
"Sheila? Mau dibawa ke ruang perawat? Mungkin kamu sedang kangen dengan Ayahmu," kata gurunya menghampiri.
To...long kak... aku ingin... hu hu hi keluar...
Anak kecil itu mengangkat wajahnya dan memandangi Sheila dengan air mata yang derai keluar.
"Anak ini hanya terlihat olehku!?" Pikir Sheila yang berjalan mundur.
Anak itu berdiri dan menghampirinya.
"Ti-tidak! TIDAK!! JANGAN DATANG!! JA..." Sheila lalu jatuh pingsan.
"Sheila! Sheila!" Teriak Pak guru dan yang lainnya lalu mereka bergotong an membawanya ke ruang perawat.
"Seperti akibat kelelahan dan kurang tidur juga. Tekanan darahnya naik saya akan beri obat penenang saja ya. Sekarang dimana dia tinggal?" Tanya perawat sekolah.
"Karena Ayahnya dinas ke luar negeri, dia tinggal di asrama sekolah Bu," kata Erin.
"Anak asrama? Ya sudah nanti kamu temani dia pulang ke sana takutnya dia tidak kuat berjalan sendiri," kata perawat memasukkan obat ke saku seragamnya.
"Baik Bu," jawab Erin dan Karin bersamaan.
Pak guru datang sambil membawa kursi roda yang baru saja dipinjamnya dari ruang serba ada. "Gunakan kursi roda saja,"
Setelah Sheila agak siuman, mereka mengantarnya pulang oleh beberapa guru dan temannya juga. Sesampainya ibu kos membantu Sheila masuk dan mereka semua pamit.
Dalam kamar Sheila dia berpikir keras, wajah anak itu dia masih ingat sedih dan terus menangis.
"Ah, akhirnya memang aku bisa melihat wajah anak itu. Aku pikir akan menakutkan tapi ternyata dia secantik itu," kata Sheila lalu bangkit dan memijat kepalanya.
Saat hendak mengambil makanan, dia melihat ada sesuatu berwarna putih di bawah pintu kamarnya. Saat dia masuk sepertinya tidak ada apapun.
"Siapa yang menaruh ini? Tadi aku masuk kamar tidak ada apapun deh. Toko Kazaam? Daerah mana ini? Menerima penjualan boneka, barang-barang antik, jimat, anting cantik. Ah! Ini kan anak yang waktu itu, oh jadi dia pemilik toko ini. Tapi kenapa dan kapan dia mengirimkan selembaran ini?" Tanya Sheila garuk kepalanya merasa aneh.
Dia taruh selebaran itu di atas meja belajarnya. Dia duduk bersimpuh dan menatap, memegang lantai itu.
"Anak itu manis berambut pirang juga. Pokoknya aku harus pergi dari kamar ini! Aku bisa ikut menginap di rumah Erin atau Karin! Kalau terus bertahan di sini aku bisa gila!" kata Sheila membereskan barang-barangnya.
Saat fokus mengemas sebuah tangan muncul memegang sisi tasnya dan dia langsung melompat kaget.
Ja..ngan. Kumohon.. ja..ngan... per..gi
__ADS_1
Kata suara anak kecil itu. Kepalanya muncul dari kedalaman lantai kamarnya dan Sheila panik. Benar, dia tidak berhalusinasi, tangan kecil itu memang ada.
"Tenang, tenang Sheila. Ingat apa kata ibu kos dan yang lainnya yang tidak percaya soal keberadaannya. Anggap saja dia adik jauh mu meski mengerikan hanya terlihat setengah badan," pikir Sheila menenangkan pikiran dan debaran jantungnya.
"Ka-kamu siapa? Apa yang kamu mau dari aku?" Tanya Sheila dengan suara bergetar menahan tangannya yang ketakutan.
Aku... ingin keluar da...ri sini...
"Dari sini? Kamu di mana? Aku tidak tahu kamu berada di mana," kara Sheila yang perlahan duduk dekat anak itu.
Bawah... aku di... bawah.
Sheila menatap anak itu menunjuk ke bawah lantai. "Bawah lantai ini?"
Anak itu mengangguk dengan air mata yang sudah mengering. Karena wajahnya cantik dan imut membuat hati Sheila sedikit tenang.
Di luar Eris menatap Sheila dan roh anak itu tanpa berbuat sesuatu karena alam anak itu tersambung dengan Sheila. Eris hanya akan membantu membawa Sheila menuju alam anak itu.
"Ada di bawah tanah ya," kata Sheila berpikir cara untuk ke sana.
Iya. A..ku di suruh per...gi ke ba...wah. Disuruh te...tap di...sini sam..pai.. perang sele..sai
Sheila mendengarkan dengan wajah yang iba dan sedih. Bagaimana bisa dia ditinggalkan begitu saja.
Suaranya terdengar pilu sekali entah kenapa Sheila yang tadinya ketakutan sekarang merasa sangat bersimpati.
"Lalu lubang hitam yang aku lihat, itu perbuatan mu?" Tanya Sheila.
Maaf, aku..ha..nya takut ka..mu akan per...gi. Aku menung...gu berta..hun-ta..hun keluargaku ter...bakar. Aku te...rus sendiri..an terus bera...da di si...ni
Sheila menatap anak itu yang kini duduk bersimpuh sama dengan dirinya menundukkan kepalanya dengan sedih masih memegang sisi tas kopernya.
"Ternyata bukan sekedar desas desus belaka, bukan dibunuh oleh militer tapi disembunyikan oleh keluarganya. Tanpa sempat ditolong semua keluarganya tewas terbakar. Kasihan sekali terus dirundung kesedihan, puluhan tahun di bawah sini. Jadi kamu berusaha memberitahu orang-orang ya," kata Sheila meneteskan air matanya.
Anak itu kaget menatap Sheila yang menangis lalu menyekanya. Tangan anak itu transparan tapi air mata Sheila yang hangat menembus hatinya.
Sheila kemudian bangkit berdiri, aura semangatnya berkobar. "Baiklah, aku akan mengeluarkan mu! Tunggu ya disana meskipun mungkin kamu sudah berupa tengkorak," kata Sheila.
Anak itu menghilang mengangguk lalu menghilang. Sheila kemudian bergegas berganti baju dan menuju gudang asrama. Mengambil beberapa sekop besar serta sapu.
Hal itu terlihat oleh beberapa kakak senior yang sedang jalan-jalan lalu menunjuk ke arah Sheila. Mereka berpandangan dan mengangguk setelah Sheila tak kembali, mereka mengikuti dengan mengambil beberapa alat juga.
__ADS_1
Sheila mulai memukul lantai itu dengan tenaganya, selama beberapa menit terbelah lah lantai itu tentu dengan bantuan Eris. Lalu dia mulai menggali jalan menuju bawah.
Ibu kos berjalan dengan cepat lalu membuka kamar Sheila karena mendengar suara sangat keras.
"Ada apa lagi?! KYAAAAA SHEILA, KAMU SEDANG APA!?" Tanya ibu kos sangat terkejut, lantai kamar Sheila sudah bolong.
"Aku sedang bekerja," kata Sheila terus menggali.
"KAMU PIKIR INI DI MANA? TIDAK BISA SEENAKNYA! HENTIKAN! SAYA TIDAK IJINKAN KAMU BERTINDAK SEENAKNYA!" Teriak ibu kos mengambil sekop Sheila.
"Aku ingin mengeluarkannya, Bu kasihan anak itu tertidur puluhan tahun di bawah sini! Arwahnya tidak bisa tenang. Kumohon kembalikan ini semua agar semuanya mereda," kata Sheila mengambil kembali sekopnya dan menggali lagi.
Eris tertawa di luar kamarnya. Anak itu masih belum tahu kalau arwah itu adalah Jiwa dari boneka itu sendiri.
"Kamu... kamu memang aneh! Aku akan laporkan masalah ini pada Ayahmu dan juga guru kelas! Untung kalian disini, tangkap dan jaga Sheila," suruh ibu kos pada murid SMU yang berdatangan.
"Biar kami bantu," kata Anoko dengan tenang.
"Syukurlah. Anak ini sangat aneh sepertinya efek terlalu ditinggalkan oleh Ayahnya," kata ibu kos tersenyum lega.
Anoko memberikan kode dan Sheila agak ketakutan. Karena dia sendiri anak SMP disana, salah satu turun ke bawah galian menghampiri Sheila.
"Kak, aku bisa jelaskan. Aku..." kata Sheila yang berusaha bertahan.
"Kalian bawa kan alat-alatnya?" Tanya Anoko kepada teman penghuni lain.
"Apa maksud kalian?" Tanya ibu kos heran.
Kakak yang berada di bawah menerima sekop lain dan membantu Sheila memindahkan tanah. Sheila tersenyum.
Para penghuni memegang alat berat masing-masing, ibu kos menganga dengan lebar.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!? Kalian mengerti tidak sih kalian semua bisa kena sanksi!" Seru ibu kos berusaha menghalangi.
"Bu, kita harus menyelidikinya kenyataannya sampai sekarang banyak yang mengalami kejadian kan. Saya yakin Ibu juga sudah lelah harus menjelaskan segalanya pada penghuni baru. Sudahlah jangan dirahasiakan lagi, ya g terbaik sekarang adalah menyelidikinya hingga tuntas," jelas Anoko.
"Tumben kamu waras," kata Tere bertepuk tangan.
Tere juga telah membawa alat pemecah batu besar yang membuat ibu kos semakin pusing. Beberapa menit mereka semua sudah seperti pekerja bangunan.
"Sa-saya akan laporkan pada guru kalian semua! Kalian bersiaplah menerima hukumannya!" Teriak ibu kos lalu keluar kamar dengan wajah sangat memerah.
__ADS_1
Bersambung ...