
Di ruangan lain, Pak Sapto menunggu kedatangan Venus dengan setia dan membukakan pintu saat melihat majikannya berjalan tergesa-gesa
"Seenaknya saja mereka! Bilang saja kalau mereka menganggap aku ini sudah tua. Dasar manusia serakah! Enak saja kalian bilang mau menggantikan ku dengan orang lain! Ada orang bakatnya sama denganku? Lihat saja!" Katanya dengan kedua mata yang berkilat.
Dia membuka dompet tasnya dan memegang gelang Venus itu dengan menyeringai. Sang supir memperhatikannya dari belakang dan melihat.
"Dengan ini, kalian lihat saja akan berlutut memohon kepadaku untuk kembali memerankan Ophelia lagi. Nah, bagaimana ya efeknya? Hmmm... kalau tidak salah hari ini ada pelatihan akting ya. Dimana letaknya?" Tanya Venus ke Pak Sapto.
"Aula belakang, Nyonya," jawabnya. Tidak tahu kalau putri angkatnya berada di sana hari ini.
Venus memakai baju bulunya dan tersenyum jahat. "Baiklah, kita lihat seperti apakah pemeran Ophelia itu? Aku akan membuat malu pemeran baru itu HAHAHAHA!" Katanya melangkah keluar dengan diikuti oleh supirnya.
Ruang pengujian drama terlihat seorang gadis berambut panjang dengan memakai jepit bintang di salah satu sisi kepalanya sedang berusaha berlatih dialog yang panjang.
""Oh... betapa mulia hatinya" hmmm... aneh tidak ya? "Aku menelan kata sumpah cintanya yang manis seperti madu di antara semua gadis". Sepertinya aku harus berusaha mengulang lagi dengan lebih baik," katanya laku fokus lagi.
Sebelum Venus masuk, dia membeli beberapa limun agar niat jahatnya tidak terlihat oleh siapapun, apalagi para resepsionis sudah tahu taktiknya.
"Wah sepertinya semua berusaha ya," kata Venus dengan suara yang anggun.
Mereka semua senang melihatnya termasuk Reony yang terkejut.
"Ah, Bu Venus, Anda datang untuk apa?" Tanya resepsionis kebingungan.
"Tentu saja untuk berlatih, sayang. Oh iya katanya disini ada peserta yang menjadi penggemarku. Yang mana?" Tanyanya dengan anggun.
"Tapi Bu..." kata yang lainnya.
"Saya hanya ingin mengobrol sebentar Keberatan?" Tanyanya dengan sinis.
"Oh, itu Reony. Yang sedang berlatih di pojokan sedari tadi," kata yang lainnya memberitahu.
Venus menatap gadis itu benarlah kalau dirinya sangat cantik. Seketika itu juga kedua mata Venus membara cemburu.
"Kenapa kamu beritahu sih? Bu Venus itu terkenal dengan sikap jeleknya, kalau Reony di apa-apakan bagaimana?" Tanya yang lain.
"Aku hubungi produser saja kalau begitu," katanya langsung menelepon.
"Wah, jadi kamu ya orang baru yang katanya punya bakat yang lebih baik dari ibu. Siapa namamu?" Tanya Venus memperhatikan sikap Reony.
"Wahhh Bu Venus! Saya ini penggemar Anda, senang sekali bisa bertemu!" Kata Reony membungkukkan badannya.
"Wah wah, saya yang senang bisa bertemu dengan penggemar saya di sini," kata Venus tertawa riang.
Semua peserta memandangi mereka berdua, mereka sangat senang. Tapi beberapa orang tidak yakin kalau Venus memang berubah ramah. Mereka sudah lama bekerja dengannya dan sikapnya sangat tidak menyenangkan.
"Oh, itu aktris ternama. Katanya Ratu Drama," kata yang pertama.
"Wah, asyik sekali bisa bertemu dengannya secara langsung," kata yang kedua.
"Tampaknya aku tidak akan bisa deh," kata yang lainnya lagi.
Venus yang mendengar itu sudah tentu pamornya naik dan semakin percaya diri.
__ADS_1
"Aduh aduh, kalian semua jangan bilang begitu. Banyak saja berlatih, mungkin nanti akan dapat peran meskipun jadi figuran jangan patah semangat ya," kata Venus menyemangati.
"Bu Venus, Reony ini penggemar berat Anda dia memberanikan diri mendaftar ikut kasting," kata temannya.
"Ah iya, saya terharu! Lalu peran apa yang kamu dapatkan?" Tanya Venus penasaran.
"Ophelia," kata Reony tersenyum cerah.
Venus menahan rasa amarah dan kesal sudah tahu juga memang peran itu yang sedang Reony lakukan.
"Reony ini sangat berbakat, aktingnya bisa setara dengan Bu Venus. Mohon ilmunya," kata temannya lagi begitu juga dengan Reony.
"Senangnya kalau saya bisa sepanggung dengan kamu, Reony," jawab Venus menahan kedua tangannya gemetaran.
"Tentu! Saya akan sangat senang sekali bisa satu panggung dengan aktris besar seperti Anda!" Kata Reony bersyukur.
"Oh ya Reony, namamu sangat cantik sama seperti pemiliknya pantas saja pak produser memilihmu," kata Venus berbisik.
"Oh! Benarkah? Saya tidak tahu syukurlah. Bu Venus bisa istirahat tenang sekarang sudah ada pewaris bakat ibu," kata Reony dengan gembira.
Perkataannya tampak memukul sekali pada hati Venus. "Lalu? Apa ada kesusahan pada dialognya?" Tanya Venus dengan sinis. Namun Reony tidak menyadarinya.
"Aku... masih belum bisa menghafalkan semua dialognya tapi aku akan terus berlatih katanya, aku diharuskan membuat Ophelia karyaku sendiri," kata Reony dengan semangat.
"Oh, aku yakin kamu bisa. Apa kalian mau minum limun? Aku membelinya tadi di toko besar," katanya memperlihatkan limun yang buah yang segar.
"Wahhh aku mau! Karena tegang aku sampai lupa minum," kata peserta lain. Dan semakin banyak yang ingin juga.
"Oh, tidak usah kalian awasi saja para peserta muda ini. Biar aku yang menuangkannya," kata Venus dengan nada yang sinis.
Mereka semua berlatih dengan semangat, Venus menuangkan limun dan memberi bubuk sesuatu pada gelas Reony.
"Semuanya 5 menit lagi penjurian akan dimulai. Bersiaplah!" Kata asisten masuk.
"Nah, Reony mulai sekarang akulah yang akan terus menghancurkanmu," dalam hati Venus tertawa jahat. "Ayo ayo sebelum kalian di tes minum dulu airnya supaya bisa lebih semangat," kata Venus mempersilakan mereka mengambil minumannya.
"Asik," kata temannya mengambil.
Saat Reony mau mengambil, Venus sudah memberikannya dahulu. "Ini untukmu, Reony," kata Venus tersenyum.
"Asik sekali diperhatikan oleh idolanya," goda yang lain.
"Hehehe iya dong. Terima kasih, Bu. Aku akan berjuang!" Kata Reony mulai meminumnya sampai habis.
Venus sangat puas melihat gelasnya kosong tidak bersisa. Lalu dimulailah penilaian akting drama Ophelia dan Reony langsung melangkah masuk ke tengah-tengah penguji.
"Oh... be...ta...pa... mu..mulianya... ora..ng yang.. aneh..." kata Reony dia kaget mendengar suara yang dikeluarkannya. "Su..a..raku..." Kata Reony memegang lehernya.
Para peserta lain mulai menertawakannya begitu juga para juri yang mendengarnya menepuk dahinya.
"Kenapa suara kamu?" Tanya temannya merasa aneh. Tadi tidak apa-apa tapi setelah meminum limun, malah jadi aneh.
Reony menggelengkan kepalanya dia juga tidak tahu kenapa bisa begini. Berusaha mengeluarkan suara hampir tidak ada.
__ADS_1
"Hhhh memang tidak mudah untuk langsung bisa ya," kata pak produser akhirnya berlalu menuju ruangan aula tengah.
"Tu..nggu..." kata Reony yang lemas.
"Kamu ini kenapa? Tadi kan lancar bagaimana bisa kemampuan akting yang sudah kamu persiapkan langsung hancur begitu saja?" Tanya asisten kebingungan.
"Sewak...tu.. la...tiha...n ti...dak... beg...ini..." kata Reony berusaha menjelaskan.
"Sudahlah, kamu sepertinya karena gugup jadi suaramu habis. Istirahat saja tahun depan kamu datang lagi ya," kata asisten itu menepuk bahunya dengan simpati.
Reony menangis dia kebingungan kenapa bisa suaranya mendadak serak dan hilang? Kenapa? Lalu dia menatap limun yang tadi diminumnya. Dilihatnya tidak ada air yang bersisa dan tidak ada sesuatu yang aneh. Bubuk itu langsung larut begitu saja dan dia menerima kalau dirinya terlalu gugup.
Dalam aula tengah pak produser melemparkan banyak kertas. "Tidak cocok! Suara jelek! Wajah jerawatan! AAAARGH!!! Bagaimana ini? Reony, bagaimana bisa suaranya hilang begitu saja? Waktu bertemu dengannya di taman dia bisa menghafalkan penuh dialog Ophelia dengan mengesankan," kata produser kecewa berat.
"Harap dimaklumi dia sangat gugup. Saya bilang tahun depan dia datang lagi," kata asistennya.
Mereka masih berkumpul dalam aula, Reony masih menangis. Lalu Venus memakai gelang dan mulai berdialog.
""Oh... betapa mulia hatinya. Orang aneh. Alus indah seperti bangsawan, kemampuan bicara laksana ilmuwan, harapan bangsa. Seorang teladan itulah yang membuatnya dihormati.. tapi kenapa jadi begini? Aku menelan perkataan sumpah cintanya yang manis seperti madu di antara semua wanita.. akulah yang paling sedih" Nah bagaimana? Seharusnya Ophelia dimainkan seperti ini bukan dengan kalimat yang masih terbata-bata seperti anak kecil," kata Venus menertawakan.
Semua orang menatap kaget dengan sikap Venus apalagi Reony. Kecewa kalau idolanya ternyata menjelekkannya akibat tadi.
"Kalian merasa tidak sih kalau Bu Venus yang tadi dengan sekarang berbeda?" Tanya peserta lain.
"Itulah yang asli dari Bu Venus, kalian beruntung tidak lulus saat dia masih ada disini. Ada banyak calon aktris seperti kalian yang mengalami kejadian aneh dan tidak enak," jelas asisten itu lalu pergi.
"Reony, untunglah kamu tidak lulus kalau begini sih lebih baik jangan melawan," bisik temannya.
Reony tidak percaya kalau Venus idolanya sejahat itu. Dan lagi.. sikapnya kini memandang sinis kepadanya dengan tawa mengejeknya.
"Wah memang berbeda ya orang yang baru memerankan dengan orang yang sudah lama. Kemampuanmu masih belum surut rupanya, Venus dan kamu tampak sangat cantik sekali hari ini," puji produser.
"Sudahlah kamu hanya omong kosong aku tidak akan kembali lagi," kata Venus memancing.
"Aku serius agak berbeda. Tanyakan saja dengan yang lainnya," kata direktur.
"Iya juga ya aku kira Venus itu sudah kolot kulit longgar tapi nyatanya masih segar. Anda perawatan bukan?" Tanya yang lain.
"Itu rahasia," jawab Venus bangga.
"Jadi bagaimana produser? Aku memilih Venus untuk memerankan Ophelia lagi. Saya tahu Anda sangat menyanjung gadis yang berbakat ini tapi kalau tidak bisa mengucapkan dialognya ya percuma. Memalukan sekali sampai terbata-bata meskipun kamu cantik tetap saja Venus lah yang paling cantik," kata direktur memegang tangan Venus.
"Baiklah, baiklah. Aku kalah! Peran Ophelia dan peran yang lainnya akan Venus mainkan. Bagaimana? Aku menyerah deh tadinya aku pikir Reony bisa menyaingi bakat aktingnya tapi sepertinya aku sudah salah. Venus, kamu sangat cantik hari ini seperti Aphrodite saja. Aneh," kata produser menciumi tangan Venus.
Venus tertawa malu dan memperlihatkan kekuasaannya. Reony hanya bisa diam begitu juga dengan peserta lainnya.
"Bagaimana? Terima sajalah, akting kamu kan masih sama saja," kata direktur.
"Kamu mau kan kembali lagi?" Tanya produser.
Venus tersenyum lebar. "Tentu saja," katanya dengan bahagia. "Aku ini kan superstar Anda," katanya tertawa.
Bersambung ...
__ADS_1