Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
2


__ADS_3

Sorenya mereka bertiga pulang sambil membicarakan perihal Angkasa yang terus menatap Sheila. Bersamaan dengan itu, Eris juga tengah berjalan-jalan dan melewati Sheila. Eris berhenti dan dia memandangi Sheila karena merasakan sesuatu.


"Anu, maaf... kamu..." kata Eris menepuk bahu Sheila.


Sheila menoleh ke belakang dan menatap Eris. "Ya? Saya?" Tanyanya kebingungan. Dia merasa tidak mengenal Eris yang memakai pakaian gothic.


Eris mengangguk, "Kamu memiliki sebuah boneka antik?"


Sheila menaikkan satu matanya. "Boneka antik? Hmmm tidak ada sih tapi boneka biasa ada beberapa," kata Sheila berpikir.


"Oh," kata Eris menatap aura Sheila yang aneh.


Lalu aura itu menghilang saat Sheila mengatakan soal boneka yang dimilikinya.


"Maaf, saya kira kamu memiliki boneka antik," kata Eris menundukkan kepala.


"Oh, hahaha tidak apa-apa," kata Sheila tertawa meski merasa sangat aneh.


"Sheila, ayo nanti keburu tutup," kata Erina menariknya.


"Kamu mau ke toko kue dulu kan sebelum pulang," ajak Karin juga.


"Ah, iya tentu saja. Ayo," kata Sheila memandangi kedua temannya.


"Kak," kata Eris menahan Sheila lagi.


"Ada apa lagi ya?" Tanya Sheila yang terburu-buru.


"Kalau ada masalah mengenai boneka antik atau diskusi soal boneka atau kakak hendak menjual boneka, toko aku berada di pojok ujung jalan," kata Eris menunjuk ke arah yang berlawanan dengan kepergiannya.


Sheila mengerti. "Oh, aku tahu! Toko yang naru berdiri itu ya? Baiklah saya akan kesana kalau ada masalah mengenai boneka," kata Sheila tersenyum lalu dia pamit untuk menyusul teman-temannya.


Setelah itu Eris menatap Sheila dari belakang tidak mungkin dirinya salah merasakan aura sebuah anak kecil.


Di perjalanan, menuju toko kue yang dimaksud Karin dan Erina masih memandang ke arah belakang.


"Anak yang tadi itu kenapa sih? Tiba-tiba ada tanya soal boneka," kata Erina.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu," kata Sheila mengangkat bahunya.


"Memangnya kamu punya boneka antik?" Tanya Karin.


"Tidak ada deh," jawab Sheila.


"Baju yang dipakainya juga terkesan misterius ya. Berani juga anak itu memakai model baju yang jarang di sini," kata Karin.


"Hei ini sudah pukul 4! Ayo cepat!" Ajak Erina dengan heboh.


Mereka mendatangi toko kue yang sangat ramai, untungnya mereka kebagian tempat duduk dan menikmati kue yang baru saja di iklankan dalam TV.


Malamnya di kamar asrama, Sheila sedang berganti pakaian dan perutnya sudah berbunyi. Sambil menunggu, dia mengambil kue untuk mengganjal perutnya.


Gedung sebelah terdapat ruang makan yang luas dan sudah penuh sesak oleh penghuni kamar lainnya. Menunya lumayan enak dan dia mendapat sup ayam tambahan yang sangat lezat.


Dia duduk bersama penghuni kakak SMA karena yang seusia dengannya tidak ada. Semua penghuni terlihat bergabung dalam kelompok sesuai asal sekolah mereka.


Selesai makan, Sheila bermaksud mencuci piring dan gelasnya tanpa sengaja dia menyenggol tangan seorang kakak kelas.


"Oh! Maaf," kata Sheila.


"Sheila. Aku di kamar nomor 105," kata Sheila yang akhirnya giliran dia untuk mencuci piring.


Kakak yang bertanya kepadanya hanya menatap Sheila di sebelahnya lalu memikirkan sesuatu. "Bagaimana tinggal di kamar itu?" Tanyanya.


"Yah, awalnya aku merasa agak spooky melihat keadaan kamarnya tapi setelah aku rapihkan, sudah nyaman," kata Sheila sambil menyimpan piring dan gelas.


"Hmmm begitu ya," kata Anoko. "Ayo kita duduk untuk mengobrol, waktu pemadaman masih lama," katanya.


Mereka duduk di sofa dan mengobrol.


"Sebelum saya, apa ada yang menghuni kamar itu, Kak?" Tanya Sheila.


"Teman aku sih sebelum kamu datang tapi hanya setengah tahun dia lalu memutuskan untuk keluar dari asrama," kata Anoko.


"Aku baru tahu soal itu. Apa karena kamarnya tidak nyaman?" Tanya Sheila.

__ADS_1


"Bukan. Dari ceritanya dia sering di teror seorang anak kecil tapi saat orang lain mencarinya, mereka tidak bisa melihatnya. Yah temanku itu penakut sih jadi dia sering tidur bareng bersama aku di kamar lain," kata Anoko mempraktekkan bagaimana wajah hantu itu.


Sheila merinding. Dia memegang kedua tangannya. "Apa dia mengalami sesuatu?" Tanya Sheila.


"Iya, dia di duduki begitu saja saat tidur lalu rambutnya di tarik seperti ini," kata Anoko memperlihatkan rambutnya dia tarik ke atas.


Teman sekamar Anoko datang ke ruang makan. Kakak itu bertubuh gempal dengan rambut pendek, dia mendatangi Anoko yang menurutnya pasti menceritakan hal seram.


"Heh! Mulai lagi deh cerita seram kamu," kata Tera yang memukul kepalanya dengan gulungan majalah.


"Wadow!" Teriak Anoko mengelus kepalanya.


"Jadi itu..." kata Sheila yang agak pucat.


"Jangan dengarkan dia ya anak baru. Kamu ini kebiasaan ya jangan menakuti penghuni baru dong," kata Tera yang duduk bersama mereka.


"Hehehe," kata Anoko tertawa.


"Jadi... soal asrama ini juga... bohong?" Tanya Sheila.


"Gedung ini memang rapuh, aku tahu kamu merasa seram karena retakan akibat gempa tahun lalu. Itu yang membuatnya pindah dari sini," lirik Tera ke arah Anoko yang bersiul ke arah lain.


"Ya ampun Kakak, aku sudah lemassss," kata Sheila agak menangis.


"Maaf ya" kata Anoko.


"Tuh kan! Dia ini hobinya mengusili anak baru dengan kisah horor," kata Tera.


"Iya, Kak. Aku duluan ya Kak ada banyak tugas sekolah," kata Sheila yang masih deg-degan.


Tera memarahi Anoko yang sudah pasti membuat Sheila parno soal gedung ini.


Malam semakin hening tatkala suara petir bergema dan akhirnya hujan besar turun. "HUWAAAA hujan! Gara-gara apa kata Kak Anoko itu membuat aku banyak berpikir yang tidak semestinya. Mana tugasku masih banyak," kata Sheila uring-uringan.


Dia agak menyesal sih tidak ikut dinas dengan Ayahnya ke Vietnam meski hanya setahun. Sheila menghela nafas melihat foto ayahnya yang tertawa senang.


"Kalaupun harus ikut hanya setahun. Bagaimana aku bisa mendapatkan pengalaman percintaan yang hebat? Kalau aku pergi ikut dengan Ayah, tidak akan bisa bertemu Angkasa dong? Akhirnya sudah selama ini aku bisa sekelas dengannya! Kali ini aku harus mendapatkannya!" Kata Sheila dengan semangat.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2