
Sheila tersadar dia melihat dirinya yang masih memegangi kaki meja namun lantainya tidak bolong.
"A-aku... tadi..." jelas Sheila yang merasa kebingungan.
"Kamu ini kenapa sih?" Tanya ibu kos yang berdiri di hadapannya. Beberapa penghuni lain juga keluar sambil berbisik-bisik di belakang.
"Aku tadi ditarik masuk ke dalam lubang hitam!" Kata Sheila sambil menangis.
"Apa?" Tanya ibu kos tidak mempercayainya.
"Sungguh! Lantai ini tiba-tiba berubah menjadi lubang hitam yang menarik ku. Aku tidak bohong! Maka itu aku teriak minta tolong," kata Sheila panik.
Ibu kos termenung sejenak seakan sudah terbiasa. "Begini lagi. Tenanglah, Sheila di kamar ini bagaimana bisa tiba-tiba ada lubang hitam? Lihat. Lagipula saat saya masuk, kamu tidur sambil memegang kaki meja bukankah kamu hanya mengingau? Atau berjalan sambil tidur?" Tanya ibu kos membantunya duduk di kasur.
"Tidak, aku tidur biasa tapi benar Bu aku ditarik oleh tangan anak kecil! Kepala aku di tarik," Sheila panik kembali sambil setengah menangis.
Ibu kos agak prihatin tampaknya dengan yang dialami oleh Sheila. Memang kabarnya banyak sekali penghuni yang menginap di kamar ini melihat, merasakan atau mendengar suara.
"Sudah, tenang ya. Dengar karena kamu takut akhirnya kamu jadi agak parno. Kamu hanya sedang tertidur sambil memegang kaki meja. Hanya itu. Tidak ada lantai yang berubah, lihatlah. Sadarlah!" Kata ibu kos menenangkan Sheila.
Sheila terdiam, saat itu Eris berada di atas atap dimana mereka berdua berada. "Hmmm jadi dia ada di asrama ini, sulit juga mengeluarkannya," katanya lalu menghilang.
Eris kembali ke dalam tokonya malam itu, dia memasuki kamar uangnya dan menyiapkan 10 koper yang mengisinya dengan 100 buah gepokan uang.
"Kira-kira harganya segini. Atau kurang ya?" Tanya Eris sendirian. Dia keluar dari kamar tersebut dan memandangi etalase rak boneka yang masih kosong.
Kembali ke dalam kamar Sheila, dengan ibu kos yang masih berusaha menenangkan pikiran Sheila. Agak cemas juga karena kalau sampai Sheila pindah, gedung asrama ini terancam akan dirobohkan.
"Tidak ada yang bermaksud menarikmu ke dalam tanah. lihat lantai ini kokoh, kuatkan hatimu ya. Saya mengerti kamu cemas karena baru pertama kalinya hidup terpisah dari Ayahmu kan. Justru menurut saya ini menjadi kesempatan yang baik untuk belajar mandiri. Jangan mau dipusingkan hanya dengan gosip mengenai hantu anak kecil itu ya," jelas ibu kos dengan perkataan lembut.
Sheila kembali terdiam lagi, dia tahu ibu kos ini tidak akan bisa percaya, dia merasa harus mencari tahu kebenarannya sendiri.
"Baik, Bu," kata Sheila.
"Mau saya temani?" Tanya ibu kos.
__ADS_1
Sheila menggeleng dia sudah mengerti. "Tidak perlu benar kata ibu mungkin saya terlalu parno saja pada kisah itu," katanya.
"Baiklah," kata ibu kos tersenyum lalu pergi dengan tenang mengusir para penghuni lainnya.
Sejak ibu kos pergi dan suasana kembali hening, suara tangisan itu tidak terdengar lagi.
"Aku yakin pasti ada sesuatu di lantai bawah ini. Alasan kenapa tangan itu ingin menarik ku apalagi dia meminta aku mengeluarkannya," gumam Sheila.
Sheila sekolah seperti biasa namun raut wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu membuat Erin menuliskan di kertas. Dia melemparkan kertas tersebut ke wajah Sheila. Sheila kaget dan membukanya.
Kamu kenapa? Sedari tadi melamun. Kamu tidak sadar ya Angkasa terus memperhatikan kamu lho. Cieee.
Lalu menatap cepat ke arah Angkasa, dia ketahuan menatapnya lalu kembali memperhatikan depan kelas.
"Oke, sepertinya kalian sudah mengerti. Sekarang Bapak akan menunjuk kalian untuk menjawab pertanyaan Bapak," kata guru tersebut membuat seluruh siswa panik.
Sheila menepuk dahinya panik, dia setengah tidak mendengarkan apa kata gurunya tadi dan membuka bukunya.
"Aaah! Aku sama sekali tidak mendengarkan pelajarannya! Kumohon jangan tunjuk aku!" Pikir Sheila berdoa.
Yang ditunjuk garuk kepala, dia tepat di depan Sheila. "Yah, Pak kenapa saya?" Tanyanya cemberut.
Yang lain tertawa.
"Sudah jelaskan!" kata Pak guru.
Sheila menundukkan kepalanya berharap tidak kena tunjuk. Lalu saat terus berdoa dan matanya secara tidak sengaja melihat ke tempat duduk sampingnya, dia melihat ada sosok anak kecil yang sedang berjongkok menangis.
Tanpa sadar Sheila berdiri membuat yang lainnya terkejut.
"Ada apa, Sheila? Nama kamu tidak Bapak panggil," kata gurunya keheranan.
"A-anu Pak," kata Sheila masih menatap ke sampingnya.
"Ya?" Tanya pak guru garuk kepala.
__ADS_1
"Ada..." kata Sheila sambil menunjuk ke bawah.
"Rambutnya pirang! Bukan dari negara ini," pikir Sheila.
Guru memperhatikan ke arah mana kedua mata Sheila melihat. "Hmm? Kamu tertarik dengan Raden yang ada di sebelah mu? Selera kamu begitu ya," kata gurunya tertawa.
"Heh? Saya? Kamu suka saya?" Tanya Raden dengan malu.
"Idih! Bukan!" Jawab Sheila menatap gurunya.
Raden laki-laki culun yang memakai kontak lensa yang tidak cocok dengan tampilannya. Kedua pipinya terdapat bintik-bintik, kalau bicara logatnya bahasa Jawa.
"Woohoo laku juga ya kamu Mas Raden," goda teman yang lainnya.
Angkasa yang mendengarnya hanya senyum kecut dan menundukkan kepalanya.
"Ada... ADA GADIS KECIL BERAMBUT PIRANG SEDANG MENANGIS DI SEBELAH KAKI RADEN, PAK!!" Teriak Sheila dengan kencang.
Kelas yang tadinya sepi langsung heboh dan mereka memeriksanya dengan gaduh.
"Jangan bicara aneh-aneh tidak ada apa-apa,"
"Anak kecil? Mana?"
"Tidak ada, Sheila,"
Semua teman-temannya memastikan bahkan Raden sendiri karena Sheila masih menunjuk.
"Kamu kenapa sih, Sheila?" Tanya Erin agak cemas.
"Kalian semua tidak bisa melihatnya? Anak itu masih ada tepat disana," pikir Sheila ketakutan.
"Pak, aku rasa Sheila tidak berbohong wajahnya memucat," kata Karin memandanginya.
Bersambung ...
__ADS_1