Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
8


__ADS_3

"Iya, dia menceritakan semuanya. Karena aku tidak percaya, dia memberikan bukti darah yang ada pada ayahnya," kata Diega saat pertama melihatnya dia sampai ketakutan.


"HAH!? Jadi ayahnya dia..." kata Ekok terkejut. Ayahnya adalah bangsa makhluk peri di dunia lain.


"Iya warga dunia sana sama seperti Keling," kata Diega menatap Ekok sambil sumringah.


"Buset! Anaknya juga berarti keturunan sama lalu wujud manusia itu dari ibunya dong," kata Ekok berpikir.


"Ini tuh seriusan?" Tanya staf A pada yang lainnya.


"Bisa saja dia tambah-tambahkan supaya jadi menarik kan," jawab lainnya.


"Ayahnya ini tidak ada kemampuan untuk bisa menghasilkan ****** anak setelah Keling. Tidak seperti kita manusia yang bisa menghasilkan banyak anak, kalau mereka hanya punya satu buah ******," jelas Diega seperti yang dikatakan oleh Keling.


"SATU!?" Teriak Ekok yang mengikuti suasana cerita.


"Kemudian ayahnya itu keluar dari dunia sana dan bertemu istri, yah sama kisahnya dengan Keling yang bertemu gadis misterius itu. Istrinya uang sekarang sudah punya anak ada tiga jadi tidak masalah. Ayahnya terharu Keling bisa bertemu dengan gadis pemilik toko ajaib," jelas Diega.


"Wohhh jadi penasaran deh dengan toko misterius itu. Kalau aku bisa menemukan, akan aku promosikan deh," kata Ekok gembira.


"Tapi kata istri saya sih hanya orang tertentu yang bisa melihat. Orang yang sangat membutuhkan tidak peduli meski harus dibayar dengan nyawa. Memangnya kamu mau?" Tanya Diega.


Ekok langsung menyusut semangatnya. "Nyawa? Aduh, aku masih bujangan lah masih belum siap mati," katanya.


"Kalau sudah waktunya mati ya pasti terjadi, Kok," jawab staf lain di ruangan luar.


"I-iya juga sih. Lalu nama tokonya apa?" Tanya Ekok.


"Tidak bisa disebutkan karena istri juga tidak menyebutkan katanya takut didatangi," kata Diega meringis.


"Itu asli? Menang sih dunia ghaib itu ada tapi sampai membuat toko segala," kata Ekok tidak percaya.


"Makanya aku mau cerita di sini. Untuk siapapun yang bisa melihat toko itu, katakan apa keinginanmu kalau kamu berani mempertaruhkan nyawamu," kata Diega dengan suara parau. Terkesan seperti suara kakek-kakek.


"Wahahaha suaranya bisa diubah ya. Lalu kamu sendiri pernah kedatangan?" Tanya Ekok yang sama sekali tidak tahu bahwa suara kakek itu asli.


"Hahaha hebat kan. Iyalah, dia datang," kata Diega.


Ekok dan staf lain yang terhanyut pada ceritanya melongo mendengarnya. "Kamu cerita ke Keling i ini?" Tanyanya.

__ADS_1


"Aku cerita, dia kaget lalu agak cemas takutnya aku meminta sesuatu," jelas Diega.


**Saat Diega dan Keling akhirnya memiliki status hubungan, kejadian ini terjadi sebelum mereka hiking bersama ke puncak gunung.


Eris mendatangi Diega saat dia tengah memancing ikan di sungai.


"Kamu yakin memilihnya?" Tanya Eris yang berdiri di depan Diega tidak jauh.


Diega mendengar dan menatap Eris dengan kaget. Apalagi melihat Etrs mengambang di atas air, mau lari tapi melihat ikan begitu banyak dia bertahan.


"Keling?" Tanya Diega.


Eris mengangguk. "Kamu tidak keberatan? Kalau dia bukan manusia seperti yang kamu sudah ketahui," katanya.


Diega terdiam. Anak yang dia lihat memakai suasana pakaian tengah berkabung. "Ya aku tahu siapa dia. Awalnya aku takut tapi... aku mendengar pembicaraan kalian tidak sengaja," kata Diega berhasil mendapatkan ikan.


"Hmmm, aku tahu," kata Eris masih memandanginya**.


"**Awal melihatnya mungkin seperti hanya karena nafsu," kata Diega lalu mengumpulkan ikan. Terlintas dirinya hendak melemparkan ikan itu pada Eris tapi melihat bagaimana Eris berdiri di atas air, dia urungkan.


"Lalu?" Tanya Eris sudah menyiapkan gerakan tangan karena tahu apa yang dipikirkan oleh Diega.


"Lama kelamaan menarik hatiku ingin memilikinya. Salahkah?" Tanya Diega berbalik pada Eris.


"Tentu saja. Wujudnya memang begitu kan? Bukan wujud yang menyeramkan kan," kata Diega meyakinkan diri.


Eris tersenyum dingin wajarlah dia takut. "Tenang saja memang itu wujud aslinya, dia begitu dapat turunan dari ibunya. Baguslah," kata Eris yang hendak menghilang.


"Kamu siapa? Bisa berdiri di atas air," kata Diega.


"Aku juga bukan makhluk dari dunia ini." Kata Eris lalu menghilang meninggalkan Diega sendirian.


Diega sudah tentu kedua kakinya melemas, dia memegang dadanya. Sekujur tubuhnya terbenam dalam air membuat ikan-ikan menghampirinya**.


"Begitu ceritanya aku agak merasa simpati ya lalu kenapa kamu bilang single di awal perkenalan?" tanya Ekok.


Diega tertawa keras sambil menutup mulutnya. Di tempat lain, Ares yang mendengarkan siaran itu yakin kalau cerita yang dia dengar adalah kisah Pamannya. Dia berdiri dan bergegas menuju lantai bawah, lengkap dengan jaket dan kunci motor.


Ibunya sudah tentu mendengar dan menangis. Ares tidak berkata apapun. Ares lalu menghubungi Poseidon.

__ADS_1


"Yo! Ada ap..." kata Poseidon di ujung sana.


"Kita ke Radio Seram sekarang! Aku menjemputmu ya," kata Ares lalu menutup teleponnya dan keluar dengan berlari.


Poseidon lalu bersiap untuk pergi, adik perempuannya sedang berdandan untuk pergi juga. Beberapa menit Ares sampai dengan terburu-buru.


"Ada apa sih!?" Tanya Poi yang sudah rapi.


"Paman... Pamanku sudah pulang. Nih dengarkan, dia ada disini," kata Ares dengan senang.


Poi lalu mendengarkan. "Kamu yakin dia paman kamu yang telah menghilang?" Tanyanya sambil memakai helm.


"Aku yakin! Dia mengisahkan kisahnya saat bertemu dengan bibiku, Keling. Aku yakin!" Kata Ares menghentakkan pukulan tangannya ke stang motor.


"Baiklah, bro. Aku harap itu memang benar pamanmu. Bergembiralah. Lalu..." kata Poi menaiki jok belakang. Dia agak ragu untuk menceritakan apa yang dilihatnya tadi.


"Ada apa?" Tanya Ares lalu menyalakan mesin motornya.


Ares yang memiliki parah wajah mirip dengan Diego keheranan dengan yang akan diucapkan oleh teman SMAnya itu. Dia menunggu tapi Poi tidak juga mengatakan lalu segera saja dia berkendara.


"Aku akan mengikuti ceritanya menggunakan earphone," kata Poi keras.


Ares mengangguk senang. Jadi hanya itu yang ingin disampaikan oleh temannya. Ares merasa kali ini dia bisa bertemu dengan pamannya itu tapi aneh... kenapa suaranya terkesan masih muda ya?


Poseidon agak bimbang haruskah dia menceritakannya? Ada kemungkinan Ares tidak ingat dengan Eris.


"Res, kamu masih ingat dengan anak perempuan aneh di dimensi kita berasal?" Tanya Poi tiba-tiba.


Ares kemudian memberhentikan kendaraannya di pinggir. "Kenapa? Dimensi lain?" Tanya Ares.


"Jangan bertingkah bodoh," kata Poi dengan suara tegasnya.


Ares kemudian membuka helmnya dan merapihkan rambutnya. "Kamu tidak bisa ditipu ya. Memang ada apa?" Tanya Ares lalu bermaksud memakai helm lagi.


"Eris ada di sini," kata Poi memejamkan kedua matanya.


Ares terhenti. Lalu membalikkan wajahnya ke Poi. "Serius!? Eris masih hidup? Kapan kamu melihatnya? Dimana?" Tanya Ares.


"Teras rumah saat aku sedang makan cilok goang. Neskipun jauh tapi sosok yang terbang lalu menghilang sudah pasti adik angkatmu," kata Poi menatap Ares.

__ADS_1


Ares menghela nafas. "Kita bicarakan itu nanti. Sekarang yang penting, aku harus menemui pamanku itu," kata Ares lalu menyalakan mesin motornya dan menuju Radio Seram.


Bersambung ...


__ADS_2