Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
9


__ADS_3

"Tentu dong. Ini," kata Sely memberikan bedak tadi kepada Yuri sambil menahan tawa.


"Terima kasih," kata Yuri. "Ternyata Sely tidak begitu menyebalkan," pikir Yuri menerima bedak tersebut. Memang bedak itu sudah Sely tambal dengan bedaknya jadi tidak terlihat warna lain.


Saat Yuri mulai membedaki wajahnya, "Apa ini!? Sely, kok warnanya hitam sih?!" Tanya Yuri kaget dan menatap wajahnya setengah hitam.


Pura-pura Sely panik dan melihat bedaknya. "Ya ampun! Sepertinya ada seseorang yang jahil deh. Tapi cocok kok untuk adegan selanjutnya. Skenarionya Juni mati kan?" Tanya Sely lalu mencolek kan lagi bedak hitam itu ke pipi Yuri yang lain.


"Sely! Ini sih bukan pucat tapi seperti zombie! Dan kenapa kamu mencolek kan bedak itu ke pipiku yang lain?" Tanya Yuri kesal sekali baginya kejahilan Sely mengganggu.


Sely menertawakannya dan langsung menaruh bedak itu. Yuri lalu mengelap dengan tisu sebisanya namun tetap saja hitam arang itu masih ada.


"Aduh, bagaimana ini? Adegan berikutnya kan 5 menit lagi," kata Yuri cemas.


"Dicuci saja pakai air kan mudah," kata Sely dengan ringan.


"Benar juga," kata Yuri yang mengangkat baju seorang putrinya dan berjalan menuju pintu.


Setelah itu dengan sengaja, Sely menginjak ekor gaunnya dan Yuri terjatuh. Segera saja Sely menaburkan bubuk hitam itu di belakang bajunya.


"OWH!" Teriak Yuri.


"Kamu ini bisa tidak sih hati-hati saat jalan?" Tanya Isak yang membantu Yuri berdiri.


"Aduh, hari ini kok sial sekali ya," kata Yuri memegang kakinya yang agak kesakitan.


Ketua Xin lalu masuk dan membantu juga saat berjalan dia melihat sesuatu. "Yuri, tunggu!" Katanya buru-buru.


"Ada apa, Xin?" Tanya Yuri.


Xin lalu menarik bajunya. "Ini kenapa? Ya ampun! Arang. Kok bisa?" Tanya Xin dengan nada aneh.


"APA!?" Teriak Yuri agak menangis.


Dia juga melihatnya dan noda hitam itu tidak sedikit tapi banyak! Sely menghampiri dan membuang bedak itu ke belakang.

__ADS_1


"Ya ampun, Yuri! Itu noda tinta ya? Kamu kejatuhan dimana sih? Ceroboh sekali mana bajunya tidak ada yang lain," kata Sely tertawa girang.


"Bagaimana ini? Noda begini akan sulit memutihkan nya lagi. Siapa sih yang berbuat jahil begini? Mana sebentar lagi adegan Juni menusuk pedang pula," kata Xin kebingungan.


Yuri terisak-isak tidak tahu dimana dia pernah kejatuhan tinta itu.


"EHEM! Ketua, suaraku sudah baikan aku juga membuat gaun Juli. Aku saja yang menggantikan," kata Sely dengan sedih.


"Yakin kamu bisa?" Tanya Xin.


"Juni oh Juni... bagaimana bagus kan?" Tanya Sely melirik sedikit ke arah Yuri.


Xin menghela nafas di saat begini untunglah Sely selalu memperhatikan latihan. "Ya sudah, kamu menggantikan Yuri deh. Yuri, maaf ya karena bajumu tidak mungkin bisa kembali pulih, terpaksa peran kamu harus digantikan sekarang," kata Xin mengatupkan kedua tangannya.


"Ya tidak apa-apa," kata Yuri. Idak dan Ria menenangkan Yuri.


Sely lalu mengambil gaun yang dia pesan. "Bagaimana menurut kalian gaun ini? Untung kan kamu memiliki pengganti seperti aku," kata Sely tertawa keras.


Yuri menyadari sesuatu. "Kamu... kamu sengaja ya pasti kamu yang menyiapkan bedak arang itu!" Kata Yuri dengan kesal. Ria dan Isak saling mengangkat bahu dan menyimak saja.


"Sudahlah, Yuri benar apa katanya. Kamu bukan anggota klub ini. Ayo ganti baju," kata Ria agak sebal dengan tingkah Sely.


Sely terus mengejek Yuri. "Nah dengan begini, aku akan menjadi Juli di atas panggung. Benar juga ya apa kata kakak ganteng itu. Lihat saja pertunjukkan aku dari balik layar," kata Sely kemudian berdandan dan melangkah ke panggung.


Pukul enam. Sebentar lagi Thanatos akan muncul. Kamera Ria masih terus merekam dengan roll film yang otomatis berputar.


Supaya tidak terlalu mencolok perbedaan Sely dan Yuri, dengan terpaksa bagian penata rias memakaikan wig yang hampir sama dengan rambut Yuri.


Dewi Aphrodite lalu turun ke bumi dan mengubah dirinya menjadi manusia. Rambut keemasan yang dia kepang dengan cantik. Mirip Tamara Bleski yang sangat cantik itu dan memasuki aula kampus Yuri.


Thanatos sudah tentu akhirnya datang dengan wujud asli dan dengan kekuatan tak terlihatnya, menuju atas panggung.


Eris pun berdiri, menyadari kakak perempuannya benar-benar datang. Kedua matanya memandang waspada, tokonya sepi dan berubah menjadi tempat yang mengerikan. Ella berubah menjadi kertas dan Raven kabur secepat kilat.


Eris lalu mengubah cermin nya dan melihat sosok 'Yuri' di atas panggung menyebutkan kalimatnya. Tapi ada yang aneh, seperti lensa kamera Eris memperbesarkan cermin menuju wajah Sely.

__ADS_1


"Itu... bukan Yuri. Lalu kemana dia?" Tanya Eris mencari tahu.


Dalam panggung.


"Oh, Juni mengapa kamu pergi? Hidup di dunia ini tanpamu, aku akan segera menyusul mu, Juni," kata Sely yang kemudian menatap pedang kertas yang ada di samping Juni.


"Pukul 6. Kalau begitu..." kata Yuri yang ketakutan memegang tangan Isak.


"Pedangku, dadaku adalah sarung mu. Berkaratlah engkau di sini. Matikan lah aku," kata Sely melepaskan pedang itu, dia angkat lalu mengarahkannya pada dadanya.


Kamera Ria lalu menangkap sesuatu sosok yang berada di belakang Sely dan memegang pedang itu lalu menusuknya dengan keras.


"A...gh..." kata Sely yang melihat dia mengeluarkan banyak darah.


Di kejauhan Aphrodite sangat puas dan tersenyum melihat Thanatos menusuk pedang dada Sely. Kemudian dia terus duduk tanpa disadari siapapun, dia menghilang.


Thanatos lalu pergi juga melihat Dewi Aphro sudah menghilang dari tempatnya. Dia memandang sedih pada pengganti Yuri dan menghilang.


Dengan tertatih bermaksud meminta pertolongan, Sely melihat ke arah kakak yang dilihatnya masih menggunakan topeng.


"I...ni pe..da..ng sung..." kata Sely yang kehilangan darahnya kemudian ambruk si samping pemain laki-laki.


Meskipun sekarat dia memandangi Artemis yang tertawa kepadanya dan melambaikan tangan. Dengan kilatan marah akhirnya Sely pun meninggal.


"Dia benar-benar ingin memerankan Juli sampai serius begitu. Mana pakai darah bohongan," kata Xin terharu.


Yuri terkejut, dia membeku di tempatnya. Kedua tangannya menutup wajahnya. "Itu.. darah. Dia benar-benar... ketua, hentikan drama ini sekarang!" Kata Yuri yang masih syok.


Xin menatapnya keheranan. "Aduh, kamu sampai tertipu juga ya. Sely itu anaknya over tenang saja itu bukan darah sungguhan kok," kata Xin menenangkan Yuri.


"Yuri, ada apa?" Tanya Ria ketakutan.


Adrian yang mendengarnya lalu mengintip dan memeriksa pedang kertas buatannya. Kakinya lemas dan dua tangannya sama bergetar seperti Yuri.


"Adrian, kamu kenapa sih? Kalian berdua ini aneh," kata Xin.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2