
"Wah siapa nih yang baru masuk sekolah lagi?" Tanya Sehan yang masuk ke dalam kelas dengan bola basketnya.
Sehan anak perempuan yang juga terkenal cantiknya tapi tomboi. Baik tapi hanya pada Ambrosia saja yang kelakuannya minus. Adelia kenal juga karena yah dia memaksakan dirinya untuk masuk di antara mereka berdua. Adelia tidak tahu kalau sebenarnya mereka berdua dekat.
Karena Sehan tidak sengaja mendengar penyakit anehnya dan berjanji tidak akan membocorkannya. Semenjak itu pula Sia kenal dengan Aegis. Aegis tampak menaruh perhatian tapi yah, semenjak penyakitnya itu muncul.
Sia sadar dia harus menarik dirinya sendiri dan menjauhi semua orang. Sehan yang menolongnya saat mengetahui Sia dirundung banyak orang dari geng Adelia.
Sia hanya bisa menatapnya dari kejauhan dan menjaga agar Adelia tidak mengetahuinya.
"Ya ini aku si Mummy telah kembali sekolah," kata Sia dengan dingin.
"Aku dengar ada berita heboh lagi nih. Mana orangnya si Adelia. Tuh anak pasti menangis palsu lagi," kata Sehan menggeser kursi sebelah Sia.
Perpaduan antara Sia yang terkadang sombong dan dingin dengan Sehan yang ceria dan tomboi, memang aneh. Adelia yang palsu lebih aneh lagi.
"Ya seperti biasanya dia kan memang begitu," katanya tidak mau ambil pusing.
"Dia berbuat ulah lagi ya. Tampaknya tidak ada kapoknya, mau apa sih dia itu?" Tanya Sehan yang menyimpan bolanya.
"Dia sebarkan soal penyakitku ke semua orang," katanya dengan kesal.
"Aku sudah jelaskan kalau infonya salah. Hampir sebagian kelas sudah tidak ada yang membicarakannya kok. Itu sudah pasti teman-teman gengnya, jangan dipikirkan deh," kata Sehan berbisik.
Di lantai bawah kelas Adelia mengobrol dengan gengnya dan teringat pada sebuah janji. Mereka sudah mengerti dan berpisah lalu Adelia menemui kekasih dewasanya yaitu seorang guru Matematika.
Mereka sarapan pagi bersama di suatu ruangan. Saat itu bel sekolah berbunyi dan Adelia bergegas merapihkan seragamnya. Ya Adelia adalah anak nakal yang sudah dikenal banyak murid karena parasnya yang biasa saja, banyak yang tidak percaya.
Kekasihnya pun bergegas membereskan sisa sarapan mereka dan menuju kelas masing-masing. Mengenai pacarnya pun hanya diketahui oleh teman gengnya saja. Kalau ketahuan bisa-bisa mereka dikeluarkan.
Kelas sudah dimulai, serapih mungkin Adelia membetulkan segalanya dan masuk dengan santai.
"Dari mana saja kamu, Adelia? Sudah pukul 8 baru masuk kelas," Tanya Bu Hana guru Kimia.
"Maaf, saya sakit perut, Bu," katanya berjalan pelan ke tempat duduknya.
"Akibat sarapan pagi itu jangan-jangan ada isinya," celetuk anak lain tertawa.
"Tekdung tekdung tekdung syala la la la," nyanyian beberapa murid perempuan.
"Hei kalian! Jangan berbicara yang tidak tidak! Sekarang kumpulkan tugas dan kerjakan soal," kata Guru itu menggebrak meja.
__ADS_1
Adelia kesal karena semuanya sudah mengetahui kebiasaannya dia pagi hari. Yang tidak bersuara hanya Sia dan Sehan yang malas mendengarkan.
"Aku memang sakit perut kok," kata Adelia mengeluarkan buku kimia.
"Sakit karena ditekan kaaaan eeeyaaa eeeyaaa," jawab yang lain langsung disoraki.
Adelia hanya terdiam. Gurunya berusaha menertibkan kelas karena semua anak berulah melemparkan bola kertas pada Adelia.
"Jangan-jangan hamil," kata Sia setengah berbisik kepadanya.
Tentu Adelia ingat bagaimana Sia dan Sehan memergokinya sedang berjanji bertemu lelaki berusia 37 tahun dan mereka memasuki hotel berdua. Saat itu mereka berdua tengah merundingkan lomba olahraga.
Adelia masih ingat betul bagaimana wajah mereka bertiga bereaksi. Dan Adelia meneruskan petualangannya, dalam sekolah pun seringkali Sia menyindir itulah kenapa banyak lebam.
Sia bisa saja melawan tapi saat itu dirinya tengah sakit untunglah tidak terlalu parah karena Sehan datang dengan melempar keras bola basket. Semenjak itu keduanya menjadi akur.
Istirahat tiba, Sehan sudah pergi duluan sebelum anak-anak lain berhamburan. Sia membereskan buku dan terdiam di kursinya. Adelia keluar dari kelas entah kemana dan anak lain sudah membentuk kelompok makannya.
Lalu Sehan masuk lagi dengan membawa sekantung besar penuh makanan dan ditaruh di meja Sia. Sia selalu menolak tapi karena Sehan gigih, akhirnya dia makan juga.
Roti isi cokelat, susu, keju, pisang goreng, jagung manis susu keju, wafer, kue brownis sampai puding yang lainnya dia beli.
"Kamu tahu kalau Adelia menyalahkan mu sebagai penyebar gosip?" Tanya Sia yang sibuk memakan roti.
"Berkat obat yang aku beli," kata Sia tertawa.
"Dia masih ada cerita?" Tanya Sehan yang senang melihat perkembangan Sia.
"Ya tadi pagi itu," katanya yang memberikan minuman pada Sehan juga.
"Thanks. Biarkan saja dia memang tukang gosip agar banyak yang memperhatikan. Yang seperti itu lebih layak kamu kenapa orang yang biasa jadi jahat sih," kata Sehan tertawa.
"Awas ya kamu. Kabar soal sarapan pagi itu masih dia lakukan?" Tanya Sia.
"Mungkin tanya saja ke yang lain, kita saja pernah ketemu dia sama pasiennya," kata Sehan tidak peduli dan memakan puding.
Sia juga makan puding yang jarang dia makan semenjak sakitnya parahnya itu. Dia harus banyak menahan untuk tidak membeli makanan.
"Lalu kabar penyakit kamu bagaimana? Aku cium tidak ada bau busuk lagi. Sudah sembuh ya?" Tanya Sehan mendekatinya.
Lalu Ambrosia menceritakan segalanya kisah dirinya memasuki toko ajaib lalu dirinya di berikan sabun garam.
__ADS_1
"Wah, ajaib sekali! Misterius juga tapi ampuh sabunnya?" Tanya Sehan.
"Iya ampuh. Gelembungnya mengecil karena itu tidak ada bau busuk lagi," katanya dengan semangat.
"Sehan, kamu beli apa saja? Aku beli ini deh. Oh iya Sia, badan kamu sudah tidak bau ya," kata A mendekat.
Entah berapa menit bangku mereka sudah dipenuhi banyak murid lain yang mengajak mengobrol. Kadang Sia tertawa bersama dan memberikan pendapatnya. Mereka berpendapat Sia tidak bertingkah sombong lagi.
Adelia kembali masuk kelas dan melihat sekitaran bangkunya ramai. Dia tidak suka melihat Sia yang mulai ceria lagi.
"Ada apa nih? Kok kumpul disini," kata Adelia menggeser kursinya.
Mereka semua memilih untuk bubar daripada harus mengobrol dengannya. Adelia memandang Sia dan Sehan yang terus saling membalas obrolan.
Sore hari waktunya pulang, Sia melihat sabunnya semakin mengecil. Padahal baru 2 hari dia pakai tapi sudah sekecil ini. Iyalah, sehari 4x mandi sudah tentu akan cepat habis. Dia akan meminta supirnya mengantar kesana dari sekolahnya.
Sia berjalan menggunakan tongkat menunggu kelasnya sepi kalau tidak dia akan dikerjain banyak orang. Lalu dia keluar dan perlahan menuju bawah
Adelia menunggu dengan temannya melihat Sia. Dan dia bergegas membantunya.
"Berhentilah bersikap simpati padaku. Aku tahu maksudmu apa," kata Sia pada Adelia.
"Aku hanya bermaksud..." kata Adelia yang terpotong.
"Sudah, biar aku saja. Kamu kemana sih? Kenapa tidak menunggu aku saja? Tadi habis rapat sebentar," kata Sehan membantu Sia jalan.
Setelah Sia pulang, Sehan menghampiri Adelia dan mendorongnya keras. "Kamu ngapain? Bilang kalau aku yang sebarkan kabar soal penyakitnya. Mau kamu apa sih? Lama-lama saya laporkan kamu ke pihak sekolah," ancam Sehan.
"Eh? Tidak kok aku tidak bilang begitu. Kamu sendiri kenapa membantu dia? Kalian kan musuhan sejak kapan dekat?" Tanya Adelia dengan canggung.
"Jangan bohong deh yang tahu soal itu kan hanya kita berdua," kata Sehan galak.
Adelia menciut terdiam. Dia sama sekali tidak berpikir dengan baik kenyataannya memang hanya dia dan Sehan yang tahu.
"Kamu ini kenapa sih? Salah kita apa sama kamu? Oh, aku tahu sekarang. Kamu iri ya dengan tampilan kita? Lalu kenapa masuk lingkaran kami?" Tanya Sehan meninggalkan Adelia yang berdiri membeku.
Teman-teman Adelia menghampiri mereka tidak berani melawan Sehan karena badannya yang tinggi dan langsing apalagi ahli membuat bola menjadi senjatanya.
"Oh satu lagi memangnya kalau musuh ada larangan membantu sesama? Aku tidak tahu kenapa kamu sampai berbuat begitu tapi aku tidak peduli. Kalau benar kamu ingin membuatku jatuh, itu tidak akan terjadi. Karena saat kamu menyebarkan gosip aku sedang mempersiapkan pertandingan," teriak Sehan dari jauh.
"Apa yang dia katakan? Kalian bicara apa?" Tanya teman lainnya Tapi Adelia terdiam, dia mengutuk dirinya yang super bodoh.
__ADS_1
"Tidak ada," katanya kemudian pulang sendiri meninggalkan yang lainnya.
Bersambung ...