Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
127


__ADS_3

Sato tertawa sambil menutup pintu dan merasa lega lalu menemui ibunya Panji untuk pamit pulang.


"Tante, aku mau pulang dulu," katanya dengan suara ramah.


Ibunya yang sedang duduk sambil menonton TV bangun dan melihat jam yang ternyata sudah pukul 3 sore.


"Ya ampun! Cepat sekali ya waktu berjalan," katanya sambil mempersiapkan sesuatu.


"Panji sudah tidur," kata Sato.


"Oh, begitu. Sato, ini bawalah pulang. Tante kebetulan pulang melewati toko puding yang enak sekali," kata Ibu Panji menyerahkan sekotak sedang kepadanya.


"Aduh, Tante. Tidak perlu," kata Sato malu-malu karena sering sekali ibunya Panji memberikan makanan.


"Tidak apa-apa hohoho Tante senang sekali akhir-akhir ini Panji tampak gembira karena memiliki sahabat seperti Sato," katanya sambil memaksa Sato untuk membawakannya.


"Aah, itu karena Miu," kata Sato keceplosan.


"Miu?" Tanya Ibunya Panji keheranan.


"Oh, bukan. Maksudku cerita soal Miu teman perempuan saya di kelas. Ini terima kasih banyak, Tante," kata Sato membungkukkan badannya.


"Ya ya ya besok datang lagi ya," kata ibu Panji menerima hormatnya Sato.


Sato pamit dan berjalan sambil berpikir mengenai semua cerita Panji mengenai Miu ini.


"Sumber kesehatan dan keceriaannya adalah gadis dalam mimpinya bukan aku. Miu. Apa Tante akan mengerti kalau aku ceritakan begitu ya? Kenyataannya Panji kini terus bermimpi tentang Miu. Lalu jiwanya juga semakin bersinar, sulit dipercaya memang bahwa jantungnya bisa rusak kapan saja," pikir Sato menghela nafas.


"Lalu kami hiking bersama serta ke pantai. Yang aku perhatikan dari Panji dia sangat menikmati segalanya. Seperti orang yang baru pertama kalinya keluar dari rumah. Tentu saja karena kenyataannya dia tidak pernah bisa pergi kemanapun," kara Nenek Miu menangis sejadinya.


Adegan berubah menjadi kabut putih dan tidak ada apapun disana. Nenek itu terus menunggu lalu... beberapa bulan kemudian, saat Sato sudah menginjak kelas 3 SMP. Saat itu Panji menceritakan sesuatu.


"**Aku sudah menyatakan cintaku pada Miu," kata Panji dengan malu-malu.


Sato yang mendengarkan sangat tidak menyangka. "Hebat! Tapi kenapa baru saat dirinya sudah kelas 3?" Tanyanya aneh.


"Yah, orang tuanya berpesan agar aku menyatakan cinta saat Miu menginjak kelas 3. Aku mengerti agar tidak membebaninya," kata Panji terlihat agak dewasa.


"Pasti ada kan laki-laki yang juga mengejar dia?" Tanya Sato.


"Ada. Dia menceritakannya tapi tolak semua hehehe dia menunggu pernyataan dari aku," kata Panji menggaruk kan kepalanya.


"Wah, selamat ya!" Kata Sato yang memegang wajahnya dan bermaksud menciumnya.

__ADS_1


Tapi dengan sigap, Panji memblokirnya dengan bantal. "Enak saja kamu!"


Ibunya Panji datang membawakan buah serta obat. "Tumben kamu tidak mengomel saat minum obat," kata Ibunya menatap Panji.


"Hehehe," kata Panji tertawa.


"Soalnya dia sudah punya pendamping sih," celetuk Sato yang langsung Panji lempar guling.


"Pendamping?" Tanya ibunya heran.


"Panji menyukai teman perempuanku, Tante," kata Sato mencari alasan.


"Wah wah," kata Ibunya tidak menyangka.


"Sudahlah, Bu. Keluar dulu kami masih mau mengobrol," kata Panji dengan wajah marah pada Sato**.


Ibunya mengerti **lalu keluar sambil tertawa. Panji menatap Sato dengan tajam dan Sato lalu mengambil buah apel dan memakannya.


"Lalu?" Tanya Sato.


"Apanya?" Tanya Panji yang cuek memakan kue.


"Masa kamu tidak melakukan itu?" Tanya Sato penuh arti sambil memperagakan pose ciuman.


Panji tertawa keras. "HAHAHA! Tentu itu sudah aku lakukan dong," katanya bangga.


"Ahhh aku ingat. Saat itu adalah pertama kalinya kami saling berpandangan dan... ya ampun, malu sekali. Apalagi Panji menceritakannya pada Sato," kata nenek Miu memerah dan tertawa.


"**Hei hei, tenang dong. Saat hiking kedua orang tuanya tengah menikmati pemandangan. Ya lalu kami saling berpandangan dan terjadi begitu saja," jawab Panji.


"Di belakang mereka!?" Tanya Sato melongo.


"Hehehe," kata Panji tertawa geli.


"Dasar gila kalian," kata Sato menepuk dahinya. Entah kenapa dari hari ke hari Sato pun ikut tenggelam dengan kisah mimpi Panji, meskipun dia hanya menganggap Miu hanyalah ilusi.


"Keren kan," kata Panji mengacungkan jempolnya.


Sato tampak iri sekali. "Bagaimana rasanya?"


Panji berpikir. "Lembut, hangat dan... manis," jawabnya dengan menaruh kedua tangannya di kedua pipinya.


"Gila ya kamu di dalam mimpi bisa punya pengalaman begitu," kata Sato memegang lagi kerah baju Panji**.

__ADS_1


"Hahaha kamu kenapa sih?" Tanya Panji yang menenangkan sahabatnya itu.


Dia terduduk lemas di kursinya lalu menangis. "Aku iriiii sampai sekarang tidak ada yang bisa alu lakukan seperti kamu," katanya.


Panji menghela nafas dia pikir kenapa sahabatnya menangis. "Lho kamu kan sangat popular tinggal pilih saja kan," kata Panji.


Sato bangun. "Semuanya jelek tahu!"


Panji tertawa keras mendengarnya. "Payah," sambil membelai pundak sahabatnya itu.


Sato enggan ditenangkan olehnya lalu dia mengambil kertas dan pensil. "Gambarkan keadaan Miu yang sekarang supaya aku bisa tahu juga," paksanya.


"Hahaha iya iya. Sekarang rambutnya panjang


Nih," kata Panji yang sudah berlatih menggambar.


"Waaah cantiknya. Oh Miu," kata Sato mencium gambarnya.


Sontak Panji marah melihat Sato melakukan itu. "Jangan! Jangan kotori Miu," kata Panji merebut gambarnya.


"Kan hanya gambar berlebihan sekali kamu ini," kata Sato yang tersinggung.


"Tidak boleh!" Kata Panji menggenggam erat.


"Baik! Persahabatan kita cukup sampai di sini saja. Kamu lebih memilih Miu," kata Sato berdiri dengan nada kesal.


"Terserahlah, aku tidak masalah kehilangan kamu. Toh aku punya Miu," kata Panji tidak peduli.


Sato menangis. "Begitu rupanya persahabatan laki-laki tidak bisa diukur di depan perempuan?" Tanyanya yang masih menutup kedua matanya.


Panji lalu menarik baju dan tangannya. "Aku sayang kamu kok karena kamu satu-satunya sahabat aku sampai sekarang," kata Panji.


Sato menatap Panji dengan mata yang sedih. "Benar? Benar kan?" Tanya Sato lalu memeluknya. Entah bagaimana kalau Sato kehilangan Panji nantinya.


"Iya jadi kamu jangan menangis. Kamu sudah kelas 3 SMP lho tahun depan SMA kan," kata Panji memeluknya juga.


"Kalau sampai aku merasa kalah dengan gadis dalam mimpimu, kasihan sekali kan aku," kata Sato. Lalu mereka tertawa lagi.


Setelah itu adegan berganti saat Sato hendak pamit untuk pulang, tak disengaja dia mendengar percakapan dokter pribadinya dan juga ibu Panji. Dia hanya berdiri mendengar isinya dan menangis lalu pergi keluar rumahnya begitu saja.


**Sato mendengar bahwa Panji tidak akan bisa bertahan sampai usia 14 tahun tapi buktinya dia kini berusia 16 tahun. Ibunya menangis bahagia namun tentu saja ada banyak kemungkinan karena jantung Panji nyatanya semakin rapuh.


Entah apa akan masih bisa bertahan sampai Sato nanti masuk SMA lalu kuliah? Bukan demi bulan terlewati, Sato terus memanjatkan doa agar suatu hari nanti Panji benar-benar bisa menemui Miu.

__ADS_1


Sosok Miu yang selalu diceritakan oleh Panji entah kenapa mulai menetap dan hidup dalam jiwa Sato juga. Sato harap Miu itu memang ada dan bisa dia bawa ke hadapannya. Jadi Panji akan bisa terus hidup**.


Bersambung ...


__ADS_2