
Nyx dan Aiolos masih berada di cafe sampai malam tiba, mereka bergegas membersihkan meja dan lainnya.
"Haaa seperti biasanya hari ini pun sangat penuh pembeli," kata Nyx memukul punggungnya yang kesakitan.
"Ya dan seperti biasanya juga kita harus kerja keras karena..." kata Aiolos kemudian terdiam menatap gadis berambut panjang di depan cafe.
Gadis itu menundukkan kepala lalu masuk cafe dan senyum. "Selamat malam Kak Aiolos, Kak Nyx," sapa Eria.
"Ya ampun! Selamat malam juga Aku baru saja berpikir bagaimana caranya agar bisa mengobrol lagi dengan kamu," kata Aiolos mempersilakan Eria masuk.
"Sejak kapan kamu menunggu?" Tanya Nyx keluar membawakan susu cokelat hangat.
Eria tampak kedinginan, nafas dingin keluar dari mulutnya. Dia menyambut susu hangat itu dan meminumnya.
"Baru saja kebetulan aku sudah selesai syuting dan memutuskan untuk datang lagi," kara Eria menegak susu panas itu.
"Hmmm baiklah kalau begitu, aku pulang duluan ya. Hari ini sangat lelah aku mau mandi dan langsung tidur," kata Nyx menepuk bahu temannya lalu kabur.
Setelah beramah tamah, mereka berdua pun keluar toko. Aiolos bermaksud mengantarkan Eria sampai rumah. Aiolos menatap kedua tangan Eria yang menggosokkan karena dingin.
Dia bisa melihat terdapat sobekan kain di tangan bajunya, tampak kusam dan tidak pernah dicuci dengan baik.
"Dingin ya," kata Aiolos memandangi Eria dengan simpati.
"Tidak apa-apa, cafenya sudah tutup?" Tanya Eria memandang ke belakang.
"Sudah, untung kamu ke sini saat aku belum pulang. Apa ibumu tidak pernah cemas kalau kamu pulang jam segini dan menemui aku?" Tanya aiolos menatap Eria.
Eria memandangi jalanan dan senyum sedih. "Ibuku sama sekali tidak pernah mencemaskan anaknya. Yang dia cemaskan hanyalah uang,"
__ADS_1
Aiolos menghembuskan nafasnya. "Masa iya ada seorang ibu yang hanya memikirkan uang bukan anaknya sendiri?" Tanyanya.
Eria terdiam dan Aiolos menepuk pelan kepalanya. Eria menatap ke atas, kedua mata mereka saling bertemu. Aiolos lalu berjongkok.
"Setidaknya aku berbeda dengan ibumu. Aku akan cemas sekali kalau kamu pergi semalam ini ke tempat cafe. Kamu harus pulang," kata Aiolos mengalungkan syal miliknya pada Eria.
"Kakak cemas padaku?" Tanya Eria menatap lurus.
Aiolos mengangguk. "Ya, setelah kita bertemu aku jadi mencemaskan keadaanmu. Apa kamu akan baik-baik saja hidup dengan ibumu," kata Aiolos.
Eria tersenyum. "Maaf kak," jawabnya.
Aiolos lalu berdiri dan berjalan kembali sambil menahan udara dingin. "Syuting kamu sudah selesai?"
"Belum sih sekarang sedang istirahat saja. Aku jauh dari lokasi syuting," jawab Eria.
Aiolos kaget. "Apa? Kamu syuting tidak ditemani ibumu?" Tanyanya.
Aiolos senyum. "Melihat kamu saja datang aku jadi lebih semangat,"
"Oh.. syukurlah. Lalu bagaimana keadaan hantu itu?" Tanya Eria menghapus air mata dan kecemasan.
"Hmmm aku rasa biksu di kuil itu sudah melakukan pembersihan karena tidak ada telepon. Semoga saja hantu perempuan itu bisa tenang di alam sana," kata Aiolos memandangi langit malam yang cerah.
Lalu Aiolos teringat akan sesuatu dan dia mencari-cari di semua saku baju dan celana panjangnya.
"Ada apa, Kak?" Tanya Eria penasaran.
"Aha! Ini dia! Tadi sewaktu bekerja ada mahasiswi yang menjual sarung tangan anak perempuan. Aku mencari yang kemungkinan pas untuk tanganmu. Ini," kata Aiolos memberikan sarung tangan berwarna biru dengan hiasan kelinci pada Eria.
__ADS_1
Eria menerimanya dan bengong. "Untuk...ku? Kakak mampu melihat apa yang akan terjadi ya pada orang-orang yang dekat dengan kakak," kata Eria.
"Hahaha iya tapi tidak begitu jelas. Hanya penampakan tangan kamu yang kedinginan. Maaf ya aku tidak tahu berapa ukuran tanganmu. kalau agak kebesaran ya apa boleh buat," kata Aiolos.
Eria berlinang air mata ini pertama kalinya dia menerima hadiah dari orang lain. "Tidak apa-apa. Terima kasih, aku senang sekali," kata Eria menatapnya terus.
"Syukurlah sekarang kedua tanganmu tidak akan kedinginan lagi. Tapi soal bertemu kamu disini, aku tidak tahu lho. Ini hanya kebetulan kan," kata Aiolos.
"Tidak ada yang namanya kebetulan kak, semua sudah di rencanakan baik oleh Pencipta kita," kata Eria dengan tatapan dingin khas seperti Eris.
Aiolos agak keheranan menatapnya, aura itu mirip dengan Eris. Aiolos menggelengkan kepalanya, mana mungkin kalau Eria adalah Eris.
Mereka berjalan lagi dan akan berbelok tapi tiba-tiba saja Aiolos bertubrukan dengan seseorang.
"ADUH!" Teriak orang itu dan Aiolos.
Aiolos menatap tajam dan kaget. "Lho? Kok kamu ada disini? Mau kemana?"
Ternyata Nyx yang bertabrakan dengannya. " Aku khawatir. Aku mendapatkan perasaan tidak enak. Lagipula ini sudah terlalu malam juga kan," katanya sambil melirik kanan dan kiri.
"Ada apa sih? Aku tidak apa-apa kok," kata Aiolos tertawa.
"Kamu yang punya indera ke enam saja bisa santai. Aku yang biasa justru cemas," kata Nyx.
Eria menatap Nyx dengan seksama ada aura biru yang tipis memutari dirinya. "Kak, terima kasih sekali lagi sarung tangannya. Lalu kak Nyx, sebenarnya kakak juga..."
"JADI KAMU ADA DISINI SUDAH LAMA YA!?" Tiba-tiba mereka bertiga dikejutkan dengan suara teriakan yang melengking.
Eria langsung memasukkan sarung tangan itu ke dalam saku jaketnya. Aiolos dan Nyx memandangi sang ibu dengan was-was.
__ADS_1
Bersambung ...