
"Anda ini yang siapa? Kalau aku menghalangi katakan saja tidak perlu membentak," kata Aiolos yang kedua telinganya berdengung mendengar suara teriakan wanita itu.
Kemudian wanita tersebut berlari dengan cepat ke arahnya dan berdiri di depan Eria sambil membentangkan kedua tangannya dengan marah.
"KAMU MAU APA!? MAU AMBIL ANAK INI YA KAN!? SAYA INI IBUNYA!!" Teriaknya sambil melihat Aiolos dengan amarah.
"Oh, Anda Ibunya. Tidak, saya tidak punya niat begitu. Saya hanya..." kata Aiolos yang kemudian memberikan hormat kepada ibu Eria dengan sopan.
"Jangan bohong ya kamu! Kamu pasti melihat anak ini dari TV kan," kata Ibunya tidak percaya.
"TV? Ahhh ya itu..." kata Aiolos berusaha menjelaskan.
"Apa kamu tidak tahu bahwa dia memiliki kekuatan yang dapat melihat hal mistis? Banyak orang yang iri dan hendak menculiknya. Saya tidak akan biarkan itu termasuk KAMU!" Kata ibunya menunjuk ke arah wajah Aiolos.
Aiolos masih bisa menahan rasa kesalnya pada orang tua Eria, yang terus mengeluarkan suara teriakan.
"Saya tahu itu. Tapi..." kata Aiolos menaruh bawaannya.
"Jadi kamu sudah tahu semuanya kan. LALU APA? MAU MINTA TANDA TANGANNYA? Dia tidak boleh menyentuh apapun termasuk pulpen dan kertas yang kotor!" Seru ibunya yang masih merasa Aiolos adalah ancaman.
Beberapa orang yang lewat, diam-diam berbisik dan juga hanya memandang ketus pada ibunya.
Eria bisa dengar apa yang mereka katakan dalam hatinya.
"*Itu kan ibunya Eria yang senang teriak-teriak,"
"Kasihan sekali anak itu memiliki ibu yang mata duitan,"
"Kenapa sih ibu ini berteriak lantang seperti itu? Apa tidak malu*?"
Eria hanya tertunduk. "Ibu!" Katanya berusaha menjelaskan.
"Kalau soal itu tanganku sudah ku cuci bersih menggunakan sabun. Lagipula bila ingin tanda tangannya juga sudah kulakukan sedari tadi kan. Anda harap tenang dulu, saya bukan orang jahat," kata Aiolos.
"Tenang? MANA BISA AKU TENANG! Setiap hari kamu pikir berapa banyak orang yang bicara padaku bahwa aku tidak seharusnya tinggal bersama anak ini!" Kata Ibunya.
"Begitu masalahnya mungkin karena Anda sebagai ibu terlalu ketat memiliki aturan," kata Aiolos dengan sikap tenangnya.
"KETAT!? Itu semua tentu untuk dia! Bila terjadi sesuatu pada dia, kamu mau bagaimana? Kamu bisa bertanggung jawab seperti apa!? Anak ini harganya mahal tahu!" Teriak Ibunya membuat Aiolos dan Eria kaget mendengarnya.
"Anda... tidak sepatutnya berkata begitu," kata Aiolos wajahnya mulai tidak ramah.
Ibunya terdiam agak melirik Eria yang menunduk. "Emmm bukan begitu maksudnya," katanya.
"Aku mengerti Eria sangat penting bagi Anda tapi saya disini bukan untuk melakukan niat jahat. Dan masa Anda tega menjual anak sendiri ke orang hanya karena berbeda? Anda ibunya kan apa sulit menyebutkan nama anak sendiri?" Tanya Aiolos.
"Itu bukan urusan kamu," kata Ibunya menatap sengit pada Aiolos.
Aiolos merasakan tanda bahaya namun melihat Eria yang pastinya sedih, dia bertahan. "Anda juga sedari tadi memanggilnya "Anak ini" kenapa enggan memanggil namanya? Masa iya Anda menganggap Eria hanya sebagai buntelan uang? Terlalu!" Kata Aiolos dengan nada kesal.
Ibunya menatap pada Aiolos dengan sangat marah lalu menatap Eria dengan wajah yang TERPAKSA kalem.
__ADS_1
"Ya ampun, beginilah kenapa aku tidak suka kalau kamu keluar rumah meski hanya sekedar jalan-jalan," kata ibunya berjongkok tapi enggan memegang anaknya.
"Ibu, hentikan! Kakak itu dan aku hanya mengobrol saja," kata Eria menatap Ibunya.
Ibunya menggelengkan kepala lalu berdiri dan berbalik memandangi Aiolos. "Benar seharusnya Ibu mengurung kamu di rumah. Banyak orang yang pastinya mengira kamu ini anak gila! Tapi aku tidak bisa melakukan apapun lagi kalau kamu jauh dari rumah. Tempat ini kan akan jadi tempat syuting kamu nanti sore," jelas ibunya.
"Mengurung!? Itu bahkan lebih keterlaluan. Yang benar saja," kata Aiolos marah pada Ibunya Eria.
"Aku... gila?" Tanya Eria dengan kedua matanya yang menyorotkan kesedihan. Tidak menyangka Ibunya akan mengatakan hal yang tabu untuk didengarkan olehnya.
Aiolos tidak habis pikir bagaimana bisa seorang Ibu mengatakan hal tabu di depan anaknya sendiri. Aiolos sangat sedih melihat Eria yang tampak ingin menangis. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Saya setuju dengan pemikiran banyak orang tentang Anda. Anda seharusnya tidak tinggal dengan Eria! Bagaimana bisa Anda setega itu mengatakan di depan Eria!" Kata Aiolos yang agak marah.
"Ibu," kata Eria menahan sakitnya yang menggapai tangan Ibunya sendiri.
Ibunya menyadari ada getaran lalu menatap tangan Eria ke tangannya dan dihempaskan begitu saja, sambil mundur.
"Eh? Ada apa sayang?" Tanya Ibunya dengan wajah terpaksa lalu tersenyum.
Eria menatap tangan ibunya, dia pegang begitu saja tampaknya Ibunya pun ketakutan kepadanya.
Eria menatap tangannya. "Jangan berisik di taman ini," kata Eria. Sambil menatap tangan ibunya.
"Oh! Ibu hanya ingin agar orang-orang termasuk kakak ini tidak melukai kamu saja," kata Ibunya.
"Apa Anda tidak sadar yang jelas-jelas telah menyakiti perasaan anak sendiri," kata Aiolos.
Aiolos kesal, sedih dan marah bercampur menjadi satu memandangi Eria yang masih menatapnya.
Eria melewati Aiolos, "Maaf ya kak. Tapi kakak dan aku sama bukan?" Tanya Eria.
Aiolos terdiam, kaget. Apa Eria tahu kalau dirinya juga sama dengannya? "Bagaimana kamu," katanya namun Eria sudah melangkah pergi.
Ibunya menyusul berlari lalu berjalan di samping Eria dan memandangi tajam ke arah Aiolos lalu berlalu. Aiolos menghela nafas lalu mengambil belanjaannya, dia kembali termenung lalu menatap pohon besar itu.
Ada sesosok perempuan cantik yang menangis di dahan yang besar, dengan bajunya yang menjuntai panjang.
Nyx lewat dan melihat Aiolos lalu bermaksud mengagetkan. Dilihatnya Aiolos ke arah pohon, dia gemetaran. "Kamu sedang apa disini?' Tanyanya.
"Nyx, dari mana kamu?" Tanya Aiolos tersenyum.
"Habis beli selotip. Yuk, Ibuku menunggu di rumah," kata Nyx membawakan beberapa belanjaan Aiolos.
Mereka mengobrol selama di perjalanan.
"Tadi aku bertemu anal yang mirip dengan Eris," kata Aiolos sambil memperhatikan jalan.
"Apa!? Dimana? Jangan-jangan di taman tadi?" Tanya Nyx terkejut. Wah, dia sampai penasaran semirip apakah dengan gadis aneh itu.
Aiolos mengangguk raut wajahnya terlihat sedih, Nyx tahu pasti ada yang tidak beres dengan anak itu.
__ADS_1
"Anak itu sudah pulang dengan ibunya yang super protektif. Apa kamu tahu acara Exorsist?" Tanya Aiolos yang ternyata dia sama sekali tidak tahu ada acara macam itu.
"Exorsist? Tentu saja! Itu acara favorit keluarga aku. Jadi... anak yang mirip Eris itu... dari sana?" Tanya Nyx menganga.
"Iya," jawab Aiolos.
"KEREEEEN!! Aku juga mau bertemu anak itu! Kapan kalian akan bertemu lagi?" Tanya Nyx antusias.
"Entahlah, dari wajahnya tampaknya tidak lama lagi akan bertemu. Kapan saja acara itu tayang?" Tanya Aiolos.
"Malam ini! Mau nonton bersama di rumahku?" Tanya Nyx semangat.
Aiolos mengangguk lalu mereka bersama ke rumah Aiolos dan menaruh semua belanjaannya.
Di tempat lain Yuri dan Raven masih terus mencari dari setiap pelosok wilayah sampai kota lain. Nihil.
Arae juga sama meskipun mencari melalui cermin, tetap saja tidak ada. "Sepertinya kekuatannya ada yang bisa membuat dirinya terhalangi oleh kekuatanku," gumam Arae.
Raven yang mencari lewat udara pun gagal, apalagi Yuri. Kemudian mereka pulang dengan tangan kosong. Raven terduduk sedih di jendela Yuri dan Yuri juga lesu.
"Yuri!" Seru Arae yang tiba di depan teras kamarnya.
Yuri kaget bergegas ke depan kamarnya dan melihat Arae. "Arae!" Serunya memeluk.
"Nona!" Kata Raven yang terbang mengitarinya.
"Raven," kata Arae agak menangis.
Kemudian mereka bertiga berada di dalam kamar Yuri sambil disediakan makanan dan minuman. Arae memakannya dan sangat senang melihat mereka berdua sehat.
"Kalian sepertinya mencari anak mirip Eris," kata Arae meminum limun.
"Iya tentu saja. Bagaimana keadaan Eris?" Tanya Yuri cemas.
Arae menatap Yuri menurutnya penampilan Yuri kini mulai berubah tentu saja, Yuri adalah seorang manusia dan mereka kembali di waktunya. Yuri mulai terlihat lebih dewasa, kedua pipinya agak gembul dan masih cantik.
Arae tidak menjawab pertanyaan Yuri, dia juga agak ketakutan dan sangat sedih melihat keadaan Eris tadi.
"Nona, apa Nona Eris masih..." kata Raven agak tercekat.
"Masih hidup tenang saja tapi..." kata Arae lalu menangis.
Yuri menenangkannya, menepuk bahunya yang juga ikut ketakutan.
"Kalau semakin lama keadaannya tidak berubah, Eris kemungkinan besar akan menghilang," kata Arae.
"Ini gawat. Setelah diketemukan, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Yuri.
"Aku bermaksud membunuhnya tapi Eris tidak mau. Katanya aku cukup membawa anak itu ke hadapannya," kata Arae menyeka air matanya.
Bersambung ...
__ADS_1