Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
3


__ADS_3

Setelah mendengar suara Siana, Kirika tampak terpukul sekali dengan keterangan Siana. Dengan wajah yang kosong dan bergelimpangan air mata, Kirika berjalan kembali menuju kamarnya dan menangis. Malam hari Kirika tidak bersemangat saat tengah makan malam. Kedua orang tuanya kebingungan.


"Kamu kenapa, Nak? Mata kamu sembab," kata Ayahnya khawatir.


"Oh, aku hanya rindu pada teman-temanku di Bandung, Yah. Aku sudah kenyang mau ke kamar mengerjakan tugas kuliah," katanya langsung membereskan piringnya.


"Iya," kata Ibunya.


Pukul 10 malam, Kirika membuka jendela kamarnya dan merasakan desiran angin malam. Kirika menerima bila Anemoi memang bersama Siana toh, dirinya kini berada jauh dengannya. Meski pahit, Kirika mulai berpikir kembali.


"Bu, aku mau jalan-jalan sebentar ya," kata Kirika.


"Hati-hati jangan terlalu jauh ya," kata Ibunya yang merasa Kirika sudah agak baikan.


Sebelum dia keluar terdengar deringan telepon, Ibunya mengangkat dan memanggil anaknya.


"Kirika! Telepon dari Anemoi," katanya dengan tersenyum.


Kirika tidak tampak ceria tapi masih mau menerimanya setelah ibunya menepuk lembut bahunya.


"Halo," kata Kirika datar.


"Kirika? Ini Anemoi maaf tadi siang kamu menelepon ya? Aku merasa sikap Siana agak aneh jadi aku mencari tahu. Yang angkat sudah pasti anak itu kan," kata Anemoi agak panik.


"Katanya kalian sudah pacaran. Untuk apa menelepon?" Tanya Kirika yang tidak mau dengar suaranya.


"Hah!? Jadi dia bilang begitu. Hahhh tadi siang dia dayang ke rumah membawakan makanan dari bos, dia sudah keterlaluan masuk ke kamarku dan memegang loncengnya," jelas Anemoi.


"Apa!? Jadi lonceng ku berdenting beberapa kali itu karena dia yang goyangkan? Kenapa bisa?" Tanya Kirika marah.


"Ya itu... aku tidak tahu kalau dia sampai datang lagi ke kamarku. Dia hanya cemburu kalau aku terus menjaga hati untuk kamu. Kamu marah sekali ya? Sekarang aku sering mengunci kamarku," kata Anemoi meyakinkan Kirika.


Entah kenapa ada perasaan yang melewatinya. Seketika itu perasaan bahagia dirasakan Kirika lagi. "Anemoi! Kamu ini... membuat aku cemas. Lalu kemana saja kamu selama 2 bulan terakhir?" Tanyanya menghapus air mata.


"Maafkan aku sekali lagi ya. Aku mencari uang tambahan dengan bekerja di beberapa tempat yang lain. Aku akan berkunjung minggu depan, aku sangat rindu kamu. Dan.. ada yang mau aku katakan pada kedua orang tua kamu," kata Anemoi dengan wajah yang super merah.


Ibu dan ayahnya Anemoi menyenggol bahunya sambil tertawa dan menggodanya.


Wajah Kirika pun memerah, ada pertanda bagus. "Aku akan menunggu," kata Kirika yang sekarang ceria kembali.


Eris duduk di sebuah kursi tidak jauh dari kediaman Kirika. Arae juga ada disana, menemani Eris.


"Mau aku percepat?" Tanya Arae.


"Tidak usah, jalan takdir mereka sendiri yang akan mengambil alih. Kamu tidak perlu melakukan apapun," kata Eris lalu menghilang, begitu juga Arae.


"Aku harap kita bisa bertemu secepatnya, ketiga teman kamu sangat berisik. Haikal akan datang dengan pacarnya juga untuk menemaniku nanti kesana. Mereka tidak bisa menelepon mu karena sibuk magang. Kamu baik-baik saja kan sekarang?" Tanya Anemoi takut bila Kirika kenapa-kenapa.


"Iya sekarang aku sudah tidak apa-apa, aku sangat hancur saat Siana memberitahukan kalian sudah pacaran," kata Kirika yang marah. Nanti dia akan membuat Siana menyesal!


"Haaa anak itu memang pantang menyerah dia sudah tahu soal apa yang akan aku lakukan nanti. Jadi sepertinya dia mulai balas dendam sama kamu," kata Anemoi.


Setelah itu pun mereka masih mengobrol panjang di ruang telepon. Setelah 1 jam penuh mengobrol, mereka saling menutup telepon.


"Cieeee yang sedang bahagia," kata Ibunya tertawa.


"Hehehe iya dong," kata Kirika.


"Kamu jadi mau jalan-jalannya?" Tanya Ayahnya.


"Oh iya. Jadi lah, tadi pulang kuliah aku lihat ada toko yang menjual Takoyaki jadi aku mau beli banyak," kata Kirika.


"Jangan banyak-banyak nanti kamu gemuk," kata Ayahnya mengejek.


"Huh! Anemoi akan menerima aku apa adanya," kata Kirika menjulurkan lidahnya.


"Sekalian ya belikan Royco di Alfamart untuk buat sop besok," kata ibunya memberikan uang.


"Siap!" Kata Kirika lalu keluar rumah. Angin malam menyambutnya seakan menghalanginya untuk jalan malam.


Menuju kamar Kirika, lonceng yang terletak di meja belajarnya kini menyala berwarna merah, auranya mengelilingi kamarnya seperti tahu apa yang akan terjadi pada Kirika. Lonceng tersebut melayang dan berdentang keras menandakan akan ada kejadian yang menimpa Kirika.


Kedua orang tuanya mendengar suara itu lalu ke atas kamar Kirika, ingin tahu suara apakah. Tanpa sepengetahuan mereka, serta Anemoi yang sedang mandi, loncengnya pun bereaksi sama. Aura merah dan berbunyi dengan keras, kalau saja Anemoi dapat mendengarnya itu menandakan ada sesuatu yang akan terjadi pada kekasihnya.


Kamar Kirika terbuka, Ayahnya masuk disusul oleh ibunya.


"Hmm? Aneh, tadi perasaan ada suara lonceng dari kamarnya Kirika. Ibu dengar kan?" Tanya Ayahnya.


"Dengar dengan jelas sekali. Suara itu dentingan lonceng yang Kirika miliki. Mana ya loncengnya?" Tanya ibunya mencari-cari.


"Ini bukan? Kenapa ada di lantai?" Tanya ayahnya menyerahkan lonceng tersebut.


"Kenapa agak panas ya?" Tanya ibunya meraba lonceng itu.

__ADS_1


"Sudahlah disimpan lagi saja di mejanya nanti kalau Kirika pulang, dia pasti marah tahu kita memegangnya," kata Ayahnya. Ibunya mengangguk dan menyimpannya kembali.


Tapi sekali lagi ibunya menatap lonceng itu firasatnya buruk karena baru hari ini lonceng itu berisik berbunyi seakan ada sesuatu yang akan terjadi.


Kedua orang tuanya menutup kamarnya Kirika kembali, lonceng itu melayang kemudian menghilang dan berada di dalam toko Eris. Ela yang sedang membereskan rak, terkejut lonceng itu kembali tanpa pasangannya.


Eris menerimanya dan bersiap-siap menyambut kedatangan bola kehidupan Kirika. Arae tertawa ceria lalu pergi entah kemana. Ela kembali ke posisi awalnya.


Di tempat Anemoi selesai dia mandi, perasaannya berkata bahwa dirinya mendengar ada suara lonceng. Dilihatnya di kamar, lonceng itu masih ada di tempatnya tidak bersuara.


"Mungkin hanya perasaanku saja. Milik Kirika kan tidak bisa berbunyi," katanya lalu turun ke lantai bawah mengambil minuman.


Eris melayang di udara menatap Anemoi yang dengan tenangnya kembali ke ruang keluarga sambil minum. Lalu menghilang tanpa pesan.


Seketika bulu kuduknya Anemoi merinding lalu memandang ke luar jendela. Tidak ada apapun saat ini perasaannya campur aduk tapi bahagia.


"Tadi aku pikir ada seseorang yang menatap tajam ke arahku tapi... mana mungkin ini kan lantai 2. Aku ini ada-ada saja," pikir Anemoi menutup kembali.


Angin kembali menderu kencang dan liar seolah-olah menyambut kesenangan akan kekuatan kegelapan yang sedang meneriakkan memberi peringatan pada kedua insan.


Pintu toko terbuka keras, angin bergegas masuk dan mempermainkan rambut putih Eris kemudian pintu tertutup kembali. Lonceng milik Kirika melayang di hadapannya lalu terdiam saat Eris membuka telapak tangannya.


"Kamu kembali kemari, sekarang hanya tersisa satu tapi mungkin agak lama datang," kata Eris membelai lonceng itu.


Sesampainya di toko Takoyaki, Kirika sudah membawa plastik sedang lalu membeli pesanan ibunya dan berjalan menuju rumahnya. Saat itu datanglah mobil yang meluncur cepat dengan pengemudi yang sedang memadu kasih di dalamnya.


Tanpa disadari pengemudi itu tidak melihat arah lajunya dan segera saja menghempaskan tubuh Kirika yang sedang bernyanyi riang. Mereka berdua terkejut sekali lalu turun dan melihat Kirika yang sudah berlumuran darah. Takoyaki terkoyak begitu saja begitu pun dengan Royco ibunya.


"Anemoi," kata Kirika kata terakhir yang dia ucapkan sambil menangis.


Kemudian tidak lama dikerubungi lah mereka semua oleh orang-orang. Kirika bergehas dibawa ke Rumah Sakit, kedua orang tuanya diinformasikan oleh petugas ambulans. Bergegas ke sana namun mereka harus rela kehilangan Kirika.


"KIRIKAAAA," Seru kedua orang tuanya dengan kesedihan mendalam.


Bulatan putih keluar dari tubuh Kirika lalu melesat menuju toko Eris, bulatan itu berpendar seakan marah dan sedih menemui Eris mengatakan sesuatu.


"Selamat datang. Kenapa? Kamu masih ingin tinggal di dunia ini? Itu tidak bisa waktumu sudah habis. Aku akan berikan kamu waktu intuk mengatakan perpisahan pada kekasihmu," kata Eris. Bola itu terlihat sedih sekali berharap Eris bisa memberikan dirinya sihir.


Kemudian bola itu berubah dengan rupa Kirika yang sangat sedih memandangi Eris.


"Pergilah kamu ke tempat yang bercahaya. Kamu tidak perlu membayar harga peminjaman lonceng ini karena kamu murni kecelakaan. Roh mu bukan milikku," kata Eris pintu tokonya terbuka dan terdapat jalan putih di hadapan Kirika.


Kirika dengan sedih berjalan ke sana saat mencapai ujung pintu, dia berhenti. Wajahnya menunjukkan sesuatu lalu berbalik pada Eris.


"Aku tak ingin Siana mendapatkan Anemoi," kata Kirika dengan pancaran yang berbeda.


"Eris, apa kami bisa membantuku?" Tanya Kirika.


Eris memejamkan kedua matanya. "Apa itu?" Tanya Eris.


"Aku ingin balas dendam," jawab Kirika dengan tegas.


"Kamu tidak akan bisa menuju alam ketenangan," kata Eris masih dengan wajah dinginnya.


"Tidak apa asalkan Siana tidak dengan Anemoi. Setelah itu, aku rela dikirim ke Neraka sekalipun asalkan bersama Siana. Kalau begitu pembayaranku lunas kan," kata Kirika masih memikirkannya.


Eris menghela nafas padahal jarang sekali ada bola kehidupan yang mau menjadi bayaran. "Baiklah kalau begitu, akan kuambil bayarannya. Jadi kamu ingin gadis yang menyukai kekasihmu juga mengalami hal yang sama sepertimu? Mau kamu jemput sendiri atau bagaimana?" Tanya Eris.


"Biar aku yang lakukan. Terima kasih Eris, aku beruntung bertemu denganmu," kata Kirika lalu pergi ke luar tokonya.


"Wahh dia sampai berterima kasih segala. Coba ada banyak orang seperti dia ya akan sangat menguntungkan untuk kita bukan," kata Arae sambil tertawa jahat lalu menghilang. Dia penasaran dan akan mengikuti Kirika tanpa mengganggunya.


"Manusia sangat aneh," kata Eris.


Besok paginya Anemoi terbangun dia lalu mandi dan bersiap bekerja dengan girang. Kirika berada di sisinya menangisi kemudian suara langkah kaki yang panik menaiki tangga.


"Anemoi!" Teriak ibunya dengan pandangan pucat.


"Ada apa sih Bu? Aku mau siap bekerja. Kenapa wajah ibu?" Tanya Anemoi kebingungan.


"Nak. Kirika kecelakaan dia ditabrak mobil dan tidak selamat," tangis ibunya membuat Anemoi membeku.


"Hahaha ibu bohong kan," kedua kakinya langsung berlari keluar sambil membatas tas kecil. Dia terus berharap kabar itu bohong, dia memegang kotak kecil di dalamnya terdapat cincin pernikahan yang asli. "Aku akan menikah dengannya, sebentar lagi," kata Anemoi.


Tiba di rumah Kirika terdapat empat buah karangan bunga besar. Mereka sudah 2 tahun berpacaran dan niatnya nanti hendak melamarnya tapi kini. Dia berjalan pelan ke dalam rumahnya, suasana berduka menyelimuti rumah kecil itu.


"Nak Anemoi. Tabahlah," kata Ayah Kirika memeluknya.


Tangisan Anemoi bergema tidak mempercayai apa yang dilihatnya saat itu.


Seminggu berlalu, Anemoi masih belum bisa menerima kehadiran siapapun. Lonceng pemberiannya dia peluk erat, Kirika di sisinya memeluknya. Haruskah dia ajak Anemoi bersamanya ataukah...


Siana datang dan memeluknya juga, Kirika marah padanya. "Moi, aku minta maaf tidak akan menduga seperti ini. Aku hanya ingin usil kepadanya. Hentikan terus murung kamu pikir Kirika akan senang melihat kamu begini terus?" Tanya Siana bersikap pura-pura peduli.

__ADS_1


Kirika yang seorang roh memukul Siana tapi tidak ada gunanya.


"Pergilah," kata Anemoi melepaskan pelukan Siana.


"Masih ada aku meski kamu terus menolak, aku akan menunggu," kata Siana.


Akhirnya Anemoi memeluk Siana dan menangis. Siana memeluknya juga dia senang akhirnya Anemoi berhasil dia dapatkan.


Malam hari tiba, Anemoi yang berada di dapur mendengar dentingan loncengnya, bergegas Anemoi lari memasuki kamarnya dan melihat loncengnya masih sama di tempatnya. Namun saat Anemoi berbalik turun, loncengnya berbunyi.


Anemoi lalu menuju telepon rumahnya dan bernafas memencet nomor rumah Kirika yang sekarang sudah kosong. Kedua orang tuanya memutuskan untuk pindah ke rumah orang tua mereka untuk melupakan Kirika. Jadi yang tersisa hanyalah telepon saja.


"Akan kucoba meski aku tahu rumah itu sudah kosong," kata Anemoi menenangkannya.


Dia menunggu memang ada suara telepon berjeda lalu... KLEK!


"Anemoi," suara Kirika terdengar sayu dan sedih.


Anemoi langsung meluncur lemas terduduk di lantai. "Kirikaaaa huuu huuu kenapa kamu meninggalkan aku," kata Anemoi menangis.


"Maafkan aku... aku... rindu... kamu... " kata Kirika dalam toko Eris.


"Kamu dimana sekarang? Aku masih belum percaya kamu sudah tidak ada di dunia ini lagi. Aku ingin menemanimu," kata Anemoi yang memang menyayanginya.


"Jangan... hiduplah... untuk bagian...ku juga," kata Kirika sedih menahan rindunya.


"Aku tidak tahu apa bisa melakukannya setiap kali mengingatmu. Kamu tahu, aku sudah siapkan cincin pernikahan kita," kata Anemoi dengan suara bahagia.


"Aku... bersyukur bisa... mengenalmu, Anemoi. Hiduplah... Siana," kata Kirika.


"Tenanglah, meski kamu sudah tidak ada hati ini masih tetap untukmu. Selamanya," kata Anemoi.


"Jangan... hentikan! Carilah perempuan lain... tapi bukan... Siana," kata Kirika, dia tidak ikhlas kalau Anemoi bersamanya.


"Haha tentu saja. Kamu juga segeralah pergi ke alam ketenangan. Tunggu aku disana," kata Anemoi dengan seketika dirinya bangkit.


"Kamu membenciku... karena... kita berbeda...?" Tanya Kirika cemas.


"Tidak. Aku akan selalu merindukanmu, baiklah sesuai keinginanmu aku akan hidup untuk bagianmu juga dan meraih kebahagiaan. Hiduplah bahagia disana, Kirika." Kata Anemoi.


Setelah itu, percakapan mereka pun terputus. Kirika menangis, "Maaf tapi aku tidak akan bisa menunggumu disana. Siana, akan aku balas kamu akan aku tarik bersamaku menuju Neraka," desis Kirika.


Tempat kosan Siana yang penuh dengan mahasiswi kuliahan sedang ramai menertawakan kenekatan Siana.


"Akhirnyaaaa Anemoi menjadi milikku!" Kata Siana dengan bersorak sorai memakai celana mini menari dengan gemulai.


"Boleh juga tuh strateginya," kata yang lain melemparkan rokok.


"Bisa-bisanya kamu berbicara begitu pada kekasihnya yang mati. Hoki sekali," kata A sambil tertawa


"Iya dong. Tuhan saja lebih berpihak sama aku, siapa sih yang mau juga pacar sendiri jauh dari pasangannya lain? Selama ini aku bersabar ya menunggu kesempatan emas. Hahaha kasihan dia pasti disana hanya bisa gigit jari," kata Siana meledek Kirika.


"Kejam itu. Kamu tidak merasa bersalah, Siana? Kan kamu juga yang membuat anak itu murung," kata yang lain.


"Hahahaha bersalah? Mana ada. Aku kira akan putus eh hoki dia malah langsung mati. Lho?" Tanya Siana yang memandang keluar jendela.


"Ada apa?" Tanya yang lain.


"Kekasih aku datang. Sebentar ya aku kesana dulu mungkin dia rindu dengan pelukan aku," kata Siana kemudian mematikan rokoknya dan menyemprotkan parfum.


"Hah? Kekasih? Yang mana?" Tanya B melihat keluar.


"Tapi Na, tidak ada siapapun," kata A lagi kebingungan.


Siana sudah berlari keluar kosannya sambil tertawa senang melihat Anemoi yang berdiri sambil tersenyum ke arahnya.


"Kak, tidak ada siapapun," kata temannya.


Mereka langsung keluar rumah dan berteriak memanggil Siana. Yang Siana hampiri adalah pohon besar yang kabarnya akan ditebang besok pagi. Saat itu Arae hadir mengendarai motor dan melesat mementalkan tubuh Siana.


Kirika berdiri dengan puas auranya menjadi hitam pekat dan berdiri di depan Siana sambil tertawa jahat. Siana menatapnya kaget dan menangis.


"Maafkan aku, Kirika," katanya ketakutan.


"Akan aku maafkan kalau kamu bersedia ke Neraka bersamaku," kata Kirika memeluk Siana.


"TIDAAAAK!" Jeritnya lalu meninggal seketika.


Besoknya Anemoi mendengar kabar mengenai kecelakaan Siana dan menundukkan kepalanya. "Kamu benar-benar membawa Siana lalu aku? Apa kamu membenciku Kirika?" Tanyanya kepada langit.


Dalam toko Eris datanglah dua bola kehidupan yang telah berubah menjadi hitam. Kirika senang sekali kini Siana sama dengan dirinya. Sedangkan Siana meminta tolong pada Eris kemudian Eris membuat mereka beku dan memasukkannya ke dalam bola kristal.


..."I created you from one soul, and from the soul...

__ADS_1


...I created its mate so that you may live in...


...harmony and love."...


__ADS_2