Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
10


__ADS_3

Sekitar pukul tiga subuh, Arika terbangun karena kebelet pipis. Dengan malas, dia turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi lalu mengunci pintu. Setelah selesai, dia kembali ke kamar dan melihat sosok orang yang agak mirip dengan Saka.


Dia membelakangi Arika dan menghadap ke kasurnya.


"Saka? Kapan kamu datang? Kok aku tidak mendengar ada ketukan dari pintu ya?" Tanya Arika lalu membuka pintu kamarnya dan memastikan apakah ada tamu atau tidak.


"Aneh tidak ada siapapun. Saka, kamu masuk lewat mana?" Tanya Arika memandangi ke kasurnya tapi tidak ada siapapun. Arika membeku di tempatnya.


"Lho? Lho? Lho?" Tanya Arika lalu dia mencari kemana Saka pergi tapi tidak ada dimanapun. Karena pusing dia sekalian tahajud lalu tidur kembali.


Pukul lima pagi dia terbangun lagi dan menuju kamar mandi. Selesai mandi, dia merasa sangat tidak bertenaga dan memandangi cermin di kamarnya, kedua kelopak matanya menghitam seperti kekurangan tidur. Dengan keheranan, dia keluar kamar lalu membuka laci di lorong mengambil alat untuk mencerahkan kelopak matanya.


Beberapa detik kedua matanya kembali cerah dan dia bernafas lega. lalu membereskan tas dan buku sekolah. Setelah siap, Arika berjalan ke arah ruang makan. Tiba-tiba kepalanya berdenyut kesakitan dan ruangan berputar seperti vertigo dan terjatuh.


"Kamu kenapa?" Tanya Ibunya melihat dia terjatuh.


Tidak tahu tiba-tiba pusing tapi sudah baikan kok karena lapar mungkin ya," kata Arika berdiri biasa lagi dan berjalan menuju ruang makan.


"Aduh, kamu ada-ada saja. Oh iya ini ada roti dari teman-teman Ayahmu, bawa ya ke sekolah untuk dibagikan ke teman-teman kamu. Mama masukkan ke dalam tas ya," kata Ibunya.

__ADS_1


Arika mengangguk lalu duduk tapi sesaat pandangannya menerawang dan darah mengalir dari hidung. Saat sadar, dia kaget lalu mengelapnya dengan tisu dan membuangnya ke tempat sampah.


"Kamu mimisan," kata Ayahnya yang melihat.


"Kenapa sih kamu? Tidak biasanya. Kamu tidur jam berapa?" Tanya Ibunya memeriksa Arika.


Arika mengelap lagi hidungnya tapi sudah tidak ada darah. "Hmmm jam 2 hehehe," jawabnya tidak memberitahukan bahwa dia sempat keluar rumah.


"Sepertinya efek kamu tidur terlalu malam. Pulang sekolah, kita ke dokter," kata ibunya cemas.


Arika menurut saja, perasaannya juga tidak enak kepalanya terasa kosong seperti rohnya akan lepas dari tubuhnya. Dia menaiki angkutan umum menuju sekolahnya


Pamannya masuk dan memberikan uang jajan kepadanya. "Kakak kapan pulang?" Tanyanya memberi uang lima puluh ribu.


"Hah?" Tanya Saka keheranan.


"Lho, paman pikir dia sudah pulang," kata pamannya.


"Belumlah," jawab Saka masih sibuk membereskan segalanya. Uang yang diberi pamannya dia masukkan dalam saku seragam.

__ADS_1


Karena takut salah lihat, mereka berdua memutuskan untuk memeriksa kamarnya dan memang masih keadaan rapi dan kosong.


"Tadi malam siapa yang masuk kamar kamu? Paman melihat itu seperti kak Susan. Coba paman telepon takutnya dia benar pulang dan main ke rumah temannya," kata paman memencet nomor kakaknya.


Saka menunggu juga, dia sudah siap hendak pergi ke sekolah. Dia juga merasa aneh mengingat mimpinya yang menakutkan. Kepalanya dibenamkan oleh sesuatu ke dalam lumpur hitam dan tidak ada satupun yang menolongnya.


"Ya, Paman," kata yang diseberang sana.


"Kamu sudah pulang?" Tanya Pamannya memastikan.


"Hah? Belumlah. Aku sedang menghadapi ujian mid, bulan Agustus aku baru bisa pulang. Kenapa?" Tanya Susan merasa aneh.


"Paman melihat kamu masuk rumah tadi malam. Aneh sekali makanya Paman cek keberadaan kamu," jelas pamannya memandangi Saka.


"Paman, katakan pada Saka untuk berhenti mengikuti komunitas aneh. Takutnya yang paman lihat itu sosok hantu," kata kakaknya.


"Jangan sembarangan. Jaga kesehatan kamu. Disini semuanya baik-baik saja," kata Paman.


"Baik, Paman," kata Susan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2