
"Eria ini memiliki kekuatan yang mampu melihat hal mistis kan?" Tanya Yuri sambil memandangi rumah Eria.
"Iya tapi berbeda dengan Eris yah meskipun kekuatan Eria adalah kekuatan Eris. Bingung kan," jawab Arae.
"Jadi Eria itu Eris?" Tanya Yuri.
"Bisa juga dikatakan begitu Yuri, tampaknya ada sesuatu yang membuat kekuatan Eris keluar sendiri lalu membuat wujud lain. Yah kemampuan mereka agak sedikit mirip," jelas Arae.
"Apa dia bahagia?" Tanya Yuri.
"Eh? Eria?" Tanya Arae memandangi Yuri.
Yuri mengangguk. "Kadang aku melihat wajahnya sedih dan tampak kesepian. Menurutmu apa yang akan terjadi bila dia melihat kita berdua?" Tanyanya.
Arae kaget lalu berpikir, "Iya juga ya kalau itu adalah Eris mungkin saja ingat kita," katanya.
"Kalau benar gadis ini adalah Nona, pasti akan bisa mengenali kita kan," kata Raven yang berubah menjadi pemuda tampan lengkap dengan baju bebasnya.
"Benar juga. Tapi bagaimana cara kita membuatnya masuk toko?" Tanya Arae, mereka bertiga berpikir lupa kalau itulah masalahnya.
Mereka tidak mungkin memiliki aturan bisa mengundang siapa saja untuk memasuki toko. Hanya Eris yang bisa bebas mengundang siapa saja masuk, mereka hanyalah pegawai.
Sejak itu mereka gagal mengunjungi Eria karena tidak memiliki alasan yang bagus. Apalagi banyak kabar beredar mengenali ibunya yang agak sinting.
Arae juga terkadang tinggal bersama Yuri ikut membantu pekerjaan disana. Bagusnya Arae pintar memasak karena sudah lebih dulu tinggal di bumi.
Malam harinya mereka bertiga menikmati indahnya malam dengan ditemani beberapa botol limun dan makanan. Ibu Yuri membuat aneka kue yang enak dan Ayahnya bekerja ke suatu tempat.
"Arae, apa kamu merindukan Eris?" Tanya Yuri sambil makan kue.
"Tentu saja tapi aku tidak bisa mendekati toko. Tokonya tiba-tiba tersegel, mendekat pun aku malah terlempar," jelas Arae yang minum limun dengan senang.
"Kalau kamu saja yang teman dekat Eris tidak bisa masuk, bagaimana caranya Eria bisa? Kalau bisa masuk, lalu siapa yang akan ditemui oleh Eria?" Tanya Yuri.
Arae dan Raven menatapnya. Benar juga!
"Itu adalah misteri toko Eris," kata Arae berpikir.
"Nona kan bisa menciptakan klon nya seperti Naruto. Nona Arae juga pernah melakukannya," kata Raven yang tiduran sambil membaca majalah.
"Bisa jadi sih. Karena..." kata Arae yang kemudian perkataannya terpotong.
Yuri, Raven dan Arae terkejut bukan main melihat portal terbentuk di hadapan mereka. Depan halaman rumah Yuri. Portal itu berwarna kehijauan dan di dalamnya adalah keadaan isi toko.
Mereka bertiga mencoba masuk tidak ada yang bisa meski tidak terpental. Mereka bisa memegangnya seperti pintu kaca yang tebal.
"Apa ini? Kenapa begini?" Tanya Yuri menggedor-gedor.
"Inilah yang aku lihat, aku terpental karena aku pikir Eris sudah siuman ternyata saat itu, aku terbentur cukup keras," kata Arae menunjukkan bekas benjol di keningnya.
"Aish," ucap Yuri dan Raven bersamaan.
"Makanya kalau menukik itu secara lembut dong. Benjolnya nampak sudah sembuh," kata Raven tertawa.
__ADS_1
Arae melempar kue ke arahnya dan Raven makan dengan senang. Yuri datang membawa P3K.
"Setidaknya kita tahu bahwa Eris masih ada dalam toko. Mungkin menanti Eria juga," kata Yuri menempelkan plester.
Keesokan paginya cafe tempat Aiolos dan Nyx bekerja penuh sesak. Banyak mahasiswi dan murid SMP menunggu untuk sarapan, kebetulan ada promosi.
Nyx dan Aiolos bergantian mengantarkan pesanan. Kadang mereka diminta untuk berfoto namun menolak karena harus bekerja dengan cepat.
"Kak, mata kanan kenapa? Kok pakai plester begitu?" Tanya mahasiswi.
"Tidak apa-apa. Terbentur lemari," jawab Aiolos beralasan.
Beberapa mahasiswi saling berpandangan lalu menatap Aiolos lagi.
"Kakak dipukul kayu ya?" Tanya A dengan iba.
Mereka berdua yang mendengarnya berhenti bekerja untungnya semua pesanan sudah komplit.
"Tidak," kata Aiolos.
"Katakan saja Kak," kata B.
"Iya, Kak kami juga tahu kok sebabnya dan tidak aneh juga kalau kakak jadi korbannya," kata anak-anak yang lain.
"Bagaimana kalian tahu?" Tanya Nyx menghampiri.
"Maaf Kak, kami secara kebetulan melihat kak Aiolos keluar dari rumah paranormal cilik itu. Dan kami kaget apa yang terjadi pada Kakak saat keluar. Kakak kenapa berani sekali masuk ke rumah itu?" Tanya yang lainnya.
"Memangnya tidak boleh?" Tanya Aiolos menurutnya ada sesuatu sampai mereka hapal betul.
Semuanya jadi ribut, yang sudah selesai sarapan membayar di kasir sambil membawa tambahan bekal.
"Lalu kalian ke sana apa untuk melempari Eria sesuatu atau mencoret di tembok rumahnya?" Tanya pegawai cafe lain.
"Bukan dooong. Sebenarnya kami sering menyimpan makanan dan minuman di depan pintu rumahnya," kata B.
"Kasihan sekali, Kak kadang ibunya itu tidak memberikannya makan. Aku juga kadang menyelipkan uang siapa tahu kalau nanti dia selesai syuting, bisa beli makan," kata yang lain.
Aiolos merasa terharu mendengar para mahasiswi tersebut. "Apa Eria sering sekali tidak diberi makan?"
"Sering, Kak. Kadang ibunya pergi rapat dan kembali dalam keadaan mabuk," kata C.
"Iya iya pokoknya kasihan sekali deh. Eria memang anak yang tabah, kami juga tahu kalau dia dimanfaatkan untuk mendapatkan uang oleh ibunya. Sejak duku sebelum Eria terkenal memang gemar belanja yang mahal karena itu, ibunya diceraikan oleh suaminya," kata A.
"Kenapa Eria tidak dibawa oleh Ayahnya?" Tanya Aiolos.
"Eria waktu itu masih TK, Kak jadi harus diurus sama ibunya sampai usia 17 tahun. Sesuai perjanjian ya," kata B.
"Kalian tahu dari mana sih berita itu?" Tanya Nyx agak curiga.
"Sudah bukan berita yang aneh lagi sih Kak. Semua tetangga disana juga sudah tahu," kata anak-anak SMP.
"Astaga!" Seru Aiolos menutup mulutnya kaget.
__ADS_1
"Iya dia kasihan sekali lho. Dia selalu dipaksa mendengarkan doa sutra supaya kemampuannya meningkat. Padahal para biksu pun sudah melarang tapi Ibunya memberikan banyak uang untuk persembahan. Ibunya juga sering mengatakan kebohongan," jelas anak yang lainnya.
"Oh iya ada berita terbaru kan tadi pukul 6 pagi," kata A dengan heboh.
"Berita apa?" Tanya Aiolos penasaran.
"Tenanglah," kata Nyx melihat sahabatnya sudah gelisah.
"Eria sekarang jadi sering berada di acara TV setiap hari," kata A menjelaskan.
"Lho? Bukankah itu bagus?" Tanya Nyx.
"Iyaaaa menang bagus sih masalahnya setiap selesai syuting, Eria sering terluka. Kakak tidak tahu kan?" Tanya A.
Aiolos terdiam mematung. Luka? Apa semenjak kedatangan mereka ke rumahnya?
"Sudah kuduga tidak semua orang memang pasti memperhatikan berita itu. Setiap hari selalu saja ada yang terbaru, lukanya. Kakak 2 hari yang lalu ke rumahnya kan nah itu di mulai dari malamnya," kata A.
"Astaga! Apa ibunya..." kata Nyx.
"Iya, mereka dapat panggilan. Eria disuruh pulang duluan dan... yah, kepalanya terluka kabarnya ada yang sengaja mendorongnya. Lalu pagi ini, lalu siangnya setiap dia selesai syuting, lukanya pasti bertambah," kata A dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak ada yang menolongnya?" Tanya Aiolos menahan emosi.
"Ya bagaimana ya banyak staf sana yang tidak menyukainya, Kak," kata B agak takut.
"Apa lukanya masih bertambah?" Tanya Nyx menenangkan Aiolos.
Mereka semua mengangguk pelan.
"Iya Kak, setiap dia datang ke sana lalu pulangnya pasti saja ada bagian tubuhnya yang terluka. Hari ini juga," kata A.
"Hari ini!?" Tanya Aiolos berdiri.
"Dengarkan dulu ceritanya, mereka juga kan hanya bisa melihat dari layar TV," kata Nyx.
"Kru TV mendatangkan seorang perempuan yang kehilangan adiknya dan meminta pada Eria untuk menemukannya. Dia tahu kalau adiknya sudah meninggal namun tidak diketahui penyebabnya. Perempuan itu meminta Eria untuk mendatangkan arwahnya supaya bisa bertanya," jelas A.
"Lalu datang kah?" Tanya Nyx.
Mereka menggelengkan kepala bersamaan.
"Eria menolaknya. Dia dihantam oleh perempuan itu ke lantai sampai punggungnya cukup terbentur keras. Untungnya lantai dipasang karpet yang agak tebal, aku yang melihatnya langsung menangis," kata A tersedu-sedu.
Aiolos menahan amarahnya bagaimana bisa ibunya tidak membela Eria.
"Perempuan itu lalu berteriak keras kalau dia adalah paranormal palsu lalu memukul Eria sampai berdarah. Kru TV lalu menghentikan acaranya," kata A menyudahi ceritanya.
Cafe menjadi hening, Aiolos tidak tahan cerita mengerikan. Dia secara diam-diam menangis di balik punggung pegawai lain.
"Perempuan seperti itu padanya apa tidak ada lagi yang melerai!?" Tanya Nyx mulai termakan emosi.
"Tidak ada, Kak. Makanya aku dan teman-teman kemudian menelepon agar acara itu dihentikan saja, atau kami akan melaporkan pengaduan pada polisi," kata C.
__ADS_1
Bersambung ...