
"Hoe, bisa begitu ya. Apa kamu tidak bisa menemui kakakmu itu dan menjelaskan semuanya?" Tanya Yuri tercengang.
Eris menggelengkan kepalanya. " Aku tidak bisa pergi terlalu jauh, tempatnya berada di gunung Olympus," kata Eris.
Pernyataannya itu membuat Yuri keheranan. "Jadi para dewa itu memang ada ya. Kamu kan asalnya dari dunia kegelapan kok bisa kakak perempuan kamu dari Olympus?" Tanya Yuri.
Eris menatap Yuri tentulah semuanya agak keheranan. Dewa cahaya pasti dengan dewa cahaya lagi kan mana ada nyasar ke kegelapan?
"Memangnya kakak kamu itu namanya siapa?" Tanya Yuri.
"Aphrodite," jawab Eris.
Semakin membuat Yuri keheranan. Ada kemungkinan kakak angkat. Yuri lalu mengangguk sendiri.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Benar, kak Venus adalah kakak angkat ku. Karena dia pernah menolongku yang dijebak oleh saudaranya untuk menangkap ku. Saat itu usia aku masih 30 tahun," kata Eris.
"HAH!?" Seru Yuri mendengarnya.
"Usia kami dan para manusia sangat jauh berbeda. Usia 7 tahun itu bayi yang masih dalam kandungan. 30 tahun bisa kamu bayangkan seperti usia 3 tahun," jelas Eris.
"Aaahhh," kata Yuri akhirnya mengerti.
"Sejak hari itu pula Kak Venus selalu menemaniku. Ya dia sangat protektif melebihi kakakku dari warga Kegelapan. Nama-nama kakakku kamu sudah tahu seperti yang disebutkan oleh teman dekatmu," kata Eris.
"EHH!? Jadi itu semua kenyataan!?" Tanya Yuri menutup mulutnya.
"Geras, Oizis, Moros, Apate, Momos, Nemesis dan Kharon itulah kakak-kakakku yang asli. Tapi... tidak ada yang dekat denganku," kata Eris memandangi semua hiasan Yuri dalam kamar.
"Ah, aku mengerti. Kebanyakan temanku juga tidak begitu akrab dengan kakak kandung mereka. Tapi kenapa mereka agak menganggap kamu saingan?" Tanya Yuri yang memakan puding lagi.
Sambil jalan-jalan melihat, menyentuh hiasan atau bahkan gelas berisi bebatuan cantik. "Aku adalah calon Ratu kegelapan karena itulah semua kakakku berusaha membunuh atau menjatuhkan," jelas Eris yang melihat cawan cantik.
"Wow! Cara mendapatkan tahtamu bagaimana?" Tanya Yuri.
"Dengan bertarung denganku. Tapi cara itu tidak disukai oleh Ratu alias ibuku. Jadi... aku diturunkan ke Bumi," kata Eris lalu duduk kembali.
"Wah! Kenapa bisa kamu yang terpilih?" Tanya Yuri agak aneh. "Kenapa bukan kakak kamu yang paling tua saja?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
Eris tidak bisa menjawabnya karena itu berhubungan dengan identitas yang aslinya. Diamnya Eris dimaklumi oleh Yuri, beberapa hal ada yang tidak bisa dikatakannya.
"Kita harus memikirkan cara agar kamu selamat nanti. Aku bisa mengorbankan..." kata Eris memutuskan.
"TIDAK! AKU MENOLAK CARA ITU," kata Yuri yang keceplosan berteriak. "Maaf. Aku tahu maksudnya ke arah mana," kata Yuri menghela nafas.
Eris memandangi Yuri, itulah sebabnya dia tidak pernah mau mencari pegawai manusia. manusia terlalu lemah terlalu terhubung dengan hati dan perasaan. Mereka saling berpikir untuk menemukan solusi lagipula, Yuri juga enggan harus mati sia-sia hanya karena dirinya bekerja di toko Eris.
Di tempat lain, Ares yang sedang berjalan pulang dari sekolahnya, berpapasan dengan Aiolos dan secara tidak sengaja mereka saling berbenturan. Kemudian Aiolos secara tiba-tiba melihat sekelebat keanehan.
Dirinya seperti satu tim dengan Ares dan berperang melawan musuh.
"Maaf!" Kata Ares memegang bahu Aiolos.
"Ah, aku juga yang salah," kata Aiolos memegang bahu Ares.
Mereka saling bertatapan, dan merasa tidak asing satu sama lainnya. Mereka saling tersenyum dan tangan mereka menepuk bahu satu sama lain kemudian jalan masing-masing.
Aiolos merasa aneh entah kenapa dia seperti pernah mengenal anak SMU itu. Tapi kenapa? Dia berbalik badan setelah agak jauh dari Ares memandangi punggungnya.
Begitupun dengan Ares yang setelah beberapa langkah berjarak dengan Aiolos berbalik, memandangi punggungnya.
"Jadi dia tidak ingat bahwa aku adalah Komandannya? Yah, mungkin hidup begini lebih baik daripada dia ingat segalanya," pikir Ares lalu berjalan kembali menuju suatu tempat.
Lalu Aiolos memperhatikan ponselnya, Nyx memanggilnya untuk sebuah pengumuman. Saat itu muncul Poseidon yang sedang berlari sambil menendang bola sepak nya, lalu melewati Aiolos yang berbicara dengan riang.
Poi sengaja menabrak Ares yang sedang mendengarkan lagu, mereka berkelahi kemudian saling berkejaran. Di seberang, ada Anemoi yang keluar dari toko roti dan menunggu seorang gadis.
Sesampainya gadis itu disana, mereka pergi dengan wajah gembira. Mereka berdua berjalan ke arah dimana Poi dan Ares sedang berlarian.Kekasih Anemoi mirip dengan pacarnya yang telah tiada hanya namanya berbeda.
Ares dan Poi lalu jalan bersama mereka telah berbaikan. Poi membicarakan mengenai lomba game yang akan diikutinya nanti. Lalu Ares mengalihkan topik soal tim sepakbola mana yang akan menang.
Secara kebetulan Anemoi dan kekasihnya berada di belakang mereka mengobrol saling menggoda. Saat Anemoi berada sejajar lalu duluan berjalan, karena tali sepatu Poi lepas.
"Asik sekali mereka yang di depan berpacaran," kata Ares.
"Sombong. Kamu sendiri kan banyak dikirimi surat cinta, balas satu orang lalu jadian," kata Poi yang sudah selesai.
__ADS_1
Ares mengacak-acak rambutnya. "Tidak ada yang seru, aku ingin yang seperti Eris. Dia dingin tapi tidak membuatku bosan," katanya tertawa.
"Eris? Perempuan yang kalau bicara seperti robot?" Tanya Poi memperagakan kebiasaannya.
Mereka berdua tertawa. Lalu Anemoi menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Moi? Kenapa berhenti? Tempatnya tidak jauh lagi kok," kata kekasihnya agak cemas.
Selintas dia seperti melihat perempuan berambut putih yang berada di depannya. Ya siluet Eris seperti sedang membicarakan hal yang gawat. Siluet itu menunjukkan sesuatu ke arah kiri dari bahu jalan.
"Eris," gumam Anemoi menatap siluet di hadapannya lalu lenyap begitu saja. Anemoi kemudian memegang kepalanya kesakitan.
"Kamu kenapa?!" Seru kekasihnya sangat cemas.
Ares dan Poi bertatapan lalu menghampiri Anemoi dan membantunya untuk duduk.
"Kakak tidak apa?" Tanya Ares memastikan.
"Ya, hanya sakit kepala yang biasanya. Maaf ya merepotkan," kata Anemoi menatap Ares. Dia terdiam bukan karena ketampanan Ares tapi...
"Apa itu vertigo?" Tanya Poi memandangi Ares, sahabatnya.
Anemoi sontak melirik ke arah Poi yang sedang berpikir.
"Sayang?" Tanya kekasihnya.
Anemoi tersenyum. "Ya vertigo ku kadang tidak kambuh. Terima kasih, ayo say nanti kita tidak kebagian tempat duduk," katanya bangkit dan membungkuk pada keduanya.
Poi memandangi Anemoi begitu juga Ares. "Kamu lihat? Orang itu sakit kepala setelah mendengar kamu menyebut nama Eris," katanya.
Ares mengangguk setuju. Ares ingat Anemoi berartikan nama sebagai Dewa Angin. Dalam dimensi lalu, Anemoi selalu bertugas sebagai mata-mata musuh, dia juga yang menjaga perlindungan dari atas langit. Salah satu ksatria yang bisa diandalkan oleh Ares.
"Mau kita tanyakan saja?" Tanya Poi.
"Jangan. Kita tidak boleh sampai mengganggu kehidupan yang lain di sini. Aku harap dia tidak mengingat kejadian itu. Ayo kita pergi, cafe itu tidak jauh dari sini," ajak Ares menyeret kerah seragam Poi.
Bersambung ...
__ADS_1