Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
14


__ADS_3

"Bo-bohong cerita apa kata Pak Yoshi," kata Sani tidak percaya.


"Dia memang menceritakannya dengan jujur kalian saja yang tidak mempercayainya kan," kata Rio merinding.


"Kalau begitu jepitan rambut itu milik siapa?" Tanya Yuri yang ketakutan.


"Orang yang menghilang di tahun lalu karena darah ini sudah menempel dengan keras," kata Chris dengan wajah yang sedih.


Sani dan Fuji ikut sedih serta yang lainnya namun berbeda dengan sebagiannya.


Sani mencari-cari dia yakin masih ada banyak barang yang tertinggal mungkin ada yang dia kenali.


Chris meletakkan kembali jepitan itu di tempat awalnya, mengingat apa yang dikatakan Yoshi mengenai barang yang tercecer.


"Kalau seperti ini tidak mengherankan mereka tersesat sih. Jangan sampai tiba-tiba kita menemukan mayat mereka," kata Mila merinding.


Sisna terus merapat dia tidak suka hawa dalam ruangan itu.


"Kalau mendengar cerita Yoshi, dia dan para pelayan menemukan plastik berisi darah," kata Ara.


"Tolonglah jangan katakan bahwa kita akan menemukan sisa potongan tubuh," kata Fuji agak takut.


"Bisa jadi," kata Ares singkat.


"HEI!!" Teriak para perempuan pada Ares yang disusul dia meminta maaf.


Tidak dengan Eris.


"Aku bercanda, menurutku para tubuh yang tersesat sudah pasti menjadi tulang kan," kata Ares menenangkan.


"Wajah tampan mu itu tidak cocok bercanda yang seram. Jangan menakuti," kata Ara pada Ares


Ares hanya tertawa tipis mendengarnya. Padahal di sekolah dia menggemari cerita seram.


"Tapi memang mustahil ya soalnya para polisi dan petugas pemadam api saja tidak menemukan apapun kan," kata Kei berjalan melihat-lihat.


"Hei, aku membuka jendela bukannya pemandangan tapi ruangan lain. Ini memang sangat aneh seakan-akan dibuat untuk menghalangi sesuatu," kata Mila melihat ke dalam.


"Tapi apa?" Tanya Yuri berpikir.


"Iblis," jawab Eris membuat semuanya merinding. Chris juga menduga soal itu. Tapi iblis macam apakah?


"Iblis itu memangnya ada? Di rumah ini?" Tanya Dio tidak bergerak dari Iran.


"Eh, kita harus cepat kembali sebentar lagi makan malam tiba," kata Fuji memperlihatkan jam.


Mereka semua setuju dan bergerak bersamaan, saling memeriksa dengan mengingat jumlah mereka semua.


Bila ada yang lelah berjalan, mereka tidak meninggalkannya dan menggendongnya.

__ADS_1


Sampai akhirnya mereka berpapasan dengan sebagian tim Olive. Mereka melihat wajah Olive yang agak pucat, terlihat dia ketakutan akan sesuatu.


"What happen to you?"


( Apa yang terjadi padamu? )" Tanya Eris dengan curiga.


Olive kaget, dia memalingkan wajahnya dari Eris. "Nothing," jawabnya.


"Kalian di sini sedang apa?" Tanya Rika yang baru muncul.


"Oh, kami sedang berkeliling sambil menyiarkan *Live Streaming* mengenai tempat ini," kata Dio.


Setengahnya berbisik dan protes mengenai kegiatan yang mereka lakukan.


"Apa kalian sudah lapor pada Yoshi?" Tanya Rio.


"Ah, buat apa sih? Lebih baik tidak perlu. Kami hanya Live sebentar," kata Panca mengedipkan matanya ke arah mereka.


Chris menatap mereka dengan tajam memang benar mereka bertiga sudah pasti akan melanggar aturan dan itu resiko mereka sendiri.


"Lalu yang lainnya?" Tanya Sisna menatap ke arah lain.


Yogi keluar dari arah berlainan. "Kami sedang mencoba mengukur ruangan yang berbeda,"


Yogi lalu menempelkan termometer ke dinding kemudian dikibaskan. Mereka memandanginya dengan tatapan aneh.


"Memangnya bisa dengan cara begitu? Memakai termometer," kata Yuri agak curiga.


"Hah!? Sudah selesai? Hasilnya bagaimana?" Tanya Iran keheranan meski dia juga anggota mereka.


"Ya tinggal ditaruh saja nanti juga kelihatan hasilnya," kata Yogi menaruh termometer tersebut disana.


"Apa-apaan sih mereka itu? Sembarangan sekali mengukur ruangan dengan benda biasa," kata Mila sangat kesal.


"Aku baru tahu kerja mereka begitu sembarangan. Mana ada termometer dijadikan alat untuk melihat suhu ruangan haha," kata Iran tertawa setelah mereka menghilang.


"Iya," kata Yuri setuju.


Mereka datang tepat waktu ke ruang makan. Sudah disajikan banyak makanan secara prasmanan semua makanan cukup komplit.


Eris menatap Yuri yang nampaknya sudan ceria seperti sedia kala, dia bercanda bersama Iran.


"Yuri tampaknya sedang jatuh cinta," kata Ares.


"Baguslah," jawab Eris memandangi ruangan itu dan keluar tanpa diketahui.


Namun sayang Chris menangkap dan pamit untuk keluar. Begitu juga dengan Olive yang tiba-tiba beralasan ketinggalan barang.


Eris berjalan menuju lorong yang gelap, Chris menghampirinya tidak mengherankan mengira Eris sama dengannya.

__ADS_1


"Mau kemana? Ini sudah terlalu malam," kata Chris. Di belakang Olive mengendap-endap memperhatikan mereka berdua.


"Menyelidiki kesana. Ikut?" Tanya Eris menunjuk.


Chris menelan ludah dan mengangguk, Olive mengikuti secara diam-diam Eris sudah mengetahuinya.


"Kamu melihat lorong ini?" Tanya Eris.


"Ya tapi karena gelap aku tidak menyarankan mereka masuk kemari," kata Chris menyalakan senternya.


Mereka berjalan masuk bersama hawa kegelapan yang pekat mendatangi mereka. Chris menutup hidungnya tapi tidak dengan Eris.


"Inilah sumber masalahnya," kata Eris menatap sebuah jalan berbatu.


Ternyata mereka berdiri di suatu pekarangan sebuah rumah, keadaannya sangat berantakan.


"Rumah?" Tanya Chris tidak percaya.


Olive juga mengikuti dan kaget jadi memang rumah besar itu menyembunyikan rumah utama. Tapi kenapa?


Kedua mata Eris secara mendadak berubah warna menandakan sesuatu yang berbahaya.


Chris menatapnya, dia melihat perubahan pada Eris yang tidak biasa dan segera menangkap Olive yang ketahuan.


Perubahan Eris beruntung gagal, Eris merasa bersyukur Olive mengikuti mereka. Chris tampak agak marah pada Olive.


Olive meminta maaf karena mengikuti mereka dan Chris menjelaskan ada yang harus diselidiki. Setidaknya Olive tidak seharusnya mengendap-endap bila memang ingin ikut.


Eris menyembunyikan kedua tangan yang sebagian berubah dnegan kuku panjang memerah. Mereka kemudian kembali dan Yuri berlari.


"Eris,kamu kemana saja?" Tanya Yuri lega.


"Jalan-jalan dengan pendeta eh maksudku Chris dan bersama penguntit, Olive," kata Eris lalu duduk membuka sebuah buku.


"Eris, jangan bepergian sembarangan deh! Rumah ini tidak aman kan. Oh ya aku membawakan puding yang enak! Kelihatannya kamu belum makan, aku akan bawakan makan malam," kata Yuri langsung berlari.


Sebagian orang memandangi Yuri dengan pandangan meremehkan. Yang tidak tahu sangat kesal pada Eris. Tingkahnya seperti Nona Besar.


"Yuri, kenapa kamu bawakan makanan segala untuk dia? Dia kan bisa ambil sendiri," kata Rika.


"Iya, seolah-olah kamu ini pembantu dia. Wah, jangan-jangan Eris ini Nona Muda ya," Kata Mila.


Mereka semua membicarakan Eris dan Yuri yang buruk. Ares tentu tidak tinggal diam dan memperingatkan Mila yang seenaknya.


"Kalian jangan bicara sembarangan! Dia begitu karena Eris sudah dianggap seperti adiknya," kata Ares pada Mila dan yang lain.


"Adik? HAHAHA kalian tidak tahu kalau Eris itu sebenarnya," kata Mila yang hendak membeberkan.


"Mila," kata Chris dengan nada tajam, membuatnya menahan diri.

__ADS_1


"Maaf. Aku bercanda tenang saja Chris. Maaf ya Yuri dan Eris, kalian lucu sekali," kata Mila menuju tempat duduk yang lain.


Bersambung ...


__ADS_2