Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
1


__ADS_3

"Kamu bisa mengetahuinya saat nanti ada perkumpulan di ruang tengah gedung sebelah," kata Ibu kos lalu pergi meninggalkan Sheila sendirian.


Sheila kemudian memandangi sekelilingnya, menghela nafas dam menaruh semua barangnya. Sambil memegang kedua bahunya, dia menghampiri kasur yang sudah terlipat rapih.


"Setidaknya kasur ini nyaman karena empuk," kata Sheila tiduran sebentar.


Saat Sheila tengah asik meregangkan badannya, dua orang penghuni kamar lain mendatanginya.


"Oh, sudah ada yang menghuni ya," kata gadis yang ber kepang.


Sheila langsung bangun dan menatap ke luar kamarnya. Lalu menundukkan kepalanya. "Hali," kata Sheila.


"Hai juga. Kenalkan namaku Tami, dan ini Lala. Kamu baru tiba ya?" Tanya Tami dengan rambut pirangnya.


Sheila mendatangi mereka. "Ah iya, namaku Sheila. Kalian penghuni kamar yang mana?" Tanyanya.


"Aku kamarnya dekat tangga sedangkan Lala di kamar nomor 107, agak ujung sih," tunjuk Tami.


"Ah syukurlah aku tidak sendiri," kata Sheila bernafas lega.


"Semoga betah ya," kata Tami.


"Masuk," kata Sheila.


"Tidak usah sebentar lagi akan ada perkumpulan di gedung sebelah. Kamu datang ya, oh iya kabarnya di kamar ini," kata Lala yang kemudian mulutnya dikunci oleh Tami.


"Kenapa? Kamar ini kenapa?" Tanya Sheila.


"Tidak ada apa-apa, kamar ini bagusnya bisa melihat ke arah lapangan gedung Kos. Maksudnya dia begitu," kata Tami melepaskan mulut temannya.


"Iya iya," kata Lala.


Kemudian mereka berdua berpamitan hendak bersiap-siap untuk makan malam. Sheila yang tidak berpikir apapun lantas masuk kamar dan menutupnya.


"Huaaa aku pikir siapa ternyata penghuni kamar lain. Memang sih jarak antar kamar agak jauh, aky mendengar sekilas sih asrama ini dibangun tidak lama setelah perang dunia berakhir. Berarti sudah lebih dari 40 tajun dong? Lalu... kalau perang jangan-jangan..." kata Sheila menelan ludah.


Sheila menggelengkan kepalanya sekeras mungkin dan menepuk kedua pipinya. Hari ini adalah kedatangan pertamanya masa iya dia harus berpikiran yang macam-macam?


Dia mengeluarkan semua baju, buku, tas, sepatu dan merapihkan nya di kamar tersebut. Dia juga mengeluarkan seragam sekolahnya dan mengeluarkan setrikaan dari dalam koper.


Malam harinya, Sheila datang ke gedung sebelah dia terkejut ada banyak sekali penghuni asrama. Tapi ternyata yang SMP hanya dia seorang jadinya dia agak dimanja oleh kakak kelas SMA yang tidak satu sekolah dengannya.

__ADS_1


Pagi harinya Sheila bangun dan pergi mandi lalu sekolah seperti biasanya. Dia belum sadar sama sekali dengan suhu kamarnya yang tiba-tiba turun.


Di sekolah dia terkapar menguap sambil menunggu guru masuk.


"Sheila, sekarang kamu tinggal dimana?" Tanya Erina yang baru datang.


"Asrama sekolah yang di sana," tunjuk Sheila.


Karin yang juga baru datang ikut mendatangi Sheila. Mereka berdua menatap arah yang diberikan oleh Sheila.


Kedua temannya menganga dan menatap Sheila yang tampak biasa saja menatap mereka.


"Ada apa?" Tanya Sheila dengan salah satu mata yang ditarik ke atas 🤨.


Saat Erina hendak menjawab, ketua kelas memberitahukan bahwa guru sudah datang dan semuanya kalang kabut.


"Nanti istirahat kita lanjut lagi, karena mungkin kamu tidak tahu kisah asrama sekolah," bisik Karin pada Sheila.


"Oke," jawab Sheila agak penasaran.lAly mengeluarkan beberapa buku dan berjalan dengan tertib.


Kemudian 2 jam kemudian pelajaran berakhir dan bel jam istirahat berdering membuat beberapa siswa langsung berhamburan.


"Ayo, hari ini kamu bekal?" Tanya Karin pada Sheila.


Saat Sheila tengah bergelut dengan siswa lainnya, Karin dan Erina menunggunya di dekat tangga menuju halaman sekolah.


"Yuk," kata Sheila membawakan beberapa bungkusan makanan.


Mereka tiba di halaman yang penuh dengan beberapa murid. Mereka membuka masing-masing bekal dan menawarkan pada Sheila juga.


"Bagaimana rasanya tinggal di asrama sekolah itu?" Tanya Karin yang meminta roti Sheila.


"Susah! Ternyata hanya aku yang masih duduk di SMP, lebih banyak kakak senior dari kelas 2 sampai 3 SMA," kara Sheila bersandar ke pohon besar.


"Kapan kamu melihat mereka?" Tanya Erina.


"Tadi pagi sewaktu hendak pergi ke sekolah. Mereka semua keluar dari kamar menuju sekolah masing-masing," kata Sheila mengunyah lemper.


"Apa ada aturannya?" Tanya Erina.


Sheila menghela nafas tentu saja yang membuatnya tidak leluasa bila keluar kamar. "Tentu saja ada, aku sewaktu mandi diberitahu hanya disediakan waktu 5 menit. Terbayang kan bagaimana aku panik, belum gosok gigi, cuci rambut, pakai sabun spa. Lalu jam makan juga dipakai waktu, pokoknya tidak bisa tenang!" Kata Sheila berteriak kesal.

__ADS_1


Mereka berdua tertawa melihatnya.


"Bagaimana kalau menginap di rumah aku saja?" Tanya Erina menawari.


"Tidak ah, aku bisa dimarahi oleh Ayah. Ayahku hanya bekerja selama setahun lalu kembali lagi kemari. Aku tidak enak kalau harus menginap sampai selama itu," kata Sheila menggaruk kepalanya.


"Lalu ada kisah lain tidak?" Tanya Karin penasaran.


"Hah?" Tanya Sheila.


"Maksudnya soal hantu atau penampakan," jelas Erina tidak sabar.


"Hantu?" Tanya Sheila berpikir.


"Memangnya kamu tidak tahu ada kisah semacam itu di sana? Kamu kan tahu banyak juga siswa di kelas yang berasal dari kota jauh tapi memilih menyewa rumah," kata Karin.


"Eh?? Apa bagaimana?" Tanya Sheila kebingungan.


Mereka berdua berpandangan. "Lho?"


"Kabarnya sih ada yang melihat hantu anak kecil makanya banyak yang tidak betah tinggal di sana. Aku heran bagaimana bisa kamu setuju menempati kamar di asrama itu," kata Erina menyilang kan tangannya.


Wajah Sheila memucat mendengarnya. "Duh, jangan bicara yang aneh-aneh deh tanpa cerita soal itu saja asrama itu sudah seperti rumah hantu," jelas Sheila.


"Benarkah!? Coba jelaskan seperti apa yang kamu lihat," kata Karin.


"Gedung dalamnya terlihat bobrok, aku agak cemas saat koper beratku aku tarik. Aku bisa dengar bunyi berderit, aku hanya berdoa semoga tidak ambruk," kata Sheila.


Mereka berdua tertawa keras. "Kamu sih kalau bawa barang pasti banyak seperti mau pindah negara saja," kata mereka.


"Lalu dindingnya pun terdapat bekas retakan gempa katanya. Mengerikan," kata Sheila meminum susunya.


"Haaa bosan jadi tidak ada cerita penampakan ya," kata Erina menghela nafas.


Sheila melemparkan botol kosong ke arahnya lalu dia tertawa. "Enak saja!" Katanya.


"Maaf maaf," kata Erina memohon ampun.


"Ternyata hanya gosip ya," kata Karin menghabiskan bekalnya.


Mereka mengobrol cukup seru dan harus bergegas masuk, bel istirahat telah berakhir. Sheila sempat berpikir sesaat sebelum dia akan pergi sekolah, entah kenapa suasana udara di kamarnya menjadi dingin.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2