
Mysterious Orchestral Music - Beyond Doubt
by Alibi Music
...This is my darkness...
...Nothing anyone says can console me ......
...Despair & Hope ......
...Light & Dark ......
...Happy & Sad ......
...Hard & Easy ......
...Kind & Evil ......
...Fall & Rise ......
...Near & Far ......
...Group & Individual ......
...If you don't take risks, you can't create a future...
...~ Monkey D. Luffy ~...
Baju hari ini :
Beberapa hari sebelumnya, Ares bermimpi aneh mengenai Emi yang berterima kasih telah menjadi temannya selama ini kemudian terbang menghilang.
Dia terbangun lalu menangis, semenjak dirinya memiliki ingatan Ares di dimensi lain, dia bermimpi bertemu orang yang telah meninggal. Lalu dia menelepon Poi dan menceritakannya.
"Anak itu sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Dan kemarin malam telah pergi dengan wajah yang tenang," kata Poi dengan sedih.
Siangnya mereka mendatangi kuburan Emi yang sepi dari iringan orang. Tidak ada bunga ataupun nisan namanya. Mereka sengaja membeli banyak bunga untuk mempercantik kuburannya dan membuatkan nama terbuat dari kayu.
Mereka melewati kekasih Anemoi yang menunggunya di depan toko. Anemoi datang dengan cepat dan sampai terengah-engah.
"Maaf ya kelamaan," katanya mengatur nafas dengan rambut yang masih berantakan.
Kekasihnya menghela nafas lalu merapihkan rambutnya. "Tidak apa. Jadi kan kita ke toko antik yang baru?" Tanyanya menggandeng tangannya.
"Tentu. Sekalian aku mau mengembalikan ini," kata Anemoi. Lonceng Gemini yang pernah diberikan oleh kekasihnya terdahulu.
"Cantik sekali! Untuk aku saja ya," katanya memegang.
__ADS_1
"Jangan jangan, jangan kamu dentang kan," kata Anemoi ketakutan lalu mengambilnya dan menaruh ke dalam kotak putih.
"Oh, kenapa?" Tanyanya memandang Anemoi.
"Kamu tahu kan cerita mengenai pacar aku yang dulu?" Tanya Anemoi membelai lembut wajahnya yang agak sedih.
Dia mengangguk. Itu adalah masa kelamnya dan hampir membuat dirinya mengakhiri hidup. Sampai akhirnya kekasihnya yang sekarang melemparkannya ke belakang.
"Kalau kamu memilikinya lalu kamu dentang kan, aku takut dia akan mendatangi kamu. Aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayangi. Jadi aku akan mengembalikannya itu lebih baik," kata Anemoi tersenyum.
"Baiklah, aku mengerti. Aku tidak akan memaksa kamu memberikannya untukku. Memangnya toko antik itu pemilik lonceng ini?" Tanya kekasihnya.
"Hmm entahlah, akan aku coba saja kalau pun bukan aku hanya harus mencarinya lagi kan," kata Anemoi lalu mereka mulai berjalan.
"Sebagai gantinya, belikan aku barang yang lain ya tapi aku akan menanyakannya pada pemilik toko itu. Apakah lonceng ini bisa menjadi milikku tanpa kekasihmu muncul," katanya yang senang.
"Siap, Nyonya." Jawab Anemoi dengan gembira.
Di depan toko Eris sudah banyak sekali pengunjung yang mengantri sesuatu. Terdapat cafetaria yang lumayan sudah dipenuhi banyak pengunjung.
Arae lagi-lagi membuat kage no bunshin dengan kekuatannya. Eris juga agak sibuk karena memberikan beberapa batu mistis untuk menghalangi para pembeli mengambil barang berbahaya.
Anemoi dan kekasihnya masuk, dia terpana melihat penampakan dalam toko tersebut. Eris lalu mendengar dentingan lonceng yang dia kenal.
"Kamu membawa sesuatu yang menjadi milik kami," kata Eris menghampiri mereka.
Ella juga sibuk membungkus barang sehingga tidak bisa menyapa pembeli yang datang. Anemoi buru-buru membuka kantongnya.
Lonceng Gemini yang telah lama kehilangan pasangannya berdentong menangis. Kekasihnya tampak keberatan bila Anemoi mengembalikannya.
"Anu, apa kamu menjual lonceng yang sama cantiknya dengan ini? Saya penyuka barang antik," kata kekasih Anemoi.
Eris menyapukan sesuatu dari lonceng itu dan berubah menjadi lonceng biasa. "Silakan. Tenang saja pasangan lonceng ini telah berbahagia. Kamu tidak perlu takut, sekarang sudah menjadi lonceng biasa," jelas Eris.
"Benarkah?! Sayang, aku mau beli ini," kata kekasihnya mengambil dari tangan Eris.
Anemoi mengangguk lalu menuju kasir. Kekasih Anemoi yang telah lama meninggal muncul dan tersenyum bahagia lalu menghilang bagaikan kabut putih.
Lonceng itu dihargai Rp 500.000 karena termasuk lonceng langka yang sudah tidak ada lagi di dunia.
Eris memandangi Anemoi yang tampaknya tidak mengenalinya. Anemoi memang tidak terlalu mengenai Eris di dimensinya, dalam dunianya Anemoi seringkali sibuk bekerja dan mencari pasangan.
Syukurlah di dunia ini dia sudah mendapatkan segalanya. Anemoi adalah ksatria yang paling lemah kekuatannya namun memiliki rasa setia dan persahabatan yang tinggi. Dia juga tidak masalah bila harus membela Eris di jaman itu.
Setelah selesai membayar, mereka berdua jalan berdua sambil melihat berbagai macam benda aneh dan unik. Serta taman mawar Eris yang semerbak harum dan bunganya.
"Sayang, kita makan di cafe itu yuk," ajak kekasihnya menarik.
"Hahaha baiklah," kata Anemoi. Untungnya beberapa pelanggan ada yang membayar di kasir dan mereka menempati tempat itu.
__ADS_1
Di dalam Eris lalu melirik sebuah rak dengan penuh boneka antik anehnya ada satu yang kosong. Eris berpikir boneka apakah yang seharusnya ada di sana?
"Yuri, apa kamu melihat boneka yang ada di rak ini?" Tanya Eris saat Yuri melewatinya.
"Boneka? Tidak. Kemarin waktu aku merapihkan disitu memang tidak ada boneka apapun," kata Yuri yang kuga ikut penasaran.
"Hmmm apa aku harus memeriksa di luar toko ya?" Tanya Eris lalu pergi. Yuri ingin sekali menemani tapi berhubung dirinya harus memasak sebagai chef di cafe, mau tidak mau dia melanjutkan kembali.
Berpindah ke sebuah kota di N terlihat bangunan tinggi nan mewah yaitu asrama putri, namun keadaannya agak sedikit usang dan sedikit bolong di pinggiran bangunan itu. Seorang gadis berambut cepak tomboi memasuki bangunan itu.
Dia bengong menatap bangunan tinggu itu. "Wah, bangunan ini hampir hancur begini. Ayah keterlaluan masa aku harus masuk asrama model begini sih?" Tanyanya kesal dan menyimpan kopernya di depan gedung itu.
"Permisi," katanya agak keras mengetuk pintu dari bangunan utama itu.
Lalu terdengar langkah yang cepat dan buru-buru. "Ya ya siapa ya?" Tanya Ibu kos itu membukakan pintunya.
"Nama saya Sheila, Ayah saya sudah memesankan kamar di sini," kata Sheila membungkuk sedikit.
Ibu itu juga membalas membungkuk. "Sheila? Tunggu sebentar ya ayo, silakan masuk. Bawa saja ke dalam kopernya maaf ya tidak ada laki-laki di sini. Sebentar saya periksa nama kamu ya," kata Ibu kos menuju meja depan lalu membuka buku pesanan.
Sheila bersusah payah menggusur kopernya lalu duduk dengan kelelahan.
"Ah!! Yaa Sheila Marcy kan? Kamu sudah terdaftar. Ayo, saya akan antar kamu ke kamar," kata Ibu kos membetulkan kacamatanya yang berwajah jutek itu.
"Baik," kata Sheila mengangkat kopernya lagi lalu dia taruh di lantai dan menggusurnya.
Ibu kos melihatnya. "Oh ya tolong hati-hati ya karena lantai bangunan ini sudah sedikit rapuh," katanya berjalan dengan pelan.
Sheila mengangguk, dia sudah kelelahan bukan salahnya juga suara koper yang keras menghantam lantai bangunan itu.
Ayah Sheila ditugaskan secara mendadak ke luar negeri selama setahun ini. Alhasil Sheila harus pindah tidur ke asrama supaya aman selama Ayahnya bekerja.
Untungnya dan ternyata asrama itu berdekatan dengan sekolahnya jadi Ayahnya tidak perlu cemas lagi. Sheila berjalan dengan Ibu kos dan melihat-lihat isi bangunan. Dia agak seram juga karena sangat bobrok, terdapat retakan panjang di dinding.
"Apa tidak akan hancur ya?" Pikir Sheila merinding.
"Ayahmu menelepon secara mendadak. Aku belum memeriksa kamar mana saja yang kosong. Tapi untuk saat ini hanya kamar nomor 105 yang masih kosong. Mulai hari ini kamarnya menjadi milikmu," kata ibu kosnya itu membukakan pintu kamarnya.
Sheila termenung melihat kondisi kamarnya yang membuatnya semakin merinding. Bau apek dan suasananya spooky. Sheila masuk dan mendapatkan kesan yang tidak enak, yang sulit dijelaskan olehnya. Mau menolak tapi hanya kamar itu saja yang masih kosong.
Udara dalam kamar itu berbeda, dingin dan tidak membuatnya nyaman.
"Memang sudah tua sih tapi kalau dibersihkan akan nyaman kok," kata Ibu kos membersihkan beberapa debu.
"Iya, Bu," kata Sheila tidak mau banyak bicara.
"Di sini juga ada peraturan yang harus kamu patuhi," kata Ibu kos membukakan lembaran aturan.
"Apa!? Ada aturannya!? Sudah dapat kamar yang mengerikan, lalu ada aturannya juga?! Sungguh malangnya nasibku," pikir Sheila menghela pasrah.
__ADS_1
Bersambung ...