
"Kamu tidak penasaran, Yuri?" Tanya Ria mengamati temannya.
"Errr... soal?" Tanya Yuri sambil menerka.
"Death. Dewa Kematian. Thanatos?" Tanya Ria yang juga membereskan alat tulisnya.
Yuri terdiam dan hanya tertawa garing karena dia lebih tahu soal itu. "Apa jangan-jangan Ria curiga ya kalau aku tahu soal Thanatos?" Pikirnya menggigit sedikit bibir bawahnya.
Thanatos adalah kakak paling tua tua tua dari Eris tapi yang Yuri tahu, Eris memanggilnya Paman bukan Kakak. Dan hubungan mereka berdua kelihatannya sangat sulit.
"Entahlah. Memangnya kamu punya bukti bahwa dewa itu memang ada?" Tanya Yuri berusaha agar Ria tidak membuatnya memberikan informasi.
"Aku yakin ada!" Tegas Ria dengan mantap.
"Ha ha ha," kata Yuri yang bingung harus bagaimana menjawab keyakinan temannya itu.
Yuri dan lainnya sudah siap untuk berpindah kelas di pelajaran berikutnya.
"Yuri, kamu tidak ada jadwal magang hari ini?" Tanya Isak yang berjalan di sampingnya.
"Hari ini tidak. Jadwalku bekerja bisa kapan saja saat aku bisa," jawab Yuri dengan ringan.
"Wah, enak sekali. Kalau mereka buka lowong, kasih tahu aku juga ya. Oh iya dalam perjalanan menuju kampus, aku melihat ada toko antik di seberang. Kesana yuk," ajak Idak dengan gembira.
Yuri menghela nafas kenapa semuanya serba kebetulan ya? Ria yang mengambil judul soal Death lalu sekarang Isak tentang barang antik. Yuri berpikir kenapa teman dekatnya mengambil judul yang berkaitan dengan toko Eris?
"Ayo ayo," kata Ria dengan semangat.
Yuri hanya pasrah saja kalau sampai Ria membalas dengan semangat, pasti rencananya akan jadi. Eris yang mendengarnya lalu menghilang dan muncul dalam toko.
Dari jendela kampus memang toko Eris terlihat karena satu-sarunya tempat yang menjulang tinggi antara perumahan. Dan memang banyak sekali mahasiswa yang menuju toko Eris berada. Disana pasti penuh pembeli sekarang.
Saat mereka hendak melangkahkan kaki menuju pintu kaca yang terbuka, tiba-tiba ada sebuah panggilan yang keras.
"YURIIIII!!!" Teriak seseorang dari kejauhan.
Mereka bertiga mencari sumber itu dan melihat ke arah berlawanan. Muncul mahasiswi lain yang sedang berlari kilat ke arah mereka.
"Lho? Itu kan ketua drama, Xin. Ada apa ya?" Tanya Isak keheranan.
Xin lalu berhenti di depan mereka memberitahukan dengan isyarat, bahwa mereka jangan pergi dulu.
"Tenang, Xin. Kita tidak akan kemana-mana kok. Ada apa kok sampai berlari begitu?" Tanya Yuri menepuk bahunya pelan.
__ADS_1
"To...long. Tolong bantu klub kita, Yuri. Kita kekurangan orang untuk bermain drama minggu depan," kata Xin yang sudah bisa menenangkan dirinya.
Xin berkata sambil memegang kedua tangan Yuri. Ria dan Isak bingung namun mereka senang.
"HAH!? AKU!?" Tanya Yuri berteriak.
"Iya. Kamu cocok dengan peran ini. Mau ya? Bantu kami sekali ini saja," kata Xin masih memohon.
"Tapi tapi bagaimana dengan anggota yang lainnya? Dan kenapa harus aku sih?" Tanya Yuri tidak enak.
"Yang lain sudah setuju kok," kata Xin dengan tenang.
"Sudah terima saja," kata Ria senang.
"Iya. Kapan lagi kita bisa lihat akting kamu," kata Isak.
"Kalian ini ya..." kata Yuri mendengus sebal.
"Ayolah," kata Xin yang wajahnya tidak ingin mendengar kata penolakan.
"Ih tapi aku kan tidak pernah belajar akting hanya nonton film saja," kata Yuri agak enggan.
"Tidak apa-apa adegan membacanya juga tidak panjang," kata Xin.
"Coba saja dulu Yuri, mumpung kamu sedang tidak kerja sambilan kan," kata Isak tertawa. Ria juga setuju.
Mereka bertiga bertemu dengan anggota klub dan menyambut kehadiran Yuri. Tapi tidak dengan seorang anggota berambut panjang bernama Sely.
"Kenapa sih Ketua meminta tolong sama dia? Dia kan bukan anggota Drama," kata Sely dengan nada angkuh. Suaranya aneh membuat Yuri, Ria dan Isak menahan tawa.
Xin tersenyum. "Aku pernah melihat Yuri bermain drama waktu SD dan itu banyak yang menyukainya. Kamu masih ingat?" Tanya Xin mencolek pinggang Yuri.
"Kita satu sekolah?" Tanya Yuri.
"Iya hanya berbeda kelas saja. Aku juga melihat kamu ada bakat ke sana tapi saat kuliah, ternyata kamu mengambil jurusan tidak terduga," kata Xin agak kecewa.
"Itu kan sudah lama sekali dan bukan kegiatan ekstra juga tapi lomba antar kelas kan," kata Yuri yang wajahnya memerah.
"Ya meski pemenangnya kelas lain ya tapi kelas kamu yang paling banyak menerima tepuk tangan. Makanya aku pikir kalau sekali lagi saja kami bermain drama, klub kita bisa menang," kata Xin semangat.
Sely mendengus dan bangkit dari kursinya. "Lalu apa gunanya aku ada di sini? Aku keluar," katanya berjalan menuju pintu.
"Jangan pundung begitu dong. Kenapa aku meminta tolong Yuri karena kamu suaranya sedang bermasalah. Peran kali ini penting, kalau kamu yang memainkannya, perannya akan berubah menjadi nenek-nenek," kata Xin menjelaskan.
__ADS_1
Sely menundukkan kepalanya, salahnya dia sendiri yang mau bermain adu balap suara dengan kakak-kakaknya.
Sely lalu kembali lagi dan duduk.
"Oh, jadi kamu sedang sakit ya. Hmm aku akan mencobanya tapi tidak menjamin hasilnya akan bagus ya, Xin," kata Yuri.
Mereka semua bersorak senang, Sely terpaksa harus menerimanya sementara waktu. Akhirnya latihan pun dimulai untungnya Yuri adalah penghafal yang sangat handal.
Meskipun dirinya diperbolehkan berbicara dengan memakai buku, tapi Yuri berusaha untuk memilih menghafalkan dialog.
Hanya dengan berlatih empat kali, dirinya langsung bisa mempraktekkan adegan skenario. Sely terpaksa harus menahan rasa kesalnya dimana Yuri memerankan peran Juli.
Kedua temannya pun masih ada disana dan membaca isi skenario.
"Jadi judulnya Juni dan Juli? Bukannya skenarionya agak mirip Romeo dan Juliet ya?" Tanya Ria agak heran.
"Iya. Kalau nama orangnya sama lalu ceritanya sama juga kan tidak seru. Jadi kami mengubah isi dan nama juga kejadian di dalamnya," kata Xin dengan membetulkan kacamata besarnya.
Isak dan Ria saling berpandangan lalu menatap Xin dengan kilauan kedua mata mereka.
"Kami baru sadar," kata Ria.
"Apa?" Tanya Xin.
"Kalau kamu ini..." kata Isak.
"EHEM! Berbakat, kreatif dan menarik kan. Itulah aku," kata Xin membanggakan dirinya.
"Sangat aneh," jawab Ria dan Isak bersamaan.
Xin menatap mereka dengan kedua mata ya g menyipit lalu mereka tertawa bersama.
"Bagaimana Ketua?" Tanya anggota lain.
Yuri uang sedang beradegan pun dibuat bingung. Xin lalu termenung dan menatap Yuri dengan mantap.
"Yuri, kita akan beradegan dengan latihan di panggung ya," kata Xin menyuruh mereka membuka panggung.
"Apa!? Tapi aku tidak yakin bisa," kata Yuri agak panik. Ini pertama kalinya dia berakting harus di atas panggung.
"Kami yakin kamu bisa!" Kata mereka berdua.
"Kalian kan tidak mengalaminya. Ini baru pertama kalinya aku drama di atas panggung," kata Yuri memegang kepalanya.
__ADS_1
Sely mendengar itu dan tertawa terbahak-bahak menantikan kelakuan Yuri yang seperti patung.
Bersambung ...