
Dia kemudian berdiri tepat di depan toko Eris dengan bernafas lega. Dia memeriksa pinggangnya tentu ikat pinggang merah itu masih ada, Aiolos berbalik ke arah portal. Arae dan portal itu tidak ada jadi dia sekarang sendirian.
Sebelum kedatangan Aiolos, Yuri sudah datang dan memasuki toko dengan was-was. Etis tengah mengelap gelas-gelas tinggi dan barang yang sudah usang kembali bagus.
"Eris! Jadi benar kan kamu sudah kembali. Aku senang!" Kata Yuri kaget.
"Kemarin kan memang sudah bekerja kembali, kamu juga lihat," kata Raven merapihkan barang-barang.
"Aku takut itu hanya ilusi," kata Yuri lega.
"Kamu cemas?" Tanya Eria menghentikan pekerjaannya.
Yuri mengangguk.
"Terima kasih," jawab Eris dengan senyuman dingin, yah Yuri sudah terbiasa dengan itu.
Yuri mulai bekerja dalam cafe dengan senang sementara Eria menatapnya. Yuri yang dahulu terlihat mungil dan manis kini terlihat lebih dewasa dan semakin cantik.
Eris tahu, Yuri bukan dari kaumnya pasti usianya sekarang sudah pantas untuk memiliki tunangan atau menikah.
"Yuri, apa kamu sudah memiliki kekasih lagi?" Tanya Eris sambil mengelap meja kasir.
Yuri dan Raven menghentikan pekerjaannya.
"Belum sih, aku sedang tidak memikirkannya," kata Yuri menyimpan beberapa produk hasil ramuan Eris.
"Kenapa? Setidaknya usiamu sekarang sekitar 25 kan sudah pantas menikah," kata Raven menatap Yuri.
Yuri tertawa mendengarnya, "Yahh aku masih ingin menikmati hari-hariku di toko ini. Mencari pasangan itu nanti saja," kata Yuri.
Eris terdiam dia membalikkan lapnya dan mulai membersihkan kaca jendela di atas.
"Nanti sadar-sadar kamu sudah tua lho," kata Raven tertawa.
"Tidak masalah," jawab Yuri membuat Raven dan Eris menatapnya.
"Apa kamu berencana bekerja di sini sepanjang hidupmu?" Tanya Raven memandangi Eris.
"Yah, inginnya begitu," kata Yuri. "Tidak apa, kan? Aku ingin berpetualang dengan kalian," kata Yuri menatap Raven.
"Tapi Yuri," kata Raven dengan nada tidak setuju.
"Yuri, kamu..." kata Eris yang kemudian terpotong dengan dentingan bel pintu depan.
__ADS_1
Aiolos masuk, Eria kaget, Raven terdiam dan Yuri histeris.
"Kenapa dia bisa kemari?" Tanya Eris menatap tajam benda yang melingkar di pinggangnya.
"Ah, sudah buka? Maaf, aku kemari ada perlu mungkin kamu bisa membantuku," kata Aiolos memandangi sekelilingnya.
"Nona, biar aku..." kata Raven namun ditolak oleh Eris.
"Kalau kamu bisa datang kemari tandanya ada masalah darurat mungkin? Yuri, siapkan teh dan makanan, Raven urus cairan di kamar ramuan," kata Eris.
Mereka berdua mengerjakannya, Eris berjalan ke arah Aiolos dan menarik kursi dan meja dengan sihirnya. Aiolos sangat terpukau dengan kekuatan Eris, dia juga sudah tahu kalau Eris bukanlah manusia.
Yuri datang membawakan teh hijau dan cemilan manis diletakkan di depan Aiolos. Eris memandangi Yuri laku Aiolos, dia memiliki rencana entah apakah akan berhasil atau tidak.
"Silakan," kata Eris menawarkan.
Aiolos memandanginya dia agak ragu untuk mencicipi tapi akhirnya dia coba karena yang membuatnya adalah Yuri.
"Anu sebenarnya aku kemari dibantu dengan ikat pinggang ini. Milik Pela... eh temanmu," kata Aiolos takut tiba-tiba Arae datang dan memukul kepalanya lagi.
"Arae," kata Eris lalu mengayunkan telunjuk dan ikat pinggang itu melepaskan diri.
"Benar, itu namanya. Lho?" Tanya Aiolos memegang pinggangnya sudah tidak memakai.
Dia melihat ikat pinggang itu membentuk lingkaran dan terlipat begitu saja.
"Ingin menghilangkan kekuatan kan? Sama dengan Eria," kata Eris.
"Benar! Apa... kamu bisa?" Tanya Aiolos cemas.
"Kamu kemari sebenarnya menjadi jalan takdir yang misteri. Aku tidak menyangka bisa bertemu disini. Tapi kekuatan yang kamu miliki sangat besar sehingga membuat portal terpantul," kata Eris menatap aura besar yang menggeliat di sekitar Aiolos.
Aiolos mengangguk.
"Itu bukan salahmu, dari kisah masa lalu kamu," kata Eris berdiri.
"Masa laluku?" Tanya Aiolos berpikir.
Eris berdiri dan berjalan ke suatu tempat lalu keluar membawakan wadah besar dengan berisikan air yang sangat jernih. Air itu sangat aneh ditempatkan dalam baki berwarna kebiruan.
Eris mengeluarkan sesuatu dari kantong kain.
"Apa itu?" Tanya Aiolos dengan takjub.
__ADS_1
Eris mengeluarkannya sambil memasukkan bubuk pasir putih dan kristal biru.
"Masukkan tanganku. Jangan takut air ini aman," kata Eris.
Baki itu disimpan Eris di atas meja, Aiolos berdoa dan memasukkan tangan kirinya ke dalam. Kedua matanya terpejam, dia merasakan hawa sejuk berputar di tangan kirinya. Aiolos membuka matanya dia tampak kagum air itu berubah menjadi sekumpulan awan yang berputar.
Eris menatapnya dan terlihat beberapa gambaran mengenai Aiolos dari bayi sampai dia kini beranjak dewasa.
Apa yang dilihatnya tentu berbeda yang dilihat oleh Aiolos.
"Sejak bayi kedua orang tua kamu tidak ada karena kecelakaan, kamu diadopsi oleh bibi dari pihak ibumu tapi hanya sampai usia 4 bulan. Lalu kamu dipindahkan dan dirawat oleh beberapa orang. Saat usia 10 tajun sudah harus dipaksa berpindah kediaman dari sanak saudara lain ke yang lainnya," kata Eria.
Aiolos menunduk malu mendengarnya, dia teringat bagaimana perlakuan tante dan pamannya yang beberapa menolak dirinya tinggal.
"Aku kurang mengenal mereka berdua," kata Aiolos dengan suara yang pelan.
"Kemampuan kamu ada dari turunan Ayah. Sepertinya tidak perlu aku beritahukan bagaimana akhir hayatnya," kata Eris.
"Ya," Aiolos tidak terlalu mengenal ayahnya dan apakah dia mewarisi kekuatan itu, hanya dia tahu dari beberapa tante dan pamannya.
"Berbeda denganmu, kamu dapat mengendalikan kekuatan itu. Aku yakin kamu juga bisa melihat perempuan teman dari Ares di bulan lalu bukan?" Tanya Eris.
"Ya, anak perempuan itu hantu tapi aku tidak bisa mengatakannya," kata Aiolos.
"Tentu saja bila kamu memberitahukan hal itu, hantu perempuan akan mendatangimu dan tertarik dengan aura. Masa kecil kamu juga jauh dari kata menyenangkan. Kamu pernah tidur di... taman?" Tanya Eris aneh.
Aiolos tertawa mengingat hal itu. "Ah yaa karena aku dihukum," kata Aiolos tertawa.
Eris terdiam nasih Aiolos berbeda jauh dengan yang dia kenal di dunia dewa. Aiolos tertunduk sedih, mengingat semua orang menjauhinya karena bau badan. Tidak bisa mandi selama 4 hari dengan perut yang kelaparan juga.
"Silsilah keluarga tidak diketahui, bahkan orang tua kamu yang meninggal kecelakaan pun bukanlah keluarga aslimu," kata Eris menatap Aiolos.
Aiolos terkejut, ya itu sudah dia sadari sejak kecil karena entah kenapa semua wajah dan kulit tidak sama dengannya. "Be-benarkah? Lalu apa aku ini anak haram yang dibuang?"
"Kamu diculik sejak dari bayi itulah kenapa kamu tidak merasa kenal dengan sang penculik," kata Eris.
Aiolos menangis setelah mengetahuinya.
"Tenanglah orang tua mu masih ada mereka masih mencari," kata Eris.
"Kapan aku bisa bertemu dengan mereka?" Tanya Aiolos dengan suara bergetar.
"Belum waktunya. Mereka akan menemukanmu di saat bersamaan kekuatanmu menghilang," kata Eria.
__ADS_1
"Syukurlah," kata Aiolos menundukkan kepalanya.
Bersambung ...