Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
JANGAN BERBOHONG!


__ADS_3

...Onmyoji - Shiranui Theme...


...This is my darkness...


...Nothing anyone says can console me...


...Despair & Hope......


...Light & Dark......


...Happy & Sad......


...Hard & Easy......


...Kind & Evil......


...Fall & Rise......


...Near & Far......


...Group & Individual......


...Maybe it's not about the happy ending...


...Maybe it's about the story...


Baju episode ini :



"HOAAAAAMMMM," suara yang dikeluarkan oleh Arae dia lalu menatap isi toko yang sepi.


"Kenapa? Bosan ya?" Tanya Eris sambil meramu sesuatu.


"Iyalah kan biasanya toko kamu banyak pengunjung tapi hari ini.. HOAAAAAM membosankan," katanya dengan lemas.


"Selamat datang," ucap Ella di kejauhan. Arae lalu bangkit dengan semangat, Eris masih saja menumbuk sesuatu.


Masuklah seorang gadis remaja sekitar usia kuliahan. Dia melihat sekelilingnya lalu tersenyum. Beberapa temannya juga ikut masuk dan memandang sekitarnya dengan takjub.


Mereka kemudian menyebar mencari sesuatu yang mereka masing-masing butuhkan. Arae menantikan pembeli yang akan datang ke kasir namun siapa yang menduga, Mereka melihat seseorang yang mereka kenal. Yuri!


"Eris," bisik Arae kepadanya.


"Aku tahu. Diam lah lakukan saja tugasmu," kata Eris tanpa melihat siapa yang datang ke dalam tokonya.


Arae mengangguk, kesannya dia merindukan kehadiran Yuri. Mereka melihatnya sudah tumbuh menjadi remaja yang cantik. Arae menyayangkan Eris telah menghapus ingatannya.


Eris menghampiri Yuri, bersikap seperti biasanya. Entah apa Yuri akan mengenalnya karena penampakannya kini berbeda.


"Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Eris berdiri di hadapan Yuri.


Yuri memandanginya lalu tersenyum. "Aku kemari ikut dengan teman-temanku, katanya ada toko ajaib di sekitar sini," kata Yuri dengan suara yang telah berubah. Dewasa tapi juga lembut.


"Silakan," kata Eris.


Arae agak canggung, sedihnya Yuri tidak mengenali mereka lagi.


Teman-temannya membeli set teko, lalu berbagai macam sabun mandi dan dia sendiri tidak membeli apapun. Yuri hanya melihat sekelilingnya, dalam seragam berlengan panjang, gelang permata masih tergantung di tangan kanannya.

__ADS_1


"Yuri, kita mau ke kedai es pisang hijau, kamu mau ikut kan?" Tanya salah satu temannya.


"Hmmm aku masih ada keperluan di toko ini, kalian duluan saja," kata Yuri.


Mereka berpisah dengan dirinya yang masih ada di dalam toko.


"Ada yang kamu butuhkan? Kami punya sebotol bubuk biru yang bisa membuatmu..." kata Arae menawarinya produk baru.


Yuri yang kemudian pandangan wajahnya berubah langsung memeluk Arae.


"ARAE! Aku masih ingat kamu! Raven, Ella dan juga... Eris!" Peluk Yuri tiba-tiba.


Ella terharu sekali dirinya diingat oleh manusia.bernama Yuri. Dan menyambutnya yang telah datang.


Arae kaget dan menangis lalu memeluknya. Arae merindukan semua makanan buatan Yuri yang enak!


"Yuri! Kamu sudah besar ya tapi kenapa kamu bisa ingat kami? Bukankah Eris sudah..." kata Arae memandangi Eris yang merapihkan rambutnya.


Eris juga sama terkejutnya dengan semuanya, tidak mungkin sihirnya akan gagal kecuali...


"Aku tidak tahu waktu kalian mengembalikan aku, memang aku tidak ingat kalian tapi suatu hari saat malam kemunculan meteorit, tiba-tiba gelang ini bersinar. Lihat," kata Yuri menunjukkannya pada mereka semua.


Eris menghampiri Yuri dan otomatis gelang itu terlepas dari pergelangan tangan Yuri. "Kamu... sebelum aku menghapus ingatan, apa kamu mengucapkan keinginan terdalam?"


Yuri mengingat hal itu karena masih belum ingin berpisah dengan mereka. "Iya! Aku harap bisa bertemu dengan kalian lagi. Aku senang itu terkabul,"


NB :


Kemunculan hujan meteorit tidak ada kaitannya dengan pengabulan permintaan. Kisah ini hanya fiksi belaka. Meminta keinginan harus dengan berdoa yang baik dan benar.


Setelah itu Yuri memeluk Eris yang sudah tumbuh menjadi gadis sekitar anak SMP.


"Kenapa kamu menangis segala?" Tanya Eris dengan suara datarnya.


"Hahaha karena akhirnya kamu bisa tumbuh juga Eris, aku pikir badanmu akan selamanya mengecil," kata Yuri menghapus air matanya.


"Hahaha! Eris itu seperti Shinichi Kudo yang mengecil akibat obat Apotek," kata Arae tertawa keras.


"APTX 4869 atau bisa disebut Apotoksin," jawab Yuri dan Eris bersamaan.


Mereka berdua berhenti dan Yuri gemas sekali pada Eris sekarang terlihat betapa cantiknya Eris.


"Ya itu kan sebutannya kalau di pleset kan," kata Arae tidak mau tahu.


"Aku ingin bekerja lagi di toko ini. Mohon ijinkan," kata Yuri penuh harap.


"Tentu saja aku ijinkan," kata Arae menyambut dengan senang hati tanpa menunggu jawaban dari Eris.


Eris hanya diam menatap Arae yang selalu seenaknya tapi Eris juga tidak mengatakan rasa tidak setujunya.


Akhirnya besok Yuri datang lagi dengan Eris yang menghentikan waktu di dunia Yuri. Meskipun dirinya sementara waktu ambil cuti, tugas kuliah masih terus berjalan terkadang Eris memundurkan waktu supaya Yuri tidak tertinggal pelajaran.


"Kita akan kemana?" Tanya Yuri yang hari itu mulai bekerja.


"Untuk saat ini, kita belum pindah," kata Eris.


Yuri mengerti dan bekerja seperti biasanya. Dia menunggu waktu untuk mengikuti perjalanan waktu bersama Eris.


"Ibumu tidak akan marah?" Tanya Eris menatap Yuri yang mengelap lemari.

__ADS_1


"Tidak. Beliau berkata sekarang aku sudah dewasa bila nanti aku mau bekerja sambilan ibu membebaskan. Termasuk bila aku bertemu kalian lagi," kata Yuri dengan ceria.


"Kamu masih dengan Suga?" Tanya Raven membantu membersihkan lantai toko.


Yuri berhenti bekerja, dia melipat lap di tangannya. "Suga kecelakaan," kata Yuri.


Arae, Eris dan Raven terkejut mendengarnya.


"Kapan?" Tanya Arae.


"Sudah lama sih, sewaktu kami putus dua Minggu lalu dia bersama dengan pacar barunya. Tibs-tiba sepeda motor menabrak mereka saat sedang berjalan," kata Yuri mengenang waktu itu.


"Sayang sekali," kata Eris.


"Jangan cemas, aku sekarang sedang fokus kuliah dan bekerja lagi. Aku kerja di sini pasti dibayar kan?" Tanya Yuri.


"Tentu," kata Eris karena dia juga butuh banyak bantuan. Hera sama sekali tidak bisa diandalkan lagi, dia sibuk dengan pernikahannya.


Yang sudah tahu sosok asli mereka hanyalah Yuri saja sampai sosok Arae pun sudah tahu. Hanya... Yuri masih belum tahu sosok asli dari Eris. Saat hendak menanyakannya, tiba-tiba pintu toko terbuka keras.


Masuklah asap hitam yang mengepul. Eris memandangi hal itu begitu juga Arae dan Raven juga Ella.


"UHUK! UHUK!" Ella tersedak asap hitam itu dan hampir pingsan kalau saja Raven tidak menariknya dan masuk ke dalam ruangan bawah tanah.


"Ella kenapa?" Tanya Yuri melihat Raven begitu gesit.


"Ella adalah makhluk yang terbuat dari kertas mantra. Dia dibasahi air suci tentu tidak akan bisa tahan denhan asap hitam yang ada di hadapannya," kata Eris.


"Asap hitam?" Tanya Yuri kebingungan.



Asap hitam lalu mengeluarkan seorang wanita berusia 37 tahun dengan wajah yang cantik dan awet muda.


"Arae, kamu bisa melihatnya?" Tanya Yuri.


Arae mengangguk dengan waspada. "Asap itu sangat tebal,"


"Oh ya?" Tanya Yuri tidak melihat apapun selain wanita yang memiliki rambut cantik keemasan.


"Kamu bisa mencium aroma sesuatu?" Bisik Arae pada Yuri.


Yuri kemudian merasakan memang ada bau yang seperti terbakar tapi tidak ada sumbernya. "Hmmm seperti bau kertas yang terbakar," katanya menutup hidungnya.


"Selama kamu bekerja di toko ini, kamu akan menemukan berbagai macam keanehan atau bahkan mistis. Bila ada yang mengganggumu atau kau tidak nyaman, keluarlah ke pintu yang ada ornamennya," kata Eris dengan nada waspada.


Yuri mengangguk tegang karena Eris dan Arae berada di sisinya.


"Ah, permisi. Maaf aku seenaknya masuk entah kenapa tiba-tiba aku sudah masuk begitu saja," katanya memandang sekitar dengan aneh.


Yuri bernafas lega ternyata hanya wanita biasa. Tapi justru yang dilihat oleh kedua makhluk cantik ini bukan soal manusianya.


"Ternyata dia manusia," kata Yuri lega.


"Justru itu masalahnya," kata Arae.


"Eh?" Tanya Yuri memandangi Arae.


"Asal hitam itu berasal dari tubuh wanita itu," kata Eris masih belum melepaskan pandangannya.

__ADS_1


"Ke-kenapa?!" Tanya Yuri.


Bersambung ...


__ADS_2