
"Hai, Kak!" Sapa anak kelas 1 itu dengan ceria kepada Kudo.
"Kamu toh. Ada apa ya?" Tanya Kudo berpikir tidak ada tugas seni.
Mia menatap sinis pada Kudo yang ternyata laku juga dia dihampiri oleh anak kelas bawah.
"Siapa anak itu? Akrab sekali dengan Kudo," kata Mia penasaran.
"Itu adik kelas di lantai 1 dari klub yang sama dengan Kudo. Kalau tidak salah namanya Mokona. Gosipnya anak itu sangat menyukai Kudo," kata Rita sambil merendahkan suaranya.
Tentu saja Mia sama sekali tidak menduga. "Bueeeh kok bisa? Sulit dipercaya ya, Kudo yang kuper seleranya buruk sekali," kata Mia dengan suara yang keras.
"Kenapa? Cemburu atau iri? Yah wajarlah meskipun aku kuper setidaknya banyak yang suka. Daripada kamu nenek lampir sombong dan galak mana ada yang mau," ejek Kudo sambil mencibir.
Mia langsung terbakar api melihat Kudo.
"Jangan begitu Mia, tidak baik lho. Menurutku Kudo keren kok kamu tidak tahu saja dia itu banyak penggemarnya lho," kata Tari. Yang lainnya setuju.
Mia semakin tidak percaya dan tertawa sangat keras. Masih mengejek Kudo.
"Dasar nenek lampir. Ayo kita bicara di luar saja, disini ada perempuan yang cemburu kalau kakak terkenal," kata Kudo dengan suara keras juga.
Anak yang bernama Mokona keheranan, lalu menatap Mia dengan tatapan sangat tidak suka.
Pukul setengah sembilan akhirnya pelajaran dimulai dimana gurunya terlambat memasuki kelas. Saat pelajaran berlangsung, seorang siswa dari kelas sebelah meminta ijin karena Kudo dipanggil oleh guru kesenian.
"Maaf Bu, saya disuruh Pak Ogah untuk Kak Kudo dipanggil ke klub kesenian," kara siswa itu.
"Kudo, pergilah. Setelah selesai kamu bisa melihat catatan dari temanmu yang lain," kata Guru Fisika.
"Baik, Bu," kata Kudo lalu pergi bersama siswa itu.
Di ruang guru, sudah terdapat sebuah patung yang ukurannya setengah badan.
"Bu, maaf saya mau ke toilet," kata Mia.
Bu guru mengangguk dan mengijinkan, Mia langsung lari dan turun ke bawah dengan tangga yang berbeda.
"Ah, Kudo tolong kamu bawakan patung ini ke ruang klub Kesenian ya. Kita akan menggambar patung ini dengan kreasi lain," kata guru klub kesenian.
__ADS_1
"Baik, Pak," kata Kudo yang kemudian mengangkat patung itu.
Saat Kudo mencari siswa tadi, tiba-tiba saja tidak ada siapapun disana selain dirinya dan guru klub.
"Kenapa, Kudo? Mencari siapa?" Tanya Gurunya.
"Tidak Pak, hanya saja siswa yang tadi memanggil saya tiba-tiba tidak ada," kata Kudo.
"Lho? Benar juga kata kamu. Bapak minta tolong dia untuk memanggil kamu. Kemana dia? Ah, mungkin sudah ke kelasnya. Hati-hati ya patung itu mahal," kata pak guru agak was-was.
"Siap, Pak," kata Kudo lalu mengangkat patungnya yang lumayan berat.
Di tangga menuju bawah ketemulah Mia yang hendak ke atas. Saat Kudo hendak menginjak tangga yang sama dengan Mia, tiba-tiba muncul anak lain tidak sengaja membenturkan tangannya ke bahu Kudo.
"Eh? EEEEEEEHHH!!" Teriak Kudo yang kehilangan keseimbangan dan patungnya duluan yang lepas dari pelukannya.
Mia pun kaget dan terlambat menghindar, akhirnya kepala patung itu jatuh mengenai pergelangan kaki Mia.
"AAAAAAA!!!" Teriak Mia histeris kesakitan.
Kudo kaget lalu bangkit dan mengangkat patung itu lalu terdiam melihat apa yang terjadi pada Mia. Pergelangan kaki Mia membengkak biru keunguan, lantas guru-guru langsung membawanya ke Rumah Sakit terdekat.
"Putri Anda mengalami benturan yang sangat keras pada pergelangan kakinya, bukan berarti tidak ada harapan untuk sembuh total, hanya memerlukan waktu yang lama untuk merehabilitasinya," kata Dokter yang telah membalut luka memarnya.
Mendengar itu mia menangis sejadi-jadinya semua usaha latihannya hancur berantakan. "Bagaimana dengan pertandingan aku nanti? Aku harus cepat sembuh, Dok," pinta Mia.
"Apa boleh buat, Mia. Pertandingan kan bisa kamu ikuti tahun depan sampai kaki kamu sembuh," kata Ibunya membelai kepala Mia.
Kudo kemudian datang sambil membawakan buket bunga mawar dia merasa sangat bersalah, orang tua Mia memberitahukan bahwa itu bukan salahnya.
"Mia, aku minta maaf ya. Ini," kata Kudo memberikan buket itu padanya.
Mia yang masih menangis karena tidak akan bisa menjadi atlet lagi, terlihat sangat marah pada Kudo.
"GARA-GARA KAMU! UNTUK APA MEMBAWA BUNGA SEGALA?" Teriak Mia sambil melemparkan buket itu ke lantai.
"Hentikan, Mia! Itu bukan salahnya patung itu jatuh karena murid lain tidak sengaja membenturkan tangannya," kata Ibunya lalu mengambil buket yang indah itu.
"Ini salah dia, Pah. Kamu menghancurkan impianku! Sembuhkan kakiku! Kembalikan seperti semula!!" Teriak Mia lalu menangis lagi.
__ADS_1
"Maaf ya, Kudo. Mia masih syok bunganya akan Ibu taruh di rumah saja ya kalau disini ada kemungkinan dirusak Mia," kata Ibunya memasukkan ke dalam tasnya.
Kudo mengangguk, wajar Mia sangat membencinya sekarang. Kudo lalu meminta ijin untuk pulang.
"Sudah, jangan pikirkan apa yang dikatakan Mia. Dia kan memang begitu," kata Ayahnya menenangkan Kudo.
Kudo sempat melirik Mia yang masih menangis. Dalam perjalanan menuju pintu Rumah Sakit, Kudo berpikir.
"Kalau saja saat itu aku bisa menahannya agar tidak jatuh, pasti Mia tidak akan begitu membenciku," pikirnya menundukkan kepala.
Dari jendela kamar Mia, Ayahnya menghela nafas. "Besok kamu tidak perlu masuk dulu ya,"
"Sampai kapan?" Tanya Mia dengan mata yang nanar.
"Sampai sembuh lalu kamu bisa jalan sendiri. Berlatih di rumah," kata Ayahnya.
"YA SAMPAI KAPAN? TIDAK AKAN SEMBUH, PAH! TIDAK AKAN!" Teriak Mia lagi lalu menangis dalam selimut.
Malamnya, Mia terpaksa berlatih menggunakan tongkat berjalan dibantu oleh kedua orang tuanya. Kadang dia marah-marah tapi sesudahnya diam karena Ayahnya ngamuk.
Keesokan paginya, Mia memutuskan untuk masuk sekolah menggunakan tongkat berjalan. Wajahnya tampak garang sekali, dia meletakkan tasnya ke mejanya sendiri. Teman-temannya datang menghampiri melihat kondisinya.
"Mia, kamu tidak apa-apa?" Tanya A cemas.
"Sudah agak baikan, aku yakin kamu akan cepat pulih. Sabar ya," kata Tari menepuk bahu Mia.
Tapi Mia menepisnya dia tidak membutuhkan rasa simpati atau iba.
"Jangan putus asa ya," kata ketua kelas menambahkan.
"PULIH APANYA!? AKU BUKAN TONTONAN! PERGI SANA!!" Bentak Mia membuat semua orang dalam kelas kaget.
"Dasar, baru juga kena patung jadi begitu, sudah meneriaki orang-orang, sia-sia kita bantu dia soal piket. Ternyata orangnya tidak tahu diri," kata A kecewa lalu pergi.
Mia hanya terdiam saja. Dia mengeluarkan buku dengan suara hentakan keras di mejanya.
"Iya benar, kamu tidak perlu Semarah itu dong. Kita kan hanya ingin memberi kamu dukungan saja," kata Rita dengan kesal.
Bersambung ...
__ADS_1