
"Kami berdiskusi merasakan sesuatu yang aneh, saat ketiga peserta akan menghilang dari wajahnya tidak terkesan terkejut atau panik," kata Eris.
"Bukannya itu wajar karena memang banyak yang menghilang secara misterius," kata Sani.
"Tetap saja kita tidak boleh lengah. Coba kalian ingat kembali kapan vila ini dibangun, saat sang seleb tersebut berusia empat tahun sampai dua puluh kan," kata Mila membuat semuanya berpikir.
"Benar. Seharusnya beberapa tajun terlewati tidak mungkin Yoshi..." kata Sisna terhenti.
Mereka terkejut berpandangan. Seharusnya penampakannya tidak sesegar sekarang atau bahkan muda.
"Iya tidak mungkin perawakan dia .asih tetap sama. Penampilannya yang sekarang mungkin di usianya yang ke-34," kata Yuri.
"Lalu siapa yang membuat makanan? Merapihkan meja dan.." kata Sani ketakutan.
"Semuanya asli memang aneh sih. Dan pelakunya sengaja membuat kita semua nyaman. Makanan bisa mereka pesan lewat katering kan. Pernah kalian semua melihat pelayan masak?" Tanya Eris.
"Tidak ada. Aromanya juga!" Kata Iran mengingatkan.
"Kita dibuat terhipnotis secara masal," kata Rio geram.
Kecuali Eris.
"Setidaknya hidung kita masih berfungsi, dapat menangkap aroma dari makanan yang dibuat. Setidaknya itu makanan yang asli," kata Rika agak lega.
"Supaya kita gemuk, kekenyangan meski lari pun dengan mudah mereka menangkap," kata Key membuat yang lainnya terdiam.
"Para pelayan kemungkinan sudah tidak ada kali ini," kata Chris.
Rio menunjuk ke sesuatu yang ada di belakang zombie itu. Mereka semua mendekat dan terkejut.
"Mereka... para pelayan!" Teriak para perempuan histeris.
"Jangan-jangan mereka," kata Yuri.
"Kemungkinan besar yang kita panggil dan menulis adalah mereka. Yang ikut datang bersama Yoshi juga," jelas Sisna mengerti.
"Ada yang berbeda," kata Chris yakin.
"Soal menulis di kertas kita sudah tahu pelakunya. Sisanya?" Tanya Mila.
Eris tidak ikut menjawab tampaknya Sisna pun bisa melihat perbedaannya. Bukan roh sembarangan tapi mungkin keluarga yang terbunuh.
"Aku melihat sosok yang menulis itu telah tidak ada untuk waktu yang lama. Sepertinya ada seseorang yang terlebih dahulu melakukan pembersihan," kata Sisna melirik Eris.
Yuri lega mereka masih tidak tahu identitas Eris dan tetap berpikir seorang Onmyouji. Chris bertepuk tangan pada Eris.
"Bisakah kau jelaskan caramu melakukan pembersihan? Karena aku yakin berbeda," kata Chris.
"Rahasia," jawab Eris.
"Wah," kata Rio namun tidak Mila dan Sisna menurut mereka Eris agak aneh.
Ares juga penasaran tapi yang dia tahu memang tokonya pun misterius, bisa hadir dimana saja. Sedikitnya Ares tahu Eris bukan manusia sembarangan.
"Tapi kenapa sekarang kita bisa melihat mereka semua?" Tanya Fuji.
"Mereka tersegel di rumah ini dan tahu kita sudah mencurigai Yoshi dan lainnya," kata Chris.
"Tersegel?" Tanya mereka.
"Tampaknya ada seseorang yang mengendalikan mereka semua selama beberapa dekade. Selama ini apa ada yang pernah mendengar mereka bicara atau memberitahukan sesuatu?" Tanya Chris.
Mereka bertanya dan menggeleng.
"Mereka bergerak seirama dan hanya Yoshi yang bisa berbicara. Tapi masalahnya kalau dia memang manusia, bagaimana caranya bisa tetap sama? Dari tahun ke tahun," kata Panca.
"Apa dia vampir?" Tanya Iran.
"Bukan. Yoshi hanya kaki tangan seseorang sudah tentu seleb itu," kata Chris.
Mereka tidak menyangka bahwa benar ada seleb yang sampai menggunakan pesugihan aneh-aneh. Zombie pula.
"Benar juga. Pesugihan sekarang keren ya bukan pakai jin atau hantu, langsung level tinggi," kata Sani.
"Lama-lama vampir atau manusia serigala juga deh," kata para perempuan tertawa.
Di saat kritis begini, yang bisa menenangkan perasaan tegang hanyalah bercanda. Namun hanya sesaat, selebihnya mereka hanya berpikir untuk pulang.
"Masih ada yang lain kan?" Tanya Ares.
Mereka memutar kembali penampakan terlihat saat zombie tersebut menyeret badan Taro yang sudah seperti boneka. Mereka semua enggan melihatnya hanya para lelaki yang masih berani.
__ADS_1
Yang mereka kejutkan adalah.. kepala zombie itu dicopot begitu saja.
"Kalian harus melihat ini!" Kata Rio.
Ternyata itu hanyalah sebuah kostum! Dengan jelas mereka melihat orang tersebut melepaskan kostum zombie yang besar.
"Itu kostum? Bagaimana mungkin," kata Rika gemetaran.
"Bagian itu," bisik Eris kaget. Tangan yang dia bakar bersama Arae sama sekali tidak terlihat cacat.
"Jadi dia memiliki.banyak kostum pantas bagian tangan yang aku bakar tidak ada," kata Arae dalam benak Eris.
"Yuna!! ITU PELAKUNYA!!" Teriak Fuji kaget.
Yuna adalah seleb yang dikabarkan sebagai pembunuh berantai. Tampak jelas dia tersenyum mengerikan dan membawa Taro ke suatu tempat.
"Dimana Yoshi?" Tanya yang lain.
"Mungkin sudah dihabisi karena kata Yoshi hari ini waktu terakhir dia kan," kata Key.
"Apa-apaan dia!? Kalian lihat wajahnya? Sama sekali tidak ada rasa menyesal atau bersalah setelah dia membunuh banyak orang! Apa dia sejak kecil psikopat?!" Tanya Fuji.
Eris juga sangat marah, mereka dikelabui. Yoshi masih ada namun wajahnya agak kurus.
"Itu Yoshi!" Kata Chris memperbesar.
"Sekarang giliran mu. Lakukan bila ingin hidup, masih banyak mangsa yang tersisa. Kamu harus mematuhi ku," kata Yuna memberikan gergaji listrik pada pelayannya.
Yoshi memandangi sendu Taro yang sudah tidak bernyawa. Dalam sekali gerakan, semua tubuhnya terpotong.
"HUAAAAA!!" Teriak yang lain.
Tampilan berakhir begitu saja menyisakan mereka yang ketakutan. Kedua tangan Chris dan yang lain pun berkeringat.
Mereka membaca dan ternyata penyimpangan Yuna memang sudah ada sejak usia empat tahun, di usia tersebut dia banyak membunuh orang.
Termasuk para pelayan rumahnya hanya sebagai bahan percobaan. Tapi yang Eris lihat ada sosok yang tertawa sedangkan Yuna sendiri...
"Kenapa dia melakukan itu?" Tanya Yuri menangis.
"Kepuasan membunuh," kata Eris.
"Kepuasan? Jadi hobi?" Tanya Sani.
Kenapa Ayahnya membangun rumah menjadi berlipat-lipat untuk membuat kurungan bagi anaknya agar tidak bisa membunuh.
Yang mengeluarkannya karena kasihan, adalah Yoshi. Mungkin dia bersumpah akan selalu menemani dan setia," Eris menjelaskan.
"Dan mereka meneruskan pembunuhan dengan memancing orang-orang menantang maut di sini?" Tanya Sani.
"Jadi itu sebabnya tidak ada yang berhasil keluar," kata Dani menyesal tidak mendengar apa kata temannya.
"Kita harus keluar," kata Yuri.
"Masih ada yang jadi pertanyaan bagaimana cara dia menculik saat siang?" Tanya Sisna.
Mereka terdiam termasuk Eris.
"Kita tidak mungkin serentak keluar," kata Dani.
"Kita bertahap dan berharap semuanya baik-baik saja. Alasannya katakan tidak sanggup dan memilih pulang," kata Rio.
"Apa kita alan berhasil?" Tanya Sani takut.
"Semoga meski kemungkinannya kecil," kata Mila.
Yogi, Rika, Fuji dan Sani yang akan keluar duluan. Eris menahan mereka, dia tidak bisa memastikan akan selamat.
"Bila kemungkinan besar kalian diserang, usahakan kembali pada kami," kata Eris.
Mereka menangis dan meminta doa agar lancar. Mereka juga sudah siap bila harus berakhir mati.
Yoshi benar saja datang dengan wajah yang berbeda. Mereka sudah tahu dan tidak banyak bertanya. Yoshi pun hanya terdiam.
"Kami ingin pulang sangat merindukan rumah," kata Fuji memegang Rika.
"Sayang sekali kukira kalian pejuang tangguh. Mari saya antar menuju bis," kata Yoshi dengan suara datar.
Tidak ada yang membalas Yoshi pun tampak tidak tertarik. Mereka diantarkan menaiki bis yang sudah ada.
Mereka pergi dan lega, Chris bersiap untuk kloter kedua.
__ADS_1
"Yuri, Dani, Kei dan Panca kalian bersiaplah. Ciptakan adegan paling panas agar dia bisa melihat kalian bubar," kata Rio.
"Aku tidak mau pergi! Aku ingin keluar bersama Eris," kata Yuri menolak.
"Di sini berbahaya. Pulanglah kamu bisa kembali ke keluarga atau toko," kata Ares.
"Tidak! Aku menolak. Aku datang bersama kalian, aku juga harus pulang bersama kalian!" Kata Yuri.
"Biar aku saja yang gantikan," kata Ares paham.
"Baiklah, sobat setelah sampai kirimkan bantuan," kata Chris menyalaminya.
"Oke," dan mereka berempat pun keluar.. Yoshi lagi-lagi tak menampakkan wajah heran. Mereka tahu Yoshi sudah tidak ada.
Yang ada bersama mereka kemungkinan hanya mayat yang digerakkan oleh sesuatu.
Malam hari tiba, makanan masih sama terlihat meski jumlah peserta semakin sedikit. Yoshi memandangi mereka tanpa ekspresi.
Eris dan Mila membaca buku, Sisna melafalkan sesuatu mantra. Chris dengan sengaja menyentuh kemeja Yoshi dengan air suci.
Asap mengepul dan dia terkejut, beberapa orang hanya terdiam. Yoshi tidak berteriak meskipun asap itu semakin banyak.
"Chris," kata Sisna.
"Mayat hidup," kata Chris dengan sedih.
Eris mendatangi Yoshi yang membereskan peralatan. Dia memberikan pil sesuatu dan Yoshi tidak terkejut.
"Lari."
Itu yang Yoshi katakan lalu pergi, Eris memasukkannya dengan kilat ke dalam saku.
"Apa yang kamu berikan?" Tanya Mila.
"Obat pelarut," kata Eris membuat Mila keheranan.
Di sisi lain gerakan Yoshi semakin aneh, dia teringat apa yang Eris berikan. Dengan tenaga tersisa, dia ambil dan memakannya.
Sekejap tubuhnya mengempis dan dia menghembuskan nafas terakhir. Yuna memanggil namanya tapi mayat hidup itu sudah menjadi debu.
Malam pukul sepuluh, Eris agak gelisah. Yang lainnya pun sama tidak ada kabar sama sekali. Ada apa?
"Arae tidak biasanya," kata Eris menatap jendela.
Saat semua hendak tidur, Eris merasakan kehadiran. Dia terkejut, memandangi bola arwah yang mendatanginya.
Sisna yang bisa melihatnya pun terkejut, memandangi Eris yang sama terkejutnya.
"Siapa? Siapa itu, Eris?" Tanya Sisna membuat yang lain kaget dan bangun.
Eris berbalik, kedua mata dan wajahnya sendu. Eris menutup dan membuka kembali tangannya. Rika hadir dengan senyum.
Mereka semua menutup mulut, Chris dan Rio nampak lemas. Namun Rika tidak menunjukkan penyesalan.
"Rikaaaa!!" Teriak Sani dan Fuji menangis.
Kalau kalian begini, berarti memang aku sudah mati. Syukurlah.
Mereka menatapnya dan tersenyum namun sangat sakit sekali.
"Yang lainnya bagaimana? Apa yang terjadi?" Tanya Chris mendekati.
Semua selamat jangan cemas hanya aku yang tidak. Monster itu mengejar bis kami entah bagaimana caranya.
"Apa.. Apa mereka memiliki jalan pintas?" Tanya Rio.
"Kita tidak memperhitungkan soal ini..Seharusnya kita menahan Yoshi," kata Chris menyesal.
Tidak! Ini sudah tepat. Jangan cemas aku senang sudah menyelamatkan yang lainnya. Sebelum aku pergi, monster itu ada dua orang.
"Dua!?" Teriak mereka.
Ya. Ketiganya bersembunyi kumohon cepat tolong mereka. Ada perempuan yang menolong tapi dia juga terluka!
Eris sadar siapakah perempuan itu, itukah sebabnya Arae tidak datang? Yuri juga menyadari Arae dalam bahaya dan terluka parah.
"Sebutkan ciri-ciri yang menolong kalian," kata Sisna. Dalam penglihatannya memang ada gadis memakai pakaian mini dengan ekor segitiga.
Ber...duk..
"Sudah waktunya dia harus pergi. Dia... Ada yang datang lagi," kata Eris terdiam.
__ADS_1
Chris dan Rio samar-samar melihat Rika memperagakan sesuatu. Bertanduk? Mereka terdiam lalu melihat Sisna menangis.
Bersambung ...