
"Tabiko?" Tanya ketua menyadarkannya.
"Eh? Iya apa?" Tanya Tabiko agak gelagapan setelah fokus memandangi Eris.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya ketua memberikan menu.
"Oh... oh iya aku... pesan meni yang warnanya merah saja," katanya menyerahkan kembali menu kepada Eris.
Semua memandanginya mendengarkan apa yang baru saja Tabiko katakan. Tabiko memandangi mereka dengan mengangkat bahunya.
"Haaaah?" Tanya mereka semua serentak.
Ketua memandang menu yang berwarna merah dan keheranan memandangi Tabiko. "Ada sih tapi ini kan minuman keras," katanya menunjukkan menu.
"Oh! Hmmm apa ya? Aku bingung juga," kata Tabiko yang tidak bisa berpikir dengan jernih.
Eris memandangi Tabiko yang gugup karena merasa kecantikannya kalah olehnya. Aura hitam mengelilingi Tabiko sangat pekat tapi berbeda dengan mangsanya yang lalu.
"Anak ini meminum darah? Untuk apa? Dia bukan... iblis seperti Arae," pikir Eris menajamkan kedua matanya.
"Ada. Maksud kamu mungkin steak dengan saus merah berasal dari buah ceri," kata Eris menatap Tabiko dengan tatapan tidak biasa.
"Ah ya sudah aku pesan itu saja," kata Tabiko langsung memutuskan.
"Harganya juga sesuai kantong anak sekolahan ya. Apa mereka tidak merasa rugi?" Tanya anak lainnya pada Ana.
"Entahlah tapi masakan buatan Kak Yuri sangat lezat lho," kata Ana memesan menu yang lainnya.
"Anak yang berambut putih itu cantik sekali. Siapa namanya?" kata Tabiko yang masih terus menatapnya.
"Namanya Eris, pemilik toko ini. Aku tahu apa yang kalian pikirkan tapi ini nyata! Manis, imut dan cantik aku kira tadinya dia vampir habis bajunya serba hitam sih," kata Ana agak tertawa.
"Dasar Ana!" Kata yang lainnya menggetok kepalanya.
"Memangnya vampir itu selalu memakai baju hitam? Ada juga kok yang terbiasa memakai baju biasa," kata Tabiko dengan suara genitnya.
"Kamu pernah bertemu vampir, Tabiko?" Tanya Ana dengan pandangan curiga.
Tabiko terdiam. Lalu Sari menanyakan soal charger ponsel dan kebetulan mereka punya. Sari lalu ikut men cas ponselnya dan meninggalkan ponsel tersebut di meja bar.
Eris menatap ponsel Sari dan memiringkan kepalanya. "Jadi itu yang namanya handphone? Semua manusia memilikinya," pikirnya lalu masuk ke dalam dapur.
Beberapa menit keluarlah Raven yang berpakaian layaknya seorang pangeran membuat semua anggota klub drama terpesona terutama Tabiko.
"Silakan," kata Raven meletakkan pesanan beberapa anggota.
"KYAAAA tampan sekali!" Kata mereka semua termasuk Ana.
"Hahaha terima kasih," kata Raven lalu masuk ke dalam dapur.
"Tokonya keren, makanannya lezat, pemiliknya super cantik dan pegawainya... melelehkan hatikuuuu," kata mereka semua bersamaan.
__ADS_1
"Rahasianya apa sih, yang bernama Eris itu bisa secantik aku," kata Tabiko penasaran.
"Aku tidak tahu tapi memang sudah sejak kecil Eris secantik itu," kata Yuri yang datang membawakan pesanan Tabiko.
Menu yang disajikan benar-benar sangat menarik apalagi suara desisan dari steak yang dipesan oleh Tabiko.
Tabiko terasa lapar sekali dan memotong lalu memakannya. Entah kenapa rasa daging itu begitu lezat baginya dan terus melahap dengan rakus.
"Hm! Enak. Ini steak terenak yang pernah aku makan," kata Tabiko semangat.
Melihat Tabiko makan dengan lahap, beberapa anggota ingin memesannya juga dan memanggil Yuri.
"Ya? Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Yuri ramah.
"Kak, apa steak nya masih ada?" Tanya anggota lain.
"Sebentar ya," kata Yuri lalu menuju dapur.
"Kenapa?" Tanya Arae.
"Ada yang mau memesan steak lagi. Bagaimana?" Tanya Yuri.
Eris berpikir lalu mengangguk. Yuri kemudian menuju tempat makan lagi dan menuliskan siapa saja yang mau memesan.
Setelah mengetahui jumlahnya, Arae memberikan daging yang berada dalam mesin pendingin yaitu daging sapi yang tebal. Eris membubuhkan semacam bumbu rahasia yang membuat daging itu mengembang dan juicy.
Yuri berada di bar membuatkan pesanan minuman. Aroma daging itu keluar dan membuat Yuri ingin memakannya juga.
"Eris, kamu melihatnya bukan?" Tanya Arae yang sibuk mengolah daging.
"Ya, anak itu meminum darah tapi untuk apa?" Tanya Eris mengambil bubuk lain.
"Apa dia melakukan ritual penyembahan?" Tanya Arae membolak-balik daging.
"Dia bukan iblis sepertimu, manusia biasa. Ini harus diselidiki. Raven, selidiki," kata Eris.
Raven merinding dan wajahnya memucat. Mereka berdua berekspresi datar dan kedua matanya bulat mengecil.
"Payah," kata Arae meletakkan daging itu ke atas piring satu per satu. Lalu menambahkan keju balok di atasnya lalu ditumpahkannya saus merah.
Eris menghela nafas. "Jangan katakan pada Yuri. Penciuman mu tajam, Raven," kata Eris menjentikkan sesuatu pada hidungnya.
Raven pasrah sambil membawa pesanan, dia keluar dapur. "Baik, Nona,"
Sebenarnya yang membuat Raven memucat adalah steak yang mereka buat untuk Tabiko bukanlah terbuat dari daging sapi atau ayam.
Setelah meletakkan pesanan, dengan sengaja Raven menjatuhkan benda kecil ke sekitar Tabiko dan mengambilnya. Langsung saja aroma darah busuk menusuk hidungnya dan langsung berlari masuk dapur.
Yuri melihatnya namun tidak mencurigai apapun.
"Nona! Parah! HOEEEEEK," KATA Raven yang muntah lalu menuju wastafel.
__ADS_1
"Sudah kuduga," kara Eris melanjutkan membuat ramuan.
"Daging itu adalah daging hewan yang kami olah menjadi steak. Pantas saja Raven merasa jijik," kata Arae tertawa.
"Kami memancingnya untuk melihat apakah dia merasa jijik atau tidak. Ternyata.. dia sudah berubah sama seperti kami hanya dengan jalan yang menjijikkan juga. Apa yang membuatnya seperti itu?" Tanya Eris menghentikan gerakan tangannya.
"Kalian... apa tidak... jijik? HOEEEK," Kata Raven masih mual.
"Dia adalah... " Kata Arae selesai membuat pesanan yang terakhir.
"Vampir," ucap mereka berdua bersamaan.
Raven kembali dengan badan yang lemas lalu Eris menidurkan Raven dengan ditiupkan serbuk glitter ke arah wajahnya. Eris menarik sehelai rambut Raven dan melilitkannya ke kertas berbentuk orang.
Boneka kertas itu berubah menjadi wujudnya namun tidak berperasaan. Raven kemudian membawakan semua pesanan, ditanya oleh siapapun dia hanya diam.
"Hei, apa kamu tertarik bermain peran?" Tanya ketua menghampiri Raven.
"Tidak," ucapnya dengan dingin lalu memasuki dapur.
Mereka semua kecewa. Tabiko melanjutkan lagi memakan steak nya yang masih tersisa sedikit.
"Tabiko, kamu makan steak lahap sekali. Apa sebegitu enaknya?" Tanya Ana keheranan. Tumben sekali melihat Tabiko agak rakus.
"Lezatos," kata Tabiko puas sekali. Lalu dia meminum minuman yang diletakkan oleh Raven tadi.
Saat sedang menyedotnya, tiba-tiba Tabiko tersedak. "Uhuk uhuk," suaranya keras membuat Tabiko kaget.
"Kamu kenapa?" Tanya Ketua kaget juga lalu memandangi minumannya Tabiko.
Tabiko terbatuk-batuk karena rasa yang dia minum bukanlah jus. Ketua yang penasaran lalu menjangkau minumannya dan dia minum.
Tabiko melihatnya lalu panik hendak melarang tapi Ketua sudah meminumnya dan menjilat bibirnya.
"Enak! Campuran buah tomat dan stroberi ya," kata Ketua senang.
"Kamu tersedak oleh bijinya? Tapi kan biji tomat dan stroberi kecil ya," kata anggota lain merasa aneh.
Tabiko kebingungan yang dia rasakan adalah darah hewan tapi kenapa saat ketua meminumnya itu menjadi jus?
"Aku mau pesan jus itu juga ya," kata Ana berteriak. Eris mengangguk dan membuatkannya sambil memandangi Tabiko.
Setelahnya Eris membawakan minuman itu dengan penampakan warna merah yang sama, Tabiko penasaran ingin mencicipi semuanya.
"Kamu kenapa sih?" Tanya anggota lain kesal.
"Tabiko, minuman kamu kan ada di sini kenapa mencicipi semua minuman? Kan rasanya sama," kata Ana melihat kelakuan Tabiko yang terkesan liar.
Ta iko benar-benar mencicipi semuanya meyakinkan bahwa minuman yang dia cicipi adalah darah hewan. Sampai jus terakhir, dia termenung semuanya adalah aroma buah tomat dan stroberi.
Bersambung ...
__ADS_1