Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
25


__ADS_3

"Coba kalian arahkan dan fokus di depan. Aku menangkap sesuatu tapi tidak yakin," kata Sani menunjuk.


"Yang benar saja. Ayo kita lihat, bila kalian menemukan kejanggalan jangan lupa hubungi kami," kata Tora menyorot ke arah Sani menunjuk.


Bayangan sesuatu yang besar berdiri di tengah tampak menatap mereka. Karena merasa tidak terlihat mereka bertiga bergerak kembali.


Rika segera menghentikan mereka berdua. Wajahnya agak pucat, siluet itu sepertinya dia pernah lihat.


"Tunggu tunggu," kata Rika dengan gemetaran.


"Kamu kenapa sih?" Tanya Tora yang setengah berjalan mundur pelan.


"Kita kembali. Ayo!" Kata Rika menyadari ada yang tidak beres.


"Iya, tapi kenapa?" Tanya Tora diam. Sedangkan Sani melangkah menuju Rika.


"Itu.. aku yakin... sosok itu yang mengejar mereka," kata Rika sambil ketakutan.


Rika lalu menarik baju Tora dan Sani. Hanya saja Tora merasa ketakutan Rika pasti bohongan.


"Hei, jangan menjadi penakut deh sekarang. Ini semua kamu lho yang mengide kan," kata Sani berkacak pinggang.


Banyak komentar yang menyuruh mereka menghentikan Live, mereka pun mengetahui sosok itu dengan jelas.


Peringatan Mila pun disambut para penonton bahwa mereka berada dalam bahaya.


"Kita sudah setengah jalan masa dihentikan. Baiklah biar aku yang memimpin, bagaimana?" Tanya Tora.


"Tora, hentikan! Apa yang mereka katakan bahwa ini lorong terlarang, itu benar. Plis kita kembali ya," Rika memohon.


Sani berdiri di hadapan Rika tidak jauh dan menghela nafas. Toh mereka sudah merekam segalanya dengan infra merah, hanya menunggu hasil.


Saat Tora akhirnya mengalah dan hendak melangkah, monster itu berlari dengan cepat.


Tubuhnya menjadi agak besar dan saat Tora mengatakan...


"Baiklah, kita kem..." katanya dan... KREK!


Sani dan Rika mendengar suara retak dan Rika dengan wajah ketakutan berteriak, sehingga Sani langsung menarik Rika untuk lari.


"TORA!! TORA!! Sani, kita meninggalkan Tora," kata Rika menangis.


Tora yang tidak sempat lari, menatap monster dan berteriak. Sekali lagi lehernya dipelintir, Tora pun ambruk.


Sani dan Rika berteriak histeris, Sani tahu Tora tidak dapat diselamatkan. Dia hanya mengikuti instingnya untuk lari.


Monster itu mengejar mereka dengan tawa yang menyeramkan.


Kemarilah! Mangsakuuuu!!!


Tora yang kemungkinan sudah tidak ada nyawa, dia hempas begitu saja.


"TORA!!" Teriak mereka berdua dan terpaksa berlari secepatnya.


Tora seharusnya sudah tidak bisa bergerak, dengan sisa energinya dia berkata Lari dengan pelan.


Monster mendengar suaranya dan kembali untuk menghabisinya. Dengan sisa kekuatan tangannya, Tora menarik kamera dan berusaha menyalakan dengan cahaya redup namun bisa terlihat jelas yang tersembunyi.


Dia menerima takdirnya setidaknya yang tersisa bisa selamat. Dengan tangan yang hitam sang monster langsung menarik Tora.


Sani berbalik monster itu tidak mengikuti mereka, dia memiliki ide gila. Kemungkinan nyawa taruhannya.


"Rika! Kamera kamu!" Kata Sani.


Rika mengerti dengan perasaan berkecamuk dia berusaha membuka.


"Cepatlah! Sebelum monster itu kembali. Tora, pengorbanan kamu tidak akan sia-sia," kata Rika menangis.


Sani berlari masuk lagi dan menempatkan kamera untuk merekam segalanya. Dia melihat genangan darah yang perlahan tertarik masuk.


"TORA! KAMI TIDAK AKAN SIA-SIAKAN PENGORBANANMU! Kami pasti keluar! Terima kasih!!" Teriak Sani lalu bersama Rika mereka berlari dengan cepat.


Para penonton tentu saja mengetik dengan gerakan jari yang cepat. Mengatai mereka gila, sinting dan mengirimkan bunga untuk Tora.


Kamera Rika tentulah menyala saat Live berlangsung. Para penonton menyaksikan langsung apa yang terjadi saat monster lewat dan mengejar.


Tidak ada yang mengirimkan suara, yah karena Rika sudah mengatur semuanya. Sebagian penonton mem fotokan sosok mengerikan itu.


Yoshi melihat hal itu dan mau tidak mau berpihak pada para peserta, dia mengambil senapan panjang dan bergegas menuju lorong.


Saat itu sang zombie memiliki ide cara agar mereka berdua kembali. Dia memberikan benda sesuatu pada Tora dan Tora bangkit.


"Sani! Sani, berhenti!" Kata Rika.

__ADS_1


"Ayo lari! Kenapa?" Tanya Sani yang panik.


"Itu," kata Rika menunjuk.


Sani melihat, tidak ada monster namun sesuatu berjalan ke arah mereka. Tora! Dia berlari semampunya meski pincang dan leher yang agak miring.


Tora menangis darah memandang mereka.


"Tora! Kamu selamat? Syukurlah," kata Rika yang berlari ke arahnya.


Namun Tora melambaikan tangan membuat Rika mengerem. Dia berusaha membaca gerakan bibir Tora.


La..ri


Sani yang menyadarinya langsung menyusul Rika dan menarik. Rika hanya diam terus menangis.


"Bodoh! Mana ada orang masih hidup setelah lehernya dipelintir dua kali!! LARI! Tora katakan kita harus lari, Tolong penuhi keinginan terakhirnya, Rika!" Seru Sani yang ikut menangis.


Tora berhenti lari, kedua matanya sudah kosong terakhir dia tersenyum menatap kedua temannya.


Dari mulutnya keluar deras darah segar, segera saja sang monster mengayunkan sesuatu yang menebas Tora.


Setelahnya mereka berdua berlari sambil menutup telinga, suara keras dari alat pemotong.


Kelompok Eris menemukan keduanya dan mereka semakin cepat berlari. Mereka mengulurkan tangannya menyambut Sani dan Rika.


Ingin sekali Eris mengeluarkan kekuatannya melumpuhkan sang monster tapi...


"Ayo! Kemarilah! Sedikit lagi," kata Ares.


Sani berhasil ditarik kemudian Rika yang senyum bernafas lega, mengulurkan tangan pada Iran.


Tanpa disadari tangan besar Zombie membekam wajah Rika. Semuanya terkejut, Chris berusaha melukai tangan.


Apa boleh buat, daripada mereka kehilangan Rika, Eris pun mengeluarkan kekuatannya.


Bola api biru dan merah menyambar dan membakar tangan zombie. Rika yang saat itu berjongkok menutup wajahnya.


Zombie berteriak keras, api merambat menuju lehernya dan dia berlari sambil memukulkan api ke dinding.


Chris, Mila, Rio dan Sisna kaget namun sisanya tidak begitu memperhatikan. Rika menangisi wajahnya yang perih.


"PERGI! Selagi monster itu kesakitan!" Teriak Eris.


Rio dan Sisna membawa Rika yang syok dan Eris berbalik pergi bersama mereka sambil sesekali berbalik ke belakang.


Sesampainya mereka saling menarik satu sama lain, Sani meminta maaf dan Rika terus menangis.


Ares menunggu Eris dan Chris sisanya yang berlari sekuat tenaga, sang monster kembali menyusul.


Eris memandangi Chris, dia mengerti dan berpura-pura tidak melihat. Eris berhenti dan melakukan perlawanan.


Zombie tertawa pedang Eris dan kekuatannya berhasil membuat zombie itu kesakitan.


"Aku peringatkan. Bila kamu meminum darahku, tamatlah riwayatmu bila benar-benar iblis," kata Eris menghunuskan pedang.


Kemudian Eris menghilang dan menyusul berlari bersama yang lainnya. Chris yakin bahwa Eris sebenarnya iblis namun untuk versi yang berbeda.


Zombie berteriak kesal dan sangat marah berdiri, namun Yoshi tepat di depannya.


"Kamu mau melawanku? Akhirnya kamu memang tidak setuju dengan caraku,"


Yoshi tidak menjawab dan membom bardir sang monster dengan senapannya. Tentu mereka mendengarkan suara itu.


Sampai zombie tersebut terpental masuk ke lorong yang gelap, Yoshi berlari menemani mereka.


"Yoshi," kata Mila menatapnya.


Yoshi senyum dan mengangguk. Kemudian memarahi Sani dan Rika yang ketakutan.


"Setidaknya ikuti saja dulu perintah saya!" Kata Yoshi.


"Apa gunanya! Kami beritahu Anda pun tetap saja ada yang menjadi korban!" Kata Sani sambil menangis.


Yoshi menggenggam kepalannya dan menundukkan kepala. Dia tahi setelah ini, nyawanya pun sudah pasti tidak akan selamat.


"Apa tidak apa bila Anda menyelamatkan kami dan menembak monster itu?" Tanya Chris.


Mereka menatap Yoshi. Eris menatap bahwa Yoshi mendekati ajalnya, dia hanya menunggu bola arwahnya datang.


"Saya sudah tidak akan terselamatkan. Setidaknya kalian harus benar-benar keluar," kata Yoshi.


"Pak, Anda bisa selamat bergabunglah dengan kami," kata Iran.

__ADS_1


"Saya akan menerima kematian saya. Sejak awal, saya berusaha agar peserta hidup memberikan kode agar selamat. Tapi kebanyakan mereka memilih uang dan konten," kata Yoshi menghela nafas.


Sani dan Rika terdiam. Peserta lain sudah selesai membalut wajahnya dengan perban.


"Begini jadinya bencana untuk kalian, untuk kita! Tora sampai mempertaruhkan nyawa agar kalian berdua selamat!" Kata Yogi sangat marah.


Rika berkali-kali meminta maaf dan menerima akibatnya dengan wajahnya yang kini buruk rupa.


Sani memeluk Fuji yang tobat tidak lagi penasaran ataupun menjalankan Live. Dia hanya ingin selamat dan pulang.


"Eris, kamu bisa membantu dengan wajahnya Rika, kembali normal?" Tanya Yuri.


Eris menghela nafas menatap Rika. "Tidak,"


"Kenapa? Kamu kan pasti punya ramuan untuk mengubah wajah seseorang menjadi normal. Dan syaratnya," kata Yuri.


"Aku bukanlah dokter. Aku seorang iblis yang memilih mangsa. Wajahnya buruk adalah akibat ulahnya sendiri dan aku tidak tertarik membuatnya normal," kata Eris.


Yuri agak tidak menerimanya tapi memang benar, Rika sendiri yang tidak menyadari bahwa keadaan sudah gawat.


"Tapi," kata Yuri.


"Aku memang memiliki banyak ramuan masalah pada manusia. Tapi semuanya memiliki efek, aku tidak bisa sembarangan membantu siapapun. Bahkan bila itu keinginan dari hatimu," kata Eris.


"Terpenting sekarang, kita harus bisa bertahan selama mungkin dan memikirkan cara untuk keluar," kata Rio merenung.


"Tembakan saya hanyalah peringatan. Selanjutnya mereka aman lebih marah. Saya pamit," kata Yoshi.


"Pak," kata Fuji berdiri.


"Ya?" Tanya Yoshi berbalik.


"Bertahanlah, setidaknya jangan mati di rumah ini," kata Fuji menangis.


Yoshi menatap mereka semua dan tersenyum untuk terakhir kalinya. "Saya tidak pantas berada di sini lebih lama. Saran saya, berjuanglah dan jangan sampai tertipu," kata Yoshi kemudian pergi.


"Apa maksudnya?" Tanya Fuji.


Eris dan lainnya sudah tentu berhasil memecahkan teka teki termasuk apa maksud Yoshi.


"Kita tidak perlu cemas apa yang akan terjadi pada Yoshi," kata Chris dengan wajah tertunduk.


Eris sempat menatap Yoshi dan Yoshi mengangguk. Eris mengerti bahwa Yoshi menyadari siapa Eris.


Dia terakhir menundukkan kepala padanya, wajahnya seakan memohon sesuatu.


"Kalian puas atau kapok?" Tanya Iran geram.


Mereka berdua diam, dan Yuri menenangkan Iran dan lainnya. Sekarang mereka sudah mendapatkan pembelajaran juga.


Mereka bergabung tidur dalam satu ruangan, Sani masih belum bisa tidur. Dia memandangi ponsel miliknya yang sempat terjatuh.


Lalu memandangi Rika yang dia pikir sudah tidur. Berharap kamera yang diletakkannya menangkap sesuatu.


Lima menit berlalu, Rika bangun memegang wajahnya yang cenut-cenut kesakitan.


Tidak ada dokter dan dia harus mau menahan. Rika pelan keluar dari selimut dan berjalan hanya untuk membuka jendela.


"Kamu tidak tidur?" Tanya Eris di depan Rika.


"Aku merasa bersalah pada semuanya," kata Rika sedih.


"Lalu, kamu mau membayar dengan bunuh diri?" Tanya Eris.


"Tidak aku tidak akan melakukan itu. Hanya mungkin angin malam bisa mengurangi rasa sakit di wajah," kata Rika menangis.


Baju Eris sudah berubah menjadi baju tidur namun masih dengan gaya gothic.


Rika agak batuk-batuk, Eris memandanginya meskipun tidak bisa membuat wajahnya normal setidaknya...


"Mau aku kurangi rasa sakitnya? Setidaknya kamu bisa tidur," kata Eris.


"Bisakah? Kamu bukan dokter," kata Rika agak malu.


"Memang bukan," kata Eris yang mengangkat tangannya.


Rika agak takut namun dia harus tidur. Eris mengeluarkan cahaya lembut berwarna hijau sage.


Cahaya itu menyinari bagian luka di wajah Rika dan membuatnya menghilangkan rasa sakit.


"Terima kasih, Eris," kata Rika kemudian kembali tidur.


Eris menatap cahaya redup dari Rika, menandakan dirinya pun berada di ujung kematian. Namun entah apa yang akan terjadi.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2