? Kamu tidak memerlukannya," kata Eris.
"Aku tidak terima bila dirinya kembali cantik. Aku ingin lebih cantik darinya," kata Adelia.
Eris mengambil kotak lain berisikan sabun garam berwarna merah darah dan memberikan pada Adelia.
Adelia membukanya dan merasakan sesuatu yang tidak nyaman, membuatnya merinding. "Apa ini? Seperti darah," kata Adelia agak kaget.
"Memang darah," kata Eris menunggu reaksi Adelia.
"Kamu memberikannya untukku? Memangnya..." kata Adelia yang dengan takut mengambil sabun itu.
Bukan sabun garam melainkan sabun darah. Adelia agak jijik memegangnya, tetapi tidak ada darah di tangannya. Dia takut mencium baunya ternyata bukan bau amis tapi harum bunga.
"Kamu tahu cerita tentang Ratu Elizabeth Bathory?" Tanya Eris.
"Sedikit. Lalu apa hubungannya dengan sabun?" Tanya Adelia menaruh kembali.
"Dia disebut sebagai Ratu Dracula. Karena kelakuannya yang ingin kecantikannya abadi dengan membantai darah gadis perawan," kata Eris.
"Lalu dia berhasil?" Tanya Adelia yang agak penasaran.
"Tidak. Tapi darahnya sudah dicampur oleh bahan lain dan siapapun orang yang memakainya akan menjadi cantik. Tenang saja harumnya adalah bunga bukan bau amis dari darah. Aku tidak menyarankan kamu memakainya sampai habis, pakai sehari satu kali saja," kata Eris menatap sabun itu.
"Aku tidak mau. Aku ingin yang sama dengan temanku, kulitnya menjadi glowing," kata Adelia menolak sabun itu.
"Sayang sekali sabun itu sudah terjual habis. Saya hanya memiliki satu sabun ini, yang temanku beli adalah sabun menyembuhkan penyakit kutukannya. Saya tidak sarankan kamu memakainya," kata Eris menatap Adelia.
"Kenapa?" Tanya Adelia.
"Apa yang kamu perbuat akan kena pada dirimu sendiri kalau kamu memakai sabunnya. Meskipun sabun itu sudah mengecil," kata Eris.
Kemudian Adelia akhirnya mengambil sabun darah itu, menurutnya Eris tahu siapa yang mengirimkan kutukan pada Ambrosia.
"Baiklah, aku ambil sabun ini. Benar tidak akan bau amis kan?" Tanyanya agak seram.
"Kenapa takut? Seharusnya kamu bersedia melakukan apapun demi kecantikan bukan. Jangan pakai setiap hari saya memberi kamu peringatan saat wajahmu sudah cantik, kembalikan sabunnya saat itu juga," kata Eris merapihkan etalasenya.
Adelia terdiam lalu meninggalkan toko itu. Nenek kembali dari perjalanannya mengelilingi rumah Eris dan tidak melihat Adelia keluar.
Bersambung ...
__ADS_1