Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
BONEKA


__ADS_3

Ost. xxxHolic - Lost Memory


Setelah pertemuan bertemu dengan gadis dalam mimpi, Aiolos dan Nyx menuju kantor mereka. Mereka ditugaskan untuk lembur jadi membeli banyak makanan untuk menemani pekerjaan mereka.


Sambil makan sore, Aiolos menceritakan tentang pengalamannya saat di dunia mimpi. Mau percaya atau tidak, Nyx terus mendengarkan. Dia sudah lama mengenal Aiolos dengan kemampuannya di luar nalar.


"Seperti biasanya pengalaman yang kamu ceritakan aneh sekali. Sampai tahu nama gadis tadi juga termasuk WOW bagiku," kata Nyx sambil memakan bento nya.


"Yah, kadang ada mimpi yang memang hanya bunga tidur, ada juga mengenai peringatan atau apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi aku melihat ada seorang gadis satu lagi," kata Aiolos memasukkan nasinya.


"Siapa? Mungkin tandanya kamu harus memiliki pacar, mimpinya perempuan terus," kata Nyx tertawa keras.


"Hahahaha hei pelan kan suaramu. Kan tidak enak," kata Aiolos celingukan.


"Yang lembur ada 6 orang tapi tempatnya beda. Nanti malam kita akan kumpul makan malam bersama. Kamu ikut," kata Nyx mengacungkan jempolnya.


Aiolos mengangguk tanda setuju.


"Nama perempuan satu lagi siapa?" Tanya Nyx yang selesai makan.


"Samar sih yang aku ingat, sepertinya aku memanggil dia dengan sebutan Eris. Eris siapa ya?" Tanya Aiolos kebingungan.


"Kamu waktu kecil mungkin pernah kenalan. Seperti apa ciri-ciri orangnya?" Tanya Nyx merapihkan mejanya.


"Tidak tahu wajah atau pakaiannya sama sekali tidak bisa aku lihat. Hanya dia berdiri disitu. Nah, kamu sudah aku anggap sebagai saudara kandung aku. Aku pernah tidak sih cerita soal perempuan yang mungkin sering aku ajal main dulu?" Tanya Aiolos pada Nyx.


Nyx kemudian berpikir. "Dulu sih tapi yang cerita ya Ibumu. Kamu kenalan seorang anak perempuan selalu setiap hari kamu ajak dia bermain sampai malam. Aku tanya seperti apa anaknya, Ibu kamu bilang agak aneh," kata Nyx masih mikir.


"Aneh bagaimana?" Tanya Aiolos ingin tahu karena dia pernah kecelakaan dan kehilangan ingatan.


"Anak perempuan itu sama sekali tidak punya ekspresi apapun Ibumu bilang kamu selalu bercerita dekat hutan dan bercanda tapi anak itu sama sekali tidak tertawa. Penyebab kamu sampai hilang ingatan, Ibumu tidak tahu," kata Nyx menjelaskan.


Keduanya terdiam merenung.


"Oke deh soal ini nanti saja aku pikirkan sendiri. Kita mulai kerjakan saja pekerjaannya. Aku pertama bekerja sudah langsung dihadapkan sebanyak ini," kata Aiolos kagum pada setumpuk file di atas meja.


"Hahaha begitulah makanya perusahaan tempatku bekerja membutuhkan banyak pegawai. Aku yakin kamu pasti diterima disini, baguslah kita jadi terus bersama," kata Nyx tertawa.


"Kamu dengar berita tidak soal pembunuhan aktris teater?" Tanya Aiolos yang sambil memeriksa pekerjaan.


"Tentu saja. Pelakunya sampai detik ini masih belum diketahui, seperti sihir," kata Nyx mengerjakan tugasnya.


"Daripada sihir memang aneh sekali sih. Kamu pernah ke tempat kejadiannya? Sekarang kan sedang tenar rumah itu dijadikan bahan berburu hantu," kata Aiolos.


"Aiiish, seram. Kamu pernah? Jangan katakan kalau kamu kesana," kata Nyx menatap ke sebelah temannya.


"Aku kan penasaran dan aku menemukan hal yang aneh," kata Aiolos.


"Ayolaaah aku ini takut yang seperti itu. Lalu apa yang aneh?" Tanya Nyx agak cemas tapi kepo.


"Aku menemukan jejak sepatu anak kecil lalu tidak ada darah apapun seperti dibersihkan. Mayat aktris itu tidak ada dimanapun tapi bajunya ada," jelas Aiolos berpikir.


Nyx merinding mendengarnya dan kepalanya dia benamkan di antara banyak kertas. "Itu urusan polisi kamu sudah laporkan?" Tanyanya.


"Sudah. Mereka juga merasa aneh karena dalam rumah itu tidak pernah ada anak kecil. Diperiksa pun tidak ada ukuran sepatu yang pas. Semakin aneh ya masa iya itu jelmaan Jin?" Tanya Aiolos tertawa.


"Jangan bercanda dong. Masalahnya kita lembur 2 hari nih, kantor ini katanya semakin malam semakin seram," kata Nyx. Untunglah dia pindah tempatnya ke sebelah Aiolos.


Aiolos menghela nafas lalu menepuk bahu sahabatnya itu kemudian menyelesaikan semuanya.


...This is my Darkness...


...Nothing anyone says can console me......


...Despair and Hope......


...Light and Dark......


...Happy and Sad......


...Hard and Easy......


...Good and Evil......


...Fall and Rise......


...Near and Fall......


...Group and Invidual......


...When you look at the dark side, careful you must be ......


...For the dark side looks back...

__ADS_1


...The ones with the Brightest smile and the Loudest laughs...


...Has the most painful past...


...~ Naruto ~...


Baju hari ini :



"ERIS, AYO KITA JALAN-JALAN," Teriak Arae yang sudah siap dengan baju bebasnya berteriak lantang.


Ela menutup telinganya sedangkan Eris menatap kosong pada sahabatnya.


Teko Phoenix berubah menjadi burung mengusir Arae keluar dari toko. Eris memandang burung merah itu yang tidak menyukai kegaduhan Arae.


"Apa-apan burung ini. Kenapa dia ada di dalam tokomu? Hush! Pergi sana! Ini bukan tempat tinggalmu!" Kata Arae mengusir burung itu menggunakan pemukul kasur.


Burung itu marah lalu berdiri di tengah ruangan dan menanggalkan bulunya yang berwarna merah menyala lalu terbang keluar toko.


Arae mengambil lalu menyerahkannya pada Eris. Rambutnya berantakan, tanduk besarnya keluar lalu masuk lagi.


Eris mengambil buku itu sebagai bayarannya lalu membaca buku lagi.


"Hei, Eris ayo kita berkeliling. Jangan disini saja, kita cari pembeli yang lain," kata Arae dengan ceria.


"Mau pergi kemana?" Tanya Eris tidak menatap Arae.


"Jepaaang. Ayolah aku bosan disini terus, untuk melebarkan usaha kamu menarik bola kehidupan," kata Arae memohon.


"Kamu bisa pergi sendiri kesana lalu meletakkan portal kemari kan," kata Eris tidak beranjak dari kursinya.


"Bosaaaan ayolaaah ayolaaah," ajak Arae menarik tangan Eris.


Eris lalu menghela nafas. "Ayo," katanya.


Dalam sekejap suasana toko berubah. Rak, lantai, lampu segalanya kini bergaya rumah tradisional Jepang. Mereka sudah berada di negara Jepang dengan menempatkan toko Eris berada di pinggir perkotaan yang padat.


Arae keluar dan bersorak dengan senang. "Yaaaay!" Katanya.


Eris keluar tentu saja dengan pakaian gothic semakin pas di negara tersebut.


"Coba di harajuku saja," kata Arae.


"Tidak," jawab Eris membuat Arae cemberut tapi dia sudah cukup senang.


"Paaakeeet!" Teriak Cupid langsung terbang pergi lagi.


Eris melihat kotak besar berisikan macam-macam boneka dari bahan keramik sampai kain. Semua ada. Mereka tata dengan rapih dalam rak kayu.


Sekilas tampak seperti boneka biasa tapi kalau malam, mereka akan bergerak bermain di dalam ruangan oleh karena itu, Eris membuatkan segel agar mereka tidak nakal. Meski beberapa tidak bisa dia beri segel.


Di sebuah wilayah prefektur kota Tokyo terdapat benteng kuil yang menjulang ke atas dengan hamparan pepohonan sakura yang rindang di sekitarnya. Toko Eris pun ditempatkan di pertengahan pohon sakura.


Menampilkan beberapa siswa SMA yang sedang bercanda bermain membuat semacam permainan. Seragam pendek mereka yang sangat manis dan lucu, tawa mereka yang ceria.


"Watashitachiha pimupaha no iedesu, hai! ( Kita hom pim pah, ya )!" Teriak salah satu siswi dengan antusias. Semua temannya setuju sambil tersenyum.


Mereka lalu berada di posisi masing-masing lalu memulai permainan hom pim pah menentukan sesuatu. Arae tentu saja menyaksikannya dia bertugas memasang portal.


"PAH!" Teriak mereka semua. Lalu terlihatlah siapa yang menang.


"Hai! Naoko masaru! ( Ya! Naoko yang menang )!" Seru salah satu dari mereka.


Yang disebut Naoko lalu menangis dan sebal. "Hueeeee," katanya sambil berteriak.


Mereka semua lalu menyerahkan tas mereka. Tas berjumlah enam orang termasuk dirinya. Meski sebal dan tidak menyangka, dia harus menerimanya.


"Anata ga shitte iru, anata wa anata jishin de sore o iu ( Lho, kan kamu sendiri yang bilang ). Watashitachiha sutsudesu, haisha wa shohin o motte konakereba narimasen ( Kita suit, yang kalah harus bawa barang-barang )," kata Perempuan berambut pendek menertawakannya. Bernama Kaoru.


"Yatte! Sire o tadashi mono ni suru! ( Ayo! Bawa yang benar! )" Kata Midori menepuk bahu Naoko.


Sayoko dan yang lainnya menertawakan Naoko yang merasa linglung membawakan semua tas yang lumayan berat karena ada pelajaran olahraga. Saat mereka asyik berjalan, tiba-tiba Naoko melihat sebuah toko yang misterius.


"Ne, chotto o ten ga aru mitai ( Hei, hei, lihat di sana ada toko ). Watashitachi wa mazu, yukkuri to tachidomaru! ( Kita mampir dulu, yuk! )" Katanya sambil menunjuk ke arah toko itu.


Semua temannya melihat yang ditunjukkan oleh Naoko. Mereka hanya bengong di tempat.


"Mise? Dore? ( Toko? Yang mana? )" Tanya Sayuri kebingungan.


"Yasumu tame ni soko ni iku yoteidesu ka? ( Kamu berencana ke sana mau istirahat ya? )" Tanya Kaori melihat Naoko yang banyak keringat.


"Soko ni ikimashou ( Ayolah kita ke sana )," kata Naoko yang kelelahan.

__ADS_1


"Hai hai ( Iya iya )," jawab Kaoru dan Sayoko setuju.


Sambil berjalan beberapa dari teman mereka mengingat di jalanan ini kalau tidak salah tidak ada bangunan lain selain taman.


"Kono atari ni mise wa arimasu ka? ( Memangnya ada toko di sekitar sini )?" Tanya Mina agak merasa aneh.


"Wakaranai, tabun aru ( Entahlah mungkin memang ada )," kata Sui yang juga berpikiran sama.


Mereka semua lalu tiba di depan toko Eris. Eris tidak membuat segel lagi untuk orang yang khusus karena terkadang mereka datang bersama dengan teman atau orang tua. Kali ini Eris tidak menaruh apapun selain segel untuk lantai tokonya.


Mereka berenam menatap toko itu dengan wajah yang takjub. Pemandangannya berbeda dengan saat tokonya berada di Indonesia, dia harus selalu menyesuaikan isinya serta halaman.


Air terjun kecil serta tanaman yang menyejukkan kedua mata. Ada juga pasir untuk pengobatan beserta batu yang hangat.


Mereka masuk ke dalam, gerbang sudah terbuka menyambut siapapun yang akan masuk. Lalu Kaoru membukakan pintu itu dan lonceng pintu berbunyi.


"Selamat datang," kata Ela tersenyum dengan cosplay kucing.


Mereka semua lebih takjub lagi melihat isi toko itu. Piring, gelas yang bentuknya tidak umum, boneka, kosmetik, segala yang mereka butuhkan semua ada. Ada kursi Naoko duduk dengan enak karena ada AC juga. Dia menyimpan semua tas dan memijat bahunya.


Semua temannya melihat-lihat benda lucu dengan berbagai bentuk. Naoko merenggangkan punggungnya lalu merasakan desiran AC. Eris menyiapkan enam teh dan kue-kue.


Naoko juga berjalan-jalan tanpa membawa tasnya dan dia melihat kotak kaca cantik didalamnya terdapat boneka berambut panjang dengan kimono berwarna hitam.


"Cantik sekali. Hei, kalian! Lihat!" Kata Naoko memberitahukan mereka.


Mereka semua saling berpandangan dan melihat ke arah Naoko. Mereka tidak yakin dengan perkataan yang Naoko tadi katakan.


"Naoko, kamu tadi bilang apa?" Tanya Sayoko. Lalu dia sendiri pun terkejut, semuanya sama.


"Ini .. " kata Mina memegang mulutnya sendiri tidak percaya.


"Kalian masuk ke dalam tokoku otomatis bahasa kalian akan berubah tapi saat keluar, bahasa kalian akan kembali normal," jelas Eris yang sudah berada di belakang mereka.


Semuanya memandang Eris dan histeris, mereka bisa menggunakan bahasa Indonesia tanpa harus berlatih. Mereka kaget lalu tertawa bersama-sama. Naoki juga menyadari.


Setelah itu mereka dengan berisik mengobrol dengan bahasa dan tampaknya senang sekali. Eris masuk entah kemana hanya Ela yang ada.


"Ada apa, Naoko? Bagaimana pun juga ini keren! Kita bisa bahasa Indonesia," ucap Mina bahagia.


"Iya iya, lihat boneka ini Baju dan lainnya sangat misterius sekali bukan. Aku mau membelinya. Bagaimana menurut kalian?" Tanya Naoko.


Mereka semua menatap boneka yang diberikan penutup mata berwarna hitam juga tanpa motif. Membuat perasaan mereka agak seram.


"Kamu tidak tertarik boneka yang lain? Yang kedua matanya tidak ada penutup. Aku hanya merasa seram melihat yang ini," kata Sayoko memegang leher belakangnya.


"Kamu terlalu sensitif. Ditutup pasti kedua matanya indah kan," kata Kaoru.


"Aku setuju dengan Sayoko, karena kenapa hanya boneka ini saja yang dimasukkan ke dalam kotak kaca lalu diletakkan terpisah dari boneka yang lain," kata Sui memandangi boneka lain yang lebih cerah wajahnya.


"Jangan-jangan sama dengan boneka yang selalu kita lihat dalam TV beritanya. Yang suka jalan-jalan pada malam hari itu lho," kata Mina mendekap Sayoko.


"Haiish! Jangan menakuti dong," kata Naoko sebal. Dia masih memegang boneka itu yang sudah dia ambil dari kotak kaca tersebut. Lalu berusaha membuka penutup matanya.


"Toko ini mewah tapi ko barangnya ada yang seram begini ya," kata Sui melihat barang lain.


"Yah, toko kan menjual segala macam jenis tidak bisa 1 jenis saja. Hei, Naoko, apa yang kamu lakukan?!" Seru Kaoru melihat gelagat Naoko.


"Tidakkah kamu lihat? Aku ingin melihat kedua mata boneka ini lebih jelas lagi. Aku akan membuka penutupnya," kata Naoko berbuat nekat.


Saat penutupnya sudah terbuka setengah, tiba-tiba Mina dan Sayoko menghentikannya.


"Lebih baik jangan. Kamu setidaknya harus meminta ijin dulu sama pemilik toko supaya lebih aman," kata Sui agak cemas.


"Iya aku setuju takutnya boneka ini tergores atau pecah, kamu harus menggantinya kan," kata Sayoko.


"Tidak akan, aku akan berhati-hati sudah singkirkan tangan kalian," kata Naoko melepaskan tangan mereka.


Secara tidak sengaja pipi kanan boneka itu tergores kuku Naoko yang panjang dan melukai bonekanya.


"Naoko! Apa kubilang. Ini harus bagaimana?" Tanya Mina panik.


Mereka juga sama. Naoko lalu menyeka luka itu dan tiba-tiba keluarlah cairan merah di pipi boneka.


"Kalian... ini kan darah," kata Naoko kaget.


Mereka lalu melihat. Yupz cairan encer itu keluar dari luka di pipi kanan boneka itu. Mereka berteriak, Ela datang.


"Ada apa?" Tanyanya penasaran.


"Bonekanya berdarah," kata Kaoru yang ketakutan.


Ela melihatnya dan tersenyum lalu memegang pipi boneka itu. "Mananya? Boneka ini baik-baik saja tolong lebih berhati-hati lagi," kata Ela lalu kembali ke mejanya.

__ADS_1


Mereka semua bengong lalu melihat kembali. Tidak ada goresan darah yang lihat pun tidak ada. Mereka semua memijat dahi, apa karena pelajaran hari ini banyak sehingga mereka berhalusinasi?


Bersambung ...


__ADS_2