Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
Cerita Artemis ( JHope )


__ADS_3

"Ya. Saat anak itu meninggalkannya dan teman aku merasa senang karena sudah dijenguk, lalu dia teringat pada sesuatu di jendela tersebut. Dia dengan cepat membalikkan kepalanya ke arah kanan, dia baru ingat bahwa ruang UKS kan berada di lantai 4. Ukuran jendela yang lain juga lumayan kecil berukuran tangan kelas 1. Sedangkan jendela dimana dia melihat anak itu menjenguk..." kata Apollo terdiam.


Punggungnya tiba-tiba merasa tidak nyaman tapi dia tidak pedulikan.


"Teman aku lalu bangkit dari kasurnya dan mendatangi jendela tersebut. Dia melihat ke arah luar dan benar saja dugaannya, lalu dia memanggil suster dan agak ketakutan," kata Apollo.


Mereka semua membuka mulut dan menahan suara.


"Itu kejadiannya dalam hari pertama kan?" Tanya Nyx dengan suara yang gugup.


Apollo mengangguk. "Ya, karena sangat panik itulah dia tidak mau tidur sendirian. Suster menemaninya sambil mengerjakan pekerjaannya. Setelah agak sehat, dia memeriksa lagi dengan berjalan keluar gedung. Dia melihat ke arah atas tempat UKS berada. Benar, tidak mungkin ada siswa yang bisa memanjat selain Spiderman," kata Apollo.


"Menyeramkan," kata Ares.


"Itulah kenapa kebanyakan orang yang sakit harus selalu ada yang menemani," kata Anemoi.


"Tidak ada beranda dan pijakan kaki jadi kan tidak mungkin dia bisa berdiri dan berbicara dengan temanku. Selesai," kata Apollo meniupkan lilinnya.


Semuanya bernafas lega meskipun level kengeriannya agak sedang.


"Lumayan juga ya," kata Poi menyeka keringat dinginnya.


"Oh ya Aiolos, hari ini kamu tidak melihat sesuatu yang aneh?" Tanya Nyx agak berbisik saat semua orang membicarakan cerita Apollo.


"Hmmm tidak ada biasanya aku selalu mudah melihat sesuatu. Kamu tahu kan," kata Aiolos menjawab berbisik juga.


Nyx menatap sekilas Eris yang tengah mengobrol dengan Arae. "Apa karena perempuan misterius itu ya?" Tanyanya ke arah Eris.


"Eris?" Tanya Aiolos yang menatapnya juga.


"Kata Ares, dia punya sebuah toko ajaib bagaimana kalau kamu coba konsultasi ke dia?" Tanya Nyx.


"Hmmm," kata Aiolos berpikir.


"Dua lagi," kata Eris dengan nada biasa.


"Kamu juga belum cerita. Benar-benar jadi yang terakhir," kata Artemis memandangi Eris dengan tatapan kagum.


"Sedari tadi aku penasaran akan sesuatu," kata Eris.


"Apa?" Tanya Mereka semua.


"Apa kalian mendengar sesuatu?" Tanya Arae tertawa.


Mereka semua diam.


"Ah! Saat Nyx bercerita aku seperti mendengar suara sesuatu yang sedang bangun," kata Apollo.


"Eh!?" Seru mereka semua.


"Aku juga mendengar langkah kaki atau yang sedang berlari di depan," tunjuk Nyx.


Mereka semua menatap ke arah depan pintu ruangan tersebut.


"Menurut kalian itu apa ya?" Tanya Arae.


"Paling juga desiran angin kalau malam kan udara semakin dingin," kata Poi.

__ADS_1


"Kalau misal di antara kalian ada roh jahat apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Eris.


"Aaah jangan bercanda," kata Artemis.


"Malam begini... memangnya ada?" Tanya Aiolos agak tegang.


GRATAK GRATAK SREEK SREEK


"Itu suara apa ya?" Tanya Ares agak menggenggam jaketnya.


"Seperti suara menyeret sesuatu," jawab Anemoi memandang sekelilingnya. Dia memepet Apollo dengan ketakutan.


"Hei, ayolah jangan bercanda. Sama sekali tidak lucu," kata Nyx mulai ketakutan juga.


"Malam ya. Ini sudah hampir jam 1 malam lho, bisa jadi..." kata Ares menatap jam di tangannya.


"Sepertinya suara itu berasal dari ruangan sebelah," kata Eris memancing.


"Ruangan sebelah? Belakangmu? Memangnya ada apa di dalam sana?" Tanya Aiolos.


Teran yang sedari tadi hanya diam, kini agak tertawa. "Mayat. Entah siapa yang meninggal," katanya.


Semuanya terdiam dan saling berpelukan seperti Teletubbies.


"Kamu banyak tahu ya Teran," kata Eris dengan nada mencurigakan.


"Kan aku sudah bertanya pada biksu," kata Teran tersenyum.


"Apa benar kamu sudah bertanya?" Tanya Arae menatap tajam pada Teran.


Beberapa orang memandang Eris dan Arae dengan aneh namun mereka di kenal sebagai gadis misterius. Apalagi tampaknya bisa melihat sesuatu juga.


"Oh ya apa mayat itu sudah dimandikan dan dibacakan doa?" Tanya Nyx.


"Sepertinya belum," kata Eris.


"Apa tidak ada yang menemani mayat itu?" Tanya Poi.


"Hanya mayat," jawab Eris dengan tenang.


Semua agak menegang setelah mendengar jawaban Eris, mereka sengaja hening dan memang ada beberapa suara yang aneh keluar.


"Anu, apa mayat itu termasuk dengan peserta 10 kisah seram?" Tanya Anemoi dengan suara mencicit.


"Iya," jawab Eris.


Wajah mereka semua langsung memucat.


"Bagaimana caranya mayat bisa bercerita?" Tanya Nyx.


"Kalian akan tahu kisahnya nanti," kata Arae tersenyum dengan misteri.


"Aku yang selanjutnya nih. Aku akan menceritakan sesuatu yang sedang terjadi baru-baru ini," kata Artemis. Wajahnya mengungkapkan dirinya yang asli, berpura-pura ketakutan namun sebenarnya ada sesuatu.


Eris menatap Artemis dengan curiga ada kemungkinan kakaknya kolaborasi dengan Artemis. Tapi Artemis tidak memancarkan aura yang aneh, hanya saja kadang senang mencari masalah.


"Syukurlah sebentar lagi acara ini selesai bukan?" Tanya Ares.

__ADS_1


"Sepertinya inilah kenapa teman-teman kita tidak ada yang mengambil judul menyeramkan," kata Poi agak menyesal.


Ares hanya memijat kepalanya menyesal telah membuat judul tugas sekolah.


"Teruskan saja," kata Eris.


"Kejadian baru? Kapan?" Tanya Nyx agak merasa tidak enak.


"Saat aku dalam perjalanan pulang dari kantor, aku bertemu dengan banyak polisi dan kerumunan juga. Mungkin kalian tidak mendengarnya karena memang baru. Ada kecelakaan maut antara bis dan seorang tentara. Di daerah B kok," kata Artemis memandangi mereka.


"Hah!?" Seru semua.


"Apa sudah ada beritanya?" Tanya Ares agak was-was. Daerah B hampir dekat dengan rumahnya.


"Belum sepertinya tapi pasti akan ada kabarnya. Lalu karena penasaran aku bertanya pada orang apa yang sudah terjadi. Mereka berkata, 'tentara itu ditabrak bis sampai badan serta lainnya terpisah,' aku tidak bisa melihat tapi genangan darah sudah banjir," kata Artemis.


"HUWAAAAA!!" Teriak Nyx, Aiolos, Anemoi dan Apollo.


"Hei, jangan sampai kalian membayangkannya!" Kata Poi agak panik. Kenapa Artemis harus menceritakan soal itu sih?


"Lalu sekarang, mereka masih berusaha mencari bagian tubuh yang hilang itu. Untuk yang lainnya sudah berhasil mereka temukan. Beberapa jam aku dengar kabar dari teman-teman, semuanya sudah berhasil mereka temukan dan mengirimkan mayat tersebut ke suatu tempat," kata Artemis dengan tawa mencurigakan.


"Kemana?" Tanya mereka serempak.


Lalu tiba-tiba lilin-lilin yang sudah mati kembali menyala. Mereka semua panik dan heboh melihatnya. Lilin lalu mati kembali dan Eris masih terduduk meskipun air dalam wadah kini dengan hentakan keras keluar.


Apollo kaget dan mendengar desis an suara dari semua lilin. Asap putih keluar entah dari mana membuat Anemoi berdiri ketakutan.


"Ayo kita sudahi saja. Kita keluar! Aku merasakan tanda bahaya," kata Anemoi yang memegangi tangan Poi ketakutan sekali.


Yang lainnya bergegas berdiri, garam yang ada di sekitar mereka kini berubah mencair seperti air.


"Tidak ada yang boleh keluar dari ruangan ini," kata Eris dengan tegas.


"Kenapaaaa!?" Seru mereka semua yang sudah semakin panik.


"Kalian lupa bahwa giliran kami belum," kata Arae menyilang kan kedua tangannya.


7 manusia tersebut sangat putus asa terlihat dari tatapan mereka. Sebagian mulai menangis karena takut melihat keadaan lilin yang terus mati menyala.


Teran hanya diam di tempatnya tidak ada lagi garam yang mengelilinginya, semuanya menghilang begitu saja. Sedangkan dalam lingkaran mereka masih terdapat bekas berwarna hijau.


"Garam dari kamu itu untuk apa?" Tanya Aiolos panik. Dia melihat garam putih itu meninggalkan bekas berwarna hijau terang.


"Pelindung. Garam yang aku bawa sengaja aku letakkan agar warna pelindung itu menempel. Selama kegiatan ini masih berlangsung, kalian tidak akan ada yang bisa keluar. Pelindung itu termasuk 10 lilin serta air dari 4 arah," jelas Eris.


Arae menatap wadah air yang bergejolak. "Tapi Eris, airnya sudah banyak yang keluar bukankah ini artinya mereka harus bersiap?" Tanya Arae memandangi Eris.


"Bersiap untuk apa?" Tanya Apollo.


"Hunting," kata Arae.


Mereka semua terkejut dan saling bertatapan. Kenapa kegiatan bercerita menjadi petualangan?


"Coba saja kalian keluar, kalian akan kembali lagi ke dalam ruangan ini," kata Eris. Namun tidak ada yang berani mencobanya bahkan Ares sekalipun. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali duduk meski urutannya sudah tidak beraturan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2