Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
3


__ADS_3

"Ini kan jus memangnya lu pikir apa?" Tanya Ana melihat kelakuan Tabiko yang tidak seperti biasanya.


"Maaf maaf," kata Tabiko kembali ke tempat duduknya dengan agak gugup. Yuri juga memandangi aneh lalu menatap Eris dan Arae yang tidak peduli.


"Ini pasti ada sesuatu," pikir Yuri. Tapi apa?


Tabiko meminum lagi jus buah miliknya namun entah kenapa tetap saja yang dia rasa itu adalah darah hewan.


"Aku bukan vampir tapi kenapa hanya aku sendiri yang merasa ini darah hewan? Lalu kenapa aku bisa menikmati daging steak tadi? Daging yang dipesan oleh temanku apakah sama?" Pikir Tabiko agak stres.


"Ana, kamu pesan steak juga?" Tanya Tabiko penasaran.


"Iya soalnya kamu makannya lahap dan tampak lezat. Jadi aku coba dan memang enak sekali. Kamu mau?" Tanya Ana yang melihat Tabiko seperti masih lapar.


Agak merinding wajahnya, Tabiko lalu mengambil sepotong kecil daging steak milik Ana. Saat masuk mulut, dia memuntahkan daging itu semuanya keheranan.


"Kok rasanya beda ya?" Tanya Tabiko aneh.


"Steak ini dari daging sapi. Kamu tidak suka daging sapi?" Tanya anggota lain.


"Hah? Tapi steak yang aku makan tadi rasanya berbeda dengan ini," kata Tabiko menatap daging yang dia muntah kan tadi.


Ana menatap Tabiko semakin curiga masa iya ada orang yang menolak daging sapi seenak ini? Ketua lalu memberikan saus merah serta sepotong keju di atas daging Tabiko.


"Nih coba kamu makan lagi. Ini tuh lezat sekali," kata Ketua.


Tabiko lalu mencoba lagi kali ini memang terasa sangat enak. Dia sangat keheranan ada apa dengan lidahnya?


"Hmm enak," kata Tabiko lalu menyudahi kelakuan anehnya.


"Kan? Tidak salah deh pakai keju," kata anggota lain menikmati daging itu.


Perut Tabiko akhirnya kenyang, menjelang sore mereka semua membayar makanan dan Tabiko terlihat menjilat tangannya sendiri.


Eris dan Arae tersenyum tentu saja mereka membuat minuman buah dari tomat dan stroberi tetapi menggunakan kekuatan ilusi pada Tabiko.


Setelah mereka keluar toko tidak lupa Sari mengambil ponselnya dan berterima kasih. Serentak perapatan makan, meja dan kursi melayang kembali ke tempat semula.


Yuri menghela nafas dirinya tidak perlu membereskan semuanya sendirian, karena tidak melihat Raven berada disana.


Hari menjelang malam, Sari mencemaskan adiknya dia bergegas berpisah dengan temannya. Tabiko tersenyum jahat pada Sari dari arah belakang lalu dirinya menuju taman yang dijanjikan bersama adiknya Sari.

__ADS_1


Ana tidak menaruh curiga karena Tabiko memang senang datang ke taman sebelum pulang.


Sari yang tidak menaruh curiga pada ponsel adiknya yang sulit dihubungi. Karena adiknya mengirimkan pesan bahwa dia mengerti. Membuat Sari lega dan pulang ke rumah dengan santai.


Jarak rumahnya memang lumayan jauh setiap pulang sekolah tiba di rumahnya pukul 7 malam.


Sedangkan Tabiko akhirnya bertemu dengan adiknya Sari di taman. Keheranan ternyata bukan kakaknya yang datang melainkan teman sekolahnya.


"Lho? Kok bukan Kak Sari?" Tanyanya mencari ke sebelah Tabiko.


Dengan santai Tabiko membuka tasnya. "Aku yang menelepon mu dengan merebut ponsel Sari,"


"Apa? Kenapa? Kamu kan bisa meminjam secara baik-ba..." kata Adiknya lalu berhenti bicara dan menutup mulutnya.


Tabiko mengeluarkan sebilah pisau belati lalu menjilat nya dengan pandangan seorang iblis. "Aku yang membuat kakakmu jatuh dari tangga untuk memancing mu keluar," katanya mendekati adik Sari.


Adik Sari lalu melangkah mundur melihat pisau yang runcing dan Tabiko yang psikopat. "Ma-mau apa kamu!?" Tanyanya ketakutan.


"Darahmu... Rhesus sayangku. BERIKAN DARAHMU!" Seru Tabiko kemudian menyayat leher dengan gerakan cepat.


"KYAAAAA!!" Adiknya Sari berteriak dan terjatuh. Dia memegang lehernya yang berdarah-darah dan menangis.


Adiknya Sari melemparkan tas ke wajah Tabiko dan mengenainya. Dia mengerang kesakitan, lalu memfoto Tabiko dan berlari sambil mengetikkan pesan singkat.


Lalu dikirimkan pada Kakaknya. Saat berbalik, Tabiko sudah ada di belakangnya dan tersenyum mengerikan lalu adiknya Sari ditusuk oleh semacam suntikan dan dirinya jatuh ke trotoar tidak sadarkan diri.


Tabiko lalu menyuntikkan semacam pipa kecil untuk menyedot darah adiknya Sari sampai habis. Setelah selesai, Tabiko tertawa dengan histeris dan meninggalkan mayat adiknya Sari di sana.


Thanatos datang dan menarik bola kehidupan adik Sari kemudian tersenyum dan menghilang.


Sari sudah sampai di rumahnya dan masuk ke dalam rumah. Dia mencari sepatu adiknya dan tidak menemukan.


"Ma, adek sudah pulang?" Tanya Sari yang melepaskan sepatunya.


"Lho, bukannya kamu janjian untuk bertemu sama dia?" Tanya Mamanya keluar dari dapur.


"Hah? Kapan?" Tanya Sari bingung.


"Ya tadi waktu sedang di sekolahnya, dia bilang ke mama, kamu ada urusan dan menitipkan pesan ke salah satu teman drama kamu. Masa lupa?" Tanya Mamanya.


"Aku tidak... tunggu, teman drama aku yang mana? Ana? Siska? Yang mana? Terus katanya apa lagi Ma?" Tanya Dari mulai cemas.

__ADS_1


"Bukan mereka siapa ya namanya. Ah Mama lupa. Kamu kenapa sih cemas sekali. Kamu kan bilang mau ketemu dia di taman kota K," kata Mamanya merapihkan tempat sepatu.


"Ma, aku di sekolah ada rapat soal drama. Dan ini," kata Sari memperlihatkan luka di kepalanya.


"Kamu kenapa ini?" Tanya Mamanya khawatir.


"Aku didorong sama orang di sekolah dan jatuh dari tangga. Ya aku pingsan setelah diperiksa, kepala aku luka sepertinya membentur aalah satu tangga. Jadi tidak mungkin aku janji ketemu Adek," kata Sari mulai menangis.


"Kita cari adek kamu. Mama hubungi Papa dulu supaya kita ketemu di taman K," kata Mamanya bergegas membuka celemek.


Sari sudah semakin merasa tidak enak entah siapa yang memberikan janji bohong itu. Merasa ponselnya bergetar, Sari membuka ponselnya dan membaca pesan dari adiknya.


"MAMA!!" Teriak Sari panik.


"Ada apa lagi sih?" Tanya Mamanya yang datang.


Mamanya membaca pesan yang dikirim oleh anak keduanya dan mulai panik. Akhirnya mereka meminta bantuan polisi setempat dan memberikan pesan singkat itu.


Polisi meminta mereka untuk menunggu saja dirumah, Papa datang dan menenangkan Sari serta istrinya. Akhirnya karena mereka harus ikut menemukan anak keduanya, polisi pun menuju lokasi bersama-sama.


Sampainya disana mereka bertiga histeris jasad adiknya sudah kurus mengering tanpa ada darah yang tersisa. Sari menangis dengan keras menyalahkan dirinya yang pingsan.


Polisi membawa jasadnya saat Sari hendak ikut ke ambulans, dia melihat ponsel milik adiknya yang mati lalu dia masukkan ke dalam sakunya supaya lolos dari penyelidikan polisi.


Besok paginya Sari masuk sekolah dengan keadaan tidak semangat, kedua matanya menghitam dan memerah karena menangis lama.


Saat dia masuk ke kelas, semua teman mengerubunginya.


"Kamu sudah mendengar berita. Yang sabar ya," kata mereka memeluk Sari.


Sari menangis sejadi-jadinya dan memeluk sahabatnya. Ana disana juga ikut menangis.


Tabiko duduk sambil membaca majalah, dirinya tidak peduli apa yang terjadi pada sekitarnya. Yang penting kini dia memiliki persediaan untuk mencerahkan kulitnya.


"Tabiko pasti ada hubungannya dengan semua ini. Kenapa aku merasa merinding ya?" Pikir Ana memegang tangannya sendiri.


"Aku tak menyangka adikku menjadi korban selanjutnya. Kejam! Gadis vampir itu harus dimusnahkan!" Kata Sari sambil menangis.


"Aku turut berduka cita ya, Sari," kata Ana memeluknya.


"Gadis vampir sialan!" Kata murid lain.

__ADS_1


Tabiko agak melempar majalah ke mejanya. "Hei kalian sudahlah! Yang meninggal mana bisa dihidupkan kembali, kamu menangis sampai berdarah pun adik kamu sudah senang di atas sana. Cengeng sekali," kata Tabiko lalu keluar kelas dengan angkuh.


Bersambung ...


__ADS_2